Satu persatu siswi yang memakai seragam putih abu-abu tidak luput dari pandangan pria bermata biru itu, benar-benar sudah kayak tukang debt colector aja gayanya.
Almira yang sudah melihat pria itu dan memang sudah tidak ada urusan dengan pria itu, dia tak menghampirinya, justru dia dan Siti berbelok ke sebelah kiri menuju halte tempat dia menunggu ojol yang baru saja dipesannya.
“HEI!” teriak pria itu dari atas motornya dengan melambaikan tangannya saat dia melihat Almira keluar dari gerbang sekolahnya.
Tapi sayangnya panggilan itu diabaikan oleh Almira.
“HEI ... KUNTI!” kembali berteriak pria itu dan masih belum beranjak dari atas motor sportnya. Lagi dan lagi Almira tidak menghentikan langkah kakinya, membuat sang pria itu mendengus kesal. Dengan terpaksa pria itu menstater motornya kemudian mengejar Almira bersama motor milik Jack.
“HEI ... KUNTI!” kata pria itu kembali, posisi dia sudah beriringan di samping Almira. Namun sayangnya Almira tidak menggubrisnya. Arash memberhentikan motornya, kemudian turun dari motornya, lalu menarik dan mencekal pergelangan tangan Almira agar gadis itu menghentikan langkah kakinya.
“AAKKHH!” jerit Almira terlonjak kaget, gara-gara tarikan tangan Arash membuat tubuhnya bertubrukan dengan tubuh besar Arash itu, hingga dalam beberapa detik mereka berdua saling bersitatap.
GLEK!
Sejenak Arash merasa tenggorokannya tercekat melihat wajah cantik Almira secara dekat, iris mata berwarna coklat bening, bulu mata panjang lentik, hidung mancung, bibir ranumnya berwarna pink natural, pipi putihnya merah merona. Namun secepat kilat pria itu mengedipkan kedua netranya biar tidak lama-lama terpesona.
“Telinga lo tuli ya, sudah berapa kali gue panggil lo, malah lo jalan begitu saja!” sentak Arash menunjukkan kearoganannya.
Gadis itu menarik tubuhnya agar tidak menempel dengan tubuh besar pria itu, lalu dia memutar malas kedua bola matanya.
“Ooh .. Kakak panggil aku ya, tapi kok gak kedengaran ya?” balik bertanya Almira, pura-pura tidak tahu.
Arash memicingkan matanya seakan menyelidik gadis yang ada di hadapannya. “Lo gak usah pura-pura gak tahu deh, gue udah teriak sekencang begitu sampai semuanya lihat gue, masa lo gak dengar!”
“Lah memang aku gak dengar kok!” kembali berpura-pura tak tahu. “Udah lepasin tangan aku, memang situ suami aku pakai pegang-pegang tangan segala.” Almira menyentak tangan Arash begitu kuatnya agar terlepas dari cengkeraman nya
Arash langsung seperti orang jijik. “Dih amit-amit gue jadi suami lo, ciih gue gak mau punya istri kayak loe begini,” balas Arash.
Lidah Almira berdecak kesal juga. “Ck ... siapa juga aku mau punya suami kayak Kak Arash, cowok berandalan begini dan pastinya Kakak anak geng motor kan! Lagi pula aku juga sudah punya calon suami kok yang lebih baik dari Kakak!” balas Almira, setelah melihat gaya penampilan Arash layaknya anak geng motor.
Tiba-tiba saja salah satu tangan Arah terkepal, entah kenapa! Apa karena dia dikatai anak berandal atau karena Almira bilang sudah punya calon suami?
“Calon suami lo kayaknya matanya buta memilih cewek kayak lo jadi istrinya!” ejek Arash, dengan tatapan merendahkan. Almira membulatkan kedua matanya, ingin rasanya dia melakban mulut lemes si Arash.
“Permisi, dengan Almira?” tanya ojol yang menghampiri mereka berdua.
“Oh iya Pak, saya sendiri,” balas Almira. Gadis itu lalu menoleh ke samping mencari keberadaan Siti yang tak jauh dari dirinya berada. “Siti, aku pulang duluan ya,” pamit Almira sembari melambaikan tangannya.
“Iya, hati hati Al,” sahut Siti, membalas lambaian tangan sahabatnya.
Arash kembali diacuhkan oleh Almira, gadis itu bergegas untuk naik ke motor ojol.
“Eeeeh....!” teriak Almira hampir saja terjatuh, karena tas ransel yang ada di punggungnya ditarik sama Arash ketika dia mau naik motor.
Arash memberikan selembar uang merah ke abang ojolnya. “Nih uang buat abang semuanya, cewek ini gak jadi ngojek ... Batal!” ucap Arash terlihat kesal dengan Almira.
Wajah abang ojol langsung sumbringah dapat satu lembar uang berwarna merah. “Makasih Bang,” balas abang ojol, lalu meninggalkan Almira begitu saja.
Almira melipat kedua tangannya ke dadanya lalu menajamkan kedua matanya saat menatap wajah Arash. “Hak apa Kak Arash mengusir abang ojol itu ... hem!”
“Gak usah tanya hak-hak segala, enak amat lo mau pergi begitu aja tinggal kan gue di sini! Udah hampir setengah jam gue nungguin lo di sini!” balas Arash kesal.
Membulat lah kedua mata Almira. “What nungguin aku ... ha ... ha ... ha,” terkekeh Almira mendengarnya.
Ckck ... kalau bukan karena motor gue bakal balik, gue gak bakal mau nurutin permintaan mommy, suruh nyamperin nih cewek! ... Gerutu batin Arash masih kesal.
Jam 12.30 wib, sebelum Arash datang ke SMU Internasional.
“Halo, Mom,” sapa Arash dari sambungan teleponnya.
“Assalamualaikum dulu kenapa si nak, bukan langsung halo,” tegur Mommy Alya dengan lembutnya.
“Hem ... Assalamualaikum, ada apa Mom?”
“Waalaikumsalam Arash, kamu sekarang ada di mana?”
“Masih di kampus Mom.”
“Kamu masih pakai motor teman kamu?”
“Iya Mom. Mommy kan tahu motorku disita sama Daddy semuanya,” jawab Arash dengan nada memelasnya.
“Ya sudah nanti Mommy akan mengembalikan motor kesayangan kami tapi dengan satu syarat, kalau kamu bisa memenuhi persyaratan dari Mommy, akan Mommy kembalikan satu motor kamu,” pinta Mommy Alya.
Arash mengernyitkan keningnya lalu tersenyum lebar mendengar tawaran Mommy Alya. “Beneran Mom, motorku akan dikembalikan?” tanya Arash dengan rasa tak percaya.
“Tapi apa persyaratannya Mom,” mulai ketar ketir Arash, dan sudah menduga akan disuruh masuk pesantren.
“Persyaratannya kamu harus ajak gadis yang pernah menolong kamu itu ke mansion hari ini juga!” perintah Mommy Alya dengan tersenyum lebar.
Tercenganglah Arash mendengarnya persyaratan yang diajukan oleh Mommy Alya. “What Mom, gak salah dengan persyaratannya, memang tidak ada yang lain saja. Kenapa harus tuh cewek sih!” kesal Arash,
“Ya sudah kalau kamu tidak menyanggupinya, Mommy juga gak akan rugi kok. Lagi pula itu lebih baik kalau kamu tidak memiliki motor sport lagi biar kamu gak ikutan balapan liar lagi,” jawab Mommy Alya ketus.
Arash mendesah dan mengambil napas panjang, gak rela rasanya kalau gak bisa ikutan balapan motor sama geng motornya. “Ya sudah nanti aku cari cewek itu!” balas Arash sangat terpaksa. Mommy Alya di seberang sana nampak tersenyum tipis.
“Semoga rencana ku berhasil,” gumam Mommy Alya sendiri, setelah memutuskan sambungan teleponnya.
“Errggh ... kenapa juga sih Mommy minta gue cari tuh cewek udah tahu sebel banget dengan dia! Ini kalau bukan demi motor kesayangan gue, malas banget gue nyamperin dia ke sekolahan!” gumam Arash kesal sendiri.
Bersambung .... Mommy Alya punya rencana apa ya buat Arash??
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
jangan jangan mo di jodohin
2025-03-02
0
suharwati jeni
mau jodohin ya mom
2024-04-07
3
Anonim
oooo ceritanya demi motornya kembali mau jemput Almira tuh si Genderuwo wkwkwk
2024-01-27
0