Bab Tujuh

Jangan-jangan Odel kali ini hanya sedang mencari sebuah alasan dan berusaha untuk melarikan diri?!“ ujar detektif Keiko dengan asumsinya sendiri namun penuh dengan percaya diri.

“Tidak mungkin. Kalian tadi lihat sendiri bahwa klein saya muntah darah tadi,” bela pengacara Odel yang masih berdiri di dalam ruangan interogasi itu bersama detektif Keiko dan Bima.

Namun tanpa aba-aba kedua detektif itu lamgsung berlari, berusaha untuk mengejar Odel dan paramedis yang membawanya menggunakan brankar tadi menuju lift.

Saat detektif Keiko dan Bima mengejar mereka berdua, mereka masih bisa melihat Odel yang terbaring di atas brankar dan para medis yang berdiri di sebelahnya. Namun belum juga mereka sampai di depan lift, pintu lift itu baru saja tertutup. Walau pun detektif Bima sudah berusaha memencet tombol untuk membuka pintu yang berada di samping pintu lift tersebut namun ternyata pintu itu tidak mau terbuka.

Detektif Keiko langsung berinisiatif untuk mengejar Odel dan paramedis tersebut melalui pintu darurat dan diikuti oleh detektif Egan yang mengejarnya dari ruangan sebelah ruang interogasi.

Detektif Keiko dan Egan berlari secepat mungkin menuruni tangga darurat, berusaha untuk bisa mendahului Odel dan paramedis yang menggunakan lift di lantai dasar gedung kantor mereka.

Namun sayangnya saat detektif Keiko dan Egan sudah sampai di lantai bawah, mereka justru menemukan paramedis yang membawa Odel tersungkur di lantai lift yang sedang terbuka dengan hidung yang mengeluarkan darah.

“Dimana Odel?“ tanya detektif Keiko sambil berjongkok di hadapan paramedis yang sedang memegangi hidungnya yang baru saja dipukul Odel.

Paramedis itu menunjuk ke arah pintu keluar belakang gedung dengan sambil menahan rasa sakit di bagian wajahnya.

Detektif Egan pun langsung berlari ke arah luar gedung berusaha mengejar Odel yang baru saja melarikan diri dari sebuah interogasi pihak kepolisian.

“Bagaimana, lo menemukan Odel?“ tanya detektif Keiko yang baru saja menyusul detektif Egan.

“Ngga ada tanda-tanda Odel, gue kehilangan jejaknya. Maaf Kei,” ujar detektif Egan sambil terengah.

Tentu saja detektif Keiko merasa sangat kecewa karena kehilangan jejak Odel. Satu-satunya harapan detektif Keiko untuk bisa menemukan Diatmika. Namun di sisi lain, detektif Keiko tak bisa menyalahkan rekannya itu karena dia tahu, rekannya pasti sudah sangat berusaha.

“Bagaimana?“ tanya detektif Bima yang baru saja sampai.

“Kita kehilanagan Odel,”jawab detektif Egan.

“Tenang saja, kita bisa melacak Odel dan pasti kita bisa menangkapnya lagi,” detektif Bima berusaha menenangkan detektif Keiko begitu menyadari bahwa rekannya itu terlihat sangat kecewa.

*****

Mereka kembali ke ruangan masing-masing. Dengan menahan rasa kecewa, detektif Keiko kembali duduk di depan mejanya.

Detektif Keiko mengambil ponselnya dari dalam saku belakang celananya. Detektif Keiko memainkan ponsel di tangannya itu, beberapa kali dia memutar-mutar ponsel itu sambil memandang keluar melalui jendela besar di sampingnya.

“Lo mau kopi, Kei?“ detektif Egan berusaha menawarkan rekannya.

Detektif Keiko mengalihkan pandangannya ke arah rekannya itu lalu berkata, “Ya, mungkin gue emang perlu kopi.“

Tanpa banyak bicara lagi, detektif Egan langsung berjalan menuju pantry kantor dan segera membuatkan detektif Keiko segelas kopi dengan tambahan gula, krimer dan banyak es batu sesuai kesukaan detektif Keiko.

“Ini, sesuai sama yang biasa menjadi favorite lo,” ujar detektif Egan sambil meyerahkan gelas berisi se kopi.

Detektif Keiko menerima gelas berisi es kopi itu dengan wajah tersenyum, “Terima kasih banyak gan.“

Detektif Egan yang juga membuat kopi untuk dirinya sendiri, lalu duduk di hadapan detektif Keiko dan berusaha untuk menenangkan rekannya yang terlihat jelas diliputi rasa yang tak tenang.

“Semua akan baik-baik aja,” ujar detektif Egan.

“Apa yang bisa menjadi jaminan kalau semua hal ini bakal baik-baik aja?! Bu Alana pasti sedang duduk dalam keadaan cemas, menunggu kabar dari gue tentang Diatmika.“

“Kita sedang mencarinya, Kei.“ sambung detektif Egan.

“Bukankah kita sekarang terlalu banyak duduk di ruangan ini dari pada pergi ke lapangan untuk mencari Diatmika?!“ suasana hati detektif Keiko kembali berantakan.

“Minumlah dulu es kopi dulu. Lo butuh tenang Kei.“

“Katakan pada gue, bagaimana lo bisa tenang kalau adik lo entah berada dimana, bagaimana keadaannya dan apa yang sedang terjadi padanya?“

Detektif Keiko menudukan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu detektif Egan berdiri, beridir di belakang detektif Keiko lalu mengusap kepalanya.

“Maaf kalau gue ngga bisa bikin lo jadi lebih tenang. Gue cuma pengen lo bisa lebih merasa jauh lebih baik dan kembali fokus dalam menangani kasus ini dan kita bisa menemukan Diatmika. “

Detektif Keiko mengangkat kepalanya dan berusaha menenagkan diri, “Maafin gue ya gan.“

Detektif Egan tersenyum saat melihat dan mengetahui bahwa rekannya itu sudah kembali dalam versi terbaik.

Ponsel milik detektif Keiko yang dia letakan itu bergetar, sebuah panggilan dari bu Alana masuk kenponsel milik detektif Keiko.

“Iya bu Alana?“ detektif Keiko memulai obrolan.

“Bagaimana Keiko, apakah sudah ada kabar soal Diatmika, nak?“

“Maafkan saya bu Alana. Saya belum menndapatkan informasi lebih lanjut,” jawab detektif Keiko dengan sejuta rasa bersalah.

Bu Alan terdiam mendengar jawaban dari pertanyaannya. Berusaha menahan rasa sedihnya yang tak ingin diketahui oleh detektif Keiko.

“Aku mohon, doakan kami agar bisa sesegara mungkin mendapatkan kabar baim tentang Diatmika.“

“Percayalah nak, bukan hanya soal Diatmika tapi walau kita sudah berjauhan ibu selalu mendoakan segala hal terbaik untuk kamh dan keluarga,” kini bu Alana yang kini justru berusaha menenangkan detektif Keiko.

“Sungguh aku beruntung mengenal anda, bu Alana.“

Setelah keduanya mengakhiri obrolan mereka, detektif Keiko merebahkan punggungnya ke sandaran kursinya. Dia menghela nafas panjang berusaha menepiskan rasa sesak di dadanya karena tak bisa segera menenangkan perasaan bu Alana.

Di saat itu pula, telepon di atas meja detektif Egan berbunyi dan membuat fokus detektif Egan beralih dari detektif Keiko dan mengangkat telepon itu.

Setelah beberapa saat berbicara di telepon dengan seseorang, detektif Egan memanggil rekannya

“Kei, mereka menemukan Odel,” ujar detektif Egan membuat duduk detektif Keiko menjadi tegap.

“Apa? Dimana mereka menemukan Odol?“

“Mereka andan segera mengirimkan alamat penemuan Odel kepada kita melalui ponsil kita masing-masing segera mungkin.“

Detektif Keiko memeriksa ponselnya dan mendapati sebuah pesan dengan koordinat alamat lokasi penemuan Odel.

Detektif Egan yang ternyata juga sudah memeriksa ponselnya lalu berkata kepada rekannya, “Kita bisa ke lokasi penemuan Odel sekarang?“

“Tentu saja!“ ujar detektif Keiko dengan nada yang penuh semangat.

Kemudian dengan cepat detektif Keiko bangun dari duduknya, mengenakan jaket miliknya dan berjalan lalu dengan sigap diikuti oleh rekannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!