Kadang ucapan bisa menjadi doa saat malaikat lewat. Baru kemarin Arash bilang kepada kedua orang tuanya. “Kenapa bukan Ustadz Ridwan aja yang jagain!” Ternyata benarkan kejadian pagi ini, di ruang rawat Almira sudah ada Ustadz Ridwan yang sedang membimbing Almira mengaji, atas permintaan Almira, karena tidak memungkinkan gadis itu datang ke kajian sore dalam keadaan sakit, dan Ustadz Ridwan tidak keberatan meluangkan waktu untuk mengajar sebelum dia beraktivitas di kantor tour dan travel miliknya.
Cukup lama Arash melihat Ustadz Ridwan dan Almira berduaan dalam konteks sedang mengaji, entah kenapa paper bag yang berisikan tempat makanan dientakkannya d iatas meja bundar hingga meninggalkan suara, sontak saja Ustadz Ridwan dan Almira sama-sama menoleh.
“Assalamualaikum, Mas Arash,” sapa Ustadz Ridwan sopan.
“Waalaikumsalam,” jawab Arash dengan wajah ditekuknya.
Almira kembali fokus pada Al Qur'annya, tidak menyapa pria itu.
Cih ... mentang-mentang ada calon suaminya si Ustadz ... dia berani mengacuhkan gue! Ngedumel batin Arash.
Klek!
Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah wanita tua dengan tatapan menyelidik ke arah Arash.
Ini pasti laki-laki yang mau dijodohkan sama Almira ... batin Bu Mimi.
Arash agak terkejut melihat kehadiran Bu Mimi, disangkanya hanya Ustadz Ridwan dan Almira saja yang ada di dalam ruang rawat, ya lumayan bikin hatinya tenang kalau ada orang lain.
“Shadaqallahul-adzim.” Almira mengakhiri baca ayat Al Qur'annya.
“Alhamdulillah sudah mulai lancar bacanya,” kata Ustadz Ridwan.
“Makasih banyak Pak Ustadz,” balas Almira sembari mengulas senyum manisnya, Ustadz Ridwan pun membalas dengan senyuman hangat.
Ck ... menjijikan sekali udah kayak adegan di sinetron ikan terbang!
“Permisi Den, Aden Arash ya, anak temannya Pak Albert ya?” sapa Bu Mimi ketika melewati Arash yang sudah duduk di sofa. Tatapan Arash pun berpindah ke arah Bu Mimi. “Iya,” jawab ketus nya.
Astaga sombong amat, duh jangan sampai deh Non Almira punya suami kayak begini.
“Ibu siapa?” balik bertanya Arash, sembari memindai wanita tua yang berpenampilan sederhana ini.
“Dia bude aku, Bude Mimi namanya,” sahut Almira dari jauh.
“Ooh ...,” membulat bibir Arash, lalu mencoba memperbaiki posisi duduknya, karena ada keluarga Almira, Bude Mimi.
“Ini bawaan Den Arash?” tanya Bu Mimi, melihat paper bag di atas meja.
“Iya, itu makanan dari mommy buat Almira.”
“Terima kasih,” jawab Bu Mimi, sembari membuka isi paper bag tersebut.
Disela-sela perbincangan Arash dengan Bu Mimi, Ustadz Ridwan kembali berbicara dengan Almira. “Besok kalau kamu masih dirawat, kabarin saya. Insya Allah saya akan sempatkan datang seperti pagi ini,” kata Ustadz Ridwan.
“Makasih banyak Pak Ustadz, mau meluangkan waktunya buat Mira.”
“Sama-sama, kalau begitu saya pamit ke kantor dulu ya. Semoga cepat sehat, Almira,” ucap Ustadz Ridwan.
Almira langsung salam takzim, mencium punggung tangan Ustadz Ridwan sebelum pria tampan itu keluar dari kamarnya. Kedua netra Arash langsung membulat melihatnya.
Apaan ini kenapa seperti kayak Mommy dan Daddy kalau mau pergi berangkat kerja! Batin Arash mengeram.
Salam takzim antara guru dan murid sudah hal lumrah di Indonesia, tapi buat Arash itu bukan hal yang wajar, karena dia lebih sering melihat Mommy Alya akan mencium tangan Daddy Erick saat Daddynya berangkat kerja, lalu Daddynya pasti mencium kening dan pipi Mommynya ... anggapan dia ... itu berlaku untuk orang yang memiliki hubungan spesial.
Arash sontak berdiri dari duduknya, dan menatap tajam kedua orang tersebut. “Saya pamit dulu Mas Arash, assalamualaikum,” ucap Ustadz Ridwan ketika berpapasan.
“Mmm ...!” gumam Arash, jengkel.
Bu Mimi pun mengantar Ustadz Ridwan ke lobby, sekalian membelikan minuman untuk Arash dan Almira di coffe shop yang ada di lobby rumah sakit
...----------------...
Arash dengan salah satu tangannya berkacak pinggang mendekati ranjang Almira yang sedang membuka mukena yang dikenakannya.
“Oh jadi hubungan lo sama Ustadz Ridwan sudah sejauh itu ya! Udah pakai cium tangan segala, kenapa gak sekalian saja Ustadznya suruh cium kening, pipi dan bibir lo sekalian di hadapan gue!” sentak Arash dengan mengetatkan rahangnya hingga semakin kelihatan jika dia sedang marah.
Almira menghentikan tangannya yang sedang melipat mukenanya lalu mendongakkan wajahnya, kemudian menatap Arash dengan emosi yang tertahan.
“Apa pantas Kak Arash menegurku seperti itu! Apa pantas Kak Arash menuduh Ustadz Ridwan seperti itu! Memangnya selama ini Kak Arash tidak tahu budaya kita di sini, cara menghormati seorang guru dengan mencium tangannya! Aku juga tahu batasan untuk diriku sendiri, jika ada pria yang mencium keningku, pipiku dan bibirku maka pria itu adalah suamiku. Dan aku berharap suamiku seperti Ustadz Ridwan!” kata Almira penuh penekanan.
“Lo bilang budaya, di luar negeri sana tidak ada budaya seperti itu, cukup berjabat tangan saja atau ya tidak ada jabatan tangan.”
“Jangan suka membanding-bandingkan,” sahut Almira, langsung membuang mukanya.
Perdebatan mereka berdua masih berlangsung, tapi tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangan.
“Masuk!” seru Arash dari dalam, masih menatap Almira.
“Arash,” sapa seorang wanita langsung menghampiri pria itu, lalu mengecup kedua pipi Arash di hadapan Almira.
“Arash, gak kenapa-napa kan? Aku dapat kabar dari Jack katanya kamu di rumah sakit, aku takut kamu kecelakaan atau dikeroyok lagi,” cecar Sherina sembari mengecek badan Arash.
Jack yang turut masuk ke dalam ruangan, mengusap tengkuknya melihat kelakuan Sherina seperti itu di depan Almira.
Almira yang tak sengaja lihat adegan cium pipi kiri kanan, terlihat biasa saja, tidak peduli lagi pula bukan urusan dia. Namun hatinya tertawa, baru saja dia ditegur karena mencium tangan Ustadz Ridwan, eh sekarang pria itu malah menerima ciuman dari wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
“Bukan gue yang sakit, tapi dia yang sakit,” jawab Arash sembari menunjuk ke arah ranjang, Sherina pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Arash.
“Dia, siapa?” tanya Sherina.
“Bukan siapa-siapa,” jawab enteng Arash.
Sherina pun mendekati Almira. “Hai, aku Sherina pacarnya Arash, dan satu kampus juga,” kata Sherina, dengan memaksakan tersenyum saat melihat wajah Almira begitu cantik.
“Almira, Kak,” jawab Almira sembari menyambut uluran tangan wanita itu.
“Hai lo masih ingat dengan gue kan?” tanya Jack ikutan mendekati Almira, lalu mengulurkan tangannya. “Gue Jack, teman Arash.”
“Almira, Kak Jack.”
“Oh iya gue bawain lo kue, semoga suka ya,” lanjut kata Jack sembari menaruh paper bag di atas nakas.
“Makasih banyak Kak Jack.”
Sherina kembali berdiri di samping Arash, lalu bergelayut manja seakan sedang memberitahukan Almira akan posisinya, maklumlah banyak wanita yang mengejar Arash, dan dia takut Almira seperti itu.
Arash yang sengaja membiarkan Sherina bergelayut manja pada dirinya malah kesal sendiri karena wajah Almira biasa saja. Memangnya wajah Almira harus bagaimana Bang Wowo? disuruh marah-marah begitu, terus harus cemburu begitu sama Sherina! Ya gak bisa Bang Wowo, Neng Kunti kan gak tertarik sama Bang Wowo, bagaimana mau cemburu! Haduh Mommy Ghina jadi tepok jidat sendiri ... Pusing, lier ama maunya Bang Wowo.
bersambung ...
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Fani Indriyani
mom,dari tadi manggil2 aja wowo,, lah aku baru ngeh kalo itu genderuwo 🤦♀️🤦♀️
2025-01-06
0
Ahmad Zaenuri
/Toasted//Toasted//Toasted//Gosh//Gosh//Gosh/
2025-03-02
0
Ita rahmawati
dih gk malu kamu rash rash pengen dicemburuin gtu 🤦♀️
2024-10-13
0