Bab Sembilan

Saat detektif Keiko menanyai soal anak kunci yang ditemukan oleh Birdella di jasad Odel kepada Citra, namun sayangnya ternyata Citra tak mengenali anak kunci yang bentuknya tidak biasa itu.

“Bagaimana, apa kata Citra?“ tanya detektif Egan penasaran.

“Dia ngga tahu soal anak kunci ini,“ terdengar jelas rasa kecewa diucapannya.

“Sayang sekali dia ternyata ngga tahu,” ujar detektif Egan.

“Kalian lupa tentang Aris?!“ ujar Birdella.

“Apa bisa kita berikan kunci ini kepada dia?“ tanya detektif Keiko.

“Tentu saja,” balas Birdella dengan bangga mengarahkan kedua detektif ke seniornya.

Kemudian detektif Keiko memasukan anak kunci itu ke dalam kantung plastik dengan zipper yang biasa mereka gunakan untuk mengumpulkan barang bukti, berbarengan dengan selongsong peluru yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam kantung plastik yang lain.

Kemudian kedua detektif itu kembali tenggelam meneliti dan menyisir ruangan tempat kejadian perkara kali ini.

“Egan!“ panggil detektif Keiko saat mereka memeriksa sudut yang berbeda.

Mendengar panggilan dari rekannya itu, detektif Keiko langsung menghampiri, “Ada apa?“

“Kayaknya ini bisa kita jadikan barang bukti,” ujar detektif Keiko sambil memperlihatkan sebuah tisue yang dipenuhi residu peluru.

“Tisue ini seperti dari sebuah toko.“

“ya tapi siapa yang membawanya ke sini?“

“Apa mungkin si pembunuh yang membawanya?“ detektif Egan berasumsi.

“Bisa jadi.“

“Sepertinya kita memang harus ke tempat ini. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk yang lain,” kali ini detektif Egan kembali bergairah karena merasa sudah kembali ke penyelidikan yang menjadi pekerjaannyabyang sesungguhnya, bukan hanya mencati orang yang hilang.

“Atau mungkin, di sini adalah tempat Odel menyembunyikan Diatmika,” namun sepetinya detektif Keiko memiliki asumsi miliknya sendiri sambil terus berharap.

“Apapun itu, kita memang harus ke tempat ini agar menemukan hal baru demi pengembangan dua kasus kita ini,” ujar detektif Egan.

*****

Setelah meninggalkan tempat kejadian perkara itu dan sebelum detektif Keiko dan Egan mendatangi toko yang namanya tertera di atas tisu beresidu, mereka pergi ke lab terlebih dahulu untuk menemui Aris di sana.

“Apakah sebaiknya kita bawa anak kunci ini dulu?!“ tiba-tiba detektif Keiko mengusalkan hal itu.

“Untuk apa?“ tanya detektif Egan.

“Entahlah. Cuma gue ngerasa bakal membutuhkan kunci ini nanti.“

“Tapi menurut gue, akan lebih baik jika Aris memeriksa anak kunci itu terlebih dahulu. Mungkin saja akan ada informasi baru yang menjadi tambahan informasi dalam kasus ini.“

Detektif Keiko tak lagi berkata-kata dan pada akhirnya detektif Keiko menyerah juga dengan keinginanya untuk menyimpan anak kunci tersebut.

Dan pada akhirnya dia harus menyerahkan selongsong peluru, tisure dengan sebuah nama toko tercetak di antaranya serta anak kunci yang awalnya ingin dia pertahankan.

“Kalian mencari saya?“ tanya Aris yang baru keluar dari ruangannya dengan langkah setengah loncat, seperti anak kecil yang tahu bawha dia akan mendapatkan permen.

“Kami ke sini karena direkomendasikan untuk bertemu dengan anda, pak Aris—”

“Aris saja detektif Egan,“ Aris merasa canggung bila mendengar orang lain memanggolnya dengan tambahan kata 'bapak'.

“Kalau begitu lo juga jangan panggil gue detektif, cukup panggil Egan,“ ternyata detektif Egan pun ingin dia dan Aris bisa tak canggung jika saling berbicara.

“Baik detek— eh, Egan maksud saya.“

Detektif Keiko tertawa kecil melihat kecanggungan di antara detektif Egan dan Aris.

“Jadi, apa yang bisa saya bantu?“ tanya Aris penuh dengan semangat.

“Kita disuruh Birdella memberikan bukti-bukti ini kepada lo,” ujar detektif Keiko sambil menyerahkan tiga kantung barang bukti yang menampung tiga barang bukti yang mereka dapatkan tadi saat mereka melakukan oleh tempat kejadian perkara.

Aris memeriksa sekilas kantung plastik berisi barang bukti di tangannya itu, tanpa membuka plastik pembungkusnya sama sekali.

“Lo bisa bantu kita kan?“ tanya detektif Egan masih sedikit ragu dengan rekoemndasi dari Birdella.

“Jujur saja, saya lebih suka memeriksa hal seperti ini ketimbang memeriksa di ruang otopsijasad. Tapi walau begitu saya tetap tertarik dengan otopsi tentunya,” ujar Aris beruaaha agae kedua dstektif tak salah faham terhadapnya.

“Berarti lo udah tahu harus ngapain kan?!“ detektif Egan berusaha memastikan.

“Tentu saja. Serahkan kepada saya gan,” jawab Aris denagn penuh percaya diri.

“Bagus kalau begitu. Jadi kami bisa meninggalkan barang bukti itu sama lo di sini,” ujar detektif Egan.

“Saya akan langsung mengabari kalian begitu saya sudah mendapatkan hasilnya sesegera mungkin,” tambah Aris dengan nada bersemangat yang terdengar jelas.

“Kita serahin ke lo ya,” tambah detektif Keiko sambil melempar senyum, berusaha memberi dorongan semangat kepada Aris sekaligus menyirnakan rasa kurang percaya dan ragu dari detektif Egan kepada Aris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!