Excel menatap kepergian punggung Azzura dengan tatapan frustrasi. Ia mengacak kepala berambut pendek rapi miliknya menggunakan tangan kanan secara asal. “Justru aneh kalau dia langsung mau!” batinnya.
“Kok jadi enggak enak gini, ya?” batin Azzura yang perlahan melirik bahkan menoleh ke belakang. Membuatnya memergoki wajah dingin seorang Excel Lucas tengah menatap kepergiannya dengan tatapan frustrasi. Mata berbola mata hitam itu sudah menjadi merah sekaligus basah. Alasan yang juga membuat hatinya seperti diiris kemudian dilumuri air perasan jeruk nipis. Ia sampai meringis menahan efek rasa sakit dari luka tak kasat matanya. “Kok aku merasa, aku jadi beban buat mas Excel kalau aku nolak begini? Tapi aku takut, kami belum sepenuhnya kenal.”
Butiran bening mengalir dari sudut mata kanan Azzura bertepatan dengan wanita bercadar biru salem itu yang mengakhiri tatapannya dari Excel. Kedua kakinya masih melangkah, membawanya pergi keluar dari klinik yang sudah kembali sepi. Ia hendak mengambil waktu untuk istirahat. Kalaupun mendadak ada pasien, orang kliniknya tahu apa yang harus dilakukan dan salah satunya adalah menghubunginya jika pasien mereka membutuhkan penanganan mendesak.
Tanpa Azzura sadari, sang mamah yang membawa nampan berisi menu sarapan, menjadi terdiam bingung di balik tembok sebelah pintu ruang kerja Azzura. Dalam diamnya, ibu Arum mengingat kejadian pertemuan sang putri dengan Excel. Keduanya sempat terikat obrolan lirih sekaligus intens. Ibu Arum mendengar obrolan kedua sejoli itu.
Namun yang ibu Arum bingungkan, kenapa Azzura sampai menitikkan air mata setelah perpisahannya dari Excel? Juga, kenapa Excel yang dua hari lalu berdalih sudah menganggap ibu Arum dan pak Kalandra seperti orang tua sendiri, sampai menangis dan terlihat sangat terluka? Padahal seharian kemarin, saat Excel menggantikan tugas mas Aidan mengurus panen ayam, bebek, entok, dan juga ikan untuk keperluan rumah makan keluarga mereka, pria itu baik-baik saja dan sesekali berbagi tawa dengan para pekerja.
“Apa jangan-jangan, ... sebenarnya mbak Azzura juga ada rasa ke mas Excel? Namun karena tato dan juga agama mas Excel kurang kuat, mbak Azzura ragu? Mbak Azzura enggak mau membuat orang tua sekaligus keluarga besarnya khawatir,” batin ibu Arum.
“Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa mengelabuhi Jimmi?” pikir Excel masih memaksa otaknya untuk bekerja lebih keras lagi dalam memikirkan apa yang harusnya ia lakukan agar semuanya bisa terselamatkan.
“Perjalanan dari sini ke Jakarta normal dan terbilang lancar, jika menggunakan motor butuh waktu delapan jam. Sementara jika menggunakan mobil butuh waktu tempuh hingga dua belas jam dan itu andai tidak macet. Sementara sekarang sudah pukul delapan pagi. Aku benar-benar tidak memiliki banyak waktu.” Excel terus berbicara dalam hatinya. Ia melangkah keluar dari klinik sambil mengacak asal kepalanya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya kembali memegang ponsel.
“Haruskah aku melukai diriku sendiri, agar aku memiliki alasan untuk membawanya pergi hari ini saja?” pikir Excel yang kemudian berniat membuat dirinya terluka parah hingga harus mendapat penanganan di luar klinik Azzura. Agar dirinya memiliki alasan untuk membuat Azzura pergi dari rumah bersamanya.
Walau Excel sudah sampai pergi meninggalkan persembunyiannya, ibu Arum sengaja menyusul. “Mas Excel,” panggilnya sopan.
Excel langsung terkejut karena ternyata, ibu Arum ada di sana dan ia prediksikan ada di ruang kerja Azzura. Kenyataan tersebut pula yang menambah ketegangannya. Ia berangsur balik badan dan menyikapi ibu Arum dengan sesopan mungkin. Wanita itu masih melangkah mendekat menyikapinya penuh kepedulian.
“Bu ....”
“Sebelumnya Ibu minta maaf, tapi tadi Ibu tidak sengaja mendengar obrolan kalian. Kalau boleh tahu, keadaan mamahnya Mas Excel sekarang bagaimana? Keadaan mamah memang kurang baik, hingga Mas bolak-balik Jakarta sini, karena biar bagaimanapun, Mas masih harus melanjutkan pengobatan kaki dan tangan Mas, apa bagaimana?” ibu Arum masih berucap sabar.
Excel langsung menahan napasnya dan tak langsung bisa membalas ibu Arum. Melihat kebaikan ibu Arum sudah langsung membuatnya merasa berat andai sesuatu yang tidak diinginkan sampai melukai bagian dari wanita itu. Apalagi jika bagian yang terluka justru anggota keluarga bahkan Azzura.
Excel memberi tahu foto sang mamah yang harus menghabiskan waktunya di kursi roda akibat penyakit gula yang diderita. Sang mamah sudah tidak memiliki kaki kiri, sementara beberapa jari kaki kanan juga terpaksa dipotong gara-gara wanita itu tidak ada yang mengurus dengan benar.
Excel mengaku memiliki dua adik perempuan. Satu sudah menikah tapi sedang hamil tanpa menyebut bahwa itu Rere. Satunya lagi masih SMA dan sedang sibuk-sibuknya dengan kegiatan sekolah. Terlebih adiknya yang SMA ini tipikal aktif dan sering menjuarai lomba termasuk itu Olimpiade. Alasan yang membuat Excel harus terus memiliki banyak uang dalam waktu cepat karena mereka bukan orang kaya yang memiliki banyak stok harta, atau setidaknya warisan. Alasan yang juga membuat Excel menjadi serba berkecukupan meski pekerjaannya itu juga memiliki risiko setimpal.
“Kalau memang enggak ada yang urus karena adik Mas yang SMA juga enggak mungkin bisa fokus urus, dan yang hamil juga ada di luar kota, ya sudah jemput mamahnya, bawa ke sini. Biar Mas bisa fokus pengobatan tapi tetap bisa pantau mamah juga. Nanti pasti Ibu sama keluarga sini, bantu,” yakin ibu Arum.
“Ya Alloh, ... baru kali ini aku kembali mengingatmu setelah sederet kehancuran yang Engkau berikan dan membuatku membenci-MU! Lihat, menghadapi orang sebaik ini aku ... aku merasa sangat malu. Aku merasa sangat rennn ... dah!” batin Excel yang sampai menangis. Tangis murni atas kesedihan yang ia rasakan. Apalagi ketika ibu Arum sampai merangkulnya, menenangkannya bahwa semua akan ada masanya.
“Yang sabar Mas. Dijalani saja. Mas harus ikhlas. Alloh enggak akan menguji lebih dari batas kemampuan umatnya. Alasan Alloh sampai melakukannya karena Alloh tahu, Mas kuat! Enggak ada hasil yang mengkhianati usaha. Percayalah. Andai enggak sekarang pun, segalanya pasti akan mendapat balasan! Yang penting Mas tetap di jalan yang benar!” Ibu Arum menasihati Excel sambil mengelus punggung pria itu menggunakan tangan kirinya yang memang masih ada di punggung Excel.
Excel yang sadar ibu Arum kewalahan membawa nampan berisi menu sarapan dan ia yakini untuk Azzura, hanya menggunakan tangan kanan, segera mengambil alih.
“Nanti Ibu bilang ke mbak Azzura buat ikut Mas sebentar. Nanti kalian bisa ketemuan sama mas Aidan karena mas Aidan kan masih di Jakarta.” Ibu Arum memberi solusi. Ia mengajak Excel menemui Azzura sambil terus merangkul punggung Excel.
Excel yang membawa nampan menurut dan terus mengikuti. Masih tak percaya, niat baiknya melindungi Azzura sekeluarga bisa dengan begitu mudah mendapat solusi.
Dalam hatinya, ibu Arum percaya, Excel orang baik. Kalaupun sebelumnya Excel bukan orang baik, sudah menjadi kewajibannya untuk merangkul sekaligus mengarahkan Excel ke jalan yang benar. Terbukti saat di Jakarta, Excel dengan senantiasa menjadi sopir keluarganya. Excel juga yang mengantar mereka pulang ke rumah tanpa kendala yang mana pria itu rela tidak tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Leng Loy
Semua ini gara" Rere Kakaknya jadi repot memikirkan cara agar bisa melindungi Azzura dan keluarganya
2024-06-13
0
Nailott
percayalah.,, niat baek ,pasti ada jalan baek juga
2024-06-12
0
Neulis Saja
mungkin Rere menjadi perempuan tdk baik karena ingin hidup senang tanpa hrs kerja keras kalau melihat keluarganya yg tdk termasuk org kaya
2023-10-16
5