“S-sayang, ini ada apa?” ibu Aleya yang berucap lembut, berangsur berdiri meninggalkan sang suami yang ia tatap penuh kekhawatiran.
Ibu Aleya menghampiri Azzura yang duduk di antara pak Kalandra dan ibu Arum. Namun baru saja, di balik cadarnya, dari kedua sudut mata Azzura, cairan bening tak hentinya mengalir. Pandangan Azzura kepadanya berubah menjadi dipenuhi lara. Wanita yang ia ketahu sangat cantik itu terlihat sangat tak berdaya, hancur. Ibu Aleya kembali menoleh menatap sang suami karena ia terlalu bingung. Ia bahkan sudah ikut menangis karena yakin, putranya yang salah. Alasan keadaan sekarang terjadi karena kesalahan putranya.
“Jika memang mas Cikho tidak bisa menghargai saya, tolong sampaikan kepada beliau, tolong hargai orang tua saya. Tolong hargai keluarga saya. Karena saya dilahirkan, saya dibesarkan sekaligus dididik hingga titik kini bukan untuk dibohongi.” Azzura melanjutkan ucapannya.
“Di rumah yang mas Cikho katakan menjadi rumah kami setelah kami menikah, selama kurang lebih enam bulan terakhir, beliau sudah tinggal bersama dengan Rere. Rere sedang hamil besar, dan mereka memang sudah menikah siri atas izin orang tua Rere.”
Bukan hanya seperti disambar petir di siang bolong. Karena apa yang Azzura sampaikan juga membuat nyawa orang tua Cikho seperti dicabut paksa. Ibu Aleya sampai limbung, dan pak Maheza yang lebih bisa tegar segera beranjak, menghampiri kemudian merangkul dari belakang.
“Walau poligami dibolehkan dalam agama kita, ....” Azzura menggeleng. “Saya memilih mundur. Saya akan membatalkan pernikahan kami, terlebih mas Cikho sengaja baru mengatakannya setelah beliau menikahi saya.”
“Jujur saya sangat kecewa! Saya merasa ditipu, tapi saya tidak mau terus larut dalam keadaan yang saya anggap musibah ini karena mas Cikho saja tidak peduli kepada saya sekeluarga. Terserah kalian akan menganggap saya picikk atau malah ....” Azzura mengangguk-angguk. “Benar-benar terserah, ... Namun sekarang juga saya mau, mas Cikho ke sini untuk menyelesaikan semuanya dengan baik-baik. Saya mau, beliau minta maaf kepada orang tua saya, ... kepada keluarga saya, dan juga saya mau beliau segera menyetujui pembalakan pernikahannya.” Azzura berangsur mengembuskan napas pelan bersama rasa lega yang ia rasakan. Dari kedua sisi tubuhnya, orang tuanya sudah langsung mendekapnya.
“Hari ini juga saya akan mengurus pembatalan pernikahannya, agar musibah ini tidak berlarut-larut!” sergah mas Aidan mengambil alih.
Di tempat berbeda, di jalan tol yang mulai dihiasi lalu lalang, tubuh Excel melayang di udara sementara kedua kakinya menahan leher si pria berotot. Satu-satunya sosok yang belum Excel tumbangkan itu baru saja tumbang, setelah terdengar bunyi, “kreket” akibat putaran kedua kaki Excel terhadap leher si pria. Pria bertato dan memiliki tubuh besar itu akhirnya tumbang dengan kepala terus saja miring searah dengan putaran arah jarum jam, layaknya putaran yang dilakukan kedua kaki Excel, beberapa saat lalu.
“Huuufft!” embusan napas yang Excel lakukan dari mulut menjadi tanda kelegaan tersendiri untuknya. Terengah-engah di tengah keringat yang bercucuran, ia menatap wajah ke empat pria yang terkapar di aspal. Tak beda dengannya, keempatnya juga terengah-engah, walau ia tak sampai babak belur apalagi kepalanya miring layaknya si pria bertato.
“Berani kalian menyentuh mereka, kalian juga akan kembali berurusan dengan saya!” tegas Excel yang kemudian memergoki tangan-tangan pria di hadapannya berusaha mengambil pistol dari saku sisi celana. Namun dengan cekatan, ia mengambil setiap pistol dari saku keempatnya, kemudian menaruhnya di mobil jeep bagian depan. Ia meninggalkan keempat pistol di sana untuk menuju bagasi mobil miliknya yang langsung ia buka.
Satu botol berukuran sekitar dua liter, Excel ambil dari dalam bagasinya. Tak membuang-buang waktu, pria itu segera membuka tutup botol kemudian mengguyurkan isinya ke keempat pistol sekaligus mobil jeep-nya.
Aroma bensin menyeruak dari ulah Excel. Keempat pria yang tadi berusaha melum*pu*hkan Excel langsung ketar-ketir karena seperti dugaan mereka, Excel yang langsung mengeluarkan korek api dari saku sisi celana levis biru tuanya, sampai melemparkan korek api yang sebelumnya dinyalakan, ke mobil jeepnya.
“Heaayaaaa ... tollonggg!” Si pria bertato dan kepalanya masih miring, tak hentinya berteriak ketakutan meminta tolong. Sebab ketiga rekannya dan awalnya tampak tidak berdaya, seolah memiliki sumbangan nyawa hingga ketiganya memiliki kekuatan untuk kabur, tanpa memedulikannya.
Excel Lukas yang sudah langsung pergi mengemudikan mobilnya, sampai sibuk menahan tawa. Pria itu mengawasi pemandangan di belakang sana melalui ketiga kaca spion mobilnya sambil menggunakan kacamata hitamnya. Ketiga pria yang sempat lari menyelamatkan diri tadi, mendadak kembali hanya untuk menenteng dan kadang menyeret si pria bertato.
Di kediaman orang tua Chiko, tangis pilu terdengar menyelimuti kebersamaan tapi itu bukan lagi dari Azzura, melainkan ibu Aleya. Ibu Aleya yang sudah kembali duduk di sofa sebelumnya bersama sang suami sudah langsung sibuk menghubungi Cikho. Namun, dari semua pesan sekaligus telepon yang ibu Aleya lakukan, sama sekali tidak ada yang terbalas.
Tak ada keputusan lain selain mendatangi rumah Cikho. Dan andai di sana sudah tidak ada orang, tujuan selanjutnya adalah rumah orang tua Rere.
“Karena jika mereka menikah atas persetujuan orang tua Rere, dengan kata lain orang tua Rere juga bisa menjadi saksi kunci,” ucap pak Kalandra akhirnya angkat suara.
Pak Maheza menghela napas dalam. “Saya ... saya benar-benar minta maaf. Saya pribadi tidak menyangka hal semacam ini akan terjadi.”
Bukan hanya pak Maheza yang sibuk meminta maaf, tapi juga dengan ibu Aleya. Namun kali ini, orang tua Azzura maupun mas Aidan, termasuk juga Azzura, tidak ada yang bisa membalas permintaan maaf keduanya.
Tak lama dari kedatangan Excel Lucas yang baru saja kembali, rombongan keluarga Azzura dan juga orang tua Cikho keluar. Ketiganya nyaris melangkah beriringan, tapi orang tua Cikho yang masih memakai piama lengan pendek sudah langsung naik mobil sedan yang terparkir di depan garasi.
“Aku enggak yakin akan baik-baik saja jika kembali bertemu mereka sekarang juga. Pembatalan pernikahan sudah cukup, kan? Mereka membohongiku! Mas Cikho membohongiku karena ternyata dia sudah menikah dengan Rere dan Rere pun sudah hamil besar. Takutnya pihak mas Cikho memaksaku menerima poligami dan mereka menganggap itu sebagai bagian dari tanggung jawab,” lirih Azzura berkeluh kesah kepada orang tua dan juga kakaknya. Ia sedang meminta pendapat ketiganya.
“Pokoknya aku enggak mau kalau sampai dipaksa menerima poligami atau jadi istri kedua hanya karena semuanya telanjur terjadi. Aku mau pernikahannya dibatalkan saja!” Azzura terus saja memohon.
Excel yang menyimak tersebut karena obrolan lirih itu terjadi di depan mobilnya, Azzura sampai tidak mau masuk mobil dan terlihat jelas karena Azzura takut. Iya, Excel menjadi menemukan fakta baru. Bahwa bukan Azzura yang mengganggu hubungan Rere dan Cikho seperti yang Rere kabarkan kepadanya. Melainkan .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Sweet Girl
Yaaaa adikmu sama Chico yg salah.
2024-12-17
0
Leng Loy
Tuch Adekmu yang jadi wanita gatal
2024-06-12
0
Nailott
baru tahu adekmu seperti apa exel.. jadi wanita jalang
2024-06-12
0