Almira mulai agak tenang dan hatinya plong telah menghubungi keluarga Arash, paling tidak dia bisa meninggalkan korban setelah keluarga pria itu datang.
Dari kejauhan tampak lirikan Arash begitu menjengkelkan melihat gadis memakai gamis berwarna putih, mendekati brankarnya.
“Ini aku kembalikan ponselnya, Kak Genderuwo,” kata Almira, dengan tatapan mengejeknya.
Lidah Arash berdecak kesal kemudian merampas ponselnya yang masih di genggam gadis itu dengan kasarnya. “Dasar kunti!” balas Arash.
Mereka berdua akhirnya sama-sama melengos kesal setelah sempat saling bersitatap. Saking jengkelnya gadis itu menepuk kaki kiri Arash yang terkilir itu.
“AAWWW ... AAWW ...sakit kunti!” jerit Arash, mengaduh.
“Ooh masih sakit ya, kasihan! Ini pelajaran buat Kak Genderuwo, kalau berkendara itu jangan minum-minuman beralkohol. Yang rugi ya Kakak sendiri, selain orang lain. Coba kalau Kakak gak habis minum pasti bisa melawan orang tadi. Apa jangan-jangan kakak cuma gede badannya aja, tapi gak bisa melawan!” ejek Almira dengan santai.
Semakin jengkel dong Arash. “Eeh anak kecil, gak usah paket nasehati gue. Gue itu lebih tua dari pada lo, mending lo diam aja deh, atau pulang aja deh!” usir Arash.
Almira menarik napasnya dalam-dalam. “Baiklah kalau aku dibilang masih anak kecil, kalau Kakak memang lebih tua dari aku, kenapa Kakak melakukan hal yang dilarang oleh agama kita. Kenapa Kakak minum-minum?”
Almira tahu jika agama Arash sama dengan dirinya setelah melihat KTP milik pria itu.
“Errgh ... gak usah ceramahin gue deh, kepala gue udah mumet ... pusing!”
Almira menarik selimut yang ada di ujung kaki pria itu, kemudian memakaikannya ke tubuh pria itu. “Dalam agama kita, minum beralkohol itu haram, ibadah kita selama 40 hari tidak akan diterima oleh Allah, kecuali kita bertaubat dengan sungguh-sungguh. Lagi pula minuman yang beralkohol itu tidak baik buat kesehatan diri sendiri, mungkin sekarang kita tidak merasakannya, namun kedepannya kita tidak tahu. Lagi pula banyak loh orang yang memiliki umur pendek karena minuman miras. Memangnya Kakak Genderuwo udah siap dipanggil menghadap Sang Maha Pencipta!” tutur Almira dengan lembutnya saat memakaikan Arash selimut.
Bulu kuduk Arash langsung merinding, namun hatinya tersentuh di saat gadis itu memakaikan selimut untuknya. Hanya Mommy Alya yang sering menyelimutinya di saat dia masih kecil.
Pria itu menghela napas beratnya dan berusaha melebarkan kedua netranya agar bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.
Derrt ... Derrt ... Derrt
Jack Calling
Arash yang masih memegang ponselnya langsung mengangkat teleponnya.
“Bro, lo dimana? Gue sama Sherina udah ada di apartemen lo,” tanya Jack dari seberang sana.
“Jack .. gue di rumah sakit H, abis dikeroyok sama geng sebelah tuh.”
“What ... lo dikeroyok, ya udah gue nyusul lo ke sana sekarang.”
“Jangan Jack, lo mending istirahat di apartemen gue aja, kasihan Sherina sendirian. Lagian kayaknya Mommy gue bakal ke sini gara-gara si Kunti.”
Almira yang berada dekat dengan Arash, kedua matanya membulat.
“Kunti? Siapa Kunti?”
“Nama panjangnya Kuntilanak.” Arash membalas tatapan Almira, dengan tersenyum miring.
“Astaga lo beneran ketemu kuntilanak.” Jack mulai merinding.
“Hmmm.”
“Ya udah besok gue ke sana deh.”
“Ya.” Arash mematikan sambungan teleponnya.
Almira yang sudah kesal dengan Arash, memilih untuk keluar dari ruang IGD. Tapi ...
Sebelum keluar ruang IGD ada sosok wanita yang sangat cantik berdampingan dengan sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan jelas ada kemiripan dengan pria yang tergolek diatas brankar.
“Assalamualaikum, Tante orang tua dari Kak Genderuwo kah ... Eh maksudnya Kak Arash?” tanya Almira.
Wanita paruh baya itu memindai gadis yang ada di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala, kesan pertama Mommy Alya bisa menilai gadis baik-baik dan sangat cantik.
“Kamu, Almira kah yang tadi telepon Tante?”
“Iya Tante, saya Almira.” Penuh rasa hormat gadis itu memperkenalkan dirinya dengan salam takzim ke Mommy Alya lalu ke Daddy Erick. Mommy Alya terharu masih ada anak jaman sekarang punya rasa hormat dengan orang yang lebih tua, padahal baru pertama kali bertemu.
“Silakan Tante, Om, Kak Arash ada di sebelah sana,” tunjuk Almira, kemudian mengantar kedua orang tua Arash.
Arash sudah terlihat gusar saat menerima tatapan tanya Mommy Alya. Sebelum Mommy Alya menegur Arash, Almira menceritakan kronologi kejadian dia menolong Arash, ooh bikin Mommy Alya meradang.
Daddy Erick sudah berkacak pinggang, dan mengusap wajah tampannya dengan kasar. Pasrah lah sudah terima nasib si Arash.
“Sudah berulang kali Mommy bilang, kamu masih saja mengulangi kesalahan. Kamu terus saja membohongi Mommy sama Daddy ya!” marah Mommy Alya, sembari memukul tubuh Arash.
“Ampun Mom, badan Arash sakit Mom,” meringis kesakitan Arash.
“Mommy gak peduli, kamu yang gak pernah dengar ucapan Mommy. Arash gak sayang sama Mommy, Arash bukan anak Mommy lagi. Mending kamu berhenti kuliah, Mommy kirim kamu ke pesantren!” ancam Mommy Alya.
“Ampun Mom, jangan kirim Arash ke pesantren. Arash gak mau Mom, ampun Mom. Daddy tolong bantuin Arash,” memohon Arash dengan mengatup kedua tangannya.
“Buat apa Daddy bantuin kamu, yang gak nurut sama Mommy. Mulai besok semua motor yang ada di garasi Daddy musnahkan, kebiasaan kamu di Australia masih saja terbawa sampai di sini. Kapan kamu berubah Arash!” ancam Daddy Erick.
“Jangan Daddy, ampun Daddy ...” Raut wajah pria itu mulai terlihat sedih. Sedangkan Almira sudah menahan rasa gelinya melihat Arash yang memiliki tubuh tinggi besar, sekarang bak anak kecil memohon dibelikan permen sama emak dan bapaknya.
“Tante, Om ... maaf kalau begitu saya pamit mau pulang dulu,” pamit Almira.
Mommy Alya bergegas mendekati Almira. “Daddy, Mommy antar Almira dulu. Daddy yang ngurus Arash di sini,” pinta Mommy Alya.
“Gak usah Tante, saya bisa pulang sendiri. Lagi pula Kak Arash pasti butuh Tante,” tolak Almira secara halus.
“Gak pa-pa sudah ada Daddynya, lagi pula kamu anak gadis masa pulang sendiri, jadi biar Tante antar pulang ke rumah ya,” pinta Mommy Alya, dengan nada yang tak ingin ditolak.
“Baik Tante, kalau tidak merepotkan.”
Akhirnya Mommy Alya mengantarkan Almira ke rumah Siti. Wah mobilnya sama kayak punya papa, berarti orang kaya juga ... batin Almira.
Sepanjang jalan menuju rumah Siti, Mommy Alya banyak bertanya tentang Almira, dan gadis itu menjawabnya dengan santun dan jujur.
“Terima kasih ya Nak, sudah nolong anak Tante. Ini ada rezeki buat Almira, buat jajan atau sekolah Almira,” ucap Mommy Alya sambil menyodorkan amplop putih, di saat mobil mewah yang ditumpangi mereka berdua sudah tiba di rumah yang sederhana.
Almira menatap amplop putih yang disodorkan oleh Mommy Alya kemudian mendorong amplop putih tersebut. “Tante Alya, terima kasih banyak atas niat baik Tante. Saya ikhlas menolong anak Tante, tidak mengharapkan balasan apapun. Karena sewajarnya sesama manusia sudah sepatutnya saling tolong menolong,” balas Almira.
Mommy Alya tersenyum hangat kemudian mengusap pucuk rambut Almira yang sudah terlepas dari kerudungnya. “Masya Allah, Tante senang bisa terkenal dengan anak sebaik kamu. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali ya Nak.”
“Insya Allah Tante kalau Allah mengizinkan pasti kita akan bertemu kembali. Kalau begitu Tante mau mampir dulu sebentar ke dalam kah, sekalian ngurus motor milik Kak Arash?” tanya Almira.
“Baiklah Tante ikut masuk ke dalam.”
Rupanya kedua orang tua Siti dan Siti belum tidur, masih menunggu kepulangan Almira. Melihat Almira diantar pulang oleh Mommy Alya, kedua orang tua Siti menyambut hangat Mommy Alya dan langsung membicarakan perihal kejadian yang menimpa Arash.
Bersambung .... Duh Almira udah ditandai bakal calon mantu Mommy Alya nih.
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya. Lope Lope sekebon 🌹🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
calon mantu nih brayy /Grin//Grin/
2025-03-02
0
Kimo Miko
mommy alya pasti penasaran siapa almyra
2024-01-16
6
Wirda Wati
kuntil Mira🤣🤣🤣
2024-01-14
0