Setelah penemuan jasad Diatmika serta pembunuhan Odel dan Erik dapat dipastikan kalau semua kasus yang bermula dari hilangnya Diatmika kiji sepenuhnya menjadi kasus yang perlu ditangani oleh detektif Keiko dan Ehan.
Sementara detektif Bima dan Mustofa terpaksa mundur dari kasus yang awalnya mereka selidiki bersama detektif Egan dan Keiko.
Detektif Keiko menjadi semakin berapi-api untuk mencari siapa pembunuh Diatmika yang kemungkinan juga bertanggung jawab pada kematian Odel dan Erik yang mereka temukan terlehih dahulu.
“Apakah lo juga yang bertanggung jawab dengan otopsi Odel dan Erik?“ tanya detektif Egan.
“Iya. Gue yang melakukan otopsi pada jasad Odel dan Erik waktu itu,” jawab Birdella.
“Bagaimana dengan mayat Odel dan Erik?“ tanya detektif Keiko.
“Tak ada yang spesial di jasad mereka tapi soal peluru yang ditemukan di kedua mayat itu sudah gue serahkan ke Aris. Mungkin dia sudah menemukan hal baru dari peluru itu.“
“Menurut lo, apa mungkin Odel yang menghilangkan nyawa Diatmika, lalu orang lain yan berusaha meleyapkan Odel dan Erik?“ detektif Keiko berusaha mengorek isi kepala rekannya.
“kalau pun benar, kenapa orang itu juga melenyapkan Erik?“ tahya detektif Egan.
“Mungkin saat orang itu berusaha melenyapkan Odel, Erik tanpa sengaja melihat pelaku dan membuat pelaku panik dan pada akhirnya juga melenyapkan Erik,” ujar detektif Keiko.
“Kemungkinan itu bisa saja terjadi,” balas detektif Egan.
“Tapi yang bikin gue penasaran adalah, apa yang membuat Odel ingin menghabisi Diatmika?“ dteektif Keiko masih melanjutkan pemikirannya.
“Apakah mungkin Diatmika mengetahui sesuatu?!“
“Apa mungkin si pelaku sebenarnya adalah pak Gilen, pimpinan galeri di tempat Diatmika bekerja?“ detektif Keiko melakukan prediksi berikutnya.
“Kalau gue lihat waktu itu, pak Gilen memang terlihat acuh saat kita menanyai soal hilangnya Diatmika,” detektif Egan berusaha kembali mengingat.
“Gue kembali curiga sama dia,” balas detektif Keiko.
“Bagaimana kalau kita ke tempatnya lagi dan berusaha menanyainya kembali?“
“Gue rasa itu ide yang bagus,” sambut detektif Keiko.
DREEETTT
DREEETTT
DREEETTT
Baru saja kedua detektif akan berangkat menuju ke galeri dimana pak Gilen berada, ponsel milik detektif Keiko yang disimpannya di dalam kantung jaketnya bergetar.
“Hallo, dengan detektif Egan di sini,” ujarnya membuka pembicaraan.
“Sayangku, Keiko. Ibu sudah ada di bawah. Ibu ingin bertemu dengan Diatmika hari ini.“
“Oh, bu Alana. Naiklah ke lantai khusus ruang otopis. Minta tolong ke petugas di bawah untuk memencetkan tombol ruang otopis,” detektif Keiko memberi arahan.
“Kamu ada dimana nak?“
“Saya ada di sini bu. Nanti aku nunggu ibu di depan lift ya, kita ketemu di sini,” ujar detektif Keiko.
Seteleh memutus hubungan telepon itu, detekti Keiko menarik nafa sangat dalam, berusaha mengisi seluruh paru-parunya sepenuh mungkin dan kemudian menghembuskan seluruh oksigen itu berlahan.
Detektif Keiko berusaha sekuat tenaga mempersiapkan dirinya dengan apapun yang mungkin akan terjadi dipertemuan terakhir antara bu Alana dan Diatmika.
Setelah beberapa menit, pintu lift terbuka. Bu Alana yang menggunakan gaun terusan berwarna pink keluar dari lift sambil tersenyum dan mendekat ke arah detektif Keiko dan Egan.
“Bagaimana, apakah ibu sudah terlihat cantik?“ tanya bu Alana sambil melukis senyum di wajahnya.
“Anda cantik sekali bu Alana dengan gaun berwarna merah muda ini, membuat anda sepuluh tahun lebih muda,” puji detektif Egan.
“Wah terima kasih sekali nak Egan. Merah muda adalah warna kesukaan Diatmika sejak dulu. Berbeda dengan Keiko yang menyukai warna biru. Betul begitu nak?“ tanya bu Alana memastikan.
“Bahkan ibu masih ingat watna kesukaan aku?“ detektif Keiko kagum akan jal itu.
“Bukan hanya warna, makanan, minuman, cemilan, bahkan shampo dan sabun mandi yang sejak dulu remaja kamu gunakan dan sampai sekarang masih kamu gunakan masih ibu ingat,” ujar bu Alana.
“Benar bu. Shampoo dan sabun mandi yang aku gunakan sejak dulu tak pernah aku ganti.“
“Bahkan cita-citamu menjadi detektif dan kini telah terwujud dan bisa membantu ibu mencari adikmu, Diatmika.“
“Maafkan aku bu,” ujar detektif Keiko lirih.
“Kenapa minta maaf? Harusnya ibu yang berterima kasih kepada kamu,” ujar bu Alana.
Bu Alana menggenggam kedua tangan detektif Keiko dan memberi isyarat bahwa diabtelah siap untuk bertemu dengan satu-satunya anak yang dia miliki, Diatmika.
Detektif Keiko menggenggam tangan itu lalu berjalan menggandeng bu Alana menyusuri lorong lantai khusus otopsi itu dan berhenti di depan pintu ruang otopsi milik Birdella.
TOKK
TOKK
TOKK
“Masuk!“ terdengar dari dalam Birdella mempersilahkan.
Detektif Keiko membuka pintu ruangan itu, terlihat Birdella sedang berdiri di samping meja otopsi sambil merapikan rambut Diatmika.
“Del, ini ibu Alana. Beliau mama dari Diatmika,” detektif Keiko memperkenalkan.
Setelah mengetahui bahwa ibu tersebut adalah ibu Alana, ibu dari Diatmika, Birdella menghentikan kegiatannya merapikan rambut Diatmika yang tersisa dan meleparkan senyuman ke arah bu Alanan.
Jasad Diatmika kini sudah diberi baju oleh Birdella. Gaun berwarna merah muda miliknya yang dia berikan kepada Diatmika untuk meyambut ibunya tersayang.
“Kamu bilang ibu ngga akan mengenali Diatmika!? Buktinya ibu mengenali anak ibu yan tercantik ini, Kei,” ujar bu Alana.
Bu Alana mendekati jasad Diatmika yang sudah termumifikasi secara alami itu. Mengusap wahajnya dan menggenggam tangannya yang sudah kering itu.
“Ini ibu nak. Ibu dan Keiko, yang selalu kamu sebut sebagai kakak, sudah mencarimu selama berhari-hari dan akhirnya kita di sini berkumpul bertiga,” bu Alana seolah bisa berkomuhikasi dengan jasad Diatmika.
Detektif Egan yang sejak tadi berdiri di samping detektif Keiko, menepuk lembut pundak rekannya untuk memastikan bahwa rekannya mampu bertahan. Detektif Keiko pun refleks memegang tangan detektif Egan dan meremasnya, memberi isyarat bahwa hatinya sedang hancur.
“Kita harus sama-sama mengucapkan terima kasih kepada kakakmu, Keiko. Eh maksud mama detektif Keiko karena akhirnya bisa menemukan kamu, nak,” ujar bu Alana lagi namun kali ini dia mengalihkan pandangannya yang semula melihat ke arah Diatmika kini ke arah detektif Egan. Lalu bu Alana tersenyum lebar.
Detektif Keiko semakin meremas tangan rekannya, detektif Egan karena marasa perlu semakin dikuatkan saat melihat keadaan bu Alana yang tersenyum lebar namun air matanya sudah terjun deras membasahi kedua pipinya.
Birdella yang menyadari bahwa situasinya sudah tak baik-baik saja segera mendekat ke arah bu Alana, menopang tubuhnya yang mulai melemah dan hampir saja terjatuh.
“Ibu harus kuat demi Diatmika,” bisik Birdella.
“Saya memang harus kuat. Di sisa akhir hidupnya, Diatmika berusaha keras untuk menyelamatkan saya, bagaimana saya bisa menyerah sekarang,” ujar bu Alana masih terus tersenyum dan mengeluarkan air mata secara bersamaan.
BRAK
Beberapa detik kemudian, detektif Keiko yang justru tumbang, jatuh di lantai ruang otopsi Birdella. Namun dengan cepat detektif Egan mengangkatnya dan membopongnya menuju ruangan ke ambulance yang selalu siaga di lantai dasar gedung kantor mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments