Jimmi tak lagi lari, selain ia yang juga tak lagi melepaskan anak pelurunya. Penuh waspada, pria itu menoleh ke belakang. Namun keputusannya itu malah langsung membuatnya syok. Karena di belakangnya, di bawah sana merupakan lereng yang begitu curam. Bisa langsung meninggal atau setidaknya cac4t siapa pun yang terlempar ke sana, tanpa terkecuali dirinya.
Perlahan tapi pasti, Jimmi maju sembari kembali memegang tegas pist0lnya. Ia memperhatikan gerak-gerik sosok pria bertubuh tegap sekaligus tinggi di hadapannya. Dari penampilannya walau pria itu terus menunduk dan sampai menutup sebagian wajah menggunakan masker, ia merasa tak asing. Seperti memang kenal. Terlebih dari cara berpakaiannya saja, pria itu begitu mirip dengan penampilannya, dan itu bagian dari seragam maf1a. Padahal harusnya tidak ada maf1a lain di sana apalagi jika maf1a itu sampai melindungi Azzura yang harusnya dihabis1.
“Pelurunya pasti sudah habis karena dari tadi, dia terus menemb4k,” yakin Excel dalam hatinya sambil terus maju. Kedua tangannya sudah ia lindungi menggunakan sarung tangan dan ia sadar, Jimmi baru saja mengawasi.
Jemmi terlihat jelas mengawasi keadaan Excel termasuk itu mengenai Excel yang sudah sengaja melindungi kedua tangannya agar jika kedua tangan itu bertindak, tak sampai meninggalkan jejak.
“Dia bukan orang sembarangan. Dia paham persiapan untuk ada di keadaan sekarang!” Jimmi yang masih berbicara dalam hati, juga masih mengawasi Excel. Sosok yang sampai tidak memakai wewangian khusus itu seolah sengaja tak mau dikenali. “Excel?!” Hanya saja, sosok itu juga bagi Jemmi sangat mirip dengan Excel. Iya, Excel. Sahabat baiknya sejak SMP yang menangis frustrasi memohon bantuan pekerjaan, kemudian ia tarik untuk menjadi bagian dari pekerjaannya dan itu maf1a kejam. Sosok yang juga langsung cekatan, serba bisa, dan digadang-gadang akan menjadi pimpinan mafi4 mereka di masa depan.
Excel refleks melangkah lebih pelan sambil mengawasi sekitar. Tanggapan refleks yang sengaja ia lakukan agar Jimmi berpikir, seolah dirinya tak mengenali sosok yang dimaksud.
“Begini, caramu membalas kebaikanku? Jangan lupa, kalaupun kamu menghabis1ku, caramu melakukannya tetap akan langsung dikenali. Dan kamu juga harus ingat, semenjak kita menjadi bagian dari maf14 kita, kita selalu diikuti CCTV yang memantau!”
“Pantas sinyal ponselmu aku lihat ada di sekitar Cilacap juga. Ternyata, kamu memang baru saja dari sana. Jadi, kenapa kamu melindungi Azzura? Kamu mau menyumbangkan nyawa mamah dan kedua adik perempuanmu sebagai gantinya?”
Menghadapi Jimmi merupakan tantangan berat. Terlebih biar bagaimanapun, teman SMP yang juga sudah merangkap menjadi sahabat baiknya itu ibarat dewa penolongnya.
“Tega kamu menghabis1ku, di rumahku ... istriku yang sudah menunggu kepulanganku dan sekarang sedang hamil besar, akan langsung ... menyusulku!” Kali ini, Jimmi sampai berkaca-kaca.
Berat, sungguh tak ada hal lain yang mereka rasakan selain itu. Meny3rang atau malah menghabis1 satu sama lain hanya untuk bertahan sekaligus mempertahankan orang-orang yang disayang. Bayaran fantast1s yang mereka terima dari pekerjaan mereka benar-benar setimpal.
Excel merasa dilema. Karena andai ia tak menghabis1 Jimmi, tentu pria itu akan melakukannya kepada Azzura. Namun andai Jimmi tidak dihabis1, tak hanya nyawa Azzura yang akan melayang, tapi juga Excel sekeluarga.
Bunyi pelatuk pist0l yang ditarik dari hadapannya dan itu Jimmi yang mengarahkan kepadanya, mengusik keheningan di sana. Jantung Excel menjadi makin berdetak kencang. Ia menatap lurus moncong pist0l yang sudah terarah kepadanya.
Excel tahu, baik dirinya maupun Jimmi sama-sama egois. Namun andai ia membiarkan Azzura terluka, di rumah sana ibu Arum yang begitu baik kepadanya pasti akan meraung-raung. Ibu Arum akan menangis darah andai Azzura sampai kenapa-kenapa apalagi jika sampai meregang nyaw4.
“Ayo kita akhiri saja dan aku pastikan, aku akan menghabis1 kamu! Istriku sudah menunggu kepulanganku. Kami akan bahagia bersama bayi pertama kami!” yakin Jimmi yang perlahan melepaskan pelatuknya.
Dooor! Satu peluru yang harusnya bersarang di kepala Excel, berhasil Excel tepis dengan hanya menarik kepala dan juga tubuhnya ke samping. Ketegangan makin menyelimuti kebersamaan mereka apalagi setelah tarikan pelatuk pist0l selanjutnya yang Jimmi lakukan tak mendapatkan hasil. Karena dengan kata lain, Jimmi akan menggunakan senjata lain. Lihat saja, Jimmi sudah langsung mengeluarkan belati tajam dan juga celurrit kecil tak kalah tajam dari belakang punggungnya.
Jimmi buru-buru lari menghampiri Excel. Excel sudah siap membalas andai pria itu sudah dekat. Namun, sebelum benar-benar berhadapan, Jimmi sudah lebih dulu melempar celurritnya, tapi itu hanya lemparan palsu karena yang Jimmi lempar justru belati dan langsung menancap di dekat leher kanan Excel. Darah segar sudah langsung mengalir dari sana. Excel meringis menahan sakit, tapi Jimmi tersenyum puas.
“Setiap senjat4 kita selalu disertai racun. Sudah bisa dipastikan, waktumu hanya tinggal sebentar lagi, Xel!” ucap Jimmi yang kemudian berkata, “Kamu sengaja enggak bawa senjata buat menghilangkan jejak, kan? Kamu berniat menghabis1ku menggunakan senjataku? Masalahnya andai belatinya kamu tarik, kamu akan kehilangan banyak darah!” Ia mengakhiri ucapannya dengan tersenyum kemenangan.
Excel memang tidak memiliki pilihan lain selain menarik belati di dekat lehernya. Seberapa pun banyak darah yang akan keluar dari sana, itu tergantung kepadanya dalam menyingkirkan Jimmi.
Andai Excel tidak memakai hati dalam hidupnya, mengasihi betapa Jimmi dan istrinya yang sedang hamil besar berhak hidup bahagia. Termasuk rasa peduli sekaligus sayang Excel kepada Azzura sekeluarga. Andai Excel hidup di keegoisan tanpa memikirkan orang lain dan hanya fokus dengan kehidupannya, tentu masa-masa berat layaknya sekarang tidak akan pernah ia rasakan. Membunnuh sahabat baik yang istrinya sedang hamil tua, tentu tidak pernah ada dalam kamus hidupnya yang ditakdirkan menjadi pengabdi setia.
Tak mau disingkirkan, Jimmi mendekat, mengambil ancang-ancang dan menendang perut Excel sekuat tenaga. Tubuh Excel sudah langsung terbannting dalam keadaan terbaring. Ditambah lagi Jimmi yakin, efek racunnya sudah mulai bekerja melemahkan tubuh Excel, selain ia yang juga yakin, Excel yang masih melakukan segala sesuatunya dengan hati tak mungkin benar-benar tega kepadanya.
Dengan segera, Jimmi menginjak tangan kanan Excel yang sudah memegang belati. Ia terus menekan injakannya lebih kuat hingga perlahan tangan kanan Excel itu gemetaran menahan kesakitan.
“Ini peringatan terakhir, ... pergi sekarang juga, selamatkan dirimu dan biarkan aku membunuuuh Azzura!” tegas Jimmi. Namun, di bawahnya Excel langsung menggeleng.
“Aku tidak akan pernah melakukannya!” tegas Excel.
“Ubah keputusanmu sebelum celurrit ini mengantarkan ajalmu!” yakin Jimmi. Perlahan tapi pasti, tangan kirinya yang memegang celurrit membuat benda tajam itu terangkat lebih tinggi.
Gemetaran Jimmi di tengah tunggu untuk keputusan Excel. Jantungnya berdentam-dentam sangat kencang karena dari tampang Excel yang terus menatapnya tajam sambil menggeleng, sudah dipastikan ia akan menjadi malaikat kematian untuk sahabatnya sendiri.
Dengan terpaksa, Jimmi menghantamkan celurritnya ke leher Excel. Paling tidak, leher itu akan langsung putus kemudian ia bisa langsung menghab1si Azzura seperti misinya. Namun, ....
Dooooooor ...!
Seseorang melesatkan pelurunya tepat mengenai kepala Jimmi. Kesunyian yang sempat terenggut oleh peluru yang melesat, seketika digantikan dengan keterkejutan. Tak semata karena tembaaakan barusan, tapi pelakunya yang tak lain wanita bercadar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Sweet Girl
Azzura lagi yang menolong Excel.
2024-12-18
1
Leng Loy
Ternyata Azzura yang nembak Jimmi
2024-06-14
0
Nailott
pasti azuuram penembknya
2024-06-12
0