Gelap menyapa, menyingkirkan cahaya sang Surya berganti dengan cahaya rembulan. Malam ini terlihat cerah, di hiasi bulan bertabur bintang.
Semilir angin yang menyentuh permukaan wajah cantik Jingga membuat gadis itu memejamkan mata. Berdiri di balkon menatap taman belakang rumah yang terlihat temaram oleh lampu taman berbentuk bulat.
Ada kolam renang di bawah sana, terdapat kolam ikan buatan juga. Di atas kolam ikan itu ada sebuah gazebo untuk bersantai. Di sekeliling kolam renang dan kolam ikan itu di tumbuhi rumput hijau yang memanjakan mata.
Terdapat beberapa bangku panjang terbuat dari kayu berikut mejanya. Ada pula meja bundar yang di kelilingi kursi. Di setiap bangku, tumbuh pohon rindang, entah pohon apa itu, Jingga tak jelas melihatnya.
"Apa besok aku boleh kesana? Sepertinya tempat itu sangat nyaman untuk menenangkan diri," gumamnya.
Suara ketukan di pintu kamar membuat Jingga menoleh, kemudian ia beranjak dari balkon memasuki kamar, berjalan mendekati pintu dan membukanya perlahan.
"Selamat malam, Nona. Apa anda masih mengingat saya?" tanya perempuan paruh baya yang tampak membungkuk hormat padanya.
"Tentu aku ingat, Bu Rika?"
Rika mengangguk, senyumnya tersungging manis, "Boleh saya masuk Nona? Saya di tugaskan pak Lim untuk memberi tahu beberapa tugas yang harus anda lakukan nanti," jelas Rika.
Jingga mengangguk beberapa kali, ia balas tersenyum dan membuka pintu kamarnya lebar-lebar, "Silahkan masuk, Bu."
"Terima kasih, Nona.."
Jingga kembali mengangguk, lalu mereka duduk di sofa.
"Nona, ada beberapa tugas yang harus anda lakukan setelah anda menikah dengan tuan Langit nanti, saya harap anda melakukannya dengan tulus."
Jingga menelan ludahnya, ia takut dari salah satu tugas itu adalah perihal ranjang. Jika boleh jujur, ia tak siap. Apalagi ia tak mengenal Langit, bukan karena pria itu tua dan lebih pantas menjadi kakeknya, tapi karena ia belum mengenal siapa Langit sebenarnya.
"Jangan takut Nona, tua Langit orang yang sangat baik. Meski pun tegas dan dingin, tapi beliau orang yang sangat baik. Dia tidak akan memaksa jika anda tak mengizinkannya," jelas Rika.
Sepertinya, Rika bisa membaca jalan pikirannya. membuat Jingga malu dan tersenyum kikuk.
"Bu-bukan seperti itu Bu, aku hanya.."
"Saya mengerti Nona," potong Rika. Ia tersenyum, dan mulai menjelaskan apa saja tugas yang harus Jingga lakukan dari pagi hari menyambut Langit bangun, sampai malam hari menemani pria itu tidur.
"Menemaninya tidur?" ulang Jingga sesaat setelah Rika menjelaskan tugasnya.
Rika mengangguk, senyum tipis terukir di bibirnya, "Iya nona, selama ini yang selalu menemani tuan tidur adalah Alex, dan setelah anda menjadi istrinya nanti, tugas itu akan di alihkan pada anda."
Mendengar kalimat itu, Jingga ternganga. dalam bayangannya bermunculan hal yang menggelikan. jadi selama ini Alex kerap menemani Langit tidur? begitu pikirnya.
"Hanya menemani sampai tuan Langit benar-benar tertidur Nona. Tidak terjadi apa-apa di antara mereka," celetuk Rika.
Lagi-lagi Jingga terkejut, Rika seperti tahu semua isi hatinya.
Jingga tersenyum kikuk, "Iya Bu, pasti seperti itu.."
Setelah memberi tahu tugas apa saja yang harus di lakukan Jingga, juga kebiasaan yang selalu Langit lakukan, Rika mengajak Jingga turun untuk makan malam.
Ingin menolak tapi Jingga takut. Ia masih enggan bertemu dan bersitatap dengan Langit terlalu lama, tatapan pria tua itu seperti hendak mengulitinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Ning Suswati
nurut aja jingga, kan tinggal tidur, makan, mandi uang yg pasti, hidup dirumah istana, mau apa lagi
2025-01-11
1
Tek deli
aku baru baca,malah aku berharap langit emang kyak hot daddy gitu thor,biar romantisny beda😁😁
2024-12-24
0
Ani Sifa
saudaranya kayaknya nanti iri😂
2025-03-19
0