Sherina yang merasa capek berdiri terlalu lama, mengajak Arash untuk duduk di sofa yang jaraknya tak jauh dari ranjang Almira, sedangkan Jack turut mengikuti mereka berdua. Almira tidak menggubris mereka bertiga, malah membiarkan saja, lagi pula gadis itu tahu jika yang ingin ditemuinya adalah Arash bukan dirinya.
“Jadi lo dikeroyok lagi?” tanya Jack masih penasaran saat sudah mendaratkan bokongnya di atas sofa.
“Iya, sepertinya mereka sudah memantau gue ... Oh iya motor lo ada di kantor polisi, Daddy gue lagi ngurusin tadi pagi. Sorry ya Jack, tapi motor lo aman tidak ada yang lecet,” ucap Arash dengan santainya.
Sherina yang duduk di samping Arash masih saja menggamit lengan pria itu. “Sher, lo mau nyebrang dijalan, tangan loe dari tadi masih aja pegang tangan Arash,” sindir Jack, jengah lihat kelakuan Sherina.
“Bilang aja kamu sirik Jack, maklumin dongudah beberapa hari gak ketemu sama pacar, aku kan kangen. Makanya kamu cari pacar sana, biar tahu rasanya digelayuti, dikangeni,” sahut Sherina, dengan memutar malas bola matanya.
Sebenarnya sangat lucu hubungan Sherina dan Arash, semenjak awal kuliah Sherina begitu gigih untuk mendekati Arash pria yang sok cool kayak lemari pendingin dua pintu itu di kampusnya, sampai-sampai dia memilih jurusan yang sama agar bisa satu kelas. Lama kelamaan akhirnya Arash menerima cinta Sherina, tapi ya begitu ... ogah ogahan ... antara beneran suka atau tidak.
Ya kayak sekarang ini, bukannya perhatian sama Sherina, malah matanya masih tertuju ke arah ranjang, namun semenjak dia dengan Sherina paling tidak cewek-cewek yang tergila-gila dan suka mengganggunya langsung terhempaskan oleh sikap Sherina yang terlalu posesif.
Jack melirik Almira yang mulai membaringkan dirinya perlahan-lahan. “Kayaknya gue mau pendekatan sama Almira, kalau dilihat-lihat dia cantik loh apalagi jago bela dirikan,” kata Jack penuh percaya diri.
Sontak Arash menatap pria berwajah oriental itu dengan tatapan tidak sukanya.
Ck ... gak boleh cari yang lain aja! Cantik dari mana tuh si Kunti!
“Cari yang lain aja Jack, lo masa mau sama bocah bau kencur itu. Di kampus kita banyak cewek yang lebih cantik kok,” sewot Arash tanpa disadarinya sendiri, hingga Jack memalingkan wajahnya dari arah ranjang ke wajah temannya.
“Bro, lo kok kayak gak suka begitu sih. Lagian Almira semakin bertambah usia, dia akan semakin cantik kok. Masih SMU aja udah cantiknya kebangetan apalagi kalau dia kuliah nanti, wah bisa jadi rebutan cowok!” celetuk Jack, bicara apa adanya.
Sherina yang berada diantara mereka bertiga, menepuk bahu Arash. “Arash, biarkan saja ... lagian itu hak Jack mau dekat sama siapa saja. Kamu jangan menghalanginya,” sambung Sherina membela Arash.
“Tuh dengerin kata cewek lo!” sahut Jack kembali.
Arash hanya bisa berdecak kesal, lalu menarik lengannya dari tangan Sherina. Wajah Sherina langsung cemberut, kemudian menelisik setiap sudut ruangan. “Arash, tuh anak gak ada yang jagain atau keluarganya? Kok aku lihat gak ada siapa-siapa selain kamu waktu kita baru datang?” tanya Sherina.
“Tadi ada Budenya, sekarang gak tahu kemana.” Matanya ikutan mencari Bu Mimi, namun tidak ada keberadaannya.
“Oh ada Budenya, kalau begitu nanti kalau sudah datang, kita cabut yuk ... kita jalan-jalan,” pinta Sherina merayu Arash.
Mendengar ajakkan Sherina membuat Arash ingin mengikutinya, padahal dia sudah di wanti wanti oleh Daddy Erick untuk bertanggung jawab atas Almira selama di rumah sakit.
Tak selang berapa lama Bu Mimi kembali ke ruang rawat dengan membawa beberapa cup minuman.
“Eh ... ada tamu rupanya,” ucap Bu Mimi saat melihat Sherina dan Jack.
“Mereka teman saya berdua,” ucap Arash, sembari bangkit dari duduknya.
“Berhubung Bude sudah kembali, saya sama teman-teman mau keluar, saya tinggal ngak pa-pa kan?” lanjut kata Arash.
Bu Mimi menganggukkan kepalanya. “Silahkan Den Arash, gak pa-pa kok. Lagi pula Ustadz Ridwan berpesan nanti agak siangan mau mampir ke sini lagi sama beberapa temannya yang mau jenguk Non Almira.”
Langsung saja Arash menatap Almira dari kejauhan lalu kembali menatap Sherina dan Jack.
“Sorry Sherina, gue gak bisa ikut jalan. Gue takut Daddy sama Mommy tiba-tiba datang ke sini,” kata dusta Arash, langsung berubah rencana.
Sherina beranjak dari duduknya. “Loh kok begitu Rash, tadi kamu udah oke mau jalan sama aku, kalau Budenya Almira sudah datang. Sekarang malah kamu bilang Daddy sama Mommymu datang ke sini, memangnya ada hubungan apa dengan kalian berdua sih ... Kok orang tua kamu mau ke sini?” cecar Sherina mulai agak curiga.
Almira masih terlihat tenang di ranjangnya, walau telinganya bisa mendengar semua percakapan sejak tadi, cuma dia pura-pura tidak mendengarnya.
Arash menyugar rambut tebalnya. “Almira anak rekan bisnis Daddy gue, dan gara-gara gue tuh anaknya terluka seperti ini. Dan gue disuruh bertanggung jawab buat jagaiin selama di rawat di rumah sakit ini,” jawab Arash apa adanya.
Sherina menyibak rambut panjangnya, lalu melangkahkan kakinya mendekati ranjang Almira.
“Almira, kamu tidak ada niatan untuk mendekati cowokku kan dengan alasan kamu terluka karena Arash?” tegur Sherina, mulai menunjukkan keposesifannya.
Almira mengulas senyum tipisnya. “Sepertinya Kak Sherina salah bertanya denganku. Aku tidak berniat untuk mendekati cowok Kakak. Dan jika Kakak ingin mengajak pacar Kakak untuk jalan-jalan silahkan, aku tidak berhak melarang. Lagi pula kalian juga bukan teman aku, jadi silahkan meninggalkan kamar ini! Aku butuh istirahat!” balas Almira dengan tenang dan santai.
Arash yang berdiri tak jauh dari ranjang Almira, terdiam sejenak setelah mendengar kata-kata Almira.
“Oh iya Kak Arash, aku tidak butuh ditemani atau pertanggung jawaban Kak Arash, jadi silahkan tinggalkan ruangan ini!” pinta Almira, sekilas menatap Arash lalu membuang mukanya.
Batin Arash mengeram. “Jack, bawa Sherina dari sini. Dan tinggalkan kamar ini sekarang juga. Gue akan menghubungi lo lagi masalah motor lo!” ucap Arash dengan suara meninggi, serta tatapan tajamnya ke Almira.
Jack sudah mulai merasakan keadaan yang kurang nyaman antara Arash dan Almira, buru-buru dia mengajak Sherina untuk keluar dari ruangan.
“Arash, kamu kok malah ngusir aku dari sini. Aku ini pacar kamu loh bukan dia!” sentak Sherina, tidak terima.
“Keluar lah Sherina dari kamar ini, gue gak mau cari masalah dulu dengan kedua orang tua gue. Loe harusnya pahami itu!” kata Arash masih meninggi suaranya.
Jack menarik lengan Sherina. “Ayo Sherina, kita keluar dari sini ... Jangan cari ribut di rumah sakit, malu sama orang,” sambung Jack, yang sangat tahu jika pacar temannya itu pencemburu sekali.
Sherina menoleh ke Almira lalu menatap sini, kemudian mendengus kesal pada Arash sebelum dia keluar dari ruangan.
Bu Mimi hanya bisa menontonnya saja dari tempatnya duduk, sambil menyesap macha lattenya.
Dasar anak muda yang masih labil, tadi udah pamitan mau jalan sama temannya, lah sekarang tiba-tiba berubah ... Apa karena tadi bilang Ustadz Ridwan mau ke sini lagi ya ... Den Arash jadi rubah rencana ... Batin Bu Mimi.
Akhirnya Jack dan Sherina dengan terpaksa keluar dari ruang rawat Almira. Arash pun menarik kursi dan menaruhnya di samping sisi ranjang gadis itu kemudian mendudukinya. Wajah ganteng Arash sudah tampak tak enak dipandang, sedangkan wajah Almira terlihat amat tenang.
Bang Wowo mau ngapain lagi Bang??? Jangan bilang mau marahin Neng Kunti ya ... Awas aja nanti Bang Wowo bisa dibikin peyek sama emak-emak readers loh.
“Gak peduli!” jawab Arash ketus.
bersambung ...
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen, vote, kembang kopi, nonton iklan ... biar tambah semangat. Makasih sebelumnya 🙏🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
bang Wowo takut ya ustadz Ridwan DTG lagi /Grin//Grin/
2025-03-02
0
yoongi kocheng
loe kenapa sih rash?
Jack yg suka sama Almira dan Almira aja gak tau, kenapa loe yg sewot bang wowo.
2024-09-24
0
yoongi kocheng
dingin bener thor 2 pintu.
2024-09-24
0