“Kak Excel, aku butuh bantuan Kakak. Tolong carikan pemb*un*uh bayaran yang bisa disewa secepatnya!” ucap seorang wanita dari seberang kepada Excel melalui sambungan telepon. Excel mengenalinya sebagai Rere, adik kesayangannya. “Malam ini juga. Aku benar-benar butuh malam ini juga, kalau bisa dalam hitungan menit, dia harus sudah di rumahku dan Cikho, Kak!”
Tak jauh dari rumah Cikho dan memang ada di lokasi akhirnya mobil yang Excel tumpangi meledak, di dalam mobil, Excel tengah mengawasi suasana mobilnya. Mesin mobil baru saja ia matikan dan memang sengaja.
“Siapa yang ingin kau bu*n*uh? Kenapa kamu sampai melakukannya?” ucap Excel yang makin merasa lemas selain tangan kirinya yang berangsur memepat kedua lubang hidungnya. Excel sengaja menghindari udara di sana dan sebisa mungkin tidak menghirupnya.
“Cikho menikah lagi karena dipaksa keluarganya. Susah payah Cikho mempertahankan rumah tangga kami apalagi aku sedang hamil besar. Namun karena wanita manja dari kampung itu mengaku hamil anak Cikho, hubungan kami terancam berakhir, Kak. Anak dalam kandunganku terancam tidak memiliki papah karena keluarga Cikho dan orang tua wanita kampung itu sangat dekat! Aku mohon tolong aku, Kak. Jangan sampai semua itu terjadi!” Kali ini dari seberang, Rere meraung-raung menangis, benar-benar panik. Membuat Excel yang mendengarnya langsung emosi. Excel sungguh tidak bisa memaafkan wanita kampung yang Rere maksud.
“Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkannya! Sekarang, kamu kirim fotonya. Karena sekarang juga, aku akan mengurusnya!” balas Excel emosional.
“Secepatnya, yah, Kak! Tolong secepatnya kirim pemb*u*nuh yang bisa disewa karena wanita itu sudah Cikho nikahi dan sekarang, dia berusaha menyingkir*kan aku!”
Menyimak itu, Excel langsung mengangguk-angguk. “Cepat kirim foto wanita itu!” tegasnya.
Jantung seorang Excel nyaris lepas dari posisi semestinya ketika foto seorang wanita yang sangat ia kagumi malah menjadi foto yang dikirimkan Rere melalui aplikasi WA.
“Bidan Azzura ...,” lirih Excel menatap tak percaya sekaligus kecewa setiap foto wanita yang tengah menghiasi layar ponselnya.
Azzura, foto itu sungguh Azzura. Dari Azzura yang memakai cadar, maupun tidak. Meski dari semuanya, dalam foto tersebut Azzura selalu memakai pakaian panjang.
Belum sempat memikirkan hal lain, sesuatu mendadak meledak dari mobil bagian belakang Excel. Tubuh Excel sempat mental, tapi tak sepenuhnya terlempar akibat sabuk pengaman yang masih pria itu kenakan. Lebih parahnya lagi, tubuh Excel terasa makin lemas akibat udara tidak sedap yang kian menguasai seantero mobilnya. Udara yang juga membuat paru-parunya seolah berhenti bekerja.
Padahal, kobaran api Excel dapati sudah langsung melahap mobil bagian belakangnya. Excel ingin segera keluar dari mobil, tapi ia tak kuasa melakukannya. Beruntung, ketika Excel sudah nyaris sekarat, seseorang datang. Wanita bercadar bermata sangat indah dan juga sangat Excel hafal. Wanita yang juga tengah membuat pria itu tak percaya atas kabar yang baru saja Excel dapatkan dari Rere.
Azzura, wanita bercadar putih dan memakai gaun pengantin warna putih itu Excel yakini memang Azzura. Azzura langsung memalu kaca pintu sebelah kemudi yang ada di sebelah Excel sekuat tenaga. Lagi-lagi wanita itu menyelamatkannya, hingga akhirnya ia menempati sebuah ruang rawat untuk menjalani pengobatan. Dan ketika ia akan melakukan pembayaran untuk pengobatannya, ternyata semuanya sudah diurus oleh Azzura.
Bagaimana mungkin muslimah tangguh sekelas Azzura malah menjadi pe*lakor? “Atau memang, wanita seperti Azzura percaya, menjadi istri dari suami orang akan mengantarkannya masuk surga ketika dia mati nanti?”
Azzura sudah pergi. Dini hari tadi, wanita itu terjaga untuk Excel ditemani mas Aidan. Azzura menjaganya dengan pakaian yang berbeda dari saat wanita itu menyelamatkannya. Excel berpikir, keadaan itu terjadi lantaran Azzura sengaja ganti pakaian, setelah pakaian Azzura menjadi basah kuyup, akibat wanita itu menyelamatkannya.
***
Demi menghindari fitnah dan hal tak diinginkan lainnya, Azzura memutuskan kembali ke orang tuanya. Azzura melakukannya walau Cikho tidak mengembalikannya secara langsung, layaknya ketika pria itu memintanya untuk menjadi istrinya, kepada orang tuanya.
Dituntun mas Aidan, Azzura langsung ke kamar hotel orang tuanya menginap. Hatinya sudah tak karuan sedangkan perasaannya juga sudah langsung campur aduk. Azzura tidak sanggup melihat kesedihan sekaligus kekecewaan orang tuanya. Namun seperti yang mas Aidan yakinkan, orang tuanya akan jauh lebih terluka jika ia tetap menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi.
“Cikho sudah dewasa, biarkan dia mengurus hidupnya sendiri, termasuk menyelesaikan hubungannya dengan Rere, maupun hubungannya dengan Mbak! Jangan sampai Mbak mengorbankan diri Mbak lagi apalagi mengorbankan orang tua kita, hanya untuk orang egois seperti dia!” ucap mas Aidan sekitar pukul tiga dini hari tadi, meyakinkan Azzura. Alasan yang juga membuat Azzura mantap kembali ke orang tuanya.
Pak Kalandra yang membukakan pintu kamar hotel, langsung menatap aneh kedatangan kedua anaknya, apalagi kedatangan Azzura yang sampai menuntun koper besar. Pak Kalandra sengaja mengerjap dalam, mencoba menepis pemandangan adanya Azzura di hadapannya karena harusnya, putrinya itu tidak ada di hadapannya, apalagi sampai membawa koper dan itu tanpa adanya Cikho. Harusnya Azzura sedang bersama Cikho, menikmati masa-masa indah layaknya pengantin baru pada umumnya.
“Assalamualaikum, Pah ...?” sapa Azzura menatap ragu sang papah, saking takutnya. Apalagi, yang disapa juga kebingungan, seolah sudah bisa merasakan ada yang tidak beres dari adanya ia di sana.
Azzura sampai meraih tangan kanan pak Kalandra yang tetap ada di sisi tubuh untuk ia salami, selain pak Kalandra yang baru membalas salamnya, dan itu pun sangat lirih.
“Kok, Mbak, di sini?” tanya pak Kalandra benar-benar lirih. Karena walau ibu Arum sampai terluka akibat pecahan gelas, ia sama sekali tidak mengabarkan itu kepada siapa pun. Pak Kalandra sudah mengobati luka istrinya, sendiri. Walau dari malam hingga kini, baik dirinya maupun sang istri, belum ada yang bisa tidur.
“Siapa, Pah, ya, datang?” tanya ibu Arum sambil terseok-seok melangkah akibat luka di telapak kaki kanannya. Ia langsung menatap tak percaya kehadiran kedua anaknya. Kedua sosok yang memang tidak mereka undang apalagi Azzura yang harusnya tidak ada di sana.
Namun yang ada, ibu Arum juga refleks menangis hanya karena ia melihat Azzura yang menjadi alasannya terjaga sekaligus gundah gulana. Hidupnya langsung menjadi tidak baik-baik saja hanya karena ia terlalu mengkhawatirkan putrinya itu.
Melihat mamahnya yang sudah menangis, juga pak Kalandra yang terus menatapnya penuh terka sekaligus luka, Azzura sudah langsung tidak sanggup. Ia merunduk dan berakhir terduduk loyo. “Papah ... Mamah, ... maaf! Maaf karena aku sudah mengecewakan kalian! Maaf jika keputusanku mundur, akan menjadi ai*b besar untuk Papah Mamah maupun keluarga besar kita!” tangis Azzura pecah hingga tubuh loyonya terguncang pelan padahal ia tidak sedang kedinginan dan sampai membuatnya menggigil.
Semua luka tak berdarah yang begitu terasa menyiksa dan tengah Azzura rasa, semuanya murni karena kenyataan Cikho yang malah sudah menikahi Rere. Cikho dan Rere tengah menyambut kehadiran anak pertama, yang mana kedua sejoli itu juga menikmati hubungan yang ada. Yang membuat Azzura tak terima, keduanya tak hanya membohongi Azzura, tapi juga orang tua sekaligus membohongi keluarga besar Azzura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Sweet Girl
pitenah
2024-12-17
0
Leng Loy
Sabar Azzura pasti hidupmu akan lebih bahagia tanpa Chiko nantinya
2024-06-12
0
Nailott
pasti,hidupmubahagia tanpa chiko
2024-06-12
0