Bab Empat Belas

Ponsel detektif Egan yang berada di dalam sakunya bergetar, detektif Egan segera memasukan tangannya dan menarik keluar ponselnya.

“Detektif Egan di sini,” ujarnya.

“Detek— maksud saya Egan, bisakah anda ke ruangan saya sekarang?“

“Sekarang?“ tanya detektif Egan.

“Tentu saja, karena lebih cepat maka akan lebih baik.“

“Oke, saya akan segera ke sana sekarang,” jawab detektif Egan.

“Jangan lupa bawa detek— eh maksud saya, jangan lupa bawa Keiko sekalian ke sini.“

“Siap!“

Setelah itu detektif Egan menutup teleponnya dan mengambil es kopi pahit pesanannya.

“Siapa?“ tanya detektif Keiko yang juga memesan kopi namun kali ini dia memilih yang lebih manis.

“Aris, dia minta kita ke ruangannya sekarang,” jawab detektif Egan sambil meminum es kopinya.

Detektif Keiko meminum pula es kopinya dan berkata, “Tunggu apa lagi?! Ayo kita ke ruangan Aris segera.“

Namun detektif Egan tak bergeming membuat detektif Keiko harus mengulang ucapannya satu kali lagi.

“Sabarlah sebentar dong Kei. Gue lagi nunggu waffle gue,” jawab dwtektif Egan.

Setelah menunggu waffle miliknya selama hampir lima menit yang cukup membosankan untuk detektif Keiko, akhirnya detektif Egan mendapatkan sarapannya hari ini, teman minum kopi yang sudah dipesannya teelebih dahulu.

Setelah waffle dan es kopi sudah ada ditangannya, detektif Egan mempersilahkan rekannya untuk jalan terlebih dahulu menuju ruangan Aris sementara dia mengekor di belakang, bergantian menyeruput kopi dan memakan wafflenya sambil berjalan.

Detektif Keiko yang memimpin perjalanan itu dengan langkah yang sangat pasti namun dengan debaran di dada yang belum juga kunjung usai terus berusaha memantapkan diri untuk melihat segala hasil kerja keras Aris selama beberapa jam ini.

“Udah sarapan ris?“ pertanyaan pertama yang keluar dari mulut detektif Keiko pagi itu kepada Aris.

“Sudah de— eh Kei.“

“Gue emang lebih suka dipanggil begitu, bisa memberi kesan bahwa kita ini akrab,” balas detektif Keiko sambil tertawa kecil.

“Berusahalah lagi lebih kuat,” ledek detektif Egan yang tahu Aris, teman barunya itu sedang gugup.

“Jadi apa hasil yang sudah lo dapet, ris?“ tanya detektif Keiko, mulai yak sabar.

“Seperti yang kalian pikirkan sejak awal, ternyata kedua selongsong peluru ini memang berasal dari jenis pistol yang sama. Walau nomer serinya sudah di hapus tapi jelas mereka berasal dari tempat yang sama,” Aris berusaha menerangkan.

“Lo udah tahu apa jenis pistol yang digunakan?“ tanya detektif Egan.

Aris membuka layar ponselnya dan di sana terpampang sebuah pistol yang Aris maksud, “Pistol Glock 7.“

“Bukankah itu jenis pistol yang cukup umum?“ tanya detektif Keiko.

“Justru itu, menurut saya jadi agak susah melacaknya karena pistol ini bukan jenis yang langka,” jawab Aris.

“Lantas kenapa lo bisa yakin kalau peluru ini dimuntahkan dari pistol yang sama?“ tanya detektif Egan.

“Kalian lihat ini?“ Aris memperlihatkan dua foto selongsong peluru yang sama lalu detektif Egan dan Keiko memperhatikan dengan seksama gambar itu sambil berusaha memahami.

“Mereka memiliki satu kemiripan yang sama lagi, ada goresan yang kalau kita perhatikan, goresan itu berada di posisi yang sama,” tambah Aris.

“Betul juga,” timpal detektif Egan setelah beberapa kali memiringkan kelapanya.

“Andai kita menemukan pistol yang kita curigai, saya rasa saya bisa melakukan tes lagi pada pistol tersebut. Mungkin saja kan kita menemukan kecocokan yang lebih pasti dan bisa kita jadikan barang bukti yang membuat si pelaku tak bisa mengelak lagi,” ungkap Aris dengan percaya diri.

“Bagaimana dengan tangan berbie yang kemarin diserahkan oleh Birdella?“ tanya detektif Keiko mengingat salah satu barang bukti lainnya.

“Oh soal itu ya. Saya sampai sekarang masih mencoba mencari kecocokan dengan benda tertentu lainnya,” jawab Aris sambil membuka foto lain di komputer miliknya yang satu lagi.

Di layar komputernya terlihat beberapa gambar yang memperlihatkan beberapa benda yang menjadi kemungkinan kecocokan dengan 'tangan barbie' milik mereka. Mulai dari boneka barbie hingga beberapa jenis piala.

“Jadi lo masih belum menemukan kecocokan pada benda apapun saat ini?“ tanya detektif Egan.

“Maaf detek— eh Egan, saya belum bisa menemukannya untuk saat ini,” jawab Aris lagi.

Detektif Keiko memperhatikan beberapa gambar di layar komputer Aris dan berusaha meneliti kumpulan gambar tersebut namun memang setiap benda yang sudah Arisnusahan untuk dicocokan tak ada satu pun yang pas dan terlihat cocok dengan tangan itu.

“Bagaiman dengan rambut, sidik jari dan kertas dengan tulisan tangan yang juga diserahkan oleh Birdella kemarin itu“ tanya detektif Keiko setelah melepaskan pandangannya dari layar komputer.

“Mereka sudah saya proses namun mereka belum menunjukan hasil apapun sampai dengan hari ini,” jawab Aris.

“Kira-kira lo membutuhkan waktu berapa lama untuk menemukan hasilnya?“ tanya detektif Keiko lagi.

“Saya tak bisa menjawab pertanyaan anda itu dengan pasti tapi jika hasilnya sudah keluar, saya janji bahwa kalian adalah orang pertama yang tahu bahkan sebelum senior saya, Birdella.“

“Beneran ya!? Keren! Gue suka itu,” balas detektif Egan penuh rasa antusias.

Aris tersenyum sangat lebar mendengar perkataan detektif Egan itu, dia merasa kini dia memiliki arti di dalam tim forensik ini, terutama di divisi pembunuhan dan lebih khusus lagi bersama detektif Egan dan Keiko.

“Apakah mulai sekarang saya bisa menjadi best friend dan gabung di cyrcle kalian ini?“ tanya Aris ragu.

Detektif Egan dan Keiko hanya tersenyum lebar tanpa menjawab pertanyaan Aris itu. Dan ternyata itu membuat Aris semakin malu dengan pertanyaannya barusan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!