Bab Delapam

Setelah mendapatkan kabar dimana keberadaan Odel, detektif Keiko dan detekrif Egan segera bergerak menuju lokasi dengan mengendarai mobil dinas mereka.

Mobil itu berhenti di titik koordinasi yang diberikan oleh detektif Mustafa. Nanun saat mereka datang di depan tumah itu ada begitu banyak polisi berseragam membuat perasaan cemas kembali menyelimuti hati detektif Keiko lalu dengan cepat dia berlari masuk ke dalam rumah itu.

“Ada apa?“ tanya detektif Keiko kepada detktif Bima ketika dia memasuki sebuah ruangan.

Detektif Bima yang menyadari kehadiran detektif Keiko langsung memberi wajah yang suram, “Kali ini, kasus ini adalah kasus kalian.“

Dengan wajah kaget detektif Keiko bertanya, “Apa maksud anda?“

Detektif Bima menggeser tubuhnya dan memperlihatkan pemandangan yang cukup mengerikan. Hampir seisi dingin ruangan itu dengan percikan darah. Di salah sati sudut tergeletak sebuah jasad soerang laki-laki yang tertelungkup. Lalu saat detektif Keiko mengalihkan pandangannya ke sudut lain, dia melihat laki-laki lain yang juga sudah bersimbah darah.

“Apakah yang di sana itu…” dengan nada bergetar detektif Keiko bertanya.

“Betul. Itu Odel,” jawab detektif Bima.

“Lalu bagaimana dengan kasus kita bersama? Bagaimana dengan Diatmika?“

“Saya juga belum bisa memastikan kelanjutan kasus Diatmika,” suara detektif Bima juga terdengar lesu.

“Akan lebih baik kalau kita segera melakuakan oleh tempat kejadian, Kei?!“ Ujar detektif Egan.

Detektif Keiko yang sempat tenggelam dalam pikirannya terhadap Diatmika segera tersadar dan kembali pada mode siap bekerja.

Detektif Keiko langsung masuk ke tempat kejadian dan memeriksa setiap sudut berusaha mencari apapun yang bisa mereka jadikan bahan bukti dalam kasus hilangnya nyawa Odel dan satu laki-laki lainnya di ruangan itu.

“Apa kabar kalian?“ suara Birdella menghentikan aktifitas detektif Egan dan Keiko.

“Lo baru datang?“ tanya detektif Keiko.

“Gue baru aja sampai dari seminar di luar kota. Terus ponsel bue nerima notifikasi tentang kasus ini, jadi gue langsung ke sini,” jawan Beirdella sembari mempersiapkan alat-alatnya.

“Kenapa lo ngga istirahat aja dulu?“

“Lalu melewatkan kasus bersama kalian berdua? Oh tentu saja gue ngga mau.“

“Lo emang selalu bisa kita andalkan del,” ujar detektif Egan.

“Segera laporkan segala penemuan lo ke gue ya?!“ pinta detektif Keiko kepada Birdella yang tak menyahut sama sekali karena sudah larut dalam pekerjaanya sendiri dan terduduk di samping jasad seorang laki-laki.

Sementara itu detektif Egan dan Keiko juga kembali meneruskan pekerjaan mereka untuk memerikasa tempat kejadian perkara yang sungguh mengerikan itu.

Mereka melihat sebuah lukisan dari salah satu pelukis terkenal.

“Apakah ini asli?“ tanya detektif Egan.

“Bukankah kita butuh orang yang mengerti tentabg kaya seni, minimal lukisan?!“ ujar detektif Keiko.

“Sepertinya begitu,” lanjut detektif Egan.

“Sebaiknya kalian bawa ke lab. Aris pasti bisa membantu kalian,” ujar Birdella.

“Dia mengerti soal beginian?“ tanya detektif Egan.

“Tentu saja. Speisalisasi dia memang berurusan dengan barang bukti.“

“Tapi bukannya Aris membantu kita pada urusan tubuh manusia tempo hari?“ ujar detektif Keiko.

“Waktu itu dia memang sedang berusaha mempelajari soal tubuh manusia, makanya dia sering bolak-balik ke ruangan gue. Saat dia tahu gue butuh opsi lain, dia menawarkan diri,” Birdella menjelaskan.

Detektif Egan dan Keiko kembali memeriksa ruangan itu dan Birdella beralih dari jasad laki-laki sebelumnya ke jasad Odel yang berada di sisi lain ruangan itu.

“Gan, coba lihat ini,” ujar detektif Keiko.

“Bukankah itu selongsong peluru?“

“Sepertinya kita sudah tahu alat pembunuhan kali ini.“

“Ya. Kita hanya perlu membawanya ke lab dan meminta Aris memeriksa selongsong peluru itu lebih lanjut.“

Birdella memanggil kedua detektif ketika mereka sedang berdiskusi dan memeriksa abahian lain dari ruangan itu, “Coba kalian lihat ini?“

Kedua detektif itu langsung menghampiri Birdella dan detektif Egan berkata, “Ada peluru juga yang bersarang di tubuh Odel?“

“Betul. Ada dua buah di sini dan satu buah di jasad yang satu itu,” Birdella menunjuk jasad lainnya.

Ditengah kegiatan mereka menyisir tempat kejadian perkara, seorang wanita menerobos para polisi dan masuk ke ruangan dimana para detektif dan Birdella.

“Erik…. “ ujar wanita itu histeris namun langkahnya bisa ditahan seorang polisi.

Detektif Egan yang melihat itu labgsung menghampiri wanita tersebut dan berusaha menenangkannya.

Setelah detektif Egan dan Keiko dapat menenangkan wanita itu mereka mulai menanyainya.

“Anda siapa?“

“Sa— saya Citra Arian. Saya is— istri dari Erik Arian.“

“Jadi nama laki-laki itu Erik?“ tanya detektif Egan sambil melirik jasad yang berada di sudut lain ruangan itu.

“Be— benar, dia suami saya,” jawab Citra dengan terbata, menahan tangisnya.

“Apakah Erik adalah keponakan dari Odel?“ tanya detektif Keiko.

“Betul. Om Odel adalah paman dari suami saya.“

“Apakah anda mencurigai seseorang atas kejadiian ini?“ tanya detektif Egan.

“Entahlah. Bisa siapa saja kan!? Setahu saya, om Odel senang melakukan tindakan melawan hukum dan dia menyaru Erik untuk ikut jejaknya,” jawab Citra.

“Contohnya?“

“Lukisan itu, “ Citra menunjuk lukisan yang tadi diperiksa oleh kedua detektif.

“Lukisan itu adalah ide om Odel. Dia sering meminta Erik untuk mendupkikasi lukisan dari para pelukis terkenal, dan awalnya Erik tak mau.“

“Lantas kenapa akhirnya dia mau?“ tanya detektif Keiko.

“Erik adalah seorang siswa seni di sebuah kampus di Kuba. Cita-citanya ingin memiliki galeri seni yang memajang semua hasil lukisannya, namun saat om Odel membawanyanke sini dia baru menyadari bahwa kehidupan di sini tak seindah yang selalu om Odel ceritakan padanya. Walau Erik sudah berusaha keras untuk tak menjadi sepeti pamannya, pada akhirnya anak dalam kandunganku membuat Erik menyerah,” Citra menceritakan dengan raasa sedih yang mendalam.

“Jadi ini bukan karya duplikat Erik yang pertama?“ tanya detektif Egan.

Citra menggelangkan kepalanya, “Seingat saya, ini karya ke lima yang dipesab oleh om Odel.“

“Kemana biasanya Odel menjual karya Erik?“ tanya detektif Egan lagi.

“Karena saya tak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Erik jadi saya tak pernah terlibat dalam segala perbuatan dam transaksi mereka. Saya tak tahu kemana om Odel menjualnya.“

“Detektif Keiko, detektif Egan coba ke sini,” teriak Birdella.

Setelah menyerahkan Citra kepada paramedis yang sedari tadi berjaga, kedua detektif itu mendatangi Birdella yang masih berjongkok di samping jasad Odel.

“Aku menemukan ini,” ujar Birdella sambil menunjukan sebuah kunci yang berbentuk unik kepada kedua detektif.

Detektif Keiko mengambilnya dari tangan Birdella dan berkata, “Aku pernah melihat kunci ini di rumah Odel dan saat dia sedang diinterogasi kemarin.“

“Sepertinya kunci ini sangat berharga untuk Odel,” ujar detektif Egan.

Detektif Keiko langsung berlari menghampiri Citra yang masih dalam perawatan paramedis.

“Apakah anda mengenali anak kunci ini?“ tanya detektif Keiko.

“Itu adalah kunci yang selalu dibawa kemana-mana oleh om Odel.“

“Kunci apa ini?“

“Saya kurang tahu itu kunci untuk apa.“

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!