Detektif Keiko menjatuhkan diri karena sudah tak mampu menahan bobot tubunya sendiri saat dia melihat sosok mayat di dalam ruang pendingin itu.
"Apakah dia itu Diatmika?" suara detektif Keiko begitu bergetar.
"Apa lo yakin dia Diatmika? Beginikah Diatmika yang ada dalam kenangan di kepala lo?" tanya detektif Egan.
Mayat itu sendiri memang sulit untuk dikenali lagi. Sebagian besar tubuhnya telah menyusut begitu pula bagian wajahnya hingga detektif Keiko pun tak bisa memberi jawaban pasti atas pertanyaan rekannya.
“Kalau begitu, kita bawa saja dulu mayat ini dan biarkan Birdella mencoba mencari tahu siapa dia sebenarnya,” ujar detektif Egan berusaha menenangkan.
“Tapi bagaimana jika ternyata itu adalah Diatmika?“
“Itu bisa siapa saja, kita sama-sama tahu bahwa Odel melakukan perdagangan organ tubuh manusia secara ilegal,” detektif Egan masih terus berusaha menenangkan rekannya.
Dada detektif Keiko terasa begitu sakit ketika melihat sesosok mayat yang terduduk di salah satu sudut paling belakang di ruang pendingin itu.
Detektif Egan segera menghubungi Birdella dan memberitahu kondisi yang ada.
"Tolong kirim tim lo ke sini, del. Ada jasad yang gue dan Keiko temukan di sini."
"Diatmika?" tanya Birdella kaget dan penuh rasa penasaran.
"Itu tugas lo buat kasih tahu kami, apakah dia Diatmika atau orang lain?"
"Sekacau itukah kondisi jasad itu?" tanya Birdella.
"Coba lo kasih tahu ke gue. Makanya cepet lo ke sini bareng sama tim lo supaya bisa liat keadaan jasad ini."
"Oke. Gue segera meluncur ke sana bersama tim gue, lo kirim aja alamatnya."
Detektif Egan memutus hubungan telepon itu dan membantu detektif Keiko untuk bangkit dan membawanya keluar dari ruang pendingin itu dan menutup pintu itu agar tidak mempengaruhi kondisi jasad yang akan diperiksa oleh tim forensik.
Tak membutuhkan waktu yang lama hingga akhirnya Birdella dan timnya datang ke tempat kejadian perkara itu.
“Sebelah mana?“ tanya Birdella kepada detektif Egan yang masih menemani rekannya.
“Di dalam sana,” ujar detektif Egan sambil menunjuk ke arah pintu besi menuju ruang pendingin.
Seluruh tim forensik yang di bawa oleh Birdella langsung masuk ke ruang pendingin tersebut begitu mendapatkan instruksi dari Birdella.
“Lo ngga apa-apa kan Kei?“ tanya Birdella.
“Entahlah. Gue juga ngga tahu pastibapa gue baik-baik atau ngga. Cooba lo kasih tahu gue,” jawab detektif Keiko sambil memegangi dahinya berusaha menahan sakit di kepalanya yang tak dia ketahui apa alasannya.
“Kita belum tahu siapa yang ada di dalam sana bukan!? Bisa jadi itu bukan Diatmika,” ujar Birdella.
“Jujur aja, gue mulai capek del. Kalau pun itu bukan Diatmika maka gue harus kembali bersiap mencari Diatmika di tempat lain lagi. Dan ini bener-bener nguras emosi gue,” wajah detektif Keiko dengan sangat jelas menggambarkan isi hatinya.
Birdella mendekap erat tubub sahabatnya itu dan berkata, “Apapun yang bakal terjadi nanti, gue akan selalu ada di sini buat lo.“
Setelah mengatakan hal tersebut kepada detektif Keiko, Birdella lalu mengikuti timnya masuk ke dalam ruangan pendingin itu.
Dengan cekatan dan tingkat ketelitian yang amat sangat, Birdella dan timnya bekerja memeriksa tanda-tanda dasar di jasad itu, tentu saja di antara suhu udara yang di bawah nol derajat itu.
“Kenapa? Kalian kedinginan?“ tanya Birdella kepada timnya.
“Maaf Prof, iya kami kedinginan,” jawab salah satu anggota tim foresik itu mewakili anggota yang lain.
Birdella tersenyum dan berkata, “Sama, saya juga merasa kedinginan. Namun suhu di sini sangat baik untuk menyimpan mayat bukan!?“
“Tapi kalau dilihat dari kondisi mayat ini, sepertinya dia tak terawetkan dengan sempurna,“ ujar salah satu anggota tim
"Menurut saya justru kondisi mayat ini tidak sesuai dengan kondisi lingkungannya saat ini," celetuk anggota tim yang lain.
“Cerdas. Tak salah saya merekomendasikan kalian untuk naik jabatan,” ujar Birdella merasa bangga dengan keputusannya atas anggota timnya kali inj.
“Terima kasih Prof,” ucap para anggota tim itu merasa tersanjung.
“Tentu saya akan butuh memriksa ulang hingga detail soal mayat yang satu ini. Maka dari itu saya minta bantuan kalian untuk memerikasanya di sini dengan cepat karena saya ingin segera memeriksanya di lab saya,” ujar Birdella memeberi arahan kepada timnya.
“BAIK PROF!“ ujar seluruh anggota tim ini menjawab secara serentak.
“Bagus, lanjutkan pekerjaan kalian di sini. Saya perlu keluar sebentar dan segera kembali untuk membantu kalian memeriksa mayat ini.“
Kemudian Birdella kembali keluar dari ruangan pendingin tersebut dan ternyata gedung toko itu sudah dipenuhi oleh polisi yang berjaga. Lalu kemudian Birdella memutuskan untuk menemui salah satu petugas polisi yang bertanggung jawab menjaga tempat kejadian perkara kali ini.
“Mungkin sekitar satu jam lagi tim saya akan menyelesaikan pekerjaannya. Saya minta tolong kepada
anda untuk mengatur perpindahan mayat itu dari sini ke ruangan lab saya,” Birdella memberikan arahan.
“Baik Prof!“ jawab polisi tersebut dengan tegas.
Setelah memberikan instruksi kepada polisi, Birdella kembali berjalan menemui detektif Egan dan Keiko yang masih memilih untuk duduk di lantai bersandar pada dinding.
“Bagaimana?“ tanya detektif Keiko penuh rasa cemas.
“Sabar Kei. Walau pun pihak forensik udah memeriksa, namun untuk memastikan hasilnya, mayat itu perlu gue bawa ke lab gue,” jawab Birdella.
Detektif Keiko yang tanpa sadar meremas lengan Birdella sejak tadi, kini melepaskan remasannya itu. Seolah kehilangan tenaga dan tak lagi memiliki cukup energi lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Alluka
mudah2an bukan diatmika, duh kasian detektif keiko, be strong ya. 🤗
2023-05-12
2