Suasana di ruangan rawat inap kembali sepi tapi tidak sesepi kuburan ya, masih terdengar suara televisi yang sengaja Almira nyalakan.
Pria yang sudah duduk di sisi ranjang Almira, tampak tidak memalingkan wajahnya dari Almira, namun sayangnya gadis itu pura-pura tidak melihatnya malah sibuk menonton siaran televisi.
“Ehmm ...,” pria itu berdeham.
“Ehmm ...,” untuk kedua kalinya pria itu berdehem demi menarik perhatian gadis itu, namun lagi-lagi gadis itu mengacuhkannya.
Bu Mimi yang mendengar suara deheman Arash, buru-buru memberikan cup minuman yang tadi dia beli di coffe shop. “Den Arash, ini ada minuman segar buat Aden. Dan ini ice chocolate buat Non Mira,” kata Bu Mimi sembari memberikan masing-masing minuman ke Arash dan Almira.
“Makasih Bude,” ucap Almira, sedangkan Arash tidak mengucapkan terima kasih hanya menerimanya saja, tapi tidak masalah buat Bu Mimi.
Almira langsung menyesap minuman melalui pipetnya, sedangkan Arash masih memegangnya belum meminumnya.
“Ehmm ...,” kembali lagi Arash berdehem.
“Sebaiknya tuh tenggorokannya dibawa minum, lama-lama jadi sakit tenggorokan!” celetuk Almira tanpa menoleh ke Arash.
“Lo kalau lagi ngomong sama orang, gak bisa lihat wajahnya ya!” jawab Arash ketus.
Almira menarik sudut bibirnya. “Memangnya harus apa! ngomong sama orang menatap wajahnya?” balik bertanya Almira.
“Ya haruslah, dari tadi gue sengaja duduk dekat lo biar lo lihat wajah gue,” jawab Arash kesalnya.
Gadis itu melongo dan menoleh ke samping pelan-pelan, “What ... aku harus melihat Kak Arash! Kak Arash itu amnesia ya? Lupa dengan kondisi ku untuk menoleh ke kanan dan ke kiri itu agak sulit karena menahan rasa sakit punggungku, dan sekarang Kakak komplain. Mending Kakak jalan-jalan keluar saja dengan temannya tadi daripada disini!” jawab Almira dengan kesalnya.
Arash memutar bola mata dengan jengkelnya.“Oh ... Jadi lo lebih seneng gue pergi ketimbang temenin lo di sini, agar lo bebas berduaan lagi sama Ustadz Ridwan! Begitukan maksudnya!” sahut Arash, raut wajahnya sangat terlihat cemburu.
Almira menatap heran Arash. “Wait Kak, kok Kakak marah ya ... kayak orang cemburu begitu!” cecar gadis itu, wajahnya mulai terlihat serius.
Arash berdecak kesal. “Ck ... Siapa juga yang cemburu! Lo kan bukan pacar gue, lagian lo kan lihat sendiri gue udah punya pacar. Lebih cantik, lebih pintar daripada lo!”
“Well ... ya sudah kalau tidak cemburu, jangan marah kalau aku berduaan dengan Ustadz Ridwan. Seperti yang Kakak bilang, aku bukan pacar Kakak!” balas Almira dengan ketusnya.
“Ya ... tapi gue gak suka lihatnya!” sentak Arash, apa adanya.
Oke seperti nya ada percecokan antara Non Almira dan Den Arash, kira-kira siapa yang menang? ... Batin Bu Mimi, yang mengamati dari tempat duduknya, percuma saja kalau ditengahi, kayaknya seru.
Almira memutar malas kedua bola matanya. “Masalah tidak suka itu urusan Kak Arash, bukan urusanku!” seru Almira.
“Gak bisa begitu dong, itu urusan lo juga. Pokoknya gue gak suka!” kata sikekeh Arash, agak meninggi suaranya.
“Bodo amat urus aja sendiri!” jawab ketus Almira.
Geram sekali batin Arash dengan jawaban Almira, untung saja tak selang berapa lama dokter beserta perawat datang berkunjung, terpaksa Arash harus keluar dari kamar. Karena Almira akan dibuka penyangga punggungnya, untuk melihat kondisi punggung lalu akan mulai dikompres dalam waktu beberapa menit.
Kemudian melakukan tindakan reduksi yang dilakukan oleh dokter untuk tulang bergeser di bagian punggung, untuk mengembalikan tulang ke posisi normalnya dilihat hasil Rontgen dan MRI, jika kondisi tidak parah maka pengobatannya dengan tindakan reduksi, serta imobilisasi yang sejak kemarin sudah dilakukan oleh Almira, yaitu memakai penyangga sendi pada punggung untuk mencegah bergeraknya sendi yang sudah kembali ke posisi normal agar cepat kembali normal. Makanya dari itu Almira tidak bisa dengan cepat menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Arash yang menunggu di luar ruangan tampak mondar mandir kayak setrikaan baju. “Bang Wowo bisa gak duduk dengan tenang, yang kalem gitu?” tegur Mommy Ghina.
“Gak bisa panas rasanya nih bokong ... dari tadi duduk terus!” jawab Arash kesalnya.
“Ya sudah terserah Bang Wowo aja deh, sabar menunggu ya Neng Kunti lagi diterapi biar cepat sembuh.”
Arash hanya bisa mendesis bagai ular piton saat menjulurkan lidahnya, bikin mommy takut aja, mending tinggalin aja deh.
...----------------...
Hampir satu jam Arash menunggu di luar sambil olah raga jalan kaki ditempat, disuruh duduk malah gak mau, akhirnya bisa masuk kembali setelah dokter dan perawat keluar. Eh ternyata pas masuk, sih Neng Kunti sudah memejamkan mata karena habis dikasih suntikan obat nyeri punggungnya.
Yaaa... Kok si Kunti tidur sih.
“Sengaja Mommy buat tidur, biar kalian gak ribut dulu. Kasihan Neng Kunti habis diterapi, rasanya pasti sakit banget!”
“Ck ... Alasan aja, nanti giliran Ustadz Ridwan datang pasti Mommy Ghina sengaja bikin si Kunti melek matanya?” gerutu Arash, dia kembali menarik kursi dekat ranjang Almira ... lebih dekat lagi lalu mendaratkan bokongnya.
“Ah ... Bang Wowo bisa aja, situ peramal ya kok tahu sih!” maaf ya mommy mau nyengir kuda dulu.
“Kebiasaan emang nih Mommy Ghina gak bisa lihat cowok ganteng dikit ya. Emangnya Arash kurang ganteng apa!” gerutu pria bermata biru, wajahnya mulai terlihat mengesalkan.
“Ganteng sih tapi minim akhlak...ups.”
Membulatlah kedua mata Arash, Mommy cuma bisa nyengir kuda aja, mending mommy nengok ke tetangga sebelah dulu dari pada dapat pelototan dari Bang Wowo. Sok atuh dijaga kembali Almiranya, biar Daddy Erick kembali baik sama Bang Wowo ya ... bye-bye.
Arash dari tempat duduknya menatap dalam wajah gadis itu yang tampak pulas tidurnya. Hatinya kok tiba-tiba tenang melihat gadis itu tertidur, tanpa disadari dirinya sendiri dia menyentuh tangan Almira lalu mengusapnya dengan lembut.
“Bang Wowo tolong tangannya dikondisikan, bukan muhrimnya dilarang bersentuhan, jangan mencuri kesempatan, ingat Neng Kunti bukan pacar Bang Wowo, nanti Mommy aduin ke Sherina loh!” tegur Mommy Ghina.
Sontak Arash terkesiap. “Astaga Mom, tadi katanya mau ke sebelah kenapa masih muncul di sini sih!” gerutu Arash kesal, lalu menarik tangannya dari tangan Almira dengan hati yang ngedumel kalau aksinya ketahuan Mommy Ghina.
“Ups ... Sorry ... monggo dilanjutkan lagi.” Mending kabur deh dari pada kena semprotan obat nyamuk.
...----------------...
Satu jam setengah kemudian ...
Almira mulai mengerjap-ngerjap kan kedua matanya, lalu menatap seseorang yang wajahnya begitu dekat dengan wajahnya.
“AKKKHH!” teriak histeris Almira.
Sontak saja wajah dengan mata terpejamnya yang sangat dekat dengan wajah Almira, langsung bangun, menarik kepalanya dari bantal saking melengkingnya teriakan Almira bak suara kunti kalau lagi ketawa.
“Ada apa ... Huh!” ucap Arash sembari mengusap wajahnya. Rupanya pria itu dalam posisi duduknya menaruh kepalanya dekat Almira, lalu lama-lama ikut tertidur pulas karena semalam dia kurang tidur, inilah yang membuat gadis itu terkejut, pas melek mata ada wajah Arash disampingnya. Bagaimana gak kaget coba!
“Kak Arash ngapain sama aku?” tanya Almira, sembari mencari keberadaan Bu Mimi, ternyata tidak ada.
“Oh pasti gue ketiduran,” jawab santai Arash tanpa rasa bersalah.
“Kalau Kak Arash ngantuk, bisa tidur di bed itu, tidak harus dekat dengan aku!” gerutu Almira, sembari mengatur detak jantungnya yang sempat terkejut.
Arash bangkit dari duduknya. “Ya elah yang namanya orang ketiduran , ya gak sadar. Lagian juga gue gak ngapa-ngapain lo kok. Tanya aja sama Mommy Ghina kalau gak percaya!”
“Loh kok Mommy dibawa-bawa, Mommy gak ikut campur. Tapi tadi Mommy sempat lihat Bang Wowo pegang tangan Almira.”
Arash dan Almira kedua netranya sama-sama melotot.
“Baiklah mending Mommy kabur dulu deh, awas Bang Wowo jangan panggil Mommy, tak jitak sampean sampai botak!” gemes rasanya.
Kini mereka berdua main lihat-lihatan sambil naik turun alis matanya.
Bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komennya yaaaaaaa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
mommy Ghina jgn ikutan masuk dong... dah di situ aja ok.... 😜😜😜
2025-03-02
0
Tyar
jadi pusing baca nya othur nya msuk dlam cerita
2025-01-07
0
Siti Melisa
gak jelas bgt autornya,,, udah bener dari awal
percakapan autor gak ada ini malah maksa diada Adain🖕
2025-01-07
1