Badan mulai terasa remuk, bekas pukulan dari Daddy Erick dan Papa Albert semakin berasa cenat cenutnya. Semarah-marahnya orang tua kepada anaknya, sebelum mereka bertiga kembali ke mansion, Mommy Alya meminta dokter mengecek kondisi Arash, hingga mendapatkan salep untuk luka memar dan obat buat diminum.
Sesampainya di mansion, Arash tergesa-gesa menuju kamarnya dilantai dua. Dibukanya jaket kulitnya, lalu dilepaskannya sepatunya disembarang tempat. Lalu dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
“Akh ... akhirnya bisa rebahan juga,” gumamnya sendiri.
Pria itu menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kesalnya. “Ergh ... kenapa juga sih gue harus kenal ama tuh bocah! Daddy pakai segala jodohin segala. Emangnya gak ada cewek yang lain apa!” gerutu Arash sendiri.
Gerutu sih boleh aja, tapi wajah Almira tergiang-giang dipelupuk matanya, apalagi saat Almira tersenyum dan tertawa dengan Ustadz Ridwan.
“IIIIsh ... kenapa wajahnya pakai muncul segala sih! Emangnya gak bisa apa pergi dulu ... ergh!” geram Arash sendiri. Pria itu mengambil salah satu bantal lalu menutup wajahnya dengan bantal tersebut.
“Pergi sana, jangan nganggu gue lagi! Masih kurang apa di rumah sakit ... ergh!”
Ya udah Bang Wowo makanya jangan sebal banget sama Kunti, jadinya terbayang-bayang teruskan padahal sudah di mansion loh, bukan di rumah sakit.
Di balik bantalnya, pria itu mengeram kesal karena wajah si Almira tidak bisa hilang dari pelupuk matanya. Selamat menikmati malam surammu Bang Wowo, Kunti mau bobo cantik dulu.
...----------------...
Esok pagi
Jam 7.00 wib.
Di luar pintu kamar Arash sudah terdengar musik dari salah satu tangan wanita paruh baya yang mengetuk dengan sekuat tenaga didaun pintu itu, diiringi suara merdunya yang semakin melengking tinggi.
Semakin lama masih tak ada sahutan dari dalam kamar, maka irama musiknya semakin tinggi pula.
“Ini anak tidur sudah kayak kebo, digedor-gedor masih aja belum bangun!” gerutu Mommy Alya.
“ARASH!” teriak Mommy Alya, suaranya sudah kayak stereo di mobil angkutan umum kalau lagi nyetel musik dangdutan.
Pria yang dipanggil namanya ternyata masih tergulung dibalik selimutnya, bagaikan kue dadar gulung. Bagaimana gak kayak kue dadar gulung, dari semalam pria itu memutar badannya ke kiri lalu ke kanan, hatinya gelisah tak menentu, mata mengantuk tapi tak mau terpejamkan, belum lagi wajah Almira masih saja bertengger di iris mata birunya, tak mau pergi. Akhirnya terbungkuslah tubuh pria itu didalam selimut tebalnya, dan jam tiga pagi pria itu baru bisa memejamkan kedua matanya.
Ah, semakin lama suara merdu Mommy Alya mulai redup, battery nya mulai melemah, terpaksa Mommy Alya meminta bala bantuan kepada sang kepala pelayan untuk membukakan pintu kamar Arash.
Klek!
Misi pertama di pagi hari, membuka pintu kamar Arash ... done. Lanjut ke misi kedua membangunkan Arash. Mommy Alya menarik napasnya dalam-dalam, melihat anaknya masih bersembunyi dibalik selimut.
“Pak Toni, ambilkan panci sama spatula,” pinta Mommy Alya kepada kepala pelayannya. Pak Toni tanpa menjawab, langsung meluncur kebagian dapur yang ada dilantai bawah, dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu delapan menit, Pak Toni sudah datang kembali dengan membawa panci beserta spatula, Mommy Alya langsung mengambilnya.
TONG ... TONG ... TONG ... TONG
Bagian belakang panci dipukulnya dengan spatula pas di bagian telinga Arash. Pria itu langsung terlonjak kaget dan jatuh dari atas ranjangnya.
“Aduh ...,” mengaduh Arash ketika tubuhnya sudah melesat ke lantai ,untungnya masih terbungkus dengan selimutnya.
Mommy Alya menarik selimut yang melilit di tubuh Arash. “Sudah berulang kali Mommy teriak bangunkan kamu diluar, tapi ternyata masih belum bangun. Ini sudah siang Arash!” cerocos Mommy Alya.
Arash masih terduduk dilantai, dengan lingkar mata yang menghitam dibawah matanya, berulang kali pula dia mengerjapkan kedua matanya biar bisa melek dengan sempurna. “Mom, Arash tuh gak bisa tidur semalaman, Arash ingin tidur lagi,” keluh Arash.
“Gak boleh, ini udah siang. Daddy kamu saja sudah pergi ke kantor polisi sebelum ke kantor. Sekarang kamu cepat mandi, sarapan lalu pergi ke rumah sakit. Mommy udah telepon ke kampus jika beberapa hari ini kamu izin tidak kuliah,” kata Mommy Alya.
Arash mengusak-ngusak rambutnya dengan kesal dan menghentakkan kedua kakinya di lantai. “Bisa gak sih Mom, aku gak rumah sakit, males tahu Mom,” jawab pria itu dengan nada memelas.
“Gak bisa, cepetan laksanakan ... kalau tidak Mommy akan menghentikan uang saku bulananmu!” perintah Mommy Alya tanpa mau dibantahkan lagi.
Semakin kesal lah Arash dengan ancaman Mommy Alya, udah motor masih di sita, di tambah lagi uang saku bulanannya yang berjuta-juta itu. Terpaksa dia harus mematuhi perintah mommynya.
...----------------...
Satu jam kemudian ...
Arash sudah terlihat rapi, dan sekarang sedang sarapan seorang diri, karena saudara kembarnya sudah berangkat kuliah begitu pula dengan adik bungsunya sudah berangkat ke sekolah.
Derrt ... Derrt ... Derrt
Jack Calling ...
“Halo Bro, lo ada dimana? Kok belum nyampe kampus?” tanya Jack diujung teleponnya.
“Gue izin beberapa hari Jack, gak kuliah. Gue harus ke rumah sakit jagain anak orang,” celetuk Arash.
“A-anak orang, sejak kapan lo jadi baby sitter?” tanya Jack terdengar heran.
Arash mendesah, lalu menceritakan kejadian yang menimpa dia dan Amelia, dan hal itu membuat Jack terkejut.
“Wah parah nih pasti kerjaannya gengnya si Heri, ya udah nanti habis mata kuliah pertama gue cabut nyusul lo di rumah sakit. Lagian gue juga pengen ketemu si Kunti lagi,” ucap Jack terdengar agak genit dan semangat
“Terserah lo aja deh,” jawab Arash, langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Mommy Alya dari arah dapur kering dengan membawa paper bag menghampiri Arash yang sedang melanjutkan sarapan paginya. “Ini Mommy bikinkan beberapa makanan buat Almira, nanti tolong berikan. Dan ini kunci mobil, ingat jangan ngebut bawa mobilnya.”
Arash memutar malas kedua bola matanya, lalu meraih kunci mobil miliknya yang dulu sempat ditahan sama Daddy Erick karena pernah ngebut di jalan raya hingga kena tilang, untuk saja tidak sampai mencelakai pengguna jalan yang lain.
...----------------...
Rumah Sakit H.
Pria yang memiliki tubuh tinggi besar dan wajah ganteng, dengan style casual dipadu dengan jaket kulitnya, dia melangkahkan kakinya dengan angkuh menuju kamar yang ditempati oleh Almira, kehadiran pria itu menjadi pusat perhatian orang-orang dan hal itu membuat pria itu semakin pongah.
Klek!
Tanpa mengucapkan salam dan mengetuk pintu, pria itu masuk ke dalam begitu saja. Tapi apa yang terjadi ...
Arash terhenyak sejenak, ketika mendengar suara merdu yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an dari gadis yang mengenakan mukena, akan tetapi salah satu tangannya terkepal melihat pria yang sedang membimbing gadis itu.
Ck ... Dia lagi! Buat apa dia pagi-pagi ke sini! Emangnya tuh orang gak punya kerjaan! Geram eey batinnya Arash.
bersambung ....
Maaf ya Bang Wowo, dia datang lagi 😁
"Bisa gak Mommy Ghina, nih cowok gak muncul lagi, bikin gedek aja! Tuh ngapain pakai duduk dekat Almira segala!" kesal Arash.
"Mohon maaf gak bisa, dia guru agamanya Almira. Kalau cemburu bilang aja Rash!"
"Cih ... gak level deh cemburu!" seru Arash.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
males dgn visual ustad Ridwan /Hammer//Hammer/
2025-03-02
0
Sulis Tyawati
y allah pict nya si arash k tuaan menurut q. kan baru 22 cari yg mudaan dong thor
2024-10-25
1
EsTefaYe
ide bagus perlu di praktekan...next bangunin kk mst bw panci & spatula biar kayak ronda
2024-07-11
0