Bab#19. KIYD.

"Hai pengusaha baru." sapa Dygta. Ia mengetahui jika Nadia sudah terpisah dengan Leo. Karena pria ini berani mendekat dan menyapa.

Tanpa Dygta ketahui, jika Black berada tak jauh dari tempat mereka berdua berada. Pria yang merupakan asisten sekaligus ajudan Leo itu, takkan berada jauh ketika banyak srigala berkeliaran di tempat ini.

Tatapan mata elang Dygta yang tajam, berkilat penuh gelora. Bibirnya tipisnya melengkung membentuk sabit. Ketika iris pekatnya berpapasan dengan cahaya redup, dari sepasang mata bulat di hadapannya.

"Kau mau meledekku? Apa karena kau kesal karena aku telah membuat keberadaanku tak berarti di perusahaan itu!" sarkas Nadia.

"Ck. Apa kau sedang kedatangan si bulan? Kenapa sensi sekali." decak Dygta.

"Pergilah, aku sedang tidak butuh teman bicara. Apalagi, yang seperti dirimu!" usir Nadia sekali lagi.

Langkah kakinya mundur untuk sengaja menjauh dari pria yang berasal dari masa lalunya yang kelam dan menyakitkan itu.

"Nad, aku hanya ingin berteman denganmu. Maafkan aku," ucap Dygta pelan seraya menghampiri Nadia.

"Tuan, boleh kah saya maju? Nona di ganggu oleh mantan suaminya," lapor Black pada Leo yang kebetulan tengah di jamu minum oleh para relasinya.

"Jangan lakukan apapun!" titah Leo. Keduanya berkomunikasi lewat chat.

"Tuan-tuan, mohon maaf saya harus undur pamit. Semoga kita memiliki lain waktu untuk bertukar pikiran seperti ini lagi," ucap Leo ramah namun penuh wibawa.

"Baik Tuan Leonardo. Sukses selaku dan ingat untuk berbagi proyek dengan kami," kata salah satu pengusaha kawakan yang pada akhirnya di sambut tawa oleh yang lain.

Leo hanya tersenyum elegan.

Sementara itu, Nadia tengah berkali-kali menepis tangan Dygta yang ingin menyentuhnya.

"Pergilah! Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya. Bahkan, hatiku belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa kaulah penyebab kepergian bayiku!" pekik Nadia.

"Kau, jangan sembarangan bicara! Bayi itu tiada karena ulahmu sendiri, ini tidak ada sangkut pautnya denganku!" tampik Dygta dengan nada suara tinggi.

"Kau memang pria yang tak punya hati. Kau tak pantas menjadi seorang ayah. Karena itulah Tuhan mengambil kembali titipannya dari rahimku!" hardik Nadia lagi tak mau kalah dengan tuduhan yang di lemparkan oleh mantan suaminya itu. Hatinya sangat sakit, dan luka yang hampir mengering itu kembali koyak karena ucapan demi ucapan Dygta.

"Kurang ajar! Kau terus saja menyalahkanku!!" teriak Dygta seraya mencengkeram pergelangan tangan Nadia.

Tetapi, tiba-tiba ... dari arah belakang tubuh pria itu ...

Bugh!!

Brukkk.

Dygta tersungkur keras kerena sebuah tendangan yang di arahkan oleh Leo secara cepat dan bertenaga.

Nadia membekap mulutnya melihat mantan suami laknatnya itu mencium bumi.

"Nadia, kau ikut aku!!" titah Leo seraya menarik tangan wanita yang masih terperangah kaget.

"Pria ini, terkadang sikapnya membuatku ingin memukulnya dengan palu gada. Tapi, kalau sudah tiba-tiba manis dan heroik seperti ini ... aku malah ingin menjadikannya guling hidup." Nadia memukul sendiri kepalanya karena telah berpikiran.

Leo melirik sekilas pada wanita yang digandengnya itu, kepalanya menggelang pelan dan senyum tipis terbit dari sudut bibirnya.

"Kau membawaku kemana, Tuan?" tanya Nadia yang heran karena arah yang mereka lalui bukan menuju mansion.

"Hanya ketempat di mana kita bisa melepas semua masalah." Leo berkata tanpa menoleh sama sekali. Kedua matanya tetap menatap fokus pada laptop yang duduk di pangkuannya.

Nadia sekali lagi hanya bisa menghela napas saja.

Mereka kini telah sampai di suatu tempat. Sekalian hari sudah menunjukkan waktu lewat dari tengah malam.

"Ini ...!" Nadia terkejut, dia sudah lama ingin sekali mengunjungi tempat ini. Tetapi, tentu saja pada waktu siang hari.

Spontan, wanita itu melepas sepatunya, merasakan hamparan benda kecil halus dan hangat yang diinjak oleh jemari kakinya.

Leo pun melakukan hal yang sama, dia bahkan menggulung celana panjang dan juga lengan kemejanya. Mereka berdua meninggalkan sepatu di dalam mobil dan mulai berjalan kaki.

Deburan ombak sayup-sayup tertangkap panca indera. Semakin melangkah maju, jari-jari kaki mereka semakin membenam di hamparan pasir yang lunak yang basah itu.

Leo membiarkan lampu depan kendaraannya menyorot untuk menerangi lokasi sekitar pantai tersebut.

Angin berkecepatan sedang menyibak rambut coklat sepunggung milik Nadia yang sengaja di gerai wanita itu.

Leo, tiba-tiba menggamit tangan ramping Nadia dan menuntun wanita itu untuk menyusuri pinggir pantai yang sepi.

Iyalah, tengah malem😁

" Kita, naik kesana. Aku akan mengajakmu untuk berteriak dari atas batu karang besar itu," ajak Leo.

"Ah, kau tau saja kalau aku memang sangat ingin berteriak dengan kencang," jawab Nadia senang.

Keduanya cukup bersusah payah ketika naik ke atas di karenakan keadaan yang gelap. Letak mobil Leo cukup jauh sehingga cahaya dari lampu sen dari kendaraan tersebut tidak menyentuh area baru karang.

"Berteriaklah yang kencang. Lepaskan semua beban dalam hatimu," titah Leo lagi.

Nadia pun mulai memposisikan dirinya untuk berteriak sekencang-kencangnya.

"AAAAAAAKKKKKHHHHH ....!!!"

"AKU ... BENCI ... KAU!! DYGTA!!!"

"KAU ... JAHAAAATTTT!!!"

Setelahnya Nadia menangis dengan kencang. Leo membiarkan wanita itu melampiaskan semua perasaan negatif yang menumpuk di dalam dadanya saat ini.

"Ku harap, malam ini kau telah mengeluarkan semua perasaan tak berguna itu. Dan, mulai harimu untuk menyusun rencana pembalasan dendam kita," ucap Leo.

"Kita balik yuk, udah kelamaan di sini," ajak Nadia.

"Balik kemana?" tanya Leo dengan berbisik di belakang tubuh Nadia.

Bahkan, pria itu dengan santai meletakkan dagunya di bahu Nadia.

Akhirnya Nadia terkesiap kaget, lantaran Leo saat ini telah berani untuk memeluk wanita itu dari belakang.

"Apa yang Tuan lakukan? Lepaskan aku," ucap Nadia yang merasa kesulitan berbicara.

"Ki–kita harus balik ke mansion, memangnya mau kemana lagi!" tukas Nadia. Wanita itu tak bisa menoleh karena Leo telah menempelkan bibirnya di leher putih yang jenjang itu.

"Hentikan! Apa yang anda lakukan!" protes Nadia dengan nada suara yang tidak cukup kencang karena kalah pada deburan ombak.

"Tunggulah, beberapa saat lagi kau akan melihat keindahan dari tempat ini," bujuk Leo yang pada saat ini telah terbuai dengan kebersamaan keduanya.

... Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Siti Mutrikah

Siti Mutrikah

perfect

2025-03-28

0

Endng 369

Endng 369

soo sweet

2024-12-14

2

Cesar Manuel Ris Costa

Cesar Manuel Ris Costa

selalu

2024-10-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!