Detektif Keiko terbangun di sebuah ruangan perawatan di rumah sakit. Di sebelahnya duduk dengan tenang detektif Egan sambil asyik membaca buku tebal di tangannya.
Saat detektif Keiko bergerak, detektif Egan menyadari bahwa rekannya kini sudah sadar dari pingsan.
“Sudah berapa lama gue ada di sini, gan?“ tanya detektif Keiko masih berusaha menyesuaikan diri.
“Baru saja lewat dua puluh empat jam beberqpa menit lalu,” balas detektif Egan.
“Bagaimana dengan bu Alana?“ detektif Keiko panik menyadari bahwa bu Alana tak ada di sekitarnya.
“Bu Alana sedang mengurus proses pemakaman Diatmika sekarang ini.“
“Tapi kasus ini belum selesai, mana bisa Diatmika dimakamkan,” ujar detektif Keiko kebingungan.
“Memang belum akan ada pemakaman, hanya persiapannya aja.“
“Bagaimana dengan perkembangan kasus kita?“
“Belum ada kemajuan yang berarti buat saat ini. Makanya sekarang lo istirahat aja deh dulu biar cepat pulih dan kita bisa segera kembali mengurus kasus ini bareng gue.“
Detektif Keiko yang biasanya keras kepala mendadak menjadi penurut dan mengikuti saran dari detektif Egan.
******
Lantai khusus forensik kembali sibuk seperti hari biasanya, begitu pula ruang otopsi dan ruangan Aris yang kembali mengeliat berusaha mencari secercah harapan dari semua yang mereka teliti beberapa hari belakangan.
Birdella sendiri masih sibuk mengotopsi dua jasad sekaligus, yaitu jasad Odel dan Erik yang merupakan dua korban pertama yang mereka temukan dalam kasus yang awalnya orang hilang lalu berubah jadi kasus pembuhuhan.
Karena akhirnya kewalahan juga, akhirnya Birdella memanggil Aris untuk meminta bantuannya dalam melakukan otopsi kepada dua jasad tersebut.
“Dengan senang hati prof,” ujar Aris begitu tahu dirinya dimintai tolong oleh Birdella lewat sambungan intercom.
Dengan bergegas Aris datang ke ruangan otopsi yang tersedia khusus untuk Birdella.
“Masuklah ris,” ujar Birdella ketika mengetahui kedatangan Aris di ambang pintu.
Aris langsung diminta untuk mengenakan pakaian khusus yang berwarna hijau, yang telah disiapkan oleh Birdella di ruangnnya. Setelah selesai mengenakan pakaian itu, Aris langsung bergegas membantu Birdella sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Birdella.
“Prof, saya menemukan adanya retakan pada rahang Odel,” ujar Aris seteleh memeriksa tulang bagian wajah odel melalu sinar X.
“Luka lama atau baru?“
“Melihat dari lukanya, sepertinya ini luka lama prof, mungkin sudah satu bulan sebelum Odel kehilangan nyawanya,” Aris menjelaskan.
“Kamu yakin ris?“ tanya Birdella.
“Saya yakin seratus persen.“
“Mungkin ini bisa jadi salah satu petunjuk baru untuk para detektif,” ujar Birdella.
Birdella mencatat retak tulang rahang Odel ke dalam catatan khusus otopsi lalu mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
“Prof, bukankah lebih baik jika anda yang memeriksa Odel?!“ ujar Aris, menghentikan kegiatannya mengotopsi Odel beberapa saat.
“Kenapa begitu?“ tanya Birdella.
“Saya merasa tidak terlalu kompeten dan khawatir akan melewatkan beberapa hal penting,”
Kali ini Birdella yang menghentikan kegiatannya lalu memandang ke arah Aris dan berkata, “Bukankah sejak tadi kau mengerjakan tugasmu dengan baik?!“
“Terima kasih Prof,” ujar Aris.
“Kamu bahkan menemukan retak tulang rahang yang tak saya temukan pada otopsi pertama. Bagaimana kamu menemukannya?“ tanya Birdella.
“Awalnya saya memeriksa wajah korban, lalu saya berusaha menyentuhnya dan terasa ada yang aneh pada struktur wajahnya. Lalu saya pikir akan lebih baik jika saya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.“
“Lalu kamu mengambil gambar sinar X-nya?“
“Iya Prof. “
“Kalau begitu saya yang merasa tak ragu memberi kamu pekerjaan mengotopsi Odel kepada kamu,” ujar Birdella dan kembali melanjutkan pekerjaannya pada Erik.
Aris sendiri merasa sangat bangga mendapatkan pujian semacam itu dari seniornya dan tentu saja itu membuatnya semakin semangat melakukan kegiatan otopsi pada Odel.
*****
DEEERRRTTT
DEEERRRTTT
DEEERRRTTT
Ponsel di meja sebelah detektif Egan bergetar, karena tak ingin mengganggu istirahat rekannya dia segera meraihnya dan keluar dari ruangan perawatan detektif Keiko.
“Detektif Egan di sini,” ujarnya saat meletakan ponsel di telinganya.
“Gimana kabar Keiko, gan?“
“Oh baik bu. Dia sedang istirahat sekarang.“
“Ternyata kepergian Diatmika tak hanya berat untuk saya tapi juga untuk Keiko,” ujar bu Alana sedih.
“Keiko sudah menganggap Diatmika sebagai adiknya sendiri. Makanya saat peroses pencarian pun Keiko ingin terlibat langsung dalam pencarian itu. Wajar jika Keiko sampai segini syok nya bu,” ujar detektif Egan.
“Mereka teman sejak kecil. Walau banyak teman seusia mereka dulu di lingkungan kami namun mereka adalah dua orang yang paling saling bertautan. Tak pernah ada yang berani mengganggu Diatmika selama ada Keiko di sampingnya,” cerita bu Alana.
“Berarti Diatmika beruntung memiliki Keiko sebagai kakak,” balas detektif Egan.
“Betul. Bukan hanya Diatmika yang merasa beruntung, saya dan suami juga merasa beruntung karena akhirnya Diatmika memiliki seorang kakak yang selalu dia idam-idamkan selama ini.“
“Saya rasa begitu juga dengan Keiko. Dia selalu ingin jadi seorang kakak dan ternyata ada Diatmika dalam hidupnya,” ujar detektif Egan.
“Sesungguhnya tak pernah ada yang memisahkan mereka hingga akhirnya ayah Diatmika meninggal dan memaksa kami keluar dari rumah itu. Kami pindah ke tempat yang jauh hingga Diatmika kehilangan kakaknya dan Keiko kehilangan adiknya,” lirih cerita bu Alana.
Detektif Egan yang mendengar cerita itu hanya bisa terdiam meresapi seberapa sedih dua wanita ini kehilangan orang tersayang mereka. Lirih suara bu Alana menggambarkan jelas bahwa kini dia sedang meneteskan air mata yang membanjiri pipinya.
“Saya titip anak saya yang tak pernah saya lahirkan itu kepada kamu, karena saya harus urus segala keperluan kepulangan adiknya,” mendadak suara bu Alan menjadi ceria.
“Baik bu Alana, serahkan Keiko kepada saya di sini. Saya janji akan menjaganya dengan baik.“
Lalu keduanya memutuskan sambungan telepon mereka. Namun baru saja detektif Egan ingin memasukan ponselnya ke dalam saku jaketnya, panggilan lain pun masuk.
“Dengan detektif Egan di sini.“
“Bagaimana kabar Keiko?“
“Dia sedang istirahat sekarang, tapi tadi sudah makan. Lo telepon cuma buat nanyain keadaan Keiko?“ tanya detektif Egan merajuk.
“Oh iya, bagaimanaa dengan lo? Lo ngga pulang dan istirahat dulu?“
“Ngga usah, mamanya Keiko belum juga datang karena papanya sedang sakit juga. Gue larang mamanya Keiko ke sini dan janji buat jaga Keiko di sini.“
“Papanya Keiko sakit? Sakit apa?“
“Demam sejak dua hari lalu, tapi belum tahu sakit pastinya karena belum diperiksa dokter.“
“Lo mau gantian aja sama gue?“
“Ngga usah, lo ada kerjaan penting di sana, kerjain aja dulu buat bantu gue dan Keiko menyelesaikan kasus.“
“Ngomong-ngomong soal kasus, gue punya petunjuk baru buat kasus ini.“
Detektif Egan yang mendengar itu mendadak bersemangat, dia bahkan tidak perlu kopi untuk pagi ini walau semalam tidurnya kurang nyaman di sofa sebelah ranjang perawatan detektif Keiko.
“Tadi Aris menemukan retak rahang pada jasad Odel dan sepertinya itu luka lama.“
“Jadi kemunginan Odel melakukan perkelahian dengan seseorang bahkan sebelum penyerangan yang merenggut nyawanya?“
“Kemungkinan besar seperti itu. Dilihat dari kerusakan rahang Odel, kemungkinan dia berkelahi atau dihajar oleh orang bertubuh besar.“
“Itu pasti perbuatan Dalmar,” ujar detektif Egan.
“Siapa itu Dalmar?“ tanya Birdella.
“Kepala keamanan di galeri sekaligus penjaga Gilen si pengawas galeri tempat Daitmika bekerja paruh waktu,” detektif Egan menjelaskan.
“Dia bisa saja jadi tersangka,” ujar Birdella.
“Gue udah lama mencurigai dia.“
“Siapa? Dalmar?“
“Bukan, tapi Gilen.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments