“Lo yakin sama apa yang tadi lo katakan ke gue gan?“ ujar detektif Keiko sambil mengenakan jaket coklatnya. Hari ini detektif Keiko sudah boleh pulang setelah hampir dua hari terbaring di rumah sakit yang membuatnya justru merasa gelisah memikirkan kasus ini.
Detektif Egan adalah orang yang memohon kepada dokter yang nerawat detektif Keiko untuk mengijinkan detektif Keiko untuk bisa keluar dari rumah sakit secepatnya demi kasus yang tengah nereka tangani saat ini.
“Birdella sendiri yang ngomong sama gue kematin. Kalau lo masih kurang yakin, lo bisa hubungi Birdella lagi.“
“Gue ngga perduli soal itu. Yang gue perduli saat ini bahwa kecurigaan gue terhadap Gilen semakin membuat diri gue sendiri yakin,” balas detektif Keiko sambil mengikat tali sepatunya.
“Apa sekarang kita langsung ke galery tempat Gilen bekerja?“ tanya detektif Egan.
“Bukankah lebih cepat akan jauh lebih baik,” balas detektif Keiko yang kini sudah siap sepenuhnya.
“Lo yakin udah ngga apa-apa, Kei?“ tanya detektif Egan yang masih merasa khawatir dengan keadaan rekannya itu.
“Apa sih yang akan kita lakukan di sana nanti? Apa kita akan kejar-kejaran?“
“Ngga akan dong. Kalau pun nanti ada adegan kejar-kejaran itu akan jadi tugas gue,” balas detektif Egan penuh percaya diri.
“Nah kalau gitu gue udah siap sekarang,” balas detektif Keiko sambil memamerkan senyuman kepada rekannya.
Lalu akhirnya kedua detektif itu pun segera bergegas keluar dari rumah sakit dan langsung menuju galeri yang menjadi tanggung jawab Gilen, di salah satu sudut kota.
Setelah menempuh parjalanan kurang lebih lima belas menit dari tumah sakit akhirnya detektif Egan dan Keiko sudah sampai di pintu masuk galeri yang menjadi tempat tujuan mereka.
Mereka memasuki galeri itu dan kembali menemui resepsionis di tengah-tengah galeri tersebut.
“Kami ingin bertemu dengan pak Gilen,” ujar detektif Keiko.
“Maaf, tapi pak Gilen sedang pergi ke luar negri bu,” jawab resepsionis itu tersenyum ramah.
“Ke negara mana tepatnya?“ tanya detektif Keiko.
“Ke Kuba bu.“
“Sepertinya Gilen sedang dalam misi melarikan diri,” ujar detektif Egan lantang tanpa berusaha menutupi ucapannya membuat resepsionis di hadapannya menunjukan ekspresi kaget.
“Bagaimana dengan Dalmar, apa dia ada hari ini?“ tanya detektif Keiko lagi kepada resepsionis itu.
“Pak Dalmar pun sedang tak ada,” jawab resepsionis itu.
“Mari saya tebak, Dalmar juga pergi ke Kuba bersama Gilen!?“ ujar detektif Egan.
Resepsionis itu mengangguk dan berkata, “Betul pak.“
“Nah apa saya bilang!“ ucap detektif Egan dan mengagetkan hampir semua orang.
Dari kejauhan, detektif Keiko dan Egan mendengar seseorang berteriak memanggil nama mereka. Mereka berusaha mencari asal suara dan menemukan Sarah yang sedang berada di salah satu meja.
Mereka segera menghampiri Sarah di meja kerjanya ketika Sarah melambaikan tangannya, memberi isyarat agar kedua detektif mendekat.
“Bagaimana, apakah Diatmika sudah ditemukan?“ tanya Sarah.
“Iya. Kami sudah menemukan Diatmika,” balas detektif Egan.
Sepersekian detik Sarah menunjukan ekspresi kaget namun tak butuh waktu lama hingga akhirnya Sarah menghela nafas dan tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu, setidaknya orang tuanya sudah merasa lega sekrang,“ ujar Sarah.
“Kamu tahu apa yang sedang dilakukan Gilen di Kuba?“ tanya detektif Keiko.
“Menurut pesan elektronik yang juga dikirimkan kepada saya, pak Gilen pergi ke Kuba untuk mnghadiri sebuah pamerasan lukisan yang kemungkinan sebagiannya akan dibawa ke galeri ini. Tapi saya tahu bahwa di sana pak Gilen juga akan menemui pamannya yang tinggal di sana,” suara Sarah tiba-tiba mengecil.
“Apakah Dalmar biasa menjaga pak Gilen sampai ke luar negri?“ tanya detektif Egan.
“Setahu saya biasanya tidak tapi karena perjalanan kali ini ke Kuba maka Dalmar ikut menemani pak Gilen sekaligus menemui keluarganya,” jelas Sarah.
“Dalmar orang Kuba?“ tanya detektif Egan.
“Bukankah sudah jelas dari namanya, DALMAR,” ucap Sarah.
“Benar juga, Dalmar adalah nama popular di Kuba,” ujar detektif Egan.
“Jadi, apakah kalian sudah menemukan siapa pembunuh Diatmika?“ tanya Sarah berbisik.
“Belum, kami masih menyelidikinya,” jawab detektif Keiko.
“Jangan-jangan! Apakah kalian mencurigai pak Gilen sebagai pelaku pembunuhan Diatmika?“ suara Sarah makin mengecil.
“Kalau kamu, mencurigai siapa?“ detektif Egan ikut mengecilkan suaranya.
“Sejujurnya sejak awal saya memang mencurigai pak Gilen. Tapi siapalah saya ini!? Mana boleh saya menuduh atasan saya sendiri apalagi tanpa bukti yang mendukung,” ujar Sarah yang belum juga merubah volume suaranya.
“Apakah kamu bisa jadi mata-mata kami di sini?“ tanya detektif Egan.
“Jadi mata-mata? Wah tentu saja sama mau,” balas Sarah.
“Bagus kalau begitu,” balas detektif Egan.
“Apa yang saya harus lakukan sebagai mata-mata kalian?“ tanya Sarah penuh semangat.
“Kamu hanya harus melaporkan gerak-gerik Gilen kepada kami. Juga kabari kami begitu Gilen pulang dari Kuba,” ujar detektif Keiko yang kini juga berbisik.
“Apakah itu pekerjaan penting?“ tanya Sarah ragu.
“Tentu. Kita akan saling berbagi informasi dalam kasus ini,” tambah detektif Egan.
“Bagaimana?“ tanya detektif Keiko.
Sarah berpikir sejenak memainkan rambut ikal miliknya lalu berkata, “Bagaimana jika pak Gilen tahu bahwa saya ini mata-mata kalian?“
“Tentu saja kami akan melindungimu, Sarah,” balas detektif Keiko.
“Apa aku bisa memegang janji kalian?“ tanya Sarah lagi.
“Kami ini polisi. Sejak awal kami memulai pekerjaan, kami telah disumpah janji kepada negara. Tentu saja kami tak akan mengecewakan kamu,” jawab detektif Egan berusaha meyakinkan Sarah.
Sarah kembali terdiam dan memainkan rambut ikal miliknya dan kali ini juga menggigiti jari tangannya.
“Kalau kamu tidak mau tentu kami tidak memaksa,” ujar detektif Keiko.
“Tapi apa kamu tidak mau terlibat dalam pekerjaan mengasikan kami ini?! Kamu akan mengetahui segala informasi yang belum atau tak akan kami bagikan kepada media massa,” rayu detektif Egan.
Sarah mengerutkan dahinya, seolah dia sedang berpikir keras. Menimbang-nimbang apa yang akan menjadi pilihannya saat ini. Sarah terlihat sangat tertarik dengan pekerjaan ini namun takut akan resiko yang akan dia terima nantinya
“Udahlah gen. Ngga usah paksa Sarah buat nerima pekerjaan ini,” ujar detektif Keiko.
“Gue lagi ngga maksa Sarah kok. Gue cuma kasih tahu keseruan yang kita nikmati selama ini. Ya siapa tahu Sarah juga ingin ikut merasakan bersama kita,” ujar detektif Egan.
“Iya bener juga sih tapi lo bikin dia bingung,” balas detektif Keiko.
Sarah yang sejak tadi tenggelam dalam kebimbangannya memilih pada akhirnya membuka suara, “Baiklah kalau begitu, asal kalian memegang dan menepati janji kalian maka saya akan itu bersama kalian dalam penyelidikan ini.'
“Bagus!“ ujar detektif Egan yang merasa telah memenangkan perdebatan psikologis ini.
“Kalau begitu, mari bekerjasama sejak saat ini,” ujar detektif Keiko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments