Malam ini, cuaca yang sedang tak menentu membuat Azzura terjebak di teras ruko sebuah salon yang kebetulan sudah tutup. Azzura sengaja berteduh di sana dari hujan angin sekaligus petir yang tengah berlangsung. Ia membiarkan motor matic putihnya diguyur hujan di depan salon.
Kembali ke kampung halaman, kesibukan Azzura juga kembali normal layaknya biasa. Izin pindah kerja lantaran awalnya Azzura akan menetap di Jakarta setelah menikah dengan Cikho, juga langsung dibatalkan. Azzura kembali menjalani kesibukannya sebagai seorang bidan. Wanita itu sengaja menyibukkan diri untuk melupakan kisahnya dengan Cikho.
Seperti biasa juga, layaknya satu minggu terakhir semenjak kepulangannya dari Jakarta, lagi-lagi Excel Lucas datang. Pria itu buru-buru turun dari mobil yang diparkir tak jauh dari hadapan Azzura, bersebelahan dengan motor Azzura.
Excel langsung melepas jaket kulit warna hitamnya, kemudian menyerahkannya kepada Azzura yang sudah kuyup. Bukannya menerima, yang mencuri perhatian Azzura adalah tato naga warna hijau kemerahan di lengan kekar sebelah kiri milik Excel. Azzura terlalu ngeri, walau kini bukan pertama kali ia melihatnya. Karena sebelumnya, saat ia merawat Excel ketika pria itu terluka parah, Azzura sudah melihatnya beberapa kali.
“Kalau saya menghapus semua tato di tubuh saya, ... Mbak Azzura mau menikah dengan saya?” tanya Excel sambil menatap Azzura yang sudah sampai menggigil karena wanita itu memang sudah kuyup.
Dicueki Azzura, Excel sengaja mencari kesibukan lain. Excel mematik koreknya kemudian menggunakannya untuk menyulut sebatang r0kok dan kini sudah terselip di bibir berisinya. Baru satu kali hisap dan ia juga baru menemukan ketenangan sebagai efeknya, di sebelahnya Azzura sudah langsung batuk-batuk. Excel segera membuang asal r0kok yang nyaris masih utuh itu hingga asapnya tak tersisa dan memang langsung padam.
“Hujan begini biasanya awet, bisa jadi hujannya malah sampai besok. Kalau kita terus di sini, yang ada kita digrebek warga, kita dinikahin,” ucap Excel masih dingin bahkan walau ia tengah berusaha merayu Azzura sekalipun.
“Yang suruh Mas ke sini, siapa?” balas Azzura sewot. Ia menatap sebal pria tampan yang masih memakai topi hitam di sebelahnya. Pria berkulit kuning langsat yang baginya selalu bertingkah misterius.
“Kalau saya enggak ke sini, nanti yang jagain Mbak Azzura siapa? Kalau Mbak Azzura sampai kenapa-kenapa, bagaimana? Jangan lupa, ... Mbak Azzura ibarat stok nyawa cadangan saya. Sudah sebanyak tiga kali, Mbak Azzura menyelamatkan nyawa saya! Saya punya banyak hutang nyawa ke Mbak. Ditambah lagi, saya sudah mendapat izin dari mas Aidan yang sekarang sedang ke Jakarta!” jelas Excel panjang lebar.
“Mulai enggak jelas lagi, mirip si Ojan!” lirih Azzura yang memang langsung merasa tidak nyaman di setiap Excel mengajaknya menikah layaknya sekarang.
Azzura terus menjaga jarak dan Excel mengawasinya melalui lirikan. Sekejap kilat ia membuat punggung Azzura mengenakan jaketnya dan itu membuat Azzura sangat terkejut.
“Gerakannya cepat banget. Berasa robot atau malah s1luman,” batin Azzura yang menjadi bergidik ngeri sambil terus melipir. Hingga yang ada, ia malah ada di bawah atap yang bocor parah. Namun secepat kilat juga, Excel sudah berdiri membungkuk di atasnya guna menghalau air hujan yang harusnya menimpa tubuh Azzura. Excel melakukannya tanpa sedikit pun menyentuh Azzura.
“Kamu kurang kerjaan!” kesal Azzura, padahal harusnya ia terpesona. Excel langsung celingukan ketika akhirnya Azzura yang berusaha ia lindungi malah pergi begitu saja ke sebelah tempat tadinya Excel berteduh.
“Bisa minta bantuan tolong teleponkan orang tuaku? Hapeku kehabisan batre,” ucap Azzura sembari menatap ragu Excel yang membuatnya agak menghadap ke pria itu.
“Nasib hape kita kembar. Sama-sama kehabisan batre. Lihat, sudah pukul sepuluh malam lewat.” Setelah menunjukkan ponsel yang ia simpan di saku sisi celana levis panjang warna biru dongker yang ia pakai, Excel juga menyodorkan pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan.
Azzura tak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Excel yaitu membawa mobil pria itu, sedangkan Excel akan membawa motor Azzura.
“Mobil Mas setinggi monas!” keluh Azzura ragu naik ke mobilnya sementara penampilannya tak mungkin membuatnya asal manjat.
“Itu mobil sport anti hujan sama jalan terjal,” jelas Excel masih menyikapi dengan dingin.
Azzura melirik sebal Excel. “Tolong balik badan. Soalnya saya akan naik. Enggak harus dijelaskan, kan?”
“Biar saya bantu!” sergah Excel langsung sigap.
“Enggak ... enggak. Eng ... gak per ... lu!” ucap Azzura, tapi kenyataanya terus mundur sekaligus menghindari Excel, malah membuatnya terpeleset. Beruntung, Excel masih sigap menangkapnya.
Tangan kanan Excel menahan lengan kiri Azzura, sedangkan tangan kiri Excel sudah langsung mendekap erat pinggang wanita bercadar pink salem itu. Gerakan yang benar-benar refleks, layaknya tatapan mereka yang sampai bertemu.
Setelah terpaku untuk beberapa saat, Azzura yang menyadari apa yang mereka lakukan tak seharusnya ada, berusaha meloloskan diri dari Excel. Hanya saja, kali ini Excel dengan cekatan membawa Azzura masuk mobil menempati tempat duduk di balik kemudi.
“Si Mas Excel benar-benar berbakat bikin aku jantungan,” batin Azzura yang langsung terkejut lantaran Excel mendadak menutup cepat pintu mobilnya, hingga pintu mobil sebelah Azzura berakhir dengan terbanting dan menimbulkan suara sangat mengejutkan.
“Astaghfirullah ....” Azzura berangsur menghela napas pelan, dan kembali dikejutkan lantaran dari pintu sebelahnya, ada yang mengetuk-ketuk kaca jendela dengan sangat cepat. Itu masih Excel. Excel meminta kunci motor Azzura, membiarkan tubuhnya kuyup.
Sepanjang perjalanan, Azzura merasa, adanya Excel yang terus mengawalnya, membuatnya seolah memiliki bodyguard. Hingga sampai rumah, orang tua Azzura juga langsung menyambut kepulangan mereka. Excel sampai dipinjami pakaian mas Aidan, kemudian dipersilakan menginap di kamar tamu kediaman mereka.
Excel mengawasi suasana kamar tamu di sana lantaran tidak bisa tidur. Namun, dering tanda pesan masuk dari hapenya dan sedang diisi daya batrenya, langsung mengusiknya. Excel berangsur melangkah menuju nakas keberadaan hapenya dicas. Ia meraih gawai canggih itu, kemudian memastikan sekaligus membaca pesan yang tak lain dari Rere.
Rere : Empat m4fia yang aku sewa kemarin enggak becus. Jadi aku minta bantuan Kakak buat urus.
Excel langsung menghela napas dalam. “Maunya apa sih, si Rere? Pernikahan Azzura dan suaminya saja dibatalkan. Masalahnya di mana lagi?” batinnya merasa tak habis pikir. Namun, ia juga mengirim balasan pesan untuk sang adik.
Excel : Buat apa lagi? Bukankah pernikahan mereka saja sudah dibatalkan? Enggak ada lagi poligami apalagi madu-memadu. Kamu beneran istri tunggal. Jadi stop, jangan ganggu Azzura lagi!
Rere : Gara-gara dia, suamiku dicoret dari kartu keluarga dan sekarang, kami hidup susah. Tinggal di kontrakan sempit, tiap hari harus keluar duit. Lamar kerjaan sana sini ditolak terus. Kehamilanku sudah makin besar. Ngenes banget hidupku gara-gara dia.
Excel tak mau pikir panjang karena beban hidupnya yang lebih berat, masih sangat banyak dibandingkan dengan keluh kesah yang Rere lakukan kepadanya.
Excel : Daripada buat bayar menyewa orang, mending uangnya buat bikin hidup kamu biar enggak ngenes lagi, Re.
“Sepertinya memang ada yang enggak beres dengan Rere,” pikir Excel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Sweet Girl
Ndak salah lagi.
2024-12-17
0
Leng Loy
Bener" ga waras si Rere
2024-06-12
0
Nailott
beber gila adekmu,gk waras
2024-06-12
0