Chapter 9

Chapter 09

Setelah setengah jam kemudian, Yuki,Lina dan Shigeo pergi dari rumah kepala desa karena mereka bertiga sudah mendapatkan informasi yang sudah di inginkan. Terlihat mereka bertiga sedang berjalan di jalan yang mana di sekitar mereka banyak sekali rumah yang terlihat kosong.

Walaupun sebenarnya beberapa rumah masih di tinggali. Namun karena takut, para penduduk desa memilih untuk diam untuk melindungi diri mereka sendiri. "Bagaimana menurutmu Lina? Apakah Informasi yang kau dapatkan dari anak kepala desa memang benar?"

Yuki bertanya kepada Lina tentang infomasi yang telah ia dapatkan dari Anak Kepala Desa. Mendengar hal tersebut, Lina memegang dagunya dan memikirkan suatu hal. "Entahlah, infomasi yang ia berikan terdengar begitu ambigu. Apa maksudnya... 'Ketika bunga merah mekar, iblis akan muncul memburu para manusia.'..."

Ya, memang terdengar begitu ambigu. Maksud dari kata-kata "Bunga Merah yang mekar", apakah itu hanya sekedar bunga atau suatu yang lain, jauh berbeda dari apa yang terdengar.

"Ya. Petunjuknya sangat tidak jelas, kata-kata itu memiliki banyak arti lain yang tak pasti. Dan bagaimana menurutmu tentang Shin, Lina?" Tanya Yuki kepada Lina.

"Ha?! Apa maksudmu Yuki!? Sudah jelas aku lebih baik dari pada Shin tadi!"

Shigeo sangat terkejut dengan pertanyaan itu, dan menatap Yuki dengan tajam. Ia kali ini benar-benar salah paham.

"Jangan menatapku seperti itu Shigeo, aku tahu kau ini sangat menyukai Lina. Aku hanya bertanya apakah Shin itu benar-benar jujur menjawabnya, atau malah berbohong tadi."

"Bukan seperti yang kau pikirkan, tenang saja. Lina juga pasti mengerti. Benarkan Lina?"

Yuki menatap Lina, tetapi jawaban yang di berikan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. "Hm... Sepertinya dia tidak berbohong, memiliki wajah menawan. Ya dia menarik bagiku..."

'Ghaaaak...!'

Tusukan yang begitu menyakitkan di lancarkan pada hati Shigeo, sampai-sampai ia tersungkur dan pergi ke pojokan sembari mengorek-ngorek tanah dengan ranting yang tergeletak.

"Aku tahu anak kepala desa itu lebih tampan dariku, aku tahu dia lebih baik dariku. Aku tidak bisa apa-apanya jika di bandingkan dengannya... Benar kan ya... Benar kan ya..."

Shigeo benar-benar jengkel di pojokan, ia mengeluh tak ada habisnya. Saat itu, Yuki mulai menatap Lina lalu berbisik padanya. "Hey Lina, tolong buat Shigeo lebih baik lagi..."

"Ha? Kenapa aku? Kau saja...!"

Meski di masa depan Lina akan menikah dengan Shigeo, tetapi masa muda mereka tidak seindah apa yang di pikirkan, di masa ini. Lina sama sekali tak menyukai Shigeo.

Sedangkan Shigeo sendiri, ia berusaha keras untuk mendapatkan Lina dengan usahanya sendiri. Ia akan membuat Lina tertarik padanya, ya jika di akui. Lina memiliki penampilan yang sangat menawan.

Namun bukan itu yang membuat Shiego begitu tertarik padanya, ia menyukai Lina karena sesuatu telah terjadi. Walaupun dirinya memiliki penampilan yang biasa saja dan berpakaian buruk.

Itu tidak akan membuat dirinya menyerah.

"Itu semua salahmu kan? Sudah tahu Shigeo menyukaimu. Kau malah mengatakan hal kejam di hadapannya...!" Yuki memberikan alasannya, dan hal itu membuat Lina sedikit merasa bersalah.

Kemduian ia pasrah, dan berjalan ke arah Shigeo yang sedang jengkel itu. "Shigeo,"

Lina menepuk pundaknya dan memanggil Shigeo. "Apa? Aku tidak peduli lagi denganmu..."

"Jangan begitu, walaupun dari fisik dan penampilan kau kalah dari anak kepala desa. Tapi dari aspek lain seperti sifat yang kau miliki, jauh lebih baik darinya." Lina sedikit memuji kelebihan Shiego. Ia tak berbohong akan hal itu.

"Benarkah?" Shigeo sedkit melirik.

"Benar, jadi jangan berkecil hati. Kau pria yang kuat, hal seperti ini pasti tidak akan mematahkan semangatmu, benarkan?" Lina mengatakan itu penuh senyuman lembut dan tulus.

Itu di tunjukan di depan wajah shigeo yang sedang merengut, dan langsung membuat ekspesinya berubah 360° derajat. Ia di penuhi oleh api semangat.

"Benar katamu, aku adalah pria yang kuat! Aku tidak akan menyerah, aku pasti akan membuatmu tertarik padaku Lina!" Ia menujuk ke arah Lina dengan ekspresi senyum percaya diri.

"Ya, aku sangat menantikan apa yang akan kau lakukan..." Lina sedikit tersenyum setelah mendengar kata-kata Shigeo.

"Baiklah, ayo kita cari Rey terlebih dahulu. Dia pasti mendapatkan suatu informasi yang berguna," Ucap Yuki yang menyudahi permasalah percintaan monyet antara Lina dan Shigeo.

"Ya."

Mereka bertiga pergi, dan mencari Rey ke sekeliling desa. Tetapi setelah itu, Yuki merasakan sebuah tatapan tidak jauh dari tempatnya, ia mulai melirik asal dari tatapan itu. Dan ternyata itu berasal dari rumah kepala desa.

Dan setelah Yuki meliriknya, tatapan itu langsung menghilang. Hanya saja di dalam benak Yuki, ia merasa ada hal aneh yang terdapat di dalam rumah kepala desa

'Hm... Mencurigakan. Dan ada aroma iblis di sekitar sini, aroma itu jauh lebih kuat saat berada di dalam rumah kepala desa ini.'

'Aku tahu, Shigeo dan Lina juga merasakannya. Tetapi mereka tetap diam, karena iblis kali ini jauh lebih mengerikan dari iblis yang mereka lawan sebelumnya.'

Iblis kali ini jauh lebih pintar dari sebelumnya, kelakuannya tak tampak seperti iblis pada umumnya. Kelakukan Iblis secara normal, akan menyerang manusia yang mengancam tanpa pikir panjang.

Namun kali ini berbeda, Iblis sudah tahu bahwa di sini ada sesuatu yang mengancam dirinya. Seharusnya ia akan menyerang Yuki,Lina dan Shiego sekarang juga, bau iblis yang begitu menyengat juga sudah memenuhi desa ini.

Dan satu hal yang Yuki pikirkan tentang ini. 'Apa mungkin, iblis ini merasa bahwa kami berempat bukan ancaman baginya!?'

Yuki benar-benar terdiam kali ini, saat itu ia di panggil Shigeo dan Lina. "Yuki, apa yang sedang kau renungkan? Ayo cepat, kita cari Rey."

"Baik-baik, aku datang."

........

Sementara itu di dalam rumah kepala desa, terlihat seorang pemuda yang mana ia adalah Shin. Di Sana memperlihatkan dirinya sedang menutup korden jendelanya. "Hampir saja, aku harap mereka tak menyadarinya..."

Lalu ia berbalik, dan ternyata sosok pria tua terlihat sedang di ikat di sebuah kursi kayu. Pria tua itu terlihat sedang memberontak melepaskan diri dengan mulut yang tertutup rapat oleh kain. "Maafkan aku ayah, aku tidak punya pilihan lain selain membungkam mu di sini. Jangan salahkan aku ya, ini semua demi mewujudkan impianku."

"Bunga merah sebentar lagi akan mekar, para manusia yang ada di sini akan di korbankan demi impianku. Mereka pasti senang, betulkan Ayah?"

Shin menatap Ayahnya dengan senyum penuh ambisi, saat itu juga. Memperlihatkan wajah kepala desa yang sangat marah dengan kelakukan anaknya yang sudah seperti iblis.

"Tenang saja, kau akan tetap hidup ayah. Karena aku ingin kau melihat, bagaimana putramu ini menggapai impian besarnya ini."

Tidak dapat di percaya, Shin memiliki sifat seperti ini. Di luar ia begitu baik dan sopan pada sesama, namun di balik semua itu. Ia menyembunyikan sesuatu yang begitu mengerikan di dalam jati dirinya.

Lalu ia pun berjalan pergi keluar ruangan. "Lebih baik aku melihat keadaan beliau, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya."

Ia menutup pintu ruangan dan mengunci ayahnya sendiri. Dan dalam waktu yang sama, Kepala desa ingin mengejar anaknya itu namun ia tak bisa dan berakhir jatuh dalam ikatan yang tak bisa di lepaskan.

Braaak!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!