Selama satu jam teman pengajian Almira menjenguk, akhirnya mereka berpamitan pulang, kecuali Siti tetap menemani Almira karena tunggu dijemput ayahnya.
Arash akhirnya bisa bernapas lega setelah selama satu jam merasa sesak melihat keakraban Ustadz Ridwan dengan Almira. Loh kok kenapa jadi sesak Bang Wowo, jangan-jangan punya penyakit asma ya!
“Siti, tolong bantu aku mau ambil wudhu dikamar mandi, mau sholat isya,” pinta Almira.
Siti yang duduk disisi ranjang Almira, bergegas berdiri dan mencoba memapah temannya untuk turun dari ranjang, tapi ternyata tubuh Siti tak mampu menopang tubuh Almira dari atas ranjang. Mau tidak mau Siti melirik Arash yang sedang duduk santai di sofa.
Almira terdengar meringis kesakitan, menahan rasa sakit punggungnya ketika mau bergerak turun dari ranjang.
“Al, sebaiknya aku panggil perawat dulu ya buat bantuiin kamu. Percuma di sini ada laki badan gede tapi gak berguna!” celetuk Siti, sengaja suaranya agak dikencengi, biar kedengaran di telinga Arash, eeeh ternyata berfungsi dengan baik. Pria beriris mata biru itu bangkit dari duduknya dengan wajahnya yang terlihat kesal.
“Kalau mau nyindir orang, dideketin aja orangnya, gak perlu pakai teriak segala, telinga gue belum budeg!” balas Arash ketus ketika dia mendekati ranjang gadis itu, sontak nyali Siti menciut.
Almira yang masih terduduk di tepi ranjang jadi geram melihat sikap Arash. “Sekarang apa yang mau gue bantu ... hum?” tanya Arash dengan wajah angkuhnya.
“Gak perlu, gak usah dibantu!” balas Almira ketus, salah satu tangannya memegang pinggang bagian belakangnya, lalu salah satu tangan lainnya bertopang pada bahu Siti, sambil menahan rasa sakitnya.
“Ck ... gak usah pakai bilang gak butuh dibantu segala. Kenapa pas ada Ustadz Ridwan gak minta bantuan aja, bukannya loe bilang dia calon suami loe!” celetuk Arash, seperti orang cemburu. Almira menyipitkan kedua netranya, merasa heran.
Walau terlihat kesal, Arash bergegas membantu Almira dengan menyelisip kedua tangannya di bawah ketiak gadis itu, seperti orang mau gendong anak kecil, lalu mengangkat tubuh Almira hati-hati dari atas ranjang untuk turun menapak lantai. Sejenak mereka beradu pandang kembali, Arash kembali menelan salivanya dengan susah payah ketika menatap wajah gadis itu secara dekat.
Almira yang terkesiap langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Arash. “Bisa jalan sendirikan? Apa perlu gue anterin ke kamar mandi? Atau perlu gue panggil Ustadz Ridwan biar bantu ngurusin loe?” Ini antara menanyakan atau lagi meluapkan emosinya, dari tadi yang disebut nama Ustadz Ridwan, Almira sampai mengerutkan dahinya yang belum berkerut, masih kencang.
“Aku bisa jalan sendiri, lagian kedua kaki aku tidak patah, yang sakit itu tulang rusukku!” balas Almira bernada ketus dan kesal.
“Ayo Siti temeni aku ke kamar mandi,” pinta Almira. Siti pun langsung membantu memapah Almira tanpa ada kesulitan, walau harus berjalan pelan-pelan bagaikan siput imut.
Arash berdecak kesal setelah mendapat tanggapan dari Almira. “Masih untung gue berbaik hati, bertanya dan menawari bantuan. Jarang-jarang loh gue bantuin cewek. Diluar sana banyak banget cewek yang ngantri biar dapat perhatian gue ! Dasar kunti!” balas Arash dengan sombongnya sebagai cowok yang memiliki wajah ganteng.
Almira yang baru mau masuk ke dalam kamar mandi, menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah Arash. “Ya udah kalau begitu sekarang Kak Arash cari perempuan yang butuh di perhatiin sama Kak Arash diluar sana! Gak usah ngedumel di sini. Aku sangat berterima kasih atas tawaran Kak Arash! Mungkin memang aku salah satu perempuan yang tidak butuh diperhatiin sama Kak Arash!” ucap Almira begitu tegasnya dengan ekspresi tidak main-main.
Arash yang masih berdiri tak jauh dari Almira, tampak diam terpaku.
“Al ... Sudah jangan jadi bertengkar, ini di rumah sakit dan kamu juga lagi sakit,” pinta Siti, menengahi situasi yang kurang nyaman.
Almira kini menatap Siti. “Dia yang mulai duluan Siti, aku sudah cukup bersabar dengan pria itu. Pria yang tak bermoral dan tak berakhlak, selalu saja menyalahkan aku dari awal. Aku yang selalu disalahkan ketika kedua orang tuanya menegurnya, tapi dia tidak bisa bercermin melihat dirinya sendiri. Pantas tidak seorang laki-laki seperti itu bersikap seperti itu padaku, aku yang berniat baik menolongnya namun aku juga yang di salah olehnya. Ya Allah, boleh tidak aku menyesal telah menolong orang itu,” gerutu Almira, suaranya agak meninggi.
Kedua tangan Arash terkepal, dia merasa tak terima dengan perkataan Almira yang menyebutnya pria yang tak bermoral dan tak berakhlak itu, tatapannya pria itu pun menajam.
Setelah puas meluapkan rasa kesalnya, Almira masuk ke kamar mandi di temani Siti, tak berapa lama gadis itu keluar dan Siti mengambilkan mukena yang tersedia di ruang rawat.
Kebetulan ada perawat yang berkunjung, jadi Siti di bantu dengan perawat mengangkat tubuh Almira ke atas ranjangnya kembali. Arash hanya terdiam duduk namun kedua netranya seakan mengawasi kegiatan Almira.
Gadis itu mulai mengenakan mukenanya, lalu menunaikan ibadah sholat isyanya di atas ranjang dengan keterbatasan yang ada.
Kedua netra Arash tak berkedip-kedip saat gadis itu mengenakan mukena pada wajahnya, sangat berbeda ... tampak cantik memukau, lalu melihatnya menjalankan ibadah sholat. Ngaku gak Bang Wowo? Sudah jelas Arash tak akan mengakuinya!
Tak selang berapa lama, kedua orang tua Almira dan kedua orang tua Arash kembali ke ruang rawat.
“Makanan buat kamu,” ucap Daddy Erick, sembari menaruh bungkusan makanan di hadapan anaknya.
Almira yang dibelikan makanan sama Papa Albert langsung menyantapnya bersama Siti, padahal tadi sore dia sudah makan yang disiapkan oleh rumah sakit.
“Arash, malam ini kamu pulang sama Daddy dan Mommy ke mansion Besok pagi-pagi kamu harus sudah berada di rumah sakit untuk menemani Almira. Karena Pak Albert sama Daddy ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan,” kata Daddy Erick.
Arash yang sedang menikmati makan malamnya terjeda sejenak, lalu menatap Almira dari tempatnya berada. “Suruh aja Ustadz Ridwan yang jagain dia disini, kenapa harus aku yang jagaiin!” jawab ketus Arash.
Siti menepuk jidatnya sendiri, setelah mendengar nama Ustadz Ridwan disebut oleh Arash untuk ketiga kalinya.
“Al ... kayaknya Kak Arash ngefans sama Ustadz Ridwan, atau jangan-jangan Kak Arash cemburu sama Ustadz Ridawan,” celetuk Siti, lumayan suaranya si Siti terdengar jelas.
“Uhuk ... uhuk ... uhuk.” Arash dan Almira sama-sama keselek biji nangka mendengar ucapan Siti. Mommy Alya dan Mama Tania buru- buru kasih minum buat anaknya masing-masing.
Namun berbeda dengan Daddy Erick dan Papa Albert, kedua pria paruh baya itu menatap Siti, seakan butuh penjelasan.
“Anu ... Ustadz Ridwan guru gaji kami berdua, kebetulan kami tadi setelah kajian sore bersama-sama ke sini menjenguk Almira termasuk Ustadz Ridwan,” kata Siti menjelaskan.
“Papa masa lupa, waktu pengajian karyawan di perusahaan, kita pernah mengundangnya. Ustadz yang genteng dan masih muda itu loh Pah,” sambung Mama Tania.
Papa Albert langsung teringat wajah Ustadz Ridwan. “Oh ... Ustadz Ridwan, sudah lama Papa tidak bertemu, pria yang baik dan sopan,” puji Papa Albert.
Arash yang masih menggenggam sendok makannya, sangat erat memegangnya tanpa disadarinya sampai bengkok tuh sendok, udah kaya adegan sulap Deddy Corbuzier aja.
Ck ... pria yang baik dan sopan! Ngedumel sendiri batin Arash.
Pria itu melanjutkan makan malamnya dengan suapan kesalnya. Bang Wowo mumpung di rumah sakit calon mertua mending cek ke dokter dulu yuk, biar dibelek sebentar tuh hatinya, takut kenapa-napa!
bersambung .....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, biar semangat menghalunya 🤭🤭🤭. Makasih sebelumnya 🙏🙏🙏.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
cemburu kesal marah jd satu /Panic//Panic//Panic/
2025-03-02
0
febby fadila
jangan emosi lo rash 😂😂😂😂😂
2025-01-10
0
yoongi kocheng
panas rash?
padahal AC itu adem loh?
2024-09-24
1