Mansion Erick.
Kamar Arash.
Kamar yang bernuansa warna abu-abu dipadu warna putih, ditambah dengan ornamen furniture yang terlihat sederhana namun justru terlihat kesannya sangat mewah, merupakan kamar milik Arash hasil desainnya sendiri. Walau dia laki-laki, ternyata Arash sangat menyukai kebersihan terutama kamarnya, dia tidak suka berantakan.
Pria yang baru saja kena teguran sama Mommy Alya menghempaskan dirinya di atas ranjang ukuran king, kemudian kedua netranya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kesalnya.
“Kenapa sih semuanya bikin kesal gue aja! Kalau kayak begini rasanya pengen balik tinggal di Australia, hidup bebas kayak dulu, gue mau ngapain aja ngak ada yang ngomelin dan gak ada yang ngelarang ... ergh!” geram sendiri Arash dibuatnya.
Kepribadian Arash memang sangat jauh berbeda dengan Arsal. Arash yang senang dengan kebebasannya, sedangkan Arsal kembarannya cenderung seperti Daddy Erick, hidupnya teratur dan sesuai dengan koridornya.
TOK ... TOK ... TOK
“KAK ARASH! KAK ARASH!” suara cempreng sangat nyaring ditelinga Arash, membuat pria itu mencongkel telinganya sendiri saking memekak di telinganya.
“KAK ARASH ... bukaiin dong pintunya! Billa mau masuk nih!” teriak kembali si cempreng.
“Astaga mahluk gaib itu lagi, pasti mau ngacak-ngacak kamar gue,” gumam Arash sendiri.
“Mau ngapaiin masuk ke kamar Kakak, gak boleh!” teriak Arash tanpa membukakan pintunya.
“HUA ... HUA ... HUA ... Kakak jahat sama Billa. Billa bilangin sama Daddy kalau Kak Arash abis cubit tangan Billa!” mulai menangis deh si dede imut Nabila yang baru berusia 13 tahun di depan kamar Arash, dengan ancaman yang menakutkan buat Arash. Karena si bungsu anak kesayangan Daddy Erick, gak boleh dengar si bungsunya nangis apalagi kalau diusil sama kedua kakak kembarnya, alamat uang saku tidak dikasih selama sebulan.
Arash mendengus kesal, lalu menyentak tubuhnya sendiri untuk bangkit dari pembaringannya di atas ranjang, lalu membuka kunci pintu kamarnya.
Klek!
Nabilla yang sudah melantai langsung nyengir kuda ketika Arash sudah bersandar dipinggir pintu.
“Mau apa panggil-panggil Kak ... hem!” kata Arash sembari melihat tumpukan buku disamping Nabila yang sudah melantai.
Gadis cantik itu beringsut dengan senyuman yang lebar, lalu mengambil tumpukan buku yang tergeletak di lantai.
“Kakak Arash yang ganteng, baik hati dan tidak sombong. Billa minta bantuin kerjaan PR Billa ya, nanti Billa beliin coklat deh buat Kakak Arash yang ganteng ini,” kata Nabilla merayu dengan menunjukkan puppy eyesnya, tambah imut deh si bungsunya Daddy Erick.
Arash mendengus kesal melihat rayuan adik bungsunya ini. “Please dong Kak, bantuin Billa dong ... Kakak'kan jago matematika, sama bahasa Inggris. Billa udah pusing nih kepalanya, Billa janji deh gak bakal berantakin kamar Kakak,” kembali memohon Nabila.
Seburuk-buruknya Arash jadi anak, namun pria itu sangat menyayangi adik bungsunya ini, walau lebih banyak kesalnya dengan Nabila.
“Ya udah masuk, tapi ingat janji jangan berantakin kamar Kakak! Kalau berani berantakin, Kakak lempar kamu ke kutub utara!” ancam Arash.
“Asiap Bos!” jawab Nabila sambil memberi hormat, kemudian masuk ke dalam kamar Arash.
Seburuk-buruknya Arash masih ada sisi baiknya walau tidak terlihat di mata orang lain.
...----------------...
Mansion Albert
Ruang Makan
Malam ini seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang makan untuk bersama-sama menikmati makan malam bersama.
Mama Tania, Almira dibantu beberapa maid terlihat sibuk menyajikan hidangan di meja makan. Albert, Alvin dan Alvan baru saja tiba di ruang makan.
“Malam Sayang, Mama masak apa,” bisik Albert, sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Mama masak kesukaan Papa, ada gurame asam manis, cah brokoli sapo tahu, tong yum,” kata Mama Tania sembari menunjukkan hidangan di atas meja.
“Makasih Sayang,” balas Albert, lalu mengurai pelukannya kemudian duduk di tempatnya seperti biasa.
Almira yang melihat kemesraan papa dan mamanya suka tersipu malu-malu, dan berharap kelak kalau sudah berkeluarga seperti mama dan papanya selalu harmonis walau suka bertengkar juga sih tapi pasti cepat teratasi.
Mama Tania mulai menuangkan nasi serta lauk untuk suaminya, baru lanjut ke anak-anaknya.
“Mira, bagaimana kabar sekolahnya baik-baik saja kan?” tanya Papa Albert disela-sela makannya.
Ooo ... jangan-jangan Papa tahu kalau beberapa hari yang lalu aku kena skors ... batin Almira mulai dag dig dug.
“B-baik Pah, lancar jaya kok,” jawab Almira berusaha tenang.
“Alhamdulillah kalau begitu jika lancar, takutnya kamu berulah lagi disekolahkan kayak tempo hari,” balas Papa Albert.
“Ooo gak kok Pah, Mira gak bertengkar lagi kok di sekolah,” sahut Almira sambil menggelengkan kepalanya. Maaf Pah kalau aku berbohong, terpaksa.
Mereka semua kembali menikmati makan malamnya, sambil berbincang hangat seperti kebiasaan mereka jika bertemu, maklum waktu di malam hari keluarga Albert bisa berkumpul, sedangkan di saat pagi hari si triple pasti sudah berangkat sekolah duluan jam 6 pagi, jadi tidak memungkinkan untuk sarapan pagi bersama.
“Mira, beberapa bulan lagi kamu lulus sekolah sama dengan Kak Alvan dan Kan Alvin, kamu mau lanjut kuliah di mana?” tanya Papa Albert.
Almira langsung menatap kedua saudara kembarnya. “Aku sama Alvin sudah bilang sama Papa mau kuliah di Singapore, kamu mau ikutan juga gak?” tanya Alvan.
“Pah, Mira boleh gak kuliahnya di Jakarta saja?” tanya gadis itu sambil menatap wajah Papa Albert.
“Boleh Nak, Papa tidak melarang kamu mau kuliah di mana saja. Asal kamu fokus dengan jurusan yang ingin kamu pilih,” jawab Papa Albert.
“Pah, bolehkan kalau Mira ambil program Fashion desainer, Mira gak suka ambil jurusan bisnis?” tanya kembali gadis itu.
Mama Tania tersenyum mendengar permintaan putrinya, memang sempat berpikir jika anaknya suka menggambar desain baju, dan ada beberapa coretan gambar Almira menjadi salah satu koleksi baju di butik Mama Tania.
Papa Albert meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya yang sudah kosong. “Mah, sepertinya akan ada yang menjadi penerus butik mu, ketimbang perusahaan Papa.”
“Biar adil dong Pah, Alvin sama Alvan tertarik dengan bisnis sedangkan Almira tertarik dengan fashion, masa semua anak diborong sama Papa, terus Mama gak kebagian anak dong,” jawab Mama Tania. Papa Albert dan Mama Tania jadi terkekeh kecil dengan ungkapan Mama Tania.
“Baiklah Mira, Papa setuju kalau kamu pilih jurusan fashion desain. Kasihan mama kamu biar ada teman nya,” kata Papa Albert.
“Aaww ... Mama,” ringis kesakitan Papa Albert dapat cubitan gemas dari Mama Tania di pinggangnya.
Canda tawa membuat suasana ruang makan terasa hangat, Almira pun tersenyum hangat melihat kemesraan dan keakraban keluarga yang dimilikinya.
Ya Allah, terima kasih aku telah dilahirkan ke dunia dan memiliki mama dan papa yang begitu sayang dengan kami, mama papa yang selalu ada buat kami. Panjangkanlah umur kedua orang tuaku dalam keadaan nikmat sehat, nikmat iman.
Di luar sana masih banyak anak yang tidak memiliki keluarga yang sempurna, masih banyak juga anak yang tak beruntung dalam hidupnya.
Maka nikmat mana yang kamu dustakan jika hingga saat ini masih memiliki kedua orang tua yang utuh, sayangilah mereka berdua selama masih hidup. Karena setiap doa orang tua selalu hadir namamu, Nak.
bersambung ....
Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya. Makasih sebelumnya 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
pdhl ortunya Arashi org baik kenapa Arashi gitu ya.... 🤪🤪🤪
2025-03-02
0
Sulis Tyawati
dri kisah alya erick,...albert tania ceo designer,,, tr kisah arash almira ceo designer juga,, cari profesi lain lah thor
2024-10-25
0
Shinta Dewiana
keluarga cemara...walaupun dulunya tania n albert penuh perjuangan...kereennn
2024-05-28
1