Restoran Ayam Goreng
Usai membeli buku, Almira dan Siti memilih tempat makan di restoran ayam kakek berjenggot putih, karena mereka hanya ingin makan yang tidak terlalu berat namun mengenyangkan sebelum makan malam.
Almira mulai memesannya melalui aplikasi yang sudah tersedia, kemudian menunggu nomor antriannya dipanggil untuk mengambil pesanannya.
Tak menunggu lama ...
“Nomor 105,” suara panggilan terdengar, Almira pun bergegas ke meja pengambilan makanan. Sudah ada beberapa ayam goreng, kentang goreng serta dua soft drink. Siti tidak ikut membantu karena dia stay di meja, jadi hanya Almira yang mengambil pesanannya seorang diri.
Penuh rasa kehati-hatian Almira membawa nampan tersebut, namun apa yang terjadi.
BRUK!
Semua isi nampan makanan yang dia bawa meluncur bebas ke lantai, karena tanpa se penglihatannya ada orang yang menabrak dirinya. Baju seragam Almira pun menjadi basah karena kena tumpah soft drink, hingga pakaian dalamnya tercetak menembus baju putihnya.
“Yaa ....,” suara Almira tampak kecewa menatap makanan sudah tak bisa dimakan kembali.
Pria itu menyeringai lebar melihat reaksi Almira, tapi apa yang dia dapat? Tiba-tiba saja gadis itu mendongakkan wajahnya mencari tahu siapa yang menabraknya, entah sengaja atau tidak sengaja.
“KAMU LAGI!” kata Almira agak meninggi suaranya saat kedua netranya melihat pria berjaket kulit itu.
“CK ... ternyata kunti ada disini! Aduh kenapa makanannya, jatuh ya ... aduh kasihan sekali!” ejek Arah dengan tatapan yang merendahkan gadis itu.
“Kakak sengaja kan menyenggol ku!”
“Hah ... kamu bilang gue sengaja, buat apa gue sengaja nyenggol lo. Lo nya yang jalan gak pakai mata, hanya lihat isi nampannya saja!” tukas Arash gak terima, padahal pria itu memang sengaja menyenggol gadis itu saat tak melihat ke depan.
Almira sangat kecewa dengan pria yang telah ditolongnya, seperti orang yang tak beradab. Gadis itu sebenarnya ingin melawannya namun sadar diri jika saat ini ada di tempat umum. Akhirnya dia memilih untuk berjongkok lalu merapikan makanannya yang terjatuh.
“Kakak boleh kesal denganku, tapi tolong jangan makanan yang menjadi sasaran. Membuang makanan begitu saja membuat mereka menangis, di luar sana banyak sekali orang yang kelaparan dan makanan ini sangat berarti buat mereka,” celetuk Almira menahan rasa kesalnya.
Arash berkacak pinggang dan mendengus kesal. “Tidak usah menceramahi gue! Gue gak butuh!” sentaknya. Kaki kirinya dengan sengaja nya menginjak ayam goreng yang belum dipungut gadis itu lalu menekan hingga penyek.
Almira mendongakkan wajahnya, kemudian beringsut dari duduknya.
PLAK!
Wajah Arash berpaling setelah menerima tamparan keras dari tangan mungil Almira.
“KAU!” geram Arash langsung meraih dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu yang masih melayang di udara sekuat tenaganya.
“Seharusnya Kakak meminta maaf padaku atas perbuatan disengaja ini!” suara Almira mulai meninggi, Arash tersenyum jahat karena dia tidak akan mengakui perbuatannya dan bibirnya tak akan pernah mengucapkan kata maaf.
“Terbuat dari apa hatimu Kak! Begitu keras sekali, apa tidak punya hati! Percuma umurmu sudah dewasa tapi kelakuannya seperti anak SD!” bentak Almira, tidak peduli lagi jika dia ada di tempat keramaian.
“Kamu sudah lancang menampar gue dan mengatai gue anak SD!” sentak Arash, menajamkan tatapan matanya.
“Ya aku lancang telah menampar mu, karena Kakak yang tak punya otak! Kalau tahu orang yang aku tolong seperti ini, lebih aku biarkan saja dia mati dikeroyok orang!” balas Almira, sama-sama menajamkan tatapan matanya.
“Arash!”
“Almira!”
Jack dan Siti mencari sahabat yang terlalu lama belum datang, rupanya sahabat yang ditunggu sedang bersitegang.
Kedatangan Jack dan Siti ternyata tidak bisa menggubris dua orang yang sedang bersitegang bagaikan musuh bebuyutan.
“Al ... sudah Al jangan bertengkar di sini ... tidak enak dengan pengunjung yang lain,” pinta Siti, sembari menyentuh bahu Almira.
“Bro, jangan cari masalah di sini, kalau mau ribut mending di luar saja,” sambung kata Jack.
Salah satu cleaning service yang melihat lantai kotor menghampiri mereka berempat. “Permisi Mbak, Mas ... saya mau membersihkan lantainya dulu,” kata petugas cleaning servisnya.
Arash terpaksa melepaskan cengkeramannya dengan raut wajah yang sangat membenci wanita itu, begitu pula dengan Almira.
“Maaf ya Mbak, jadi tambah kerjaannya,” kata Almira, bergegas membantu membuang makanan yang tak bisa dimakan lagi. Siti yang melihat baju Almira sudah basah, kembali ke mejanya lalu memberikan baju cardigan yang sempat dia pakai.
“Al ... pakai dulu ini, bajumu basah,” pinta Siti. Almira menerima dan langsung memakainya.
“Siti, maaf makanan kita tumpah, sebaiknya kita pindah restoran saja, di sini ada orang yang tidak punya otak. Muak aku melihatnya!” ucap Almira begitu ketusnya.
Arash mengepalkan kedua netranya dan tak memalingkan tatapannya dari gadis cantik itu.
“Di kira gue tidak muak juga lihat lo!” balas ketus Arash.
Almira mengacuhkan ucapan pria itu, gadis itu mengajak Siti mengambil tas mereka yang masih ada di meja lalu meninggalkan restoran ayam goreng itu.
Arash menyugarkan rambutnya ke belakang setelah melihat gadis itu berlalu melewati dia dan Jack tanpa menatapnya sama sekali. “Awas aja lo, Kunti!” gumamnya sendiri.
...----------------...
Mansion Erick
Jam 20.00 wib
Mommy Alya tampak sedang mondar mandir di ruang utama, sembari sesekali melirik jam di dinding.
“Benar-benar ya ini anak, sudah tahu masih masa pemulihan tapi tetap aja keluyuran di luar,” gumam Mommy Alya kesal.
Deru motor terdengar jelas di luar lobby mansion, membuat wanita paruh baya itu keluar.
“Arash!” geram Mommy Alya melihat anaknya kembali mengendarai motor yang tak dia kenal.
Arash terlihat santai setelah membuka helmnya, lalu menghampiri Mommy Alya yang sudah berdiri dengan wajah kecewanya.
“Hai ... Mommy,” sapa Arash santai.
“Hai ... hai saja, memangnya kamu lupa dengan salam yang benar!” Mommy Alya mulai mengomel.
Arash mengusap tengkuknya. “Assalammualaikum, Mom.”
“Waalaikumsakam ... motor sport siapa yang kamu bawa lagi? Kamu masih tidak jera dengan kejadian kemarin ...hem!”
“Santai dong Mom. Mommy kan tahu aku tuh suka mengendarai motor. Lagian ngapain juga Daddy pakai ngilangin motor sportku semua,” balas santai Arash santai.
“Daddy menghilangkan semua motor sportmu itu biar kamu bisa berpikir dan merubah dirimu, bukannya berulah lagi. Benar-benar kamu, Mommy sangat kecewa denganmu. Seperti sekarang kamu masih dalam masa pemulihan, tapi masih saja keluyuran kemana-mana !” jawab Mommy Alya
Telinga Arash mulai panas mendengar ceramah mommynya, membuat pria itu meninggalkan mommynya begitu saja.
“Arash ... bener-bener keterlaluan ya sama Mommy,” teriak Mommy Alya ketika Arash masuk ke dalam mansion begitu saja, lalu naik ke lantai dua.
“Ya Allah, dosaku apa selama ini menjadi orang tua. Mohon petunjukMu, agar anakku seperti dulu menjadi anak yang baik,” gumam Mommy Alya sendiri.
bersambung ....
Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Makasih sebelumnya 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
to Start emang keterlaluan /Panic//Panic/
2025-03-02
0
Badelan
anak adalah ujian
2024-11-25
0
Nurwahida Nasar
semoga aras cepat berubah menjadi anak yg saleh
2024-10-15
0