Detektif Egan dan Keiko berjalan bersama dengan langkah yang seragam, menuju ruang otopsi yang menajdi daerah kekusaan bagi Birdella setelah satu hari tak menemui sahabat forensik mereka yang satu itu. Detektif Keiko membawa beberapa potong roti di dalam kantong yang terbuat dari kertas coklat. Sementara detektif Egan membawa beberapa gelas berisi kopi hangat dalam sebuah tempat pembawa khusus yang terbuat dati kertas yang solid.
Sebelum kedua detektif itu membuka pintu ruang otopsi itu, detektif Keiko mengintip sahabatnya itu melalui jendela yang sebagian besar bagiannya tertutup oleh tirai. Memang tirai itu sengaja digunakan di setiap proses otopsi agar mereka yang tidak toleran dengan kegiatan bedah otopsi tidak perlu menyaksikan kegiatan yang membuat mereka merasa tak nyaman.
Namu seperti biasanya, pemndangan di dalam sana masih membuat detektif Keiko dan Egan terus saja bingung dengan kebiasaan temannya yang satu itu.
“Gimana?“ tanya detektif Egan.
“Kayak biasa, dia masih ngobrol dengan mayat di dalam ruangan itu,” jawab detektif Keiko.
“Jadi, kita masuk sekarang atau nanti aja?“ tanya detektif Egan memastikan.
“Kasih dia waktu beberapa menit lagi aja deh,” jawab detektif Keiko melepaskan pandangannya dari ruang otopsi milik Birdella.
“Kalau gitu kita ke ruangan Aris aja dulu deh. Kan kita juga bawa beberapa extra gelas berisi kopi. Kita bisa bawakan untuk Aris juga dan menanyainya tentang perkembangan penelitiannya terhadap barang bukti yang dia kerjakan,” usul detektif Egan dan detektif Egan langsung menyetujui usulan rekannya itu karena menganggap bahwa mereka memang perlu menemui Aris.
Kemudian mereka berdua melanjutkan jalan mereka menuju ke ruangan Aris.
POV Birdella.
“Selamat pagi nona X, bagaimana keadaanmu hari ini? Aku hari ini merasa sangat bersemangat“ ujar Birdella saat pertama kaki masuk ke dalam ruangan otopsinya merasa memiliki energi lebih untuk hari itu.
Birdella segera mempersiapkan dirinya saat itu. Dia segera mengenakan pakaian khusus miliknya yang berwarna hijau dan penutup kepala, agar tak ada satu pun rambutnya yang jatuh ke korban dan mengacaukan penyelidikan pada akhirnya.
Setelah siap semua, Birdella kembali mendekati jasad tersebut, menghela nafas panjang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Jadi siapakah kamu sebenarnya nona X? Apakah kamu ini benar Diatmika, sahabat kecil dari sahabat dekatku saat ini, Keiko?“
Walau pun dia tahu benar bahwa jasad itu tak mungkin menjawab pertanyaan darinya secara langsung namun Birdella selalu percaya bahwa jasad pun bisa memberi petunjuk dengan cara yang lain.
Birdella kembali memeriksa jasad itu dengan teliti dan kembali bertanya, “Bagaimana kamu bisa seperti ini? Sepertinya kamu ngga mati di ruang pendingin itu bukan, kamu kehilangan nyawamun di tempat lain? Ya, sudah pasti.“
“Kemana mereka ini, kenapa ya mereka belum datang, nona X?“ kembali Birdella melakukan hal yang sama, bertanya pada jasad di hadapannya.
Kemudian Birdella mengambil ponselnya yang ada di meja dekat meja otopsi dimana jasad itu kini tergeletak.
“Dengan detektif Keiko di sini!“
“Lo dimana sekarang?“ tanya Birdella saat teleponnya tersambung.
“Gue lagi ada di ruangan Aris bareng detektif Egan,” jawab detektif Keiko, orang yang dihubungi Birdella.
“Kenapa lo malah di sana? Kenapa lo malah ngelewatin ruangan gue?“ rengek Birdella.
“Tadi kita udah sampai di depan ruangan lo tapi kayaknya lo lagi sibuk banget.“
“Lo kan tahu gue selalu sibuk mengotopsi mayat.“
“Tapi tadi lo bukan lagi otopsi mayat tapi ngobrol sama mayat itu,” sambut detektif Keiko.
“Ya sudah, sekarang kalian ke sini. Sekalian bawain gue kopi hangat dan roti.“
Tak menunggu lama, detektif Keiko dan Egan sudah mengetuk pintu ruang otopsi kekuasaan Birdella.
“Kopi hangat dan roti gurih kesukaan lo,” ujar detektif Keiko sambil mengangkat roti yang dibawanya untuk Birdella.
“Apa kalian sudah bawa kopi dan roti itu sejak tadi?“ tanya Birdella.
“Betul. Lo emang hebat,” jawab detektif Egan berusaha memuji.
“Adakah perkembangan?“ tanya detektif Keiko.
“Setelah gue melakukan penelitian mendalam atas mayat ini, gue menyimpulkan baha dia ngga mati di tempat kalian menemukannya, ruang pendingin di gedung toko itu.“
“Lantas dimana dia kehilangan nyawanya?“ tanya detektif Egan penasaran.
“Dilihat dari warna kulitnya yang sudah mencoklat dan keriput, juga kering dan keras serta tak ada tanda-tanda pembusukan, seharusnya mayat ini pernah berada di tempat yang panas selama lebih dari sepuluh hari,” Birdella menjelaskan.
“Tapi kita justru menemukannya di tempat dingin,” sela detektif Keiko.
“Apa mungkin mayat ini dipindahkan dari tempat dia dihilangkan nyawanya?!“ ujar detektif Egan.
“Tepat sekali. Menurut gue, melihat dari fakta yang ada, kemungkinan besar mayat ini tidak kehilangan nyawanya di tempat kalian menemukannya, di ruangan pendingin itu,” ujar Birdella.
“Tapi untuk apa mayat ini dipindahkan, dan oleh siapa mayat itu dipindahkan?“ tanya detektif Keiko.
“Nah, ini yang menjadi pekerjaan bagi kalian berdua, para detekrif hebat kesayangan gue. Coba kakian pecahkan misteri yang satu ini,” lanjut Birdella.
Birdella melepaskan sarung tangan karet yang sedari tadi dia gunakan selama proses otopsi terhadap jasad di ruangan itu. Lalu kemudian dia mengambil roti dari bungkus kertas coklat di atas meja kerjanya, mengigitnya sedikit dan meminum kopi hangatnya. Matanya tertutup dan bibirnya tersenyum, menyiratkan rasa bahagia karena menemukan kopi dan roti yang sempurna untuk paginya.
“Bagaimana dengan identitasnya?“ tanya detektif Keiko ssambil ikut menyeruput kopinya dan ikut bersandar di jendela ruangan itu yang mempertontonkan langit cerah hari ini.
“Sudah dalam proses pengecekan oleh Aris. Tadi dia ngga bilang?“ tanya Birdella.
“Mungkin lo lebih dulu tahu,” ujar detektif Keiko.
“Gue tahu lo masih diliputi rasa cemas tapi gue mohon lo bisa lebih sedikit lagi bersabar untuk mengetahui hasilnya,” ujar Birdella.
Detektif Keiko menurunkan gelas kertas kopinya dan menunduk berusaha menahan keresahannya namun sepertinya semua sia-sia.
“Entah kenapa gue merasa bahwa dia itu Diatmika,” ujar detektif Keiko sambil menatap ke arah jasad di atas meja otopsi.
Birdella meletakan gelas kopi dan rotinya lalu semakin mendekat pada detektif Keiko dan mendekapnya dengan erat.
“Jangan cemas terus, lo perlu menenangkan diri agar fokus pada kasus yang lo dan detektif Egan sedang kerjakan.“
Detektif Egan ikut meletakan gelas kopi di tangannya lalu berjalan mendekati kedua sahabatnya itu lalu ikut memeluk mereka berdua.
“Apapun yang terjadi, kita akan terus mencari keberadaan Diatmika, dan jika memang benar mayat dinatas meja otopsi itu adalah Diatmika, gue janji akan membantu lo buat cari siapa pelakunya dan membuat pelakunya membayar apa yang telah dia lakukan pada Diatmika,” ujar detektif Egan memberi sumpah persahabatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
mama galaau
knapa g tes DNA aja... biar ktemu identitasnya
2023-10-22
0