Bertepatan dengan Azzura yang berhasil memecahkan tuntas kaca pintu sebelah setir, sebuah mobil datang dari arah berlawanan dengan mobil Excel. Mobil tersebut mendadak mundur setelah sampai melewati mobil Excel. Tak lama berselang, dari pintu penumpang mobil tersebut keluar seorang pria yang tak lain mas Aidan, kakak Azzura.
Baik Azzura maupun Cikho yang ada di belakangnya belum ada yang menyadari kedatangan mas Aidan. Pria bertubuh tegap berberewok tipis itu sudah langsung menatap Cikho dengan tatapan marah. Selain itu, napas mas Aidan juga sudah terengah-engah, wujud dari kekesalan berikut kekecewaan yang sudah membuncah.
Cikho belum sempat melihat wajah Excel lantaran ketika pria itu akan membantu Azzura dan nyaris melihat wajah Excel, mas Aidan sudah lebih dulu menarik paksa sebelah lengan Cikho. Cikho langsung terseret, menghadap mas Aidan secara paksa, sebelum akhirnya pria tinggi itu terbanting menghantam aspal basah akibat bogem mentah yang mas Aidan lakukan.
Cikho nyaris jantungan. Jantungnya berdetak sangat kencang sekaligus keras. Karena walau kejadian semacam kini sudah ia yakini akan terjadi jika hubungannya dan Rere sampai terbongkar, tetap saja Cikho belum bisa menerima kenyataan Azzura yang memilih mundur. Malahan Cikho mau-mau saja, dibuat babak belur bahkan nyaris meregang nyawa, asal Azzura mau menerimanya.
Tangis Azzura pecah ketika sang kakak menghakimi Cikho. Kendati demikian, ia tetap berusaha memindahkan Excel dari mobil menuju mobil mas Aidan. Ia memapah Excel masuk ke dalam mobil yang sengaja mas Aidan sewa karena Jakarta keberadaan mereka kini memang bukan tempat asli mereka. Mereka asli orang kampung, alasan yang juga membuat teman-teman Cikho memandang Azzura sebelah mata. Ditambah lagi penampilan Azzura yang agamis, membuat sebagian besar teman Cikho memperlakukannya dengan rasis.
Tersedu-sedu Azzura meninggalkan Excel di tempat duduk penumpang belakang sopir. Ia buru-buru keluar untuk mengambil kopernya.
“Bajinggan!” tegas mas Aidan lirih masih menatap marah Cikho di tengah napasnya yang terengah-engah. Tak beda dengan Cikho dan Azzura, ia juga membiarkan tubuh ya kuyup diguyur hujan. Di hadapannya, Cikho masih meringkuk sembari menatap aspal. Ekspresi yang mas Aidan yakini karena Cikho memang merasa bersalah.
Mendengar suara koper yang ditarik dengan buru-buru, mas Aidan berangsur mundur kemudian menoleh ke belakang. Seperti keyakinannya, itu sang adik. Tangis Azzura pecah ketika ia langsung memeluknya. Azzura menangis meraung-raung, terdengar sangat berat sekaligus tersiksa. Tangis yang juga begitu pilu hingga sendi-sendi mas Aidan terasa sangat ngilu.
“Jika kamu memang laki-laki, jika kamu benar-benar menghargai orang tuamu, harusnya tidak harus menunggu tiga hari. Harusnya, besok pagi juga atau malah sekarang, kamu menyelesaikan semua ini!” tegas mas Aidan sangat emosional. “Satu lagi, ... hanya laki-laki pengecut sekaligus bajiiingan yang dengan sengaja menjebak anak gadis orang!” lanjutnya yang langsung membawa pergi Azzura dari sana.
Azzura masih bertahan dalam dekapan mas Aidan, ketika kakaknya itu membawanya pergi dari sana. Sementara koper besar yang sempat Azzura tarik susah payah, sudah langsung dibawa oleh mas Aidan.
Cikho tersedu-sedu sambil tetap meringkuk, menangisi berakhirnya hubungannya dan Azzura. Sekitar lima menit kemudian, Cikho menyadari dirinya tak lagi kehujanan. Dan ternyata, Rere yang sudah memakai piama kimono panjang, penyebabnya. Wanita yang sudah ia nikahi dan kini tengah mengandung benihnya itu memayunginya. Rere menatanya dengan mata yang basah. Untuk beberapa saat, di mata Cikho sosok Rere berubah menjadi Azzura. Namun ketika Cikho mengedipkan mata, sosok tersebut kembali terlihat sebagai Rere yang seutuhnya.
Satu hal yang membuat mas Aidan makin mengagumi sang adik. Di saat sedang terpuruk sekalipun, Azzura tetap mengutamakan keselamatan nyawa orang lain yang sedang terluka parah. Azzura merawat pria yang tadi sempat Azzura pindahkan dari mobil yang terparkir tak jauh dari depan rumah Cikho. Sosok pria yang tidak asing bagi mas Aidan karena sebelumnya saat di kampung, Azzura pernah merawat pria bernama Excel Lucas itu.
“Dia kenapa?” tanya mas Aidan ketika Azzura keluar dari IGD Excel mendapatkan perawatan.
Tadi Azzura memperkenalkan dirinya sebagai perawat pribadi Excel kepada pihak rumah sakit, hingga Azzura ikut serta menyaksikan penanganan kepada Excel di dalam IGD.
“Keracunan karbon monoksida, Mas.” Azzura menyampaikannya dengan ragu.
Mas Aidan langsung menyikapi dengan serius. “Kok bisa, ya? Berarti di dalam mobilnya, ... pantas dia lemas begitu. Pasti dia sudah lama ada di dalam mobil. Tapi kok mobilnya bisa ada karbon monoksida dan sampai meracuninya?”
Azzura menggeleng gelisah. “Lama-lama aku malah jadi mikir, ... Mas Excel ini banyak musuhnya, Mas. Apalagi setiap bertemu, pasti dia celaka. Dari pas masih di kampung, sampai tadi. Tadi itu mobil yang dia tumpangi juga sampai meledak keras, Mas!” yakinnya.
“Bukannya dia harusnya juga masih di kampung? Terakhir, dia ada di tempat sangkal putung, kan?” mas Aidan tak kalah bingung.
“Atau mungkin, dia memang orang sini, yah, Mas. Dari kulit sama tampangnya saja kan dia beda dari kebanyakan orang kampung!” ucap Azzura yang membuat kebersamaan mereka makin dipenuhi praduga.
Alasan Azzura dan mas Aidan mengenal Excel Lucas memang karena Azzura yang mengobati luka pria itu. Lebih tepatnya tiga minggu lalu, dini hari sekitar pukul setengah tiga pagi, Excel yang terluka parah, menggedor klinik Azzura. Namun karena luka Excel parah bahkan kak kanan pria itu patah, Azzura meminta bantuan mas Aidan untuk mengantarkannya ke tempat penyembuhan patah tulang terdekat.
“Kita pikirkan ini nanti. Sekarang, Mbak ganti baju dulu!” bisik mas Aidan sembari membingkai wajah Azzura yang masih tertutup cadar basah. Azzura bahkan masih memakai gaun pengantin warna putih yang tak kalah basah.
“Aku baik-baik saja, Mas. Malah, ... aku akan tidak baik-baik saja jika aku bertahan di sana!” ucap Azzura lirih juga dan malah kembali berlinang air mata.
Bagi Azzura, keputusan Cikho yang tetap merahasiakan hubungannya dengan Rere, justru membuat Azzura terluka berkali-lipat sekaligus bertubi. Sebab selain harus merasakan kandasnya hubungan mereka, orang tuanya juga harus menanggung malu akibat kebahagiaan palsu yang sempat Cikho berikan. Resepsi mewah dan dihadiri ribuan undangan, termasuk itu undangan dari kampung maupun luar negeri, apa kata mereka jika mereka tahu yang sebenarnya terjadi?
Walau mungkin sebagian dari mereka malah akan memandang remeh Azzura yang menolak dimadu.
“Apa yang kamu lakukan sudah dangat tepat, Mbak. Karena kamu terlalu berharga untuk laki-laki seperti dia. Termasuk istrinya, mereka sama saja karena adanya mereka pun karena mereka sama-sama menginginkan!” tegas mas Aidan. “Lupakan mereka dan mulailah lembaran baru. Karena seperti yang Mbak katakan, Mbak berhak bahagia tanpa mereka!”
Ketika mas Aidan sibuk menguatkan sang adik, di dalam, Excel yang sudah merasa jauh lebih baik, diam-diam mengawasi sosok Azzura yang dapat ia lihat karena kebetulan, Azzura berdiri tak jauh dari pintu IGD yang baru saja dibuka oleh salah seorang perawat.
“Kenapa Rere memintaku untuk membunuh Azzura?” batin Excel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Leng Loy
Jadi Excel pembunuhan bayaran itu
2024-06-12
1
Nailott
oooh jadi exek..pembunuh bayaran .rere, tega , jahat banget,
2024-06-12
0
Samsia Chia Bahir
Rupax exel k rmhx chiko krn undangn rere niihhh, udh salah malah mau membunuh 😣😣😣😣
2024-04-24
0