Di kediaman pak Kalandra tidak banyak yang berubah, walau kini ada Excel di sana. Sebagai tamu langganan, Excel sudah bukan orang asing lagi untuk keluarga pak Kalandra. Hampir semuanya sudah menganggap Excel bagian dari mereka, terlebih Excel terbilang rajin.
Excel yang akan selalu bangun pagi-pagi tak segan ikut membantu pekerjaan rumah, meski di sana ada ART yang mengurus. Dari mengepel lantai, menyapu halaman rumah, maupun membantu ibu Arum masak di dapur, walau itu sekadar memetik atau memotong sayuran. Akan tetapi, Azzam yang notabene merupakan kembaran Azzura tidak menyukai Excel. Apalagi jika Azzam melihat tato naga di lengan kiri Excel. Rasanya, Azzam benar-benar ingin mengusir Excel dari sana. Ditambah lagi, Excel terus mengikuti ke mana pun Azzura pergi. Azzam takut, Excel memberi pengaruh burruk kepada Azzura.
“Terus yang enggak kalah menonjol, dia juga enggak pernah shalat. Di KTP sih agamanya islam, tapi beneran sebatas KTP!” protes Azzam kepada orang tuanya yang ada di dapur. “Bukannya ikut pas yang lain pada shalat, dia malah memisahkan diri.”
Di dalam sana, suara Azzam yang sangat emosional memang lirih, tapi Excel bisa mendengar dengan jelas karena Excel menyimak dari sebelah pintu dapur yang tidak sepenuhnya tertutup.
“Kalau Mas Azzan mau mas Excel seperti yang Mas Azzam mau, ya dirangkul pelan-pelan. Jangan langsung spontan apalagi dipaksa. Lagian, kenapa Mas Azzam harus setakut itu? Mas Azzam enggak percaya ke mbak Azzura? Memangnya kasus mbak Azzura dan Cikho masih kurang buat contoh? Memangnya Mas Azzam pikir, kurang sayang dan cinta bagaimana mbak Azzura ke Cikho? Mbak Azzura langsung mundur setelah tahu ternyata Cikho sudah menikah. Mbak Azzura menolak dipoligami meski Cikho meyakinkan akan tetap menjadikan mbak Azzura nomor satu!” jelas ibu Arum penuh kesabaran.
Setelah itu, Excel memilih tak lagi menguping. Ia bergegas ke depan, ke sebelah rumah pak Kalandra yang tidak lain merupakan klinik Azzura. “Menjadi bagian dari mereka membuatku tahu apa yang sebenarnya terjadi tanpa harus terus mencari tahunya kepada Rere. Mereka orang baik. Mbak Azzura wanita yang sangat baik. Malahan sepertinya memang Rere yang salah. Mungkin Rere sengaja ingin menguasai Cikho karena dia bosan hidup susah. Padahal selama lima tahun terakhir, semenjak aku menjadi bagian dari maf1a yang selalu melakukan pekerjaan kr1minal untuk mendapatkan bayaran f4ntastis, aku selalu memberinya banyak uang. Rumah mewah lengkap dengan fasilitasnya,” batin Excel. Dari pintu ruang kerja Azzura, ia melongok mengawasi suasana di dalam. Suara air keran yang terbilang lirih, terdengar dari sana karena Azzura tengah mencuci tangan.
Dari pukul dua dini hari tadi sudah ada yang datang untuk bersalin. Namun baru sekitar tiga puluh menit lalu, setelah hampir enam jam menunggu proses pembukaan, akhirnya bayi laki-laki dilahirkan dengan normal.
Dering tanda pesan masuk dari ponsel yang menghiasi saku sisi kanan celana levis Excel tak hanya mengusik pemiliknya. Karena Azzura yang memang selalu cekatan juga buru-buru mematikan keran airnya.
Azzura berangsur menoleh ke arah pintu ruang kerjanya di klinik selaku sumber dering ponsel terdengar. Pintu bercat putih layaknya nuansa kliniknya memang dibiarkan terbuka sempurna. Ia mendapati Excel tengah menatap layar ponsel yang pria itu genggam menggunakan tangan kanan. Excel terlihat sangat emosional dan malah buru-buru pergi dari sana.
Misi : Bunnuh wanita ini.
Excel Lucas sungguh tidak menyangka jika misi yang ia terima dari atasannya justru membunnuh seorang wanita dan tak lain Azzura. Alamat lengkap Azzura dan tidaklah lain rumah keberadaannya juga turut disertakan di sana. Rumah berlantai dua di sebuah desa maju dan kerap menjadi tempatnya kembali, akhir-akhir ini.
“Ini beneran Rere?!” batin Excel benar-benar geram. “Sudah dibilang jangan dilanjutkan, tapi dia tetap saja!” Dada Excel sudah langsung bergemuruh.
Misi : Jangan sampai gagal. Malam ini juga kamu harus mengirimkan video kematiannya. Seperti biasa, jika kamu sampai gagal menjalankan misimu, mamah dan juga anggota keluargamu akan menggantikan kemat1annya.
Misi : Yang tadi bukan jatahmu. Itu tugas Jimi karena kebetulan, dia sedang ada di Cilacap dekat rumah target. Nanti malam, kamu ke Pondok Indah. Kamu urus yang di sana saja.
Misi : Ini foto dan alamat lengkapnya.
“Jika Azzura sudah ditargetkan malam ini, berarti Azzura juga akan segera dipantau,” pikir Excel.
Tanpa Excel ketahu, Azzura yang melangkah hati-hati dan mendekati, sudah ada di hadapannya. Azzura menatap khawatir Excel yang terlihat sangat kacau. Excel tak hentinya menggeleng sambil menghela napas. Sesekali, Excel juga akan menggig1t kuat-kuat bibit bawahnya.
“Mas Excel ....” Azzura menatap sungkan pria yang tiga malam terakhir bermalam di rumah orang tuanya.
Excel yang terusik refleks mundur kemudian buru-buru memasukkan ponselnya ke saku sisi celana sebelah kanannya, meski tatapannya fokus kepada kedua mata Azzura. “Ada apa, Mbak?”
Setelah mendapat tanggapan, Azzura malah ragu mengatakan apa yang sempat ingin ia katakan dan sebenarnya sudah ada di ujung lidahnya. Selain itu, ia juga menjadi tidak memiliki keberanian untuk menatap Excel. “Masa iya aku langsung jujur bahwa selama tiga malam terakhir, aku selalu melihat wajahnya di setiap aku selesai Sholat istikharah?” batin Azzura memilih menggeleng dan tal jadi cerita.
“Hari ini, jadwal Mbak, apa saja? Mbak jadi libur, atau ada acara lain?” tanya Excel serius. Tentu karena misi yang ia dapatkan sekaligus kenyataan Azzura yang sudah dijadikan target oleh atasannya. Yang dengan kata lain, sudah ada yang menyewa jasa untuk melakukannya.
Azzura yang refleks menatap Excel, berangsur mengangguk-angguk. “Hari ini saya libur, paling jaga klinik, Mas. Ini baru ada yang persalinan juga, kan,” balasnya dan pria di hadapannya terlihat makin berpikir keras.
“Ayo ke Jakarta bersama saya! Mamah saya sedang sakit dan wajib ada yang merawat selama dua puluh empat jam. Saya tidak memiliki kenalan lain selain Mbak yang memang sudah saya percaya!” ajak Excel. Baginya, akan berbahaya jika Azzura tetap di rumah. Malahan ia tidak bisa melindungi dengan leluasa.
“Maaf Jim karena aku akan mengganti nyawa Azzura dengan nyawamu!” batin Excel.
Azzura menghela napas pelan sekaligus dalam. “Maaf, Mas. Saya enggak bisa jauh-jauh dari orang tua saya. Ditambah lagi, ... klinik saya. Cari orang lain saja apalagi ketimbang saya, di Jakarta pasti banyak yang lebih andal. Beda dengan di lingkungan sini yang memang masih minim tenaga medis. Orang-orang di sini jauh lebih membutuhkan saya, sementara mamah Mas lebih baik dicarikan dari lokasi yang lebih dekat saja agar segera mendapat penanganan pula,” sesal Azzura.
Pikiran Excel menjadi makin kacau. Di lain sisi, ia harus segera ke Jakarta untuk menjalankan misinya. Namun di depan mata, nyawa Azzura juga terancam. “Ikut dengan saya hari ini saja!” mohonnya gemetaran menahan ketakutan yang tak kuasa ia akhiri. Sebab misi kali ini benar-benar bisa membuatnya kehilangan keluarganya jika ia hanya fokus bertahan di sisi Azzura tanpa membawanya. Namun jika ia sampai meninggalkan Azzura, nyawa Azzura akan melayang! Dan Excel tak mau mengorbankan salah satu dari kedua pilihannya. Ia tetap ingin melindungi Azzura walau nyawa keluarganya juga ada di ujung tanduk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
May Keisya
masyaallah...pertanda dia jodoh terbaikmu
2025-01-23
0
Leng Loy
Excel dalam dilema parah, dan semua ini disebabkan adiknya yang ga tau diri itu
2024-06-12
0
Nailott
exel, bener2, cinta mati ke azzura
2024-06-12
0