Bab Sebelas

“Maaf, seharusnya gue mendengar apa yang lo katakan tadi Kei,” ujar detektif Egan, akhirnya merasa bersalah juga karena telah menyarankan detektif Keiko untuk memberikan anak kunci berbentuk unik yang mereka temukan di tempat kejadian perkara itu kepada Aris di ruangannya untuk diteliti sebagai salah satu barang bukti.

“Ngga usah merasa bersalah, gan. Kita memang perlu menyerahkan anak kunci itu kepada Aris untuk dia periksa. Lagi pula belum tentu perkiraan gue ini benar 'kan,” balas detektif Keiko berusaha menenangkan rekannya yang terlihat benar-benar merasa bersalah padanya.

“Lantas bagaimana rencana lo selanjutnya?“ tanya detektif Egan.

“Mau bagaimana lagi, kita harus kembali lagi ke kantor dan meminta anak kunci itu dari Aris untuk kita coba di lubang kunci ini. Untuk mengetahui apakah benar lubang ini sesuai dengan anak kunci itu atau ngga,” balas detektif Keiko.

Segera setelahnya kedua detektif itu meninggalkan gedung toko itu dan bergegas menuju kantor mereka untuk menemui Aris dindalam ruangan kerjanya.

  Saat pintu lift terbuka di lantai ruang otopsi, detektif Egan dan Keiko segera menuju ke ruangan Aris yang berada di bagian tengah lorong terang yang terkesan modern kareba dipenuhi oleh alat-alat untuk melakukan penelitian.

    "Aris!" Panggil detektif Egan saat menemukan Aris di salah satu ruangan yang setiap sisinya tak terbuat dari tembok melainkan kaca-kaca sebagai pembatas hingga aatu sama lain bisa saling melihat.

    "Kalian cepat sekali kembalinya, saya bahkan belum mendapatkan apapun," ujar Aris yang sedang melakukan mengambilan gambar pada alat bukti yang telah diberikan oleh detektif Egan dan Keiko serta sedang dia teliti.

    "Kami ingin meminjam anak kunci yang kami serahkan pada kamu tadi," ujar detektif Keiko.

    Aris mengangkat anak kunci itu dan bertanya, "Yang ini?"

    Detektif Keiko menganggukan kepala, "Betul."

    "Bisa kami pinjam?" tanya detektif Egan

    "Bisakah kalian menunggu lima sampai sepuluh menit lagi?" tanya Aris.

    "Kenapa begitu?" tanya balik detektif Keiko.

    "Saya hanya perlu melakukan satu tes lagi agar bisa meyakinkan hasil yang saya dapatkan sebelumnya," jawab Aris.

    "Oh tentu saya. Kami akan menunggu," jawab detektif Egan.

    Tentu saja detektif Keiko menunggu dengan resah namun dia harus menahan rasanya itu agar semua bisa berjalan lancar.

    Sementara itu, Aris kembali sibul dengan pekerjaannya meneliti anak kunci tersebut. Kini dia memasukan anak kuncti itu ke sebuah alat yang berfungsi sebagai penganalisa jejak sidik jari dengan versi terbaru.

    "Biiibbb..."

    Setelah hampir sepuluh menit berlalu, mesin itu berbunyi bertanya jika pekerjaan dari mesin itu telah selesai dan hasilnya sebisa mungkin akan diketahui dalam wakti dekat.

     "Ini, anak kunci yang kalian perlukan," ujar Aris sambil menyerahkan anak kunci itu kepada detektif Keiko.

    Detektif Keiko mengambilnya dan berkata, "Terima kasih banyak Aris."

    "Dengan senang hati. Semoga saya bisa memberi hasil dari penelitian saya terhadap barang bukti yang ada di sini."

    "Semoga kerjasama kita menghasilkan segala hal yang memuaskan," ujar detektif Egan sambil berjalan beriringan dengan detektif Keiko meninggalkan ruangan dimana Aris masih sibuk bekerja.

    Langkah kedua detektif semakin dipercepat berusaha secepatnya kembali ke gedung toko yang merupakan toko kelontong milik Odel itu untuk mencoba anak kunci yang kini merwka bawa dan mencocokannya dengan lubang kunci yang ada di pintu besi ruangan penyimpanan.

Sesampainya di toko itu, mereka kembali membuka pintu yang tadi didobrak oleh detektif Egan. Namun karena pintu itu sudah didobrak maka lebih mudah bagi mereka berdua untik masuk ke dalam gedung itu.

Mereka pun lanjut berjalan menuju dimana pintu besi itu berada dan ternyata lubang kunci yang tadi terlihat kini telah tertutup lagi.

“Lo tadi tutup lubang kuncinya?“ tanya detektif Egan yang kebingungan.

“Ngga,” jawab detektif Keiko yang sama bingungnya.

Namun kedua detektif itu tidak memperpanjang perdebatan mereka dan segera menekan sisi pintu yang ada lubang kuncinya yang lokasinya jauh sekali dari gagang pintu tersebut.

Dan setelah lubang kunci itu kembali terlihat, dengan rasa degdegan detektif Keiko memasukan anak kunci yang berbentuk unik yang dibawanya dari ruangan Aris. Dan ternyata, benar saja anak kunci itu cocok sekali dengan anak kunci tersebut.

Detektif Keiko memandang ke arah rekannya, menganggukan kepalanya pelan lalu berkata, “Masuk.“

“Bagus, sekarang coba putar anak kunci itu,” ujar detektif Egan sambil membalas anggukan kepala rekannya.

Detektif Keiko berusaha memutar anak kunci itu satu kali namun tak ada pergerakan dari pintu besi itu. Dia pun mengintuksikan detektif Egan untuk mencoba menggerakan gagang pintu yang dekat dengannya.

Detektif Egan menggeleng, “Ngga bisa. Coba satu kali lagi.“

Detektif Keiko mengikuto arahan rekannya. Dengan pelan dia memutar anak kunci tersebut satu kali lagi lalu tanpa disentuh, gagang pintu di hadapan detektif Egan bergerak sendiri.

Pelan sekali detektif Egan mendorong pintu besi itu dan arap putih dingin langung menyeruak keluar mengenai wajahnya membuat swkujur tubuhnya merinding.

“Kita masuk,” ujar detektif Egan dan tentu saja detektif Keiko mengekor dibelakang temannya. Keduanya masuk secara berlahan, berusaha menyesuaikan suhu tubuh mereka dengan suhu dingin di belakang pintu besi tersebut.

Ruangan itu begitu dingin dan gelap, namun saat pintu sepenuhnya digeser, lampu di dalam ruangan itu mendadak menyala dengan sendirinya.

Ruangan dingin itu berisi daging-daging beku yang di gantung di langit-langitnya. Dari mulai daging sapi hingga domba tergantung begitu saja. Sementara di sisi lain ada juga kotak-kotak berisini makanan laut, ikan dan bebek yang telah sama bekunya dengan daging sapi dan domba.

Insting detektif Keiko mendorongnya untuk terus menelusuri ruangan dingin itu hingga akhirnya sebuah pemandangan mengerikan terlihat di hadapnnya.

“Egan! Egan!“ Panggil detektif Keiko.

Mendengar panggilan itu, detektif Egan tak lagi meyahut dengan kata-kata tapi dia langsung menghampiri rekannya karena sepertinya suara detektif Keiko tak seperti biasanya.

Detektif Egan kini berdiri di samping rekannya sambil juga melihat ke titik yang sama dimana detektif Keiko sedang memandang dengan tatapan yang begitu biru.

Sesosok mayat yang telah kaku berada di sudut paling ujung ruangan dengan temperatur dingin di bawah nol derajat itu, memberikan pemandangan yang tentu saja tak menyenangkan bagi kedua detektif itu.

Lalu berselang beberapa menit kemudian, detektif Keiko terjatuh ke lantai karena tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri.

“Apa mungkin itu Diatmika?“ ujar detektif Keiko dengan nada yang bergetar, bukan karena suhu ruangan yang dingin itu tapi karena rasa dingin yang menjalar dari dalam rubuhnya.

Detektif Egan berlutut dan berusaha memegangi rekannya dan berkata, “Apa begini Diatmika yang lo kenali?“ tanya detektif Egan dengan nada yang tak kalah bergetar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!