~ Akhirnya Selesai ~

...●○●○●...

..." Awalnya memang sebatas pura-pura, tapi lama-lama gua nyaman sama kepura-puraan ini.. Kalo boleh request, gua mau pura-pura selama apapun kalo sama lo "...

...~ Rafael Danendra ~...

...●○●○●...

Di Kediaman Subagja

Rafael berdiri di balkon kamarnya dengan tampang frustasi.

"Ada apa sih sama Vania, ngikutin gua sampai pindah sekolah segala" Ucap Rafael dengan kesal.

"Gua nggak bisa gini terus, gua nggak bakal biarin Vania berbuat sesukanya lagi" Ucap Rafael lagi ke dirinya sendiri.

"Gua tau bakal ngapain" Setelah sedikit berpikir, akhirnya Rafael menemukan solusinya.

Rafael langsung pergi dari balkon kamarnya itu.

Di Rumah Vania

Vania terlihat sedang menyiram tanaman yang ada di taman belakang.

"Non ada tamu di depan, katanya mau ketemu non Vania" Ucap salah satu pelayan di rumah Vania.

"Yaudah bi, nanti Vania temui" Jawab Vania lalu menyelesaikan siraman bunganya.

Vania pun menemui tamu yang dimaksud bibinya tadi.

Terlihat seorang cowok yang tangah duduk di ruang tamu.

Vania merasa tidak asing sama punggung si tamu.

Vania pun duduk di depan.

"Kamu ngapain kesini?" Tanya Vania setelah melihat siapa tamunya tadi.

"Gua kesini mau nyesaiin urusan yang menurut gua udah selesai, tapi belum selesai buat lo" Ucap orang itu.

"Maksud kamu apaan sih? Urusan apa yang belum selesai?" Tanya Vania kepada orang itu yang ternyata adalah Rafael.

"Nggak usah sok polos Vania, langsung aja ngapain lo ngikutin gua sampai pindah sekolah?" Tanya Rafael yang dari tadi ngomong dengan tampang kesalnya.

"Siapa yang ngikutin kamu sih, itu sekolah umum. Siapapun bisa sekolah disana, termasuk aku" Balas Vania membela diri.

"Nggak usah aku kamu, jijik gua dengarnya" Ucap Rafael dengan tampang jijiknya.

"Yaudah, lo ngapain kesini?" Tanya Vania lagi.

"Gua kesini mau ngingetin ke lo, kalo diantara kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi stop ganggu kehidupan gua" Jelas Rafael setelah sekian lama menahan ucapannya.

"Ini karena Alana?" Tanya Vania yang kelihatan kesal juga.

"Nggak usah bawa-bawa Alana. Ini masalah lo, kembalinya lo neraka bagi gua" Ucap Rafael menekankan ucapannya.

Vania sedikit tertegun dengan perkataan Rafael.

"Sekali lagi gua ingetin, kita udah selasai jadi jangan pernah ngusik kehidupan gua atau Alana lagi" Ucap Rafael buat yang terakhir kalinya lalu pergi meninggalkan Vania.

"Loh, tamunya non Vania udah pergi aja? Bibi baru aja mau ngasih minum" Ucap bibi dengan membawa dua gelas minuman di nampan.

"Tarok sini aja bi!" Suruh Vania yang dipatuhi si bibi.

Vania yang kelihatan kesal pun meminum kedua gelas minuman tadi.

Vania minum dengan cepatnya, lalu dia melempar gelas ke sembarangan arah.

Vania pun menaiki anak tangganya.

Sampai di kamar, Vania melempar semua barang-barang yang ada. Termasuk barang-barang yang ada di meja rias.

Terlihatlah penampakan kamar yang seperti kapal pecah.

Vania di hantui sama perkataan Rafael yang bilang kembalinya neraka bagi dia.

"Ini semua karena Alana, gua benci lo Lan" Ucap Vania sambil teriak.

"Non Vania kenapa ya?" Gumam si bibi yang mengintip Vania dari tadi.

Di Kediaman Keluarga Ketlovly

Alana sibuk dengan kartun kesukaannya ditemani beberapa camilan.

Tring..

Notifikasi handphone pun berbunyi.

Alana langsung mengambil handphone yang di taruhnya di meja samping sofa.

Terlihat notif dari Rafael.

...●○●○●...

💬 Rafael 💬

Rafael : Lan

: Sibuk nggak?

: Kalo nggak, nanti ketemu yuk!

: Ada yang mau gua kasih tau

^^^Alana : Jam berapa?^^^

^^^ : Dimana?^^^

Rafael : Di tempat biasa

: Jam 7

: Nanti gua jemput

^^^Alana : Okee^^^

...●○●○●...

Begitulah isi chatan Alana sama Rafael.

Skip Alana dan Rafael pun jalan-jalan di taman sambil Alana makan crapes.

"Lo nggak mau?" Tanya Alana menawarkan crapesnya ke Rafael.

"Lo makan aja" Jawab Rafael yang hobinya nolak.

"Oh iya, katanya ada yang mau disampaiin. Apa?" Tanya Alana ingat akan chatannya tadi.

"Gua mau bilang kalo urusan gua sama Vania udah selesai" Jelas Rafael.

"Kapan? Kok Bisa?" Tanya Alana sedikit penasaran.

"Tadi gua ke rumahnya, oh iya sekarang Vania pindah ke sekolah kita. Lo hati-hati ya" Ucap Rafael memberi Alana amanat.

"Kalo itu gua tau, tapi kenapa harus hati-hati?" Tanya Alana yang dibuat bingung sama amanat Rafael barusan.

"Nggak, jaga-jaga aja" Balas Rafael singkat.

Mereka pun menghentikan langkah kaki dan duduk di bangku yang ada.

"Sekarang kan urusan lo sama Vania udah selesai, berarti gua nggak usah jadi pacar pura-pura lo lagi kan?" Tanya Alana yang seketika membuat Rafael terdiam sama pertanyaannya.

Rafael kelihatan sedikit berpikir.

"Lah kok bengong sih? Jawab dong, kan tadi gua nanya" Ucap Alana sambil membuyarkan lamunan Rafael.

"Oh iya tentang pacar pura-pura, lo bebas. Tapi kalo nantinya gua minta bantuan lo lagi, lo tetap mau kan?" Sekarang berbalik Rafael yang bertanya.

Alana pun mengangguk pertanda setuju.

"Kok gua ngerasa nggak terima aja ya sama ucapan Alana barusan?" Batin Rafael.

Skip Rafael mengantar Alana pulang.

Sampai depan rumah, Alana lamgsung turun.

"Kok susah ya?" Gumam Alana yang dari tadi kesusahan membuka helm.

Rafael yang tersadar pun membantu Alana membuka helm.

"Sini gua bukain" Ucap Rafael langsung membuka helm Alana.

Tanpa sengaja mereka pun saling bertatapan.

Alana yang tersadar lebih dulu langsung mengalihkan pandagannya.

"Thanks ya" Ucap Alana setelah helm nya berhasil kebuka.

"Gua yang seharusnya berterima kasih. Thanks ya lo udah mau bantuin gua" Ucap Rafael ikut berterima kasih.

"Biasa aja itu mah" Balas Alana.

...●○●○●...

Kasih supportnya dong biar bab berikutnya makin seru..

Jangan lupa like, comment and vote ya..

Satu vote dari kalian sangatlah bermakna..

Follow juga ig @_irshghsti

Babayy👋👋

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!