Bab Enam Belas

Pagi-pagi sekali Aris sudah berdiri di dekat pintu lift menunggu Birdella yang beberapa menit lalu dia hubungi karena sudah mendapatkan hasil dari penelitiannya selama beberapa hari belakangan.

Aris memasukan kedua tangannya ke dalam kantung celananya sambil memainkan bola kecil dengan kaki kanannya saat kemudian pintu lift di hadapannya terbuka dan orang yang ditunggunya keluar darindalam lift.

“Kenapa ngga ngomong di telepon aja sih?“ ujar Birdella sambil terus berjalan menuju ruangannya.

“Saya bingung untuk mengatakannya prof,” balas Aris sambil mengekor Birdella.

Birdella berhenti tepat di depan pintu ruangannya dan membalik badannya lalu bertanya, “Kenapa malah jadi bingung?“

“Anda bisa ikut saya ke ruangan saya?“ tanya Aris.

“Kamu sudah menemukan identitas mayat itu, si nona x?“ raut wajah Birdella berubah penasaran.

“Benar,” jawab Aris.

“Jadi siapa dia? Diatmika?“

“Akan lebih baik jika anda ikut saya ke ruangan saya.“

Aris melangkah terlebih dahulu lalu kemudian Birdella mengikutinya dari belakang. Kecepatan langkah mereka sama hingga dengan cepat sampai di dalam ruangan Aris.

Aris membuka layar komputernya dan di sana terlihat hasil dari pekerjaan Aris beberapa hari ini.

“Jadi siapa dia?“ tanya Birdella.

Aris kemudian membuka dokumen lain yang merupakan hasil dari tes DNA dan sidik jari korban dan memperbesar nama yang tertera di dalam dokumen itu.

Seketika Birdella membelalakan matanya dan jantungnya berdetak sangat kencang. Apa yang selama ini dia takutkan justru terjadi. Tertera nama Ditmika pada dokumen itu.

“Saya tak berani menghubungi detektif Keiko dan mengabarinya,” ujar Aris.

Birdella pun hanya bisa terdiam masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kini dia mengerti situasi yang dirasakan oleh detektif Egan.

Bila Birdella saja merasa sangat terkejut dengan hasil ini, bagaimana dengan detektif Keiko yang adalah sahabat sejak kecil dan bahkan menganggap Diatmika sebagai adiknya sendiri.

Birdella masih membayangkan bagaimana reaksi detektif Keiko saat menerima berita dan kenyataan ini.

“Prof. Birdella?“ panggil Aris.

“Oh, iya?“

“Bagaimana Prof?“ tanya Aris.

“Biar saya saja yang mengabari detektif Keiko. Saya kembali dulu ke ruangan saya,” balas Birdella.

Birdella melangkah meninggalkan Aris di ruangannya. Tentu saja tak hanya Birdella yang dilanda rasa khawatir namun begitu pula dengan Aris yang sejak mendapatkan hasil analisanya diliputi rasa terkejut dan khawatir akan perasaan detektif Keiko.

Sesampainya di ruangan miliknya, Birdella memilih untuk duduk dulu di kursi kerjanya sambil bertanya pada dirinya sendiri bagaimana caranya dia memberi tahu detektif Keiko, sementara jasad yang ternyata adalah jasad Diatmika masih terbaring di atas meja otopsi di sebelah Birdella.

Birdella memandang ke arah jasad itu kemudian bangkit dari duduknya dan mendekat kepada jasad itu.

“Hai Diatmika, maaf bila selama ini aku tak memperlakukanmu kurang baik. Seperti yang kamu ketahui sejak lama, aku adalah Birdella dan aku ini adalah sahabat dekat detektif Keiko. Dia pasti sangat kaget dan sedih saat dia tahu bahwa ini adalah kamu. Jadi menurut kamu, bagaimana caranya aku memberitahu detektif Keiko?“ tanya Birdella pada jasad Diatmika di hadapannya.

Birdella kembali terdiam, berdiri di samping jasad Diatmika dan masih menimbang-numbang bagaimana cara dia memberitahh detektif Keiko. Namun saat itu ponsel di dalam jas putihnya berdering. Dengan ragu Birdella mengambil ponsel itu dan menjawab telepon yang masuk ke dalam ponselnya.

“Hallo, dengan Birdella di sini,” ujar Birdella mwnjawab panggilan telepon itu.

“Bagaimana, apa sudah ada kabar?“ tanya suara di sebrang telepon.

“Kei, lo ke sini sekarang bisa?“ tanya Birdella dengan suara yang dia usahakan untuk seperti biasa.

“Kayaknya udah hasilnya ya!? Gue dan Egan ke sana sekarang.“

Rasa di dalam hati Birdella bercampur aduk, antara sedih, kecewa dan khawatir menjadi satu.

Tak berapa lama, detektif Keiko dan Egan sudah sampai ke ruangan lab mikik Birdella dan sesegera mungkin memborbardir Birdella dengan berbagai pertanyaan.

“Gue ngga bisa jawab pertanyaan kaoian kalau kalian ngasih pertanyaan sebanyak itu,” protes Birdella.

“Jadi apa yangg kita temukan?“ tanya detektif Keiko setelah memberi kode untuk memberi pertanyaan terlebih dahulu kepada Birdella.

“Ada satu hal yang sudah kita pastikan hari ini,” ujar Birdella.

“Tentang apa ini?“ tanya detektif Egan.

“Tunggu dulu sebentar. Kita tunggu Aris dulu,” jawab Birdella.

Birdella menghubungi Aris dan meminta Aris untuk membawakan hasil analisanya dan membawakan dokumen itu untuk di perlihatkan kepada detektif Keiko.

Hanya butuh beberapa menit untuk akhirnya Aris sudah mengetuk pintu ruang lab Birdella. Setelah dipersilahkan masuk, Aris langsung masuk dan mendekat ke Birdella.

“Ini Prof, yang anda minta,” ujar Aris.

Birdella mengambil map coklat yang di serahkan Aris padanya dan terdiam mematung sambil memegang map itu.

Detektif Keiko yang menbaca situasi yang tak biasa itu mulai merasa khawatir.

“Ada apa ini sebenernya?“ tanya detektif Keiko.

Baik Birdella atau pun Aris tak berani menjawab pertanyaan dari detektif Keikk tersebut. Sikap mereka justru membuat sisi khawatir detektif Keiko semakin tergelitik.

Detektif Keiko berjalan mendekati Birdella dan merebut map coklat di tangan Birdella membuat Birdella kaget.

Dengan tangan gemetar detektif Keiko membuia map coklat itu dan mulai membaca isi dokumen yanga ada di dalamnya.

Kedua mata detektif Keiko membulat sempurna, jantunganya berdetak dengan kencang, tangannya gemetar dan mendadak kakinya terasa lemas.

“Ada apa ini?“ tanya detektif Egan yang kebingungan.

Tak berapa lama detektif Keiko ambruk ke lantai, dan dengan sigap Aris dan detektif Egan menahan tubuh dteektif Keiko. Mereka membawa detektif Keiko ke sofa di ruang sebelah ruang otopsi yang masih ruangan milik Birdella juga.

Setelah mendudukan detektif Keiko di sofa, detektif Egan kembali ke ruangan otopisi di sebelah dan mengambil map coklat yang tergeletak di lantai.

Detektif Egan membuka map coklat itu dan ikut membaca isi dojumen tersebut. Dan terhyata detektif Egan sama kagetnya dengan orang lain yang berada di dua ruangan milik Birdella tersebut.

Segera detektif Egan kembalibke ruangan sebalah dan bertanya pada Birdella.

“Ini udah fiks?“

“Aris yang memeriksa,” jawab Birdella.

“Ngga ada kesalahan ris?“ detektif Egan masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Saya sudah melakukan pemeriksaan sebanyak dua kali,” jawab Aris dengan nada getir.

“Mungkin lo harus crosscek satu kali lagi,” ujar detektif Egan bersikukuh.

“Gan, Aris sudah melakukan lebih dari prosedur yang harus dia lakukan,” sela Birdella.

Detektif Keiko yang sedari tadi diam dan berusaha menenangkan dirinya sendiri akhirnya membuka suara, “Sudahlah gan. Inilah kenyataannya dan gue harus terima.“

“Kei…” ujar detektif Egan.

“Akhirnya gue bisa merasa lega karena gue ngga perlu lagi mencaai Diatmika kemana-mana. Walau pun di sisi lain gue merasa sangat sedih dan hancur,” ujar detektif Keiko sambil tersenyum.

“Kita akan cari siapa pelaku Kei,” ujar detektif Egan.

“Tentu saja kita harus mancari pelakunya walau pun dia bersembunyi di gua atau di lubang tikus sekali pun,” balas detektif Keiko dengan senyum yang semakin lebar namun justru terkesal menakutkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!