Sesuai arahan dari Birdella, jasad yang ditemukan oleh detektif Egan dan Keiko di ruang pendingin itu, dibawa oleh pasukan kepolisian dan dibantu oleh beberapa anggota tim forensik ke laboratorium khusus milik Birdella.
Perpindahannya harus ekstra hati-hati agar tidak merusak kondisi jasad atau mencecerkan barang bukti yang belum ditemukan pada pemeriksaan cepat di tempat kejadian perkara.
“Terima kasih banyak atas bantuan kalian,” ujar Birdella kepada tim yang membantu.
Tak berapa lama tim itu pun keluar dari ruangan Birdella, meninggalkan Birdella dengan jasad yang sudah termumifikasi dengan sempurna itu.
“Selamat datang di lab milikku nona X. Mohon kerjasamanya agar aku bisa membantu sahabatku memecahkan kasus kali ini,” seperti biasanya Birdella memberi sambutan kepada mereka yang masuk ke dalam lab-nya.
Sebuah kebiasaan pula bagi Birdella untuk sesering mungkin berbincang dengan jasad yang akan diperiksa olehnya.
Birdella mulai melakukan pemeriksaan dan otopsi pada mayat tersebut, memeriksanya dengan teliti, mencoba meluruskan kakinya yang tertekuk hingga ke dada. Walau pun sulit tetap Birdella usahakan guna mencari tahu penyabab kematian orang tersebut.
Ketika memeriksa bagian kepala, Birdella akhirny menemukan penyebab kematian dati jasad tersebut. Sebuah peluru bersarang di kepalanya. Birdella mengambil peluru tersebut dan meletakannya ke sebuah tabung kecil tempatnya meletakan barang bukti.
Birdella pun membuka pakaian jasad tersebut dan akhirnya menyadari bahwa jasad itu berjenis kelamin perempuan.
Saat Birdella melepaskan sepatu kets yang kenakan oleh korban, dia pun memeriksanya dengan seksama hingga mata Birdella tertuju pada sesuatu yang menempel di telapak sepatu itu. Sekali lagi Birdella mengambil wadah untuknya mengumpulkan barang bukti.
Birdella kembali memeriksa tubuh jasad itu berusaha mencari hal lain yang bisa dia jadikan sebagai barang bukti yang pada akhirnya menjurus kepada pelaku dan motif. Birdella mengambil sehelai rambut dari tubuh dan berusaha mengambil sidik jari korban.
Birdella masih berkutat dengan jasad korban tersebut saat detektif Egan dan Keiko masuk ke dalam laboratoriunya.
“Bagaimana?“ kata yang pertama keluar dari mulut detektif Egan.
“Gue menemukan ini dan ini,” ujar Birdella sambil menunjukan dua barang bukti yang berada di dalam tabung bening bertutup.
Detektif Egan menangambil tabung itu dan memperhatikan barang bukti pertama itu dengan seksama.
“Bukanya ini mirip dengan peluru yang bersarang di tubuh Odel?“ ujar detektif Egan sambil memperlihatkan barang bukti itu pada detektif Keiko.
“Benarkah?“ tanya Birdella.
“Lo belum lihat?“ tanya detektif Egan.
“Sebenernya gue tadi terlalu terburu-buru buat ambil sidik jarinya jadi ngga terlalu fokus,” jawab Birdella.
“Gue ngga bisa pastiin seratus persen tapi emang ini mirip,” ujar detektif Keiko sambil memperhatikan peluru tersebut.
“Gue akan kasih barang bukti itu ke Aris dan meminta dia buat memeriksa serta mencocokannya dengan peluru yang membuat Odel kehilangan nyawanya,” sambung Birdella.
“Kalau ini, apa?“ tanye detektif Egan saat mengambil dan memperhatikan tabung kedua.
“Gue ngga yakin, tapi menurut lo Kei apakah ini kelihatan seperti tangan berbie?“ ujar Birdella.
Detektif Keiko mengambil tabung bertutup kedua sari detektif Egan dan melihat kedalamnya serta berkata, “Betul tapi lebih kecil.“
“Benar, ukurannya jauh lebih kecil. Gue juga akan memberikan itu ke Aris.“
“Tapi benda apa yang memiliki tangan cantik selayaknya barbie?“ tanya detektif Egan.
“Entahlah,” jawab detektif Keiko.
“Kalian berdua, coba ke sini,” perintah Birdella.
Kedua detektif itu meletakan kedua tabung berisi barang bukti yang mereka pegang dan mengikuti perintah Birdella.
“Kayak ada sesuatu di dalam mulut mayat ini,” ujar detektif Keiko.
“Ambilkan pencapit panjang yang ada di belakang lo itu,” ujar Birdella kepada detektif Egan.
Dengan cepat pencapit panjang itu beralih dari tangan detektif Egan ketangan Birdella. Birdella memasukan pencapit itu ke dalam mulut korban dan membawa keluar sebuah kertas yang sudah dikepal menjadi sebuah bulatan.
“Kamu emang hebat, sampai terpikir olehmu untuk meninggalkan catatan kematan seperri ini,” Birdella memuji jasad di hadapannya.
Kemudia Berdella membuka kepalan kertas itu dan mendapatkan tulisan yang terlihat ditulis dengan terburu-buru.
' Nona SS dan tuan OA yang mela—' tulisan yang ada di dalam kertas hanya sampai situ yang bisa terbaca jelas, sisanya hampir tak terlihat dan sulit untuk dibaca.
“Jelas pembunuh wanita ini adalah Odel” ujar detektif Keiko.
“Kalau ternyata peluru yang ada di tubuh Odel sama dengan yang membunuh wanita ini maka sepertinya bukan Odel pembunuhnya. Lagi pula kita belum menemukan senjatanya,” ucap detektif Egan memberi sanggahan.
Detektif Keiko termenung sebentar laku berkata memberi asumsinya, “Bagaiman jika si pelaku pembunuh Odel dan Erik membawanya?“
“Kenapa dia harus repot-repot membawa senjata itu? Kenapa tak dia tinggalkan di tempat kejadian perkara Odel dan Erik agar dia tak lagi diburu oleh kepolisian,” detektif Egan juga memberikan sanggahannya.
Berdella membawa baki berisi semua barang bukti yang dia temukan di tubuh korban bersiap meninggalkan detektif Egan dan Keiko saat dia berkata, “Itu pekerjaan kalian. Carilah jawabannya hingga akhirnya kita sampai kepada pembunuhnya.“
“Lo mau kemana del?“ tanya detektif Keiko.
“Ke ruangan Aris, menyerahkan kumpulan barang bukti ini,” jawab Birdella masih menahan pintu ruang lab dengan kakinya.
“Bagaimana dengan sidik jari korban?“ tanya detektif Egan.
“Akan gue periksa dan teliti nanti setelah gue menyerahkan ini semua ke Aris.“
“Kenapa lo ngga telepon aja si Aris dan suruh dia ke sini ambil semua barang bukti itu?“ tanya detektif Egan.
“Ets di itu senior, bukan pesuruh gue. Gue harus memperlakukan dia dengan baik dan dengan rasa hormat seperti gue memperlakuan kalian berdua. Benar bukan?!“
Setelah itu, Birdella menarik kakinya, membiarkan pintu itu tertutup dengan sendirinya dan melangkah menuju ruangan Aris yang tak seberapa jauh dari ruangannya, hanyavperlu beberapa langkah saja untuk Birdella sampai di ruangan Aris.
“Padahal dia selalu nyuruh kita ke sini kalau ada apa-apa kan?! Apakah kita lebih seperti pesuruh buat dia?!“ gerutu detektif Egan.
“Stttt… jangan sampai dia denger ucapan lo,” ujar detektif Keiko tertawa kecil melihat ekspresi detektif Egan yang layaknya anak kecil yang ngambek.
Detektif Keiko berjalan mendekati meja otopsi, yang di atasnya masih tergeletak jasad yang mereka temukan di ruang pendingin tadi.
Sorot lampu operasi yang begitu terang justru membuat kulit jasad yang sudah terawetkan itu terlihat berkilau, membuat detektif Keiko merasa takjud saat melihatnya.
Wajahnya sulit dikenali karena sebagian otot wajahnya ikut mengecil sama seperti otot-otot yang berada di bagian lain tubuhnya
Dia mengusap wajah jasad yang sudah sangat dingin itu dengan lembut dan berkata di dalam hatinya, “Apakah kamu Diatmika?“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments