Bab Lima

DEEERRRTTT

DEEERRRTTT

DEEERRRTTT

Ponsel milik detektif Keiko berdering di dalam kantong bazernya. Dengan sigap detektif Keiko mengambilnya dan menjawab panggilan tersebut.

“Dengan detektif Keiko di sini,” ujar detektif Keiko menjawab panggilan itu karena memang tak mengenali nomer yang tertera di layar ponselnya.

“Detektif Keiko, ini saya, Sarah.“

“Oh Sarah. Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan nama pria itu?“

“Iya, detektif. Nama orang itu adalah Odel Arian,” ujar Sarah di sambungan telepon itu menyebut nama laki-laki yang menjadi tamu khusus pak Gelin di galery yang menjadi tanggung jawabnya.

“Odel Arian, Oke. Terima kasih atas informasi penting ini Sarah,” sahut detektif Keiko.

“Tapi anda harus memenuhi janji anda kepada saya, detektif," ujar Sarah.

“Untuk melindungi anda dari pak Gilen?“

“Betul. Karena jujur saja saya takut pada pak Gilen.“

“Peganglah janji saya itu, Sarah. Saya akan menepati janji saya pada anda,“ detektif Keiko berusaha meyakinkan Sarah yang terdengar benar-benar takut pada pak Gilen, atasannya.

"Saya pegang janji anda itu detektif," ujar Sarah lagi.

Setelah keduanya telah mencapai kata sepakat dan Sarah sudah merasa aman, kemudian detektif Keiko mengakhiri sambungan teleponnya dengan Sarah tersebut.

Detektif Keiko menghampiri rekannya dan meminta bantuannya, “Tolong carikan gue apa pun yang berhubungan dengan Odel Arian.“

“Kenapa rasanya nama itu cukup familiar di telinga gue ya!?“ ujar detektif Egan sambil berpikir.

“Apa lo kenal sama dia?“ detektif Keiko penasaran juga.

Jari jemari detektif Egan sudah mulai menanari di atas keyboard untuk mulai mencari segala informasi yang berkaitan dengan Odel.

“Nah! Apa gue bilang,” ujar detektif Egan cepat.

“Ada apa?“ tanya detektif Keiko masih penasaran.

“Nama itu, Odel Arian memang pernah gue dengar.“

Detektif Keiko berpindah posisi dan kini berdiri di samping detektif Egan sambil memandang layar monitor yang sama.

“Statusnya bebas bersyarat dalama kasus pengancaman?!“ detektif Keiko membaca informasi di dalam layar.

“Iya, dulu gue bantu salah satu detektif di divisi kekerasan waktu menangkap Odel ini. Dia itu imigran dari Kuba dan pernah masuk daftar orang dalam peredaran narkoba.“

“Terus sekarang dia ada dimana?“

“Menurut data di sini, sekarang dia tinggal di daerah atas seorang diri. Ada alamat lengkapnya di sini.“

“Perlukah dia kita panggil ke sini?“

“Akan mudah bagi kita kalau kita mewawancarainya di sini.“

Setelah kedua detektif itu bersepakat akhirnya keduanya menghubungi detektif Mustofa dan Bima untuk sama-sama melakukan pemanggilan terhadap Odel.

Perjalanan menuju rumah Odel cukup memakan waktu karena berada di wilayah bagian atas kota.

Sesampainya di depan rumah Odel, detektif Egan langsung mengetuk pintu. Dari dalam rumah terdengar seseorang menyahut.

“Ada perlu apa?“ tanya laki-laki dengan kumis yang cukup tebal yang berdiri di hadapan detektif Egan.

“Kami dari kepolisian, ingin mengajukan beberapa pertanyaan,” jawab detektif Egan sambil memperkihatkan lencananya.

“Saya tidak melanggar satu pun persyaratan. Kenapa saya perlu di panggil?“

“Memang tidak tapi ada informasi bahwa anda kemungkinan melakukan suatu tindakan kejahatan lain yang berhubungan dengan wanita,” ujar detektif Bima.

Odel yang terlihat kebingungan berusaha mencari tahu duduk permasalahnnya.

“Tunggu! Saya selama ini tak pernah berhubungan dengan wanita manapun kecuali istri dari keponakan saya. Rasanya tak mungkin dia melaporkan saya.“

“Siapa nama istri dari keponakan anda?“ detektif Keiko berusaha mencari tahu.

“Namanya Citra.“

Detektif Keiko menghembuskan nafas panjang, merasa lega karena ternyata bukan Diatmika orang yang Odel maksud.

“Apakah anda mengenal wanita ini?“ tanya detektif Mustofa sambil memperlihatkan foto Diatmika.

Odel langsung mengatakan tidak mengenal Diatmika saat beberapa detik melihatnya dan langsung membuang mukanya.

“Bukankah akan lebih baik jika anda melihat foto ini dulu,” ujar detektif Bima.

“Tak perlu! Saya memang tak mengenalnya.“

“Bagaimana dengan Gilen. Seorang penanggung jawab sebuah galeri seni di pusat kota?“ detektif Egan berusaha memancing dan sepertinya pertanyaan mampu membuat wajah Odel berubah manjadi pucat pasi .

“Bagaimana Odel, anda mengenalnya?“ kali ini detektif Bima yang bertanya.

“I… iya, saya mengenalnya,” jawab Odel gugup.

“Kenapa? Sepertinya anda tak nyaman,” celetuk detektif Egan.

“Tidak. Anda salah mengerti.“

“Jadi seperti apa sesungguhnya?“ desak detektif Bima.

Odel memilih sebuah tempat duduk di dekat jendela, lalu dia meletakan barang-barang dari kantung celananya yang membuat posisi duduknya tak nyaman di atas meja di hadapannya.

Sebuah kunci dengan bentuk yang unik dan botol wiski berbentuk pipih dia letakan di atas meja.

“Saya dan pak Gilen memiliki sebuah bisnis,” ujar Odel.

“Lebih tepatnya bisnis apa?“ tanya detektif Bima masih mendesak.

“Sebuah bisnis yang tak bisa saya beritahu kepada kalian.“

“Narkoba?“ tanya detektif Egan.

“TIDAK! sudah lama saya tak menyentuh barang itu,” jawab Odel dengan tegas dan cepat.

“Lantas bisnis apa?“ desak detektif Bima.

“Perdagangan manusia?“ kali ini detektif Keiko bertanya sambil memberi pilihan lain.

“Atau anda sedang melakukan pemersan terhadap Gilen, entah apa yang dia lakukan yang anda ketahui hingga anda bisa mengancamnya?“ kali ini detektif Mustofa yang mendesak.

Odel terlihat makin tak nyaman sengan semua pertanyaan yang mendesak dirinya. Wajahnya semakin pucat dan keringan berukuran biji jamgung terlihat jelas di wajahnya.

“Saya tak akan menjawab lagi apapun pertanya dari kalian,” tiba-tiba Odel memberi pernyataan.

“Bagaimana mungkin anda tak menjawab pertanyaan dari pihak yang berwenang!?“ ujar detektif Bima.

“Tentu saja saya bisa. Saya memiliki hak untuk tak menjawab. Karena saya bukanlah pelaku kejahatan.“

Detektif Egan yang paham bahwa ternyata Odel adalah orang yang cukup pintar dalam hal hukum akhirnya memberi kode pasa detektif Keiko untuk tidak terus mendesaknya.

“Kalian boleh memanggil saya ke kantor kalian sala da surat perintah penangkapan terhadap saya. Namun saya juga hanya akan menjawab pertanyaan dari kalian saat saya di dampingin seorang kuasa hukum,” terlihat jelas sekali bahwa Odel orang yang cukup cerdas.

“Baiklah pak Odel. Saya rasa anda cukup cakap dalam hal ini,” ujar detektif Egan.

“Tentu saja. Mungkin kalian belum memeriksa catatan tehtang saya, namun dengan senang hati saya akan memberi tahu kakian agar pekerjaan kalian tek terlalu berat. Saya pernah berurusan dengan penjara dalam sebuan kasus dan itu membuat saya banyak belajar,” Odel justru terlihat membanggakan dirinya.

“Bisa saya pastikan bahwa apa yang anda katakan benar,” balas detektif Egan.

“Tentu saja anda harus percaya,” ujar Odel.

Detektif Keiko melirik ke arah detektif Egan seraya menunggu aba-aba untuk tindakan selanjutnya.

“Jika kalian tidak keberatan, saya harus bertemu dengan seseorang. Saya rasa kalian harus segera keluar dari rumah saya ini,” Odel mengusir keempat detektif itu dengan cara yang halus.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!