Enam tahun sudah, Turangga dan putrinya menghilang, tidak ada kabar sama sekali, sedangkan koper dan ranselnya, yang berisi pakaian Turangga dan putrinya, masih ada di kamar yang dulu ditempati oleh Turangga dan putrinya, di rumah sahabatnya.
Rendi Saputra, sahabatnya Turangga, enam tahun yang lalu berusaha mencari Turangga dan putrinya, selama hampir tiga bulan, terus dia mencari informasi keberadaan Turangga dan putrinya.
Hingga kini, enam tahun sudah berlalu, sama sekali tidak ada kabarnya. Malah sekarang kehidupan Turangga semakin terpuruk, dia sekarang jadi pengangguran, setelah di PHK dari pekerjaannya, dua tahun lalu.
Rendi Saputra, benar-benar mengalami hidup yang serba terjepit, karena setelah terkena PHK, dia berusaha mencoba memasukkan lamaran kebergai perusahaan, namun nasibnya hampir sama seperti yang dialami oleh Turangga beberapa tahun lalu, selalu gagal dan gagal. Setiap perusahaan yang dia datangi, jawaban dari sekuritinya selalu mengatakan belum ada lowongan.
Motor satu-satunya dia jual buat modal usaha, namun nasib baik tidak berpihak kepada dirinya. Dia ditipu oleh kawannya sendiri, yang akan mengajak kerjasama usahanya, malah kabur membawa uang hasil penjualan motornya.
Rendi sangat kecewa, motornya dijual, dan uangnya dibawa kabur, hingga dia memberanikan diri meminjam uang kepada aplikasi pinjol, sebesar dua puluh juta. Setiap bulan dia menyicil utangnya, bukannya lunas, malah bunganya semakin menumpuk.
Kurang dari satu tahun, rumahnya akan disita. Beberapa kali ancaman datang kepadanya, teror yang dikirim melalui pesan di WhatsApp, dengan ancaman fotonya akan disebarkan dan rumahnya akan disita.
Rendi akhirnya bingung, untuk meminta bantuan kepada siapa dalam menyelesaikan kasus utang piutang dengan aplikasi pinjol.
Ketika dia tengah melamun dihalaman depan rumahnya, tiba-tiba dua motor berboncengan datang ke rumahnya, hendak menyita rumah Rendi, karena dia dianggapnya tidak mau melunasi utang piutangnya.
Percekcokan yang berujung kepada perkelahian pun terjadi, Rendi dikeroyok oleh empat orang Debt Colector, yang memaksa Rendi harus meninggalkan rumahnya.
Namun ditengah-tengah perkelahian, muncul sebuah mobil sport mewah sejenis sedan Lamborghini, menuju kearah rumah Rendi dan parkir dihadapan rumahnya.
Semua orang yang tengah berkelahi, terdiam melongo seperti patung. Apalagi empat orang Debt Colector, yang mengenal mobil mewah itu, tak lain adalah milik Bos PT Turangga Corp, yang bergerak di segala bidang usaha.
Pengendara mobil mewah turun bersama putrinya, yang sekarang sudah berusia empat belas tahun. Pengendara mobil mewah dengan mengenakan jaket kulit hitam dan kaca mata hitam, diikuti oleh putrinya, menghampiri Rendi yang terbengong seperti patung hidup.
"Hai, ngapain kamu bengong begitu!" Seru Turangga, mengagetkan sahabatnya, sambil membuka kaca mata hitamnya.
"A... Apakah benar kamu Turangga, sahabatku yang telah menghilang itu!" Tanya Rendi ragu.
Turangga tersenyum menganggukkan kepalanya, sambil menatap ke empat Debt Colector, yang dikenalnya sebagai anak buahnya Marta Subangun.
"Ngapain kalian berada disini?" Tanya Turangga kepada keempat Debt Colector.
"Ka... Kami diperintahkan untuk menyita rumah ini!" Jawab Debt Colector gugup.
"Siapa yang memerintahkan kalian?" Tanya Turangga lagi.
"Bos Marta," jawabnya.
"Sampaikan kepada Marta Subangun, besok lusa datang ke markas, temui Bang Albert dan Bang Rudolf, kalau dia tidak datang, akan aku hancurkan kalian semua," ucap Turangga tegas.
"Baik, Bos," balas keempat Debt Colector ketakutan.
"Sekarang enyahlah dari hadapanku, jangan sekali-kali datang lagi kemari," usir Turangga.
Keempat Debt Colector itu, segera meninggalkan rumah Rendi, dengan rasa ketakutan, mereka langsung menancap gas motornya.
Sedangkan Rendi dari semula kedatangan Turangga, dia hanya melongo saja, Rendi tidak percaya apa yang dilihatnya. Karena enam tahun kebelakang, hidup Turangga benar-benar terpuruk, keadaannya lebih susah dari Rendi.
"Apakah aku mimpi?" Tanya Rendi, sambil mencubit pipinya sendiri.
Turangga hanya tersenyum, melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Ren, aku datang kemari, untuk mengajakmu kerja di tempatku. Menjadi asistenku," ucap Turangga, mengajak sahabatnya.
Mata Rendi berbinar-binar, terlihat ada tetes air mata dikelopaknya, hampir jatuh menetes ke pipinya. Dia antara senang, haru dan penasaran bercampur menjadi satu, dalam pikirannya yang sedang bingung.
"Ayolah, tidak usah bengong begitu. Nanti juga kamu tau sendiri," ucap Turangga, mengagetkan kembali sahabatnya.
Rendi seperti terkena hipnotis, sambil bengong berjalan mengunci rumahnya. Lalu mengikuti Turangga masuk kedalam mobil mewah Lamborghini, dia duduk dibelakang, karena di jok depan diduduki oleh Ayu Dewi, dan Turangga yang mengendarai mobilnya.
Mobil mewah Lamborghini melaju perlahan, melewati dua wanita pemulung.
"Ayah, berhenti sebentar!" Seru Ayu Dewi.
"Ada apa, Ayu?" Tanya Turangga.
"Kasihan pemulung itu, aku akan memberinya uang," jawab Ayu Dewi, bergegas turun memanggil dua wanita pemulung itu.
"Ibu, Bu... Kemari. Nih ada rejeki buat ibu berdua," ucap Ayu Dewi, memanggil dua wanita pemulung.
Kedua wanita pemulung itu menghampiri Ayu Dewi, yang mengeluarkan uang satu juta rupiah, dan menyerahkannya kepada dua wanita itu, masing-masing lima ratus ribu rupiah.
"Terimakasih banyak, Nden Putri. Semoga Tuhan membalas kebaikan, Nden Putri," ucap kedua wanita pemulung itu, sambil menatap wajah Ayu Dewi.
"Amin!" Balas Ayu Dewi, tersenyum ramah.
"Rumah ibu dimana?"
"Kami tinggal di daerah Serpong," jawab salah seorang wanita pemulung itu.
Ayu Dewi pamit meninggalkan dua pemulung wanita, yang terbengong seperti patung hidup.
Kedua wanita pemulung itu, tak lain adalah ibu dan neneknya, yang telah mengusirnya ketika Ayu Dewi masih kecil.
Sekarang kehidupan dua wanita itu lebih terpuruk lagi, keduanya mengalami hidup sebagai wanita pemulung, setelah keluar dari penjara, karena rumahnya disita oleh istrinya Dudi Hermawan, dan Dudi Hermawan sama-sama dipenjara dengan kedua wanita pemulung itu.
Mobil mewah Lamborghini meluncur di jalan raya, setelah meninggalkan Siwi Susilowati dan Mira Yuningsih, yang kini kehidupannya lebih terpuruk lagi, setelah apa yang ibu mertuanya lakukan terhadap menantu dan cucunya. Dan sekarang, karmanya sudah mereka terima.
Mobil mewah terus meluncur dengan kecepatan sedang, menuju kearah pondok indah, ke rumahnya Turangga.
Tak seberapa lama, Turangga bersama Ayu Dewi dan Rendi, tiba didepan sebuah rumah besar dan megah, membuat mata Rendi terbelalak melihat rumah Turangga, yang dulu lebih susah dari dirinya, tapi sekarang nasibnya lebih baik dari dirinya.
Dengan menyimpan rasa heran dan penasaran, Rendi terdiam duduk di jok belakang mobil mewah, ketika sepuluh orang penjaga rumah itu, keluar membukakan pintu gerbang, mobil perlahan melaju masuk kedalam garasi.
Turangga beserta Ayu Dewi dan Rendi, turun dari mobil, dan bergegas masuk kedalam rumah.
"Ren, kamu mau jadi asisten pribadiku, kemana aku pergi, kamu harus siap mengikutiku," ucap Turangga, menawari sahabatnya.
"Mau sih, tapi bagaimana dengan rumah aku itu, yang mau disita oleh rentenir?" Ujar Rendi, bertanya kepada sahabatnya.
"Tenang saja, rumah itu tidak akan disita. Malah si Marta yang akan mencarimu, untuk meminta maaf," jawab Rendi.
"Aku penasaran dan bingung, kok setelah enam tahun menghilang, tiba-tiba muncul lagi dalam keadaan begini, serba mewah. Mobil mewah, rumah mawah, perusahaan besar dan menggurita," ucap Rendi penasaran.
"Itu hanya faktor keberuntungan saja, Rend."
Turangga lalu menjelaskan, dari awal dia meninggalkan rumah Rendi bersama putrinya, hingga memiliki perusahaan besar, dan membawahi seluruh mafia di Asia.
ketika dia pergi kesebuah hutan, di wilayah Bogor, untuk mencari burung didalam hutan, dan mengajak bermain putrinya. Tiba-tiba Turangga yang menggendong putrinya, terperosok ke dasar jurang, hingga dia tidak sadarkan diri.
Ketika dia sadar, dihadapannya berdiri seorang pria sepuh, yang telah menolong Turangga dan putrinya. Lalu pria sepuh itu mengajarkan ilmu beladiri yang cukup tangguh, dan memberikan modal untuk membuka usaha.
Didalam Goa selama satu tahun, dan keluar dari Goa langsung menuju kota Jakarta, untuk membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh pria sepuh.
Selama lima tahun Turangga bergelut di bidang usaha, dari mulai buka bengkel, showroom mobil, restoran, toko sembako, dan merambah ke dunia hiburan dan pariwisata, hotel dan restoran mewah, kontraktor dan development, serta petroleum dan gas.
Semua itu dia geluti dengan penuh tantangan dan rintangan, hingga dia sering berhadapan dengan para mafia proyek, para preman di tempat hiburan yang dia kelola, sampai sekarang hampir seluruh mafia dan preman se Asia, tunduk dibawah kendali Turangga.
"Begitulah ceritanya, hingga sekarang, aku seperti begini," ucap Turangga, diakhir penuturannya.
Sementara Siwi Susilowati, yang telah bercerai dengan Dudih Hermawan, dia sangat merasakan adanya suatu ikatan batin dengan Ayu Dewi, yang telah memberinya uang, ketika dia bersama ibunya, lagi memungut botol dan gelas bekas minuman air mineral, dikawasan Rumpin, Tangerang.
Siwi begitu melihat Ayu Dewi, seperti ada kontak batin antara ibu dan anak. Karena ketika dia bersama ibunya mengusir Turangga dan putrinya, waktu itu putrinya baru berusia lima tahun kurang, sehingga ketika dewasa, dia tidak mengenal putri kandungnya. Hanya ada sebuah getaran dalam batinnya, yang mengatakan ada suatu hubungan antara dia dengan Ayu Dewi.
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Siti Nur Azizah
Semangat
2023-05-18
0
Raden Aria Kusumanagara
lanjut
2023-05-16
0