"Ini kan LKS nya Arsen." Naya mengambil bukunya yang ada di dalam tas tapi justru milik Arsen yang berada di dalan tasnya. Padahal dia sendiri yang menyiapkannya. Mengapa bisa tertukar?
Naya kini melihat Arsen yang duduk jauh darinya. Arsen tak memperhatikannya sama sekali. Akhirnya diam-diam dia mengirim pesan pada Arsen lewat chat WA.
Bu Ratna sudah mulai berkeliling dan melihat hasil tugas mereka. Meski hanya sekilas tapi nama Arsen jelas tertera di sampul buku itu dan tentu saja hasil tulisannya yang berada di buku Arsen dia jelekkan.
Akhirnya Naya menghubungi nomor Arsen barulah Arsen menyadarinya. Dia kini saling tatap dengan Naya. Akhirnya Arsen berdiri dan menggulung LKS nya lalu dengan cepat melemparnya hingga mengenai kepala Naya.
"Arsen!" bentak Bu Ratna.
Arsen tersenyum lalu menghampiri Naya dan mengambil bukunya yang ada di meja. "Maaf Bu, tadi ada lalat tapi bukunya malah terlempar."
Naya menatap tajam Arsen karena dia seperti sengaja melempar kepalanya dengan buku. Setelah selesai memeriksa tugas mereka, Bu Ratna kini membahas soal-sial itu di papan tulis.
Arsen kini justru menguap panjang. Semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, sekarang dia merasa sangat mengantuk. Beberapa saat kemudian dia tertidur sambil menutup kepalanya dengan buku.
Rupanya Bu Ratna tahu jika anak muridnya yang bandel itu sekarang sedang tertidur di kelasnya. Bu Ratna menghampiri Arsen dan menggedor meja cukup keras. Tidak satu dua kali Arsen tertidur di kelasnya. Habis sudah kesabarannya.
Seketika Arsen terbangun dan memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing.
"Arsen, sudah tiga kali kamu ketiduran di kelas Ibu. Kali ini Ibu akan beri kamu hukuman. Bersihkan toilet pria sekarang!"
Arsen menghela napas panjang, dia tidak mau lagi membantah hukuman. "Baik Bu. Toilet kelas dua belas saja ya."
"Iya, cepat lakukan!"
Arsen tak menjawab lagi. Dia kini berdiri sambil memegang pinggangnya yang masih saja terasa sakit.
Berasa jompo banget gue sekarang. Tubuh gue kenapa ikutan sakit semua gini.
Naya terus menatap Arsen. Tidak seperti biasanya Arsen yang selalu membantah setiap kali diberikan hukuman. Sekarang dia hanya diam saja dan langsung mengerjakan hukumannya.
Apa semalam Arsen gak bisa tidur gara-gara dua hari ini tidur di sofa?
...***...
Setelah selesai mengerjakan hukumannya, Arsen kembali ke kelas tepat saat jam istirahat berlangsung.
Arsen kini duduk di bangkunya sambil menyandarkan kepalanya di atas meja lagi. Karena kepalanya semakin terasa pusing.
"Kenapa lo?" tanya Dika yang melihat Arsen lemas.
"Udah gak ada duit makanya dia loyo." ejek Roni.
Mereka semua justru menertawakan Arsen lalu keluar dari kelas.
"Shits kalian semua!" kata Arsen pelan. Dia seperti tidak memiliki tenaga hari itu.
Naya mengerutkan dahinya menatap Arsen. Dia tidak mengira teman-temannya justru pergi di saat Arsen sudah tidak punya apa-apa. Ternyata bukan dia saja yang merasa dikhianati sahabat tapi juga Arsen.
"Ran, lo duluan aja nanti gue nyusul." kata Naya.
Rani hanya tersenyum. Dia sahabat yang sangat pengertian tentu saja dia mengerti dengan maksud Naya.
Setelah Rani keluar dan tidak ada siapapun di dalam kelas, Naya mendekati Arsen. "Lo kenapa?"
"Gue gak enak badan."
Seketika Naya menyentuh kening Arsen yang terasa hangat. "Lo mau apa? Biar gue beliin."
Arsen hanya menggelengkan kepalanya lalu dia duduk dan membuka dompetnya. "Ini ada 50rb, lo mau beli apa terserah lo. Sama beliin gue obat paracetamol."
Naya hanya menatap selembar uang berwarna biru yang sekarang ada di tangannya.
"Udah, gue cuma punya itu. Di dompet gue cuma sisa buat beli bensin sama rokok doang."
Jika dia punya uang, dia juga tidak mau menerima pemberian Arsen yang sepertinya tidak ikhlas itu. "Kalau sakit ke UKS."
"Duh, males. Dikirain gue cuma pura-pura dan nanti juga satu aja obat dari UKS. Mending lo beliin aja obat buat gue. Di kopsis ada." Lalu Arsen kembali menyandarkan kepalanya di meja.
Akhirnya Naya keluar dari kelas dan menuju kopsis. Meskipun dia menganggap pernikahannya itu tidak serius tapi dia merasa seolah dia mempunyai kewajiban juga merawat Arsen disaat sakit.
Setelah membeli roti, air mineral dan juga obat dia kembali ke kelas.
Semoga aja masih gak ada orang lain di dalam kelas. Malu banget kalau sampai ada yang tahu gue beliin Arsen meskipun pakai uang dia.
Naya menghela napas panjang saat dia masuk ke dalam kelas. Untunglah masih tidak ada siapa-siapa selain Arsen di dalam sana.
"Nih, cepat diminum obatnya." Naya memberikan satu kantong plastik itu pada Arsen lalu dia kembali duduk di tempatnya.
Arsen menegakkan kepalanya, kemudian dia membuka air mineral itu dan meminumnya bersamaan dengan obat. Dia kini melihat Naya yang hanya berdiam diri sambil membaca bukunya tanpa memakan apapun.
Arsen menghela napas panjang, lalu dia berdiri dan menghampiri Naya. "Lo aja yang makan. Disuruh beli kenapa lo gak beli juga." Arsen memberikan roti itu pada Naya lalu dia keluar dari kelas karena dia tidak ingin mendengar penolakan dari Naya.
Naya hanya menatap punggung Arsen yang kian menjauh. Dia sekarang mulai bisa memahami Arsen. Dibalik kenakalan Arsen, dia sebenarnya sangat baik hanya saja dia tutupi agar dia tidak terlihat lemah.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Ris Mawati
lanjut
2025-01-23
0
Lono Susilo
lanjut,,
2024-12-04
1
park omonim
cowok emang gitu.
2024-11-18
0