Bab Empat

Detektif Keiko mepihat sebagian tubuh seorang perempuan yang sedang mengintip dari salah satu gang di samping gedung galeri seni itu.

Saat wanita itu menyadari detektif Keiko melihat ke arahnya dan dia langsung menghilang, berjalan masuk ke dalam gang itu.

Justru karena hal itu detektif Keiko menjadi penasaran dengan tingkah laku wanita itu dan membuat naluri detektifnya terusik.

“Mau kemana?“ tanya detektif Egan begitu menyadari rekannya yang awalnya berjalan di belakangnya kini justru masuk ke dalam gang.

Detektif Keiko tak menjawab, dia mempercepat langkahnya masuk ke dalam gang itu umtuk mengejar perempuan yang tadi dilihatnya.

Ketika memasuki gang itu detektif Keiko masih bisa melihat punggung perempuan yang mempercepat pangkahnya. Namun dengan cepat detektif Keiko mengejarnya dan dengan mudah dia mendekati perempuan itu.

“Hai,” ujar detektif Keiko sambil menepuk pundak perempuan itu yang serta merta kaget.

Detektif Keiko memperhatikan raut wajah perempuan itu yang terlihat agak ketakutan.

“Kamu siapa?“ tanya detektif Keiko.

“Saya… saya pegawai di galeri seni ini,” jawabnya terbata.

“Apa yang kamu lakukan tadi?“

“Saya hanya sedang lewat.“

“Tapi tadi kamu mengintip, seolah mengintai kami,” desak detektif Keiko.

“Ti— tidak. Saya tak melakukan itu.“

Namun detektif Keiko tak bisa mempercayai begitu saja jawaban perempuan itu.

“Apa kamu mengenal Diatmika?“ kini detektif Keiko mengganti taktik.

“Diatmika…? Oh, anak paruh waktu itu!?“

“Kamu mengenalnya?“

“Mengenal? Ya, mungkin bisa dikatakan seperti itu.“

Detektif Keiko merasa menemukan celah dalam kasus hilangnya Diatmika melalui perempuan berkulit gelap dan berambuf ikal panjang itu

“Siapa nama kamu?“

“Saya Sarah,” perempuan itu menyebutkan namanya.

“Anda bekerja sebagai… “

“Saya bekerja sebagai kurator sekaligus membantu acara pelelangan di galeri seni ini,” Sarah mencoba menerangkan.

Detektif Keiko menganggukan kepala tanda bahwa dia mengerti penjelasam dari Sarah tersebut.

“Bagaimana dengan Diatmika, apa yang dia lakukan di galeri seni ini?“

“Anak itu, Diatmika bekerja sebagai oarang yang bersih-bersih di galeri seni ini bersama beberapa orang lainnya. Jangan salah, pekerjaan bersih-bersih di galeri ini bukan pekerjaan bersih-bersih biasa, karena para pekerja harus sangat teliti dan hati-hati agar tak merusak segala benda seni di tempat ini.“

“Jadi bayaran untuk pekerjaan Diatmika cukup besar?“

“Tentu saja. Diatmika kadang juga menjadi asisten cabutan bagi saya, dengan begitu dia akan mendapatkan bayaran yang jauh lebih banyak dari hanya sekedar jadi orang yang bersih-bersih,” jawab Sarah.

“Kapan Diatmika bekerja di galeri seni ini?“ tanya detektif Keiko mencoba kembali menyorek keterangan.

Kedua bola mata sarah mengarah ke kiri atas lalu berkata, “kira-kira satu bulan lalu. Namun beberapa minggu lalu dia minta pak Gilen untuk membayarnya dimuka dengan alasan untuk biaya rumah sakit ibunya.“

“Dari nada bicara anda, sepertinya anda tak percaya dengan alasan yang Diatmika berikan.“

“Bagaimana bisa orang yang baru masuk sudah bisa minta gaji dimuka,” tukas Sarah.

“Apakah ada rumor yang beredar?“ korek detektif Keiko.

“Aku percaya bahwa mungkin dia dan pak Gilen memiliki hubungan yang spesial. Buktinya selama beberapa hari ini Diatmika tak masuk kerja tapi pak Gilen tak mencarinya.“

Detektif Keiko mengerutkan dahinya dan berusaha mencerna setiap perkataan dari Sarah.

Sarah yang menyadari gesture detektif Keiko langsung berkata, “Jangan salah mengerti, saya juga menyukai Diatmika karena pekerjaannya sangag teliti dan sangat membantu saya.“

“Apakah anda menyadari sejak kapan Diatmika mulai tak datang ke galeri seni?“ deyektif Keiko berusaha kembali menguasai dirinya.

“Mungkin sekitar dua minggu lalu dia sudah tak terlihat wara-wiri di galeri seni.“

“Apakah sebagai salah satu orang yang sering di bantu oleh Diatmika, anda tak merasa kehilangan?“

“Tentu saja saya merasa kehilangan karena dia salah satu yang cakap dalam membantu saya tapi saat saya mencari tahu melalu pak Gilen, beliau sama sekali tak memberikan jawaban kepada saya. Sebagai bawahan tenyu saya tak bisa menekan pak Gilen tentunya.“

Detektif Keiko kembali menganggukam kepala tanda setuju dengan pernyataan paling akhir dari Sarah.

“Apakah ada orang yang mungkin anda curigai sebagai penyebab hilangnya Diatmika?“ detektif Keiko berusaha mencari informasi dari Sarah.

Sarah terdiam dan melipat kedua tangannya di dada lalu memutar kedua bola matanya.

“Jika kamu bertanya pada saya, mungkin saya mencurigai pak Gilen,” Sarah mengecilkan volume suaranya.

“Kenapa anda mencurigainya?“ detektif Keiko ikut mengecilkan volume suaranya.

“Seperti yang saya katakan tadi, pak Gilen sama sekali tak menghawatirkan hilangnya Diatmika.“

“Saya sudah menanyakan hal itu pada beliau tadi saat di ruangannya, namun beliau berkata bahwa Diatmika hanya pekerja paruh waktu jadi dia tak terlalu mengingat sosok Diarmika.“

“Benarkah belau bilang begitu? Padahal pak Gilen lah yang membawa Diatmika ke galwri seni ini.“

Sisi penasaran detektif Keiko mulai tergelitik oleh pernyataan Sarah.

“Pak Gilen yang membawa Diatmika ke sini?“

“Iya benar. Bahkan secara terang-terangan pak Gilen meminta kami, orang-orang lama di galeri ini untuk membimbing Diatmika. Pak Gilen seolah sedang mempersiapkan Diatmika sebagai kurator si galeri ini.“

“Lalu kenapa pak Gilen seolah tak perduli pada Diatmika tadi?“

“Saya makin percaya jika mereka berdua memiliki hubungan khusus,” Sarah memincingkan matanya.

“Apakah hanya pak Gilen yang anda curigai?“ detektif Keiko kembali memancing pikiran liar Sarah.

“Ada seorang laki-laki yang sering datang ke sini sebagai tamu khusus pak Gilen. Ada kemungkinan dia yang menyerahkan Diatmika kepada pak Gilen untuk bekerja di sini. Entah bisa dikatakan sebagai orang yang mencurigakan atau tidak,” ungkap Sarah.

“Anda tahu siapa namanya?“

“Saya tak hagal pasti siapa namanya tapi yang pasti ada namanya di buku tamu di galeri ini.“

“Bagaimana cara agar saya bisa mendapatkan nama orang itu?“ pancing detektif Keiko.

“Saya bisa mencarikan untuk anda tapi…”

Detektif Keiko yang membaca ada keraguan di nada bicara Sarah lalu bertanya, “Tapi kenapa?“

“Tapi anda harus berjanji melindungi saya dari kemarahan pak Gilen, karena sepertinya tamu ini adalah tamu privat dari pak Gilen,” Sarah berusaha bernegosiasi.

“Percayalah kepada saya. Saya janji akan melindungi anda.“

Sarah terlihat termenung berusaha memilkirkan segala sesuatu yang akan menjadi resikonya saat dia harus mengkhianati orang yang membayar gajinya setiap bulan dengan jadi informan bagi pihak kepolisian namun beberapa menit kemudian Sarah berkata kepada detektif Keiko, “Berikan nomer anda. Saya akan menghubungi anda begitu mendapatkan nama pasti orang tersebut.“

Senyuman kemenangan berkembang di wajah cantik detektif Keiko. Dia memenangkan pertempuran spikologi kali ini melawan Sarah.

“Mana ponselmu?“ ujar detektif Keiko.

Sarah meeogoh kantung blazernya, mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada detektif Keiko.

Dengan percaya diri detektif Keiko mengetikan nomer ponselnya dan membuat panggilan ke momer ponselnya sendiri.

“Simpan nomer ponsel saya. Saya juga akan menyimpan nomer ponsel anda, Sarah.“

“Dengan siapa ini?“ Sarah baru menanyakan nama detektif Keikp saat akan menyimpan nomer pknselnya.

“Detektif Keiko dari divisi pembunuhan!“

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!