Bab Tujuh Belas

Ketika detektif Keiko mendapati kenyataan bahwa jasad yang mereka temukan di ruang pendingin itu adalah Diatmika, sahabat di masa kecilnya sekaligus orang yang telah dianggapnya sebagai adiknya sendiri, tentu saja membuat sebagian jiwanya hancur dan dunianya terasa gelap seketika.

Bukan hanya soal hati detektif Keiko namun juga tentang bagaimana detektif Keiko bisa menyampaikan berita duka ini kepada bu Alana, wanita setengah baya yang setiap harinya selalu bertanya soal perkembangan kasus anak satu-satunya itu. Tugas mendatangi keluarga korban dan memberitahukan kabar duka adalah tugas yang paling detektif Keiko benci walau tak sesulit tugas ini untuk detektif Egan. Namun kini tugas menyebalkan ini terasa dua kali menyesakan hati detektif Keiko karena harus memberi kabar duka ini kepada orang yang dia kenal secara pribadi, yang memiliki salah satu sudut hatinya.

Namun sisa jiwa detektif Keiko yang yang tersisa justru bergejolak membara, semakin berusaha untuk memburu siapa yang telah menghilangkan nyawa sahabat kecilnya itu. Terlihat jelas dari wajahnya yang terus memerah dan matanya yang terus menatap tajam tak seperti biasanya.

“Mau gue aja yang menghubungi bu Alana?“ tanya detektif Egan menawarkan diri karena tahu bahwa tugas ini mejadi beberapa kali lipat terasa sulit bagi detektif Keiko.

“Ngga usah. Biar nanti aja gue yang datang ke bu Alana dan memberitahukannya.“

“Benar lo bisa?“ detektif Egan merasa tak yakin.

Detektif Keiko tersenyum ke arah detektif Egan dan berkata, “Tenang aja. Gue lebih kuat dari yang lo pikirkan.“

****

Setelah menghubungi detektif Mustofa dan Bima, untuk menyelesaikan kasus hilangnya Diatmika.

“Jadi kasus ini dikembalikan ke kalian?“ tanya detektif Bima.

“Sepertinya begitu,” jawab detektif Egan.

“Bagaimana bisa, kita memulai kasus ini berempat tapi pada akhirnya kasus ini berubah menjadi kasus pembunuhan sepenuhnya,” ujar detektif Bima.

“Sungguh, gue lebih bahagia jika kasus ini tetap menjadi kasus orang hilang,” ujae detektif Keiko merasa biru.

Dan pada akhirnya mereka berdua kali ini menggunakan mobil pribadi milik detektif Keiko, bukan menggunakan mobil dinas sperti biasanya. Detektif Keiko ingin datang sebagai dan menyampaikan kabar buruk ini sebagai keluarga bukan seorang petugas kepolisian.

Sekali lagi mereka mendatangi rumah bu Alana. Namun kali ini, tak ada lagi harapan yang menyelimuti hati detektif Keiko karena mengetahui bahwa Diatmika sudah ditemukan dalam keadaan yang tak pernah dia harapkan sebelumnya.

Detektif Keiko berdiri sejenak di depan pintu berwara hijau itu, menghela nafas panjang dan mulai mengetuk pintu itu.

Baru dua kalidetektif Keiko mengetuk pintu, pintu itu telah di buka dari dalam rumah oleh bu Alana.

“Hai sayangku. Mari masuk nak,” sambut bu Alana.

Detektif Keiko memaksa diri untuk memasang senyum di wajahnya lalu memeluk bu Alana. Setelah itu detektif Keiko dan detektif Egan berjalan memasuki rumah bu Alana.

Kembali, suasana hangat menyergap hati kedua detektif karena penataaan ruang tamu bu Alana yang begitu apik dan enak dipandang mata.

“Kenapa kalian hanya berdiri? Duduklah,” ujar bu Alana selalu ramah.

Detektif Keiko dan Egan menuruti perintah dati bu Alana dan segera duduk sofa yang empuk dan nyaman. Seolah sofa itu ingin menelan mereka dalam kenyamanan hingga hampir saja mereka pula apa tujuan mereka datang ke situ.

“Jadi, apa sudah ada perkembangan dari kasus hilangnya Diatmika?“ tanya bu Alana penuh semangat.

Detektif Egan memandang ke arah detektif Keiko dan manarik nafas dalam-dalam dan mulai berkata, “Itu adalah tujuan kami datang ke sini hari ini.“

“Benarkah Kei? Oh syukurlah, akhirnya ada kemajuan juga,” ujar bu Alana masih bersemangat.

Detektif Keiko masih belum berkata-kata hingga akhirnya bu Alana memanggilnya.

“Eh iya bu,” ujar detektif Keiko terbata.

“Jadi bagaimana? Apa kabar terbarunya? Sejak kemarin kamu tak mengabari ibu.“

Detektif Keiko menarik nafas dalam-dalam dan berusaha mengendalikan dirinya.

“Bu… jika hari ininaku menbawa kabar buruk untuk ibu, bagaimana?“ tanya detektif Keiko.

Mendengar pernyataan itu, bu Alana terdiam selama beberapa menit, menyandarkan bahunya ke sansaran sofa yang sangat empuk itu. Bu Alana memandang ke langit sore itu yang terlihat jingga disebagiannya, lewat jendela besar di ruangan itu.

“Sebenarnya, ibu sudah sangat lelah Kei,” ujar bu Alana masih memandangi langit.

“Bu… “

“Ibu bahkan tak berharap banyak lagi. Bagi ibu, Diatmika pulang dalam keadaan apapun, ibu sudah siap dan akan menerimanya dengan hati lapang.“

“Bu…” ujar detektif Keiko sambil meneteskan air mata.

“Sudah tiga hari berturut-turut, ibu bermimpi Diatmika pulang dengan wajah yang bersinar dan semyumnya begitu manis. Tapi ibu tahu, itu justru bertanda tak baik,” pandangan mata bu Alana kini beralih dari langit sore ke arah wajah detektif Keiko dan bu Alana menyadari air mata yang jatuh membasahi kedua pipi detektif Keiko.

“Kenapa kamu menangis?“ tanya bu Alana sambil tersenyum.

“Kami sudah menemukan Diatmika bu. Namun saat ini dia sudah tak bernyawa lagi di ruang otopsi,” jawab detektif Keiko terisak menahan tangisannya.

“Akhirnya… hari ini akan kesayangan ibu, anak ibu stau-satunya pulang juga. Tuhan sudah mengabulkan doa itu,” ujar bu Alana masih tersenyum.

“Bagaimana Tuhan mengabulkan doa ibu, saat Diatmika pulang dalam keadaa tak bernyawa?“ tanya detektif Keiko.

“Anakku Keiko, anak yang kusayangi walau tak pernah dalam kandunganku, apapun yang terjadi pada ibu dan Diatmika adalah takdir yang tak bisa kami halangi lajunya. Ibu hanya berharap ibu bisa melihatnya untuk terakhir kalinya. Ibu tak sempat melihatnya saat ibu membuka mata setelah operasi dan ibu meminta kepada Tuhan untuk memberi ibu kesempatan untuk melihatnya sekali lagi.“

Detektif Keiko dan Egan hanya bisa terdiam mendengar ucapan bu Alana yang walaupun tegar namun jelas terdengar dari nada bicaranya yang berketar bahwa dia pun merasa kehancuran yang sangat. Hanya karena rasa cintanya kepada Tuhan yang membuatnya kuat menerima takdir hidup yang telah digariskan.

“Bu Alana, anda tetap harus datang ke ruang otopsi dan melakukan identifikasi trhadap jasad Diatmika,” ujar detektif Egan ragu-ragu.

“Kapan? Bisakah sekarang?“ tanya bu Alana.

“Bisa saja, tapi anda harus tahu bahwa kondisi Diatmika tak dalam kondisi baik,” detektif Keiko berusaha menerangkan.

“Bagaimana maksud kamu nak?“ tanya bu Alana.

“Jasad Diatmika sudah termumifikasi secara alami,” detektif Egan berusaha membantu menjawab.

“Termumifikasi? Diatmika jadi mumi?“ tanya bu Alana manarik tubuhnya ke depan, merubah posisi duduknya yang awalnya bersandar kini justru menjorok ke depan.

“Betul bu. Wajahhya mungkin tak lagi ibu kenali,” jawab detektif Egan.

Sekali lagi bu Alana merebahkan punggungnya ke sandraan sofa yang sedang dia duduki, lalu termenung sejenak lali berkata lagi, “Apapun bentuknya, saya akan tetap menerima Diatmika. Bagaimanapun bentuknya bagi saya Diatmika akan selalu sama, akan selalu cantik. Maaf Keiko, bahkan Diatmika jauh lebih cantik dari kamu.“

Bu Alana kembali tersenyum lebar dan memandang sayup ke arah detektif Keiko yang kini sudah menangis tersedu tak perduli lagi dengan keadaan sekelilingnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!