Bab Dua

Hari ini, detektif Egan dan Keiko ebertemu dengan dua orang detektif lain dari divisi orang hilang di kantin kantor mereka.

“Perkenalkan, nama saya Bima dan ini rekan saya Mustofa,” ujar dari salah satu detektif itu memperkenalkan diri.

“Saya Egan, dan ini rekan saya Keiko.“

Detektif Keiko hanya melempar senyum saat diperkenalkan oleh rekannya.

“Kita mulai hari ini juga?“ tanya detektif Mustofa.

“Lebih cepat akan lebih baik,” balas detektif Keiko.

“Kita mulai dari mana?“ tanya detektif Bima.

Detektif Keiko menyerahkan selembar kertas yang di atasnya tertulis sebuah alamat, “Kita mukai dari sini.“

Keempat detektif itu masuk ke dalam sebuah mobil dan langsung meluncur ke sebuah alamat.

Dalam hitungan menit mereka sudah sampai di sebuah rumah yang terlihat hangat dan meriah dengan bunga-bunga berwarna warni di halaman rumah.

Detektif Keiko berjalan lebih dahulu dan mengetuk pintu rumH yang berwarna hijau, warna yang kontras dengan bunga-bunga di depam ruamh itu.

Pintu hijau itu terbuka, seorang wanita berusia lima puluhan berdiri di ambang pintu dan menyipitkan matanya berusaha melihat orang yang mengetuk pintunya dengan seksama.

“Keiko?!“

“Betul, bu Alana,” jawab detektif Keiko dengan senyuman.

Mendengar jawaban itu, bu Alana langsung memeluk detektif Keiko.

“Bagaimana kabar kamu?“ tanya bu Alana saat dia melepaskan pelukannya yang sangat erat kepada detektif Keiko.

“Saya baik tentunya.“

“Masuklah nak, masuk.“

Bu Alana mengeser tubunnya, membiarkan detektif Keiko dan ketiga rekannya masuk ke dalam rumahnya yang benar-benar hangat dan tertata rapih serta apik.

“Duduklah. Kalian mau minum apa?“

“Terima kasih banyak bu Alana, kami ke sini untuk mencari segala hal yang berhubungan dengan Diatmika,” ujar detektif Mustofa menolak secara halus tawaran itu.

Bu Alana terdiam sejenak dan menundukan kepalanya berusaha menahan air mata kecemasannya.

“Kapan terakhir kali anda melihat Diatmika?“ tanya detektif Bima.

Bu Alana tak menjawab pertanyaan itu namun detektif Keiko berusaha meyakinkan, “Kami di sini berusaha membantu ibu.“

“Maaf, saya hanya sedang berusaha menenangkan diri,” jawab bu Alana.

“Kami mengerti bu,” timpal detektif Mustofa yang memang biasa menangani kasus orang hilang. Dia mengerti cara untuk menenangkan mereka yang sedang dalam kemelut seperti yang sedang dialami bu Alana.

“Kurang lebib tiga minggu lalu, saya masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat di rumah sakit dalam kondisi yang memang sangat tidak baik hingga harus segera menjalamkan operasi. Anak saya Diatmika yang mengantarkan saya ke rumah sakit pada hari itu, namun karena saya menjalankan prosedur operasi maka saya tidak mengetahui hal selanjutnya.“

Bu Alana menceritakan dalam sudut pandangnya, sementara detektif Bima dan Egan mencatat setiap apa yang diceritakan oleh bu Alana.

“Sekitar satu minggu lalu, saya terbangun di sebuah ruangan dengan tangan terinfus. Hari itu saya hanya seorang diri. Saya pikir mungkin anak saya saat itu sedang bekerja hingga bebrapa hari lalu saya diperbolehkan oleh pihak rumah sakit untuk pulang dan saya berusaha menghubungi anak saya untuk mengurus proses kepulangan saya namun dia tak pernah menjawab panggilan dari saya,” kembali bu Alana menyambung ceritanya.

“Lantas bagaimana ibu bisa pulang sampai ke rumah?“ tanya detektif Keiko.

“Saya meminta tolong adik kandung saya untuk mengurus segala urusan rumah sakit. Saat adik saya datang ternyata segala biaya rumah sakit telah diselesaikan,” jawab bu Alana.

“Siapa yang membayar?“ tanya detektif Bima.

“Pihak rumah sakit bilang, biaya rumah sakit saya diselesaikan oleh rekening dari sebuah perusahaan.“

“Rekening perusahaan?“ ujar detektif Mustofa.

“Betul.“

“Ibu tahu mama perusahaannya?“ tanya detektif Egan.

“Tunggu sebentar.“

Bu Alana bangkit dan berjalan menuju sebuah kamar. Sejurus kemudian dia telah kembali dengan membawa selembar kertas.

“Ini. Nama perusahaannya ada di dalam sini,” ujar bu Alana sambil menyodorkan kertas tersebut ke detektif Keiko.

Keempat detekrif itu berkumpul, memperhatian nama perusahaan yang tertulis di sana.

“PT. Jiwa Seni, apa kalian pernah dengar?“ detektif Bima bertanya kepada ketiga rekannya.

“Kalau ngga salah, itu perusahaan yang menaungi galeri seni yang ada di jalan Tembaga,” jawab detektif Egan.

“Jalan tembaga yang ada di dalam kota?“ tanya detektif Bima.

“Iya betul.“

“Bagaimana sebuah perusahaan bisa membayar biaya rumah sakit anda?“ tanya detektif Bima kepada bu Alana.

“Jujur saja, saya juga tidak tahu. Tapi Diatmika sering melakukan pekerjaan paruh waktu di sela kesibukannya kuliah.“

“Maksud anda mungkin ini adalah bayaran dari Diatmika selama bekerja paruh waktu?“ tanya detektif Keiko.

“Mungkin saja kan?!“ ujar bu Alana.

“Bisa jadi. Sekarang memang sedang tren membayar membayar kebutuhan pekerja paruh waktu langsung dari perusahaan,” tambah detektif Mustofa.

“Apakah kami boleh menyimpan kertas ini bu?“ tanya detektif Bima.

“Tentu saja. Saya harap selembar kertas itu bisa membantu kalian menenukan anak saya.“

“Kami akan berusaha semaksimal yang kami bisa untuk menemukan anak anda,” ujar detektif Bima saat akhirnya mereka pamit undur diri.

Saat ketiga detektif lain sudah keluar dari rumah bu Alana, detektif Keiko masih menyepatkan diri untuk sedikit berbincang dengan wanita yang wajahnya terlihat kelelahan itu.

“Kami ngga akan melalaikan proses pencarian ini. Ibu harus percaga sepenuhnya kepada kami.“

“Kamu dan teman-temanmu itu adalah harapan ibubsaat ini. Tolong temukan Diatmika, nak.“

“Tentu, Keiko janji akan menemukan Diatmika.“

“Terima kasih banyak nak.“

“Kita akan selalu saling berkirim kabar ya bu. Siapa pun diantara kita yang lebih dulu menemukan Diatmika maka akan mengabari yang lain.“

“Tentu saja nak.“

“Namun untuk saat ini, ibu istirahatlah dulu. Ibu akan perlu banyak energi untuk menunggu Diatmika pulang,” detektif Keiko masih terus berusaha menguatkan wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu.

“Ibu tidak bisa beristirahat jika Diatmika belum pulang.“

“Keiko mengerti apa yang ibh rasakan, tapi Keiko juga ngga ingin ibu jatuh sakit. Bukankah Diatmika tak pernah ingiin melihat ibu sakit?!“

“Benar. Anak itu sejak dulu selalu menangis jika melihat ibu sakit. Sampai terakhir ibu melihatnya, dia menanggis melihat ibu berada di ruang Instalasi Gawat Darurat hari ini,” bu Alana memutar lagi memori di dalam kepalanya.

“Ibu sakit apa?“

“Diagnosa dokter, ibu mengalami usus buntu yang sudah sangat akut. Hari itu, saat ibu masuk rumah sakit kondisi ibu sudah sangat gawat dan harus segera di operasi.“

“Lantas bagaiman kondisi ibu sekarang?“

“Seperti yang kamu lihat, fisik ibu sehat sekali sekarang ini. Namun hati ibu terasa amat sakit karena belum bertemu lagi dengan Diatmika.“

Wajah bu Alana kembali seperri dinaungi awan hitam yang gelap.

Detektif Keiko memeluk bu Alana dan berkata, “Maka kini ibu harus menjaga diri dan hidup dengan sehat, agar saat Diatmika pulang kondisi ibu sedang fit.“

“Terima kasih banyak nak. Sejak kami pindah dari rumah lama yang berrada di sebelah rumah orang tuamu, sungguh sulit bagi kami menemukan tetangga sebaik kalian.“

“Pertalian kita memang sudah seperti sedarah, makanya akan sulit bagi kita menemukan pengganti satu sama lain,” ujar detektif Keiko sambil meleparkan senyuman.

Terpopuler

Comments

Faridah

Faridah

nyimak

2025-01-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!