Ustadz Ridwan

Hari mulai menjelang petang, dua keluarga yang baru saja bertemu karena kejadian yang menimpa kedua anak mereka berdua di rumah sakit sekarang sedang bersama-sama ke coffe shop untuk makan malam sejenak. Lalu bagaimana dengan kedua anak mereka? Mereka tinggalkan berdua untuk waktu sementara.

Almira yang hanya berbaring di ranjang sudah terlihat kesal karena papa dan mamanya tega banget tinggalkan dia dengan pria yang menyebalkan. Sedangkan Arash yang kena tempat penitipan untuk menjaga gadis itu, wajahnya juga sudah ditekuk, masam.

Mereka berdua sama-sama menarik napas dalam-dalam, lalu mendengus kesal, hidung mancung mereka mulai kembang kempis.

“Ini semuanya gara-gara lo!” celetuk Arash dengan kasarnya dari tempat dia duduk.

Almira memutar malas kedua bola matanya dan mendesis. “Cih ... kok nyalahin aku sih Kak!” balas Almira tak terima.

“Ya harus dong nyalahin lo, kalau tadi siang lo gak ikut berkelahi, gue gak bakal kena hukuman begini. Memangnya lo pikir gue mau ngurusin lo, buang waktu gue saja!. Dan gara-gara lo, motor gue gak balik!” geram Arash sembari menajamkan sorot matanya, marah pada Almira.

“Astagfirullah Kak, jadi saat itu aku harus berdiam saja ... melihat Kakak dihajar sampai babak belur atau sampai Kakak meregang nyawa begitu kah? Memangnya Kakak sudah siap diambil nyawanya? Memangnya bekal amal ibadah Kakak sudah cukup dibawa ke akhirat?” cerocos Almira.

Arash kembali mendesah, “sudah jangan sok nasehati gue, masalah amal ibadah itu urusan gue bukan urusan lo!” balas Arash dengan kesalnya.

“Ya terserahlah Kak, aku hanya bertanya dan mengingatkan saja, kalau tahu saat itu Kakak udah siap diambil nyawanya, mending aku tadi tinggalin Kak begitu saja,” celetuknya sambil membuang mukanya.

“Ya gak begitu juga Kunti, siapa juga yang mau mati muda, lagian gue juga masih mampu menghajar mereka sendiri!” gerutu Arash.

“Auaah gelap, susah emang kalau ngomong sama genderuwo, hatinya sudah dipenuhi oleh bisikan setan. Ya Allah semoga Genderuwo itu bukan suamiku, cukup Ustadz Ridwan yang menjadi suamiku kelak. Aamiin.”

“Ckck ... Emangnya lo pikir gue mau punya istri kayak lo, sorry ya lo gak masuk kriteria gue. Gue gak demen ama lo ... catet ya! Kriteria calon istri gue itu harus cantik, sexy, pintar dan seumuran dengan gue. Gue gak suka sama bocah kayak loo!”

Almira mencebikkan bibirnya saat menatap Arash, sorot matanya juga tersirat tidak menyukai pria itu, karena memang bukan kriteria dirinya.

“Syukurlah kalau Kak Arash gak suka sama aku,” sahut Almira begitu saja.

“Pasti yang namanya Ustadz Ridwan itu pria jompo yang sudah tua walau ahli agama,” ejek Arash. Almira tak menjawabnya percuma bila menimpalinya yang ada jadi adu debat yang tak akan terselesaikan.

Disaat mereka berdua hening, tiba-tiba saja kamarnya ada yang mengetuk.

“Assalamualaikum,” sapa seorang gadis, saat kenop pintu sudah berputar.

“Waalaikumsalam, masuk saja,” balas sapa Almira dari dalam.

Beberapa wanita yang mengenakan hijab  serta laki-laki dengan membawa keranjang buah masuk ke dalam ruang rawat Almira.

Arash tidak menyambut tamu tersebut, dia malah tetap duduk di sofa singel, tidak melihat dan cuek saja.

“Almira,” sapa Siti ketika sudah masuk.

Kedua netra Almira langsung terbelalak ketika melihat tamu yang datang. “Siti, Aisyah, Fitri ... Pak Ustadz Ridwan,” ucap Almira.

Arash yang mendengar nama ustadz Ridwan dari mulut Almira, langsung beringsut dari duduknya, lalu mencari pria yang di sebut sebagai Ustadz Ridwan.

GLEK!

Arash menelan salivanya susah payah ketika melihat sosok pria yang terlihat masih muda walau sebenarnya usianya lebih tua dari Arash , wajahnya putih bersih, bersahaja, penampilannya juga terkesan kayak anak muda tidak sesuai yang dibayangkan sebelumnya oleh Arash, jika yang namanya ustadz lebih sering berpenampilan pakai baju koko, sarung lalu peci.

Tubuhnya tinggi dan besar, itulah yang terlihat dari segi fisik Ustadz Ridwan, sesaat pria itu melirik badannya sendiri lalu mulai membandingkan tanpa dia sadari. Kalau dibilang tampan, Ustadz Ridwan termasuk pria tampan.

“Al ... tadi sore aku dapat kabar kalau kamu masuk rumah sakit dari ibuku, dan setelah kajian sore tadi ... kita langsung ke sini. Dan kebetulan Ustadz Ridwan ikut bersama kita,” ucap Siti, menjelaskan.

Gadis itu mengulum senyum manis. “Terima kasih Pak Ustadz ... berkenan menjenguk saya,” ucap Almira begitu lembut.

Ck ... sok pakai lembut ngomongnya, emang begitu ya kalau ngomong sama ustadz! Gerutu batin Arash.

Ustadz Ridwan mendekati ranjang Almira. “Sama-sama, sesama umat jika ada yang sakit, alangkah baiknya untuk menjenguknya dan mendoakannya. Semoga Almira cepat sembuh dan sehat kembali,” tutur Ustadz Ridwan dengan suaranya yang begitu adem didengar.

“Aamiin,” jawab serempak Siti, Aisyah, Fitri dan Almira.

“Ini ada sedikit buah tangan, saya taruh di sini ya,” ucap kembali Ustadz Ridwan, sembari menaruh parcel buah di atas nakas.

“Terima kasih Pak Ustadz, seharusnya tidak perlu repot-repot. Sudah ditengokin aja, Alhamdulillah sudah senang Pak Ustadz,” jawab Almira dengan wajah malu-malunya.

Ck ... mukanya pakai malu-malu segala, biasa aja kali! Gerutu batin Arash sendiri.

Pria yang berusia 27 tahun itu tersenyum hangat pada Almira, dan hal itu tertangkap oleh kedua netra Arash.

Gak usah pakai senyum deh sama si Kunti!

Eeetss kenapa dari tadi batin Arash menggerutu dan kesal, apa karena melihat sosok Ustadz Ridwan yang tidak seperti yang dia bayangkan, dan ternyata sosoknya melebihi dirinya, bukan pria jompo yang baru saja dia lontarkan.

Siti tak sengaja menoleh ke belakang, dan melihat ada kehadiran Arash. Teman Almira mulai berpikir jika pria itu pasti penyebab Almira masuk rumah sakit.

“Eh maaf ada keluarganya Almira ya,” kata Ustadz Ridwan, pria yang bersahaja itu mendekati pria yang sudah berdiri tegak tak jauh dari sofa. “Assalamualaikum Mas, saya Ridwan ... guru gaji Almira di pengajian,” kata Ustadz Ridwan memperkenalkan diri, sembari mengulurkan salah satu tangannya.

“Waalaikumsalam, saya Arash—.” Arash bingung mau nyebut dirinya sebagai apa dengan Ustadz Ridwan, gak mungkin dia bilang calon suaminya Almira atau pacarnya, wong dia gak suka.

“Saya sepupunya Almira,” lanjut kata Arash, namun terdengar meragukan, sembari menerima uluran tangan Ustadz Ridwan, terpaksa!

Siti dan Almira sama-sama menaikkan kedua alisnya.

Sepupu dari hongkong!” gerutu batin Almira.

Lepas mereka saling berjabat tangan, Ustadz Ridwan kembali ke sisi ranjang Almira bersama teman-teman gadis itu.

“Kata dokter, kamu sakit apa?” tanya Ustadz Ridwan.

“Tadi siang aku kena musibah Pak Ustadz, jadi tulang rusukku ada yang tergeser,” balas Almira, tanpa menjelaskan keseluruhannya pada pria bersahaja itu.

“Ya Allah, semoga diberikan kesabaran dan segera sembuh ya, Almira,” balas Ustadz Ridwan.

Cukup lama mereka berlima ngobrol, sedangkan Arash sudah kayak kambing congek mendengarnya, karena yang dibahas oleh mereka berlima tentang kajian agama. Mau keluar kamar juga takut kepergok sama kedua orang tuanya, nanti dibilang gak bertanggung jawab sama Almira, tapi kalau tetap di dalam ruangan, hatinya dari tadi kesal sendiri apalagi kalau lihat Almira tersenyum dan tertawa dengan Ustadz Ridwan, rasanya kok kayak sebal aja.

 

bersambung ....

Kenalan yuk sama Ustadz Ridwan

...----------------...

 

Terpopuler

Comments

Ahmad Zaenuri

Ahmad Zaenuri

laki laki beristri lebih dr 2 nih visualnya /Smug//Smug//Pray//Pray/

2025-03-02

0

febby fadila

febby fadila

aku padamu pak uztad 😄❤

2025-01-10

0

Sita Aryanti

Sita Aryanti

wah ustad r

2025-03-15

0

lihat semua
Episodes
1 Arash Zahra Pratama dan Almira Kiyan Al Yusuf
2 Dua sisi yang berbeda
3 Cowok berkedok cewek atau wonder women?
4 Kuntilanak, Genderuwo
5 Bertemu dengan Orang tua Arash
6 Siapa Kunti?
7 Nasib si burung genderuwo
8 Bertengkar
9 Keluarga Albert
10 Rutinitas sehari-hari
11 Permintaan Mommy Alya
12 Perkelahian
13 Orang tua Arash dan Almira
14 Ide menjodohkan Arash dan Almira
15 Ustadz Ridwan
16 Ada yang kesal atau cemburu ya?
17 Gak bisa tidur.
18 Ada yang kepanasan
19 Katanya mau pergi! Malah gak jadi
20 Siapa yang cemburu!
21 Arash tiba-tiba perhatian
22 Mencarinya
23 Undangan Almira
24 Berhasil mendapatkannya
25 Menghubungi Almira
26 Triple A berkelahi
27 Salah paham
28 Shalat Maqrib berjamaah
29 Makan Malam
30 Hari Sabtu yang ditunggu
31 Acara lamaran siapa?
32 Tangan yang digenggam
33 Wanita si berkebaya merah
34 Amarah Mommy Alya
35 Teguran untuk Arash
36 Putus hubungan!?
37 Mengejarmu
38 ingin bicara denganmu
39 Hanya terobsesi bukan cinta!
40 Patah hati
41 Tetangga sebelah
42 Mommy Alya sakit
43 Nasihat Tante Vio
44 Menjenguk
45 Arash tak dianggap!
46 Perdebatan saat makan siang
47 Lima detik!
48 Disidang
49 Berhenti balapan motor
50 Meggi si kaldu ayam
51 Makan siang bersama
52 Keributan di Mall
53 Menyelesaikan masalah di mall
54 Berkata jujur
55 PR Bang Wowo bertambah
56 Membujuk Almira
57 Kesambet setan
58 Ancaman Arash
59 Lumpia Basah
60 Ada yang berubah
61 Perjalanan
62 Acara tadabbur alam - 1
63 Acara tadabbur alam - 2
64 Acara tadabbur alam - 3
65 Pengakuan
66 Akhirilah semuanya sekarang!
67 Sholat malam
68 Saran Siti
69 Jangan mengambil keputusan apapun!
70 Calon istri saya!
71 Terluka
72 Ketahuan
73 Keadaan Almira
74 Ana dan Sherina
75 Penangkapan Prima
76 Kembali ke Jakarta
77 Hati yang terharu
78 Izin dari Papa Albert
79 Ampun sayang!
80 Keputusan!
81 Dua minggu lagi
82 Divisi marketing
83 Lita Oh Lita
84 Menemui Papa Albert
85 Wedding Day
86 Acara resepsi
87 Masalah mandi!
88 Pacaran dulu
89 Sakit Kak Arash!
90 Cie pengantin baru
91 Rencana bulan madu
92 Arash sakit
93 Kabar bahagia
94 Keluarga bahagia
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Arash Zahra Pratama dan Almira Kiyan Al Yusuf
2
Dua sisi yang berbeda
3
Cowok berkedok cewek atau wonder women?
4
Kuntilanak, Genderuwo
5
Bertemu dengan Orang tua Arash
6
Siapa Kunti?
7
Nasib si burung genderuwo
8
Bertengkar
9
Keluarga Albert
10
Rutinitas sehari-hari
11
Permintaan Mommy Alya
12
Perkelahian
13
Orang tua Arash dan Almira
14
Ide menjodohkan Arash dan Almira
15
Ustadz Ridwan
16
Ada yang kesal atau cemburu ya?
17
Gak bisa tidur.
18
Ada yang kepanasan
19
Katanya mau pergi! Malah gak jadi
20
Siapa yang cemburu!
21
Arash tiba-tiba perhatian
22
Mencarinya
23
Undangan Almira
24
Berhasil mendapatkannya
25
Menghubungi Almira
26
Triple A berkelahi
27
Salah paham
28
Shalat Maqrib berjamaah
29
Makan Malam
30
Hari Sabtu yang ditunggu
31
Acara lamaran siapa?
32
Tangan yang digenggam
33
Wanita si berkebaya merah
34
Amarah Mommy Alya
35
Teguran untuk Arash
36
Putus hubungan!?
37
Mengejarmu
38
ingin bicara denganmu
39
Hanya terobsesi bukan cinta!
40
Patah hati
41
Tetangga sebelah
42
Mommy Alya sakit
43
Nasihat Tante Vio
44
Menjenguk
45
Arash tak dianggap!
46
Perdebatan saat makan siang
47
Lima detik!
48
Disidang
49
Berhenti balapan motor
50
Meggi si kaldu ayam
51
Makan siang bersama
52
Keributan di Mall
53
Menyelesaikan masalah di mall
54
Berkata jujur
55
PR Bang Wowo bertambah
56
Membujuk Almira
57
Kesambet setan
58
Ancaman Arash
59
Lumpia Basah
60
Ada yang berubah
61
Perjalanan
62
Acara tadabbur alam - 1
63
Acara tadabbur alam - 2
64
Acara tadabbur alam - 3
65
Pengakuan
66
Akhirilah semuanya sekarang!
67
Sholat malam
68
Saran Siti
69
Jangan mengambil keputusan apapun!
70
Calon istri saya!
71
Terluka
72
Ketahuan
73
Keadaan Almira
74
Ana dan Sherina
75
Penangkapan Prima
76
Kembali ke Jakarta
77
Hati yang terharu
78
Izin dari Papa Albert
79
Ampun sayang!
80
Keputusan!
81
Dua minggu lagi
82
Divisi marketing
83
Lita Oh Lita
84
Menemui Papa Albert
85
Wedding Day
86
Acara resepsi
87
Masalah mandi!
88
Pacaran dulu
89
Sakit Kak Arash!
90
Cie pengantin baru
91
Rencana bulan madu
92
Arash sakit
93
Kabar bahagia
94
Keluarga bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!