Kedua orang dewasa di dekat Azzura masih saja bungkam, walau cadar yang menutupi wajah Azzura sudah basah akibat air mata Azzura yang tak hentinya berlinang. Kebungkaman yang juga membuat hati Azzura terasa sangat sakit karena diamnya Cikho termasuk Rere yang sempat sengaja keceplosan dan itu mengabarkan kepada Azzura, seolah membenarkan apa yang sudah telanjur Azzura simpulkan atas keadaan sekarang.
Mundur, Azzura melakukan itu di tengah tatapannya yang fokus kepada wajah khususnya kedua mata Cikho. “Mas tahu, makin Mas diam, makin sengaja Mas melukaiku. Kita, ... apalagi kalian sama-sama dewasa. Mustahil tidak ada hal lebih jika keadaannya sudah begini.” Terisak pedih, Azzura susah payah berusaha tegar.
Terdengar dari depan sana, Rere yang menghela napas dalam dan terdengar sangat berat, tak kalah menyiksa dari rasa tak terduga ya g tengah Azzura rasa. Rere Azzura dapati menatap kosong lantai di hadapannya. Tampang Rere mendadak terlihat sadis bahkan, ... keji ketika akhirnya wanita itu menatapnya.
“Karena kita sama-sama dewasa, ... karena itu juga ini terjadi.” Rere menatap Azzura penuh keseriusan.
Tak ada sedikit pun penyesalan yang terpancar dari cara Rere bersikap, termasuk itu tatapan Rere kepada Azzura. Malahan Rere seolah ingin menegaskan, Azzura yang menjadi pengganggu di sana. Pengganggu dalam kebersamaan Rere dan Cikho.
Satu anak panah seolah Rere lepaskan melalui tatapan tajamnya dan langsung mengenai tepat jantung Azzura. Alasan yang juga membuat Azzura kembali mundur sempoyongan menahan sakit dari luka tak berdarah yang tengah ia rasakan.
“Maaf ....” Cikho belum berani menatap Azzura.
Kata maaf dari Cikho barusan, benar-benar menyempurnakannya luka tak berdarah Azzura. Sekali lagi, Azzura mundur sempoyongan bersama anak panah tak kasat mata yang wanita itu rasa mendarat tepat di ulu hatinya.
Azzura menatap tak percaya Chiko dengan mata yang benar-benar basah, hingga pandangannya buram sangat tidak jelas. “Kata maaf sama saja mengakui.” Layaknya ucapannya, ia juga menjadi menatap Cikho penuh kepastian cenderung menuntut.
Lantaran Cikho tetap menunduk, padahal di depan sana, Rere sudah langsung gelisah dan tak hentinya melirik Cikho penuh harap, Azzura sengaja berkata, “Jika caramu tetap begitu, ke depannya bahkan untuk selama-lamanya, aku pastikan kamu tidak akan pernah lagi melihatku!”
“S-sayang, aku mohon jangan katakan itu!” sergah Cikho sudah langsung ketakutan.
“K-Khooo!” tahan Rere mirip cacing kepanasan.
Rere terlihat jelas tidak terima, tak bisa membagi Cikho dengan siapa pun apalagi Azzura apa pun alasannya.
Tubuh semampai Azzura menjadi terguncang pelan akibat tangisnya. “Apa yang kamu lakukan sangat jahat, Mas! Kamu sudah melukai keluargaku!”
“Kamu melukai aku. Rasanya sakit banget, Mas!”
“Lima tahun aku jadi tunangan kamu setelah sebelumnya, hubungan kita juga sangat dekat. Mbak Rere tahu ini karena kalian memang bersahabat. Sebelumnya, aku dan bahkan orang-orang di sekitar kita selalu mengingatkan kalian agar kalian menjaga jarak jika Mas memang jauh lebih memilihku.” Azzura menatap tak habis pikir pria di hadapannya.
“Kami juga tidak sengaja melakukannya, sumpah!” yakin Cikho menangis ketakutan menatap Azzura dengan memohon.
“Tidak sengaja bagaimana?” sergah Azzura.
“Aku benar-benar bingung, tapi pada kenyataannya, aku memang melakukannya—” Cikho belum selesai menjelaskan karena Azzura sudah menahannya.
“A*l*ko*hol? Atau malah obat pe*rang*s*ang?” sergah Azzura. “Siapa yang menaruhnya? Teman-teman kalian atau malah rekan bisnis kalian yang merasa kalian terlalu cocok hingga kalian harus ‘melakukannya’? Atau malah memang Rere yang melakukannya karena baginya, kamu laki-laki sempurna? Tampan, kaya raya ... punya banyak relasi?” tegas Azzura masih sangat tenang, tertata layaknya ketika seorang Kalandra sedang meng*gem*pur lawan debatnya di depan meja persidangan.
Walau melalui lirikan sangat kilat, Azzura bisa melihat apa yang baru saja ia tegaskan sudah langsung membuat Rere menatapnya tidak suka.
“Kesalahan satu malam yang kami lakukan membuat Rere hamil anakku. Rere benar-benar tidak bersalah. Teman-teman kami lah yang melakukannya. Rere dan keluarganya bahkan mau menerima walau pernikahan kami hanya pernikahan siri dan itu kami rahasiakan dari keluargaku. Mereka juga menerima pernikahan kita.” Cikho berusaha meyakinkan dengan emosi yang jauh lebih stabil daripada sebelumnya. “Rere memang istri pertamaku. Namun percayalah, tidak ada satu pun wanita yang benar-benar aku cintai di dunia ini, selain dirimu!”
Kebas, tak ada lagi yang Azzura rasa karena nyawanya juga seolah dicabut paksa detik itu juga atas apa yang baru saja Cikho katakan. Benar-benar pengakuan yang sangat menyakitkan.
Azzura selalu berpikir, dirinya dan Cikho akan bersama-sama hingga akhir, menjadi pasangan dunia akhirat. Apalagi selain mereka yang sudah dekat sejak kecil karena orang tua mereka sudah seperti keluarga, alasan pernikahan mereka ada juga karena mereka saling mencintai. Namun, pengakuan Cikho barusan yang mengakui Rere sebagai istri pertama, walau Chiko baru menikahi Rere secara siri. Cikho terpaksa menikahi Rere tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk orang tuanya, akibat kesalahan satu malam yang membuat Rere mengandung benihnya, benar-benar menghancurkan impian indah Azzura.
Tiba-tiba saja Azzura teringat kekhawatiran sang mamah yang merasa sangat berat melepasnya menikah dengan Cikho. Rasa berat tak beralasan, seolah Azzura akan pergi ke medan perang. Dan sekarang, Azzura menduga-duga, ... mengaitkan kekhawatiran itu pada apa yang tengah terjadi.
Orang bijak bilang, seorang ibu ibarat kulit ari dalam kehidupan anak-anaknya. Jadi, andai anak-anaknya terluka, ibu juga yang akan lebih dulu merasakannya. Azzura berpikir, itulah yang sebenarnya sang mamah rasakan perihal firasat yang membuat ibu Arum berat melepasnya. Karena sebenarnya, malaikat sudah mengabarkan itu kepada ibu Arum. Namun ibu Arum yang hanya terbatas dalam firasat, tak mungkin melarang Azzura melanjutkan langkah menuju pernikahan bersama Cikho. Walau yang ada, Azzura benar-benar merasa dijebak.
“Jika memang Rere sepenting itu. Jika memang Rere sesempurna itu untuk Mas. Kenapa Mas masih menginginkan aku? Kenapa Mas tetap menarikku menjadi bagian dari kalian?” tegas Azzura. “Maaf ....” Azzura menggeleng lemah di tengah tatapan tajamnya yang mengawasi Cikho maupun Rere, silih berganti.
“Maaf aku enggak senaif itu. Karena ketika orang dewasa memutuskan untuk menjalani sebuah pernikahan, juga sebuah hubungan poligami boleh dilakukan ... semua itu sungguh harus memiliki alasan yang benar-benar kuat. Sementara yang Mas lakukan, ... Mas sengaja menjebakku, dan Mas malah berusaha membandingkan aku dengan istri pertama Mas.”
“Tentu kami beda karena prinsip dan lingkungan kami tumbuh saja berbeda. Biarpun aku orang kampung, biar pun aku hanya seorang bidan dan bagi teman-teman kalian kita tidak selevel, ... aku enggak se*ren*dah kalian!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Nailott
bagus azzura ,kecam terus perempuan berngsek itu,juga chiko suamimu itu
2024-06-12
1
Leng Loy
Kasian sekali Azzura dia seperti dijebak, untuk apa pernikahan yang diawali dengan kebohongan
2024-06-11
0
Samsia Chia Bahir
Azzuraaaaa 😍😍😍
2024-04-24
0