Bab Tiga

Dari bukti pembayaran biaya rumah sakit tempat bu Alana mwnajalani perawatan keempat detektif bisa menemukan kemungkinan tempat Diatmika melakukan pekerjaan paruh waktu selama ini.

Dari alamat perusahaan itu pula akhirnya keempat detektif diarahkan kepada sebuah galeri seni di salah satu sudut kota.

Hari itu mereka berempat mendatangi galeri seni itu untuk memastikan bahwa Diatmika memang bekerja paruh waktu di sana selama ini.

Begitu mereka masuk ke dalam galeri seni itu, mata mereka langsung disajikan berbagai macam karya seni. Mulai dari lukisan, patung, hingga karya sastra dari berbagai seniman terkenal dari berbagai macam negara.

“Kira-kira berapa banyak uang yang sedang ditampilkan di sini!?“ ujar detektif Egan.

“Mana ada uang di sini,” tukas detektif Mustofa.

“Anda tak mengerti maksud saya,” balas detektif Egan.

“Maksud detektif Egan, karya seni di sini pasti memiliki harga yang sangat mahal. Bukan begitu, detektif?“ ujar detekttif Bima.

“Anda memang cerdas. Sesuai dengan wajah yang anda tampilkan,” jawab detektif Egan.

Mereka terus berjalan memasuki galeri seni itu hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah meja melingkar yang di dalamnya terdapat beberapa orang resepsionis. Meja itu begitu kontras dengan seisi galeri tersebut.

Seorang wanita dengan seragam berwarna biru dongker berdiri dan sambil memamerkan senyumannya menyambut keempat detektif.

“Ada yang bisa saya bantu?“ tanyanya dengan sopan.

“Kami dari kepolisian. Kami datang ke sini untuk melakukan penyelidikan,” ujar detektif Mustofa sambil memperlihatkan lencananya.

“Apakah kami bisa berbicara dengan seseorang dari pihak galeri?“ sambung detektif Egan.

“Maaf, ini tentang kasus apa pak?“ tanya resepsionis itu.

“Kasus orang hilang. Kemungkinan salah satu dari pegawai di sini,” jawab detektif Keiko.

“Tapi setahu saya, pegawai di sini tak ada yang hilang,” ujar resepsionis itu.

“Makanya kami ingin berbicara pada orang yang berwenang di sini untuk mengetahui apakah orang yang hilang itu benae bekerja di sini atau tidak,” sambung detektif Keiko.

“Ada apa ini?“ seorang laki-laki berbadan kekar dan berkepala botak tiba-tiba menyela pembicaraan antara para detektif dan resepsionis.

“Kami dari kepolisian ingin berbicara kepada kepala galeri di sini,” jawab detektif Egan.

“Ada perlu apa?“

“Ada yang ingin kami tanyakan kepada beliau,” jawab detektif Keiko.

“Soal apa?“

“Soal hilangnya seseorang,” kali ini detektif Bima yang menjawab.

“Silahkan ikut saya,” ujar laki-laki berbadan kekar dan berkulit gelap itu.

Keempat detektif berjalan mengekor padanya. Mereka melewati beberapa barisan meja, dimana banyak karyawan yang sedang sibuk bekerja dan hampir tak lerduli dengan kehadiran mereka. Lalu mereka berhenti di depan sebuah pintu dan laki-laki kekar itu mengetuk.

“Siapa?“ terdengar suara laki-laki dari dalam ruangan.

“Saya pak,” jawab laki-laki kekar itu.

“Oh Dalmar, masuklah.“

“Saya bersama empat tamu pak.'

“Ok.“

Laki-laki kekar yang ternyata bernama Dalmar membuka pintu ruangan itu. Ternyata ruangan itu cukup besar dengan dua buah lukisan berukuran cepat besar yg di gantung di dinding ruangan itu.

Sementara di hadapan mereka terdapat jendela besar yang di depannya terdapat meja kerja yang sangat artistik dan tertata dengan rapi. Dan di kursi kerja itu seorang laki-laki sedang duduk dan fokus pada kertas-kertas di atas mejanya.

“Pak Gilen… “ panggil Dalmar.

Pimpinan galeri seni itu mengangkat kepalanya dan berkata, “Seingat saya, saya sedang tak menunggu tamu.“

“Maaf mengganggu anda pak…”

“Gilen,” jawab pimpinan galeri seni itu.

“Pak Gilen. Kami ke sini dengan maksud memacahkan sebuah kasus,” lanjut detektif Keiko.

“Kasus? Kasus apa?“

“Kasus orang hilang,” jawab detektif Egan.

“Siapa yang hilang?“

“Seorang perempuan bernama Diatmika,” jawab detektif Bima.

Raut wajah Gilen berubah saat detektif Bima menyebutkan nama Diatmika.

“Maksud anda… Diatmika hilang?“

“Betul. Apakah anda mengenal Diatmika?“ tanya detektif Keiko.

“Diatmika… dia itu—”

“Gadis yang waktu itu bekerja sebagai pekerja paruh waktu pak,” ujar Dalmar.

“Oh iya. Memang waktu itu dia bekerja di sini sebagai pekerja paruh waktu. Dia membantu kami dalam proses lelang karya seni.“

“Jadi benar, dia pernah bekerja di sini?“ tanya detektf Bima.

“Betul. Tapi sudah beberapa hari ini dia tak datang untuk bekerja,” jawab Gilen.

“Kapan terakhir kali dia datang untuk bekerja?“ tanya detektif Bima.

“Kalau tak salah sekitar seminggu yang lalu.“

“Kenapa selama beberapa hari dia tidak datang bekerja, anda tak melaporkan kehilangannya?“ tanya detektif Keiko.

“Diatmika bekerja sebagai pekerja paruh waktu di tempat ini. Setahu saya di kuliah dan karena dua hal itu saya merasa ketidak hadirannya bukan sebuah sinyal suayu hal yang buruk.“

“Tapi seharusnya anda lebih perhatian pada karyawan anda,” ujar detektif Keiko dengan nada meninggi.

“Hai, kenapa anda membentak saya?“ ujar Gilen merasa tak terima dengan perlakuan detektif Keiko.

“Keiko, lo harus tenang,” detektif Egan berusaha menenangkan rekannya.

“Dalmar, usir mereka semua dari ruangan saya!“ kali ini suara Gilen yang meninggi.

“Pak kami minta maaf,” ujar detektif Bima berusaha menenangkan suasana namun keadaannya sudah tak terkendali.

Dalmar sudah memanggil beberapa petugas keamanan yang merupakan bawahannya untuk menyeret para detektif keluar dari ruangan Gilen, bahkan samlai keluar dari gedung galeri seni itu.

“Saya mohon kalian untuk pergi dari sini. Bantulah saya menjalankan tugas dan pekerjaan saya di sini,” ujar Dalmar saat mereka sudah berada di luar gedung galeri seni itu.

Selesai mengatakan hal tersebut, Dalmar beserta beberapa anak buahnya kembali masuk ke dalam gedung, meninggalkan para detektif yanv masih kebingungan karena belum menemukan sedikit pun petunjuk selain kebenaran bahwa Diatmika pernah bekerja paruh waktu di tempat itu.

“Bagaimana sekarang?“ tanya detektif Mustofa.

“Kita kembali saja dulu ke kantor dan kembali lagi ke sini beberapa hari lagi,” usul detektif Bima.

Walau detektif Keiko setuju dengan usulan dari detektif Bima namun sebagian dari dirinya masih ingin terus di gedung galeri seni itu dan memaksa Gilen untuk memberinya lebih banyak informasi.

Namun begitu, detektif Keiko menyadari kesalahannya membuat kegaduhan dan tak sanggup menahan dirinya bereaksi di luar keharusan.

Semua karena kasus ini melibatkan Diatmika, orang yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Dalam sebuah kasus hilangnya seseorang, waktu adalah hal paling penting yang harus diperhitungkan.

Detektif Egan, Bima dan Mustofa sudah berjalan lebih dulu di depan detektif Keiko yang masih terlarut dalam pikirannya sendiri dan berjalan jaub lebib lambat dari ketiga rekannya.

Di saat itu detektif Keiko menoleh ke salah satu gang yang berada di samping gedung galeri seni itu. Di gang itu, detektif Keiko seolah melihat seorang perempuan berambut ikal sedang mengintip, melihat ke arahnya.

Dengan setengah berlari Detektif Keiko memutuskan menghampiri gang itu, saat perempuan itu tak terlihat lagi. Sepertinya perempuan itu menarik diri masuk ke dalam gang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!