Sepulang dari pengajian dari Masjid Al Baliyah, Almira belum mengganti baju gamisnya. Berhubung dia pengen makan nasi goreng langganannya yang tak jauh dari rumah Siti yang jaraknya beberapa kilometer, jadinya mereka meminjam motor ayahnya Siti, biar cepat nyampe ketimbang jalan kaki.
Sebagai pengendara motor yang baik berhubung Almira sudah berusia 18 tahun, gadis itu sudah memiliki SIM surat izin mengemudi bukan surat izin menikah ya, kalau gak punya SIM ... Mama Tania bisa ceramah panjang lebar seharian penuh, kalau ketahuan Almira mengendarai motor. Kata Mama Tania kalau lulus ujian SIM, maka Mama Tania mengizinkan Almira mengendarai motor, untung saja gadis itu lulus saat bikin SIM, tapi sayangnya Papa Albert tetap tidak mau membelikan Almira motor takut anak gadis satu-satunya lecet, jadi hanya Alvan dan Alvin yang dibelikan motor. Nasib kamu nak, papamu terlalu posesif.
“Abang pesan nasi goreng petenya dua ya, yang pedes, kecapnya dikit aja ya,” pinta Almira ketika sudah sampai di tempat nasi goreng.
Si abang yang dipanggil menoleh kesamping. “Eh ada Neng Mira, ok siap Abang bikinkan nasi goreng yang spesial buat Neng Mira, mau makan disini atau dibawa pulang?” tanya si abang nasi goreng.
“Makan disini aja Bang,” jawab Almira.
“Siti, kita makan disini aja ya! Perutku lapar banget,” kata Almira sembari mengusap perut datarnya saat menghampiri Siti yang sudah duduk di salah satu kursi baso.
“Iya makan sini aja, jadi pas pulang tinggal bobo cantik aja,” balas Siti.
Sambil menunggu nasi goreng jadi, Almira memperbaiki selendang berwarna putih yang dia kenakan dikepalanya.
“Al ... kamu cantik loh kalau pakai kerudung. Kenapa tidak coba pakai aja?” tanya Siti.
Almira tersenyum tipis. “Doaiin aja aku bisa seperti kamu ya, sekarang aku belajar dulu, jika hatiku sudah mantap insya Allah ... ingin Istiqomah menjadi yang lebih baik. Soalnya menggunakan hijab bukan hanya sekedar menutup kepala serta aurat yang lain tapi tentu dengan hati dan perilakunya, satu lagi bukan ikutin tren karena cantik pakai hijab.”
Siti tertegun dengan jawaban Almira, jika Siti menggunakan hijab karena kebiasaan sedari kecil dan tidak terlalu memperhatikan yang lainnya, sedangkan Almira yang memang tidak berhijab namun hatinya benar-benar baik dan tulus, tapi ya begitu agak bar bar sampai bikin Siti geleng kepala.
“Aamiin aku doakan semoga kamu bisa mengenakan hijab, biar ibadahmu semakin sempurna.”
“Aamiin...,” jawab kencang Almira.
Si abang nasi goreng meletakkan dua piring nasi goreng di meja panjang. “Selamat menikmati Neng Mira, Neng Siti,” kata si abang.
“Makasih banyak Bang,” jawab serempak mereka berdua. Tak banyak bicara lagi mereka menyantap makan malam yang terlambat.
Sekitar 25 menit mereka berdua sudah menghabiskan makan malam, dan mereka pun kembali menuju rumah Siti.
Jalan menuju rumah Siti lumayan agak sepi, apalagi waktu sudah mulai larut malam. Dengan kecepatan 40 km perjam Almira memacu motor yang dikendarainya.
“Al ... pelan-pelan bawa motor, lihat tuh di depan kayaknya ada yang berkelahi atau mau begal ya,” ucap Siti sembari menepuk bahu Almira dari belakang.
Almira pun menurunkan kecepatan motornya, sambil memicingkan kedua matanya agar lebih jelas apa yang terjadi, maklum gelap ... penerangan jalan hanya seadanya saja. Memang dasarnya Almira anaknya tidak penakut, di remnya motor kemudian dimatikannya.
“Siti, kamu jaga motor disini ya. Aku mau lihat dulu.”
“Al ... jangan Al mending kita pulang aja lewat jalan lain,” pinta Siti agak ketakutan sambil menahan lengan Almira, karena melihat beberapa pria yang membawa motor balap sedang mengeroyok seseorang.
“Tenang Siti, aku cuma lihat saja kok.” Almira mencoba menenangi Siti kemudian melepaskan genggaman sohibnya.
Gadis itu dengan langkah tegasnya mendekati para pria yang sedang memukuli seseorang.
“HEI PADA BUBAR GAK NIH, MALAM-MALAM MALAH KEROYOK ORANG YA!” teriak Almira dengan suara lantangnya.
Tiga orang yang menggunakan kain penutup wajah tersebut menoleh ke belakang, dan menatap Almira dengan raut wajah yang aneh. Bagaimana gak aneh tatap Almira, digelapnya malam si Almira pakai baju gamis warna putih di tambah lagi selendang yang ada dikepalanya warna putih juga, udah begitu wajah Almira putih juga.
“Eeh ... itu orang atau kuntilanak ya?” tanya Tio, sembari membulatkan kedua matanya, biar tampak jelas.
“Lihat kakinya napak ngak?” balas Heri.
“Dia manusia, tuh lihat kakinya ada di tanah,” sambung Bio.
Arash yang sudah terduduk di aspal berusaha bangkit namun Bio kembali memukulnya pakai tongkat bisbolnya, hingga Arash kembali terjatuh ke aspal.
Almira semakin mendekat. “Wah beraninya main keroyokan nih!” naik pitam Almira melihat satu orang dikeroyok oleh tiga orang, lepas dari tidak tahunya masalah mereka semua.
“Eh anak kecil gak usah ikut campur deh, mending pulang gih udah dicariin sama emaknya dirumah!” celetuk Tio sambil menendang badan Arash.
Almira tidak menggubris jawaban Tio, yang ada di otaknya sekarang adalah menghentikan perkelahian yang tak sebanding, apalagi dia melihat pria yang berjaket hitam itu sudah terkapar tak berdaya namun masih saja dipukuli. Gadis itu mengangkat gamisnya ke atas pinggang hingga terlihat celana panjangnya yang berwarna putih sebagai dalamnya baju gamisnya, lalu gadis itu pasang kuda-kuda.
CIAT!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Tiga orang tersebut mendapatkan tendangan maut serta pukulan dari tongkat bisbol yang sempat terlepas dari tangan Bio, sontak saja ke tiga orang tersebut yang tidak punya keahlian ilmu bela diri hanya bisa berkelahi adu jontos saja terbelalak namun terkapar, karena Almira memukul beberapa titik tubuh yang dia pelajari untuk melumpuhkan musuhnya.
“Ya Allah Almira,” gumam Siti sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya, takut lihat perkelahian tersebut. “Aduh Al ... stop dong Al!” gumam Siti sendiri, pengen bantu tapi gak punya ilmu bela diri, buat mukul aja dia gak berani, gak tegaan.
Arash dengan keadaan mabuk dan sudah babak belur, mengucek-ngucek matanya saat melihat Almira menghajar musuh bebuyutannya itu.
“Semuanya kita cabut aja, bisa mati kita dihajar nih cewek,” teriak Heri, yang sedang ngesot menuju motornya. Ketiga temannya yang sudah terkapar di aspal mencoba ikut bangkit berdiri dengan suara mengaduh-aduh.
“Gila itu cowok berkedok cewek apa wonder women!” celetuk Tio sambil meraba keningnya yang sudah bercucuran darah.
Almira berkacak pinggang, dan menajamkan kedua netranya melihat ke empat pria itu. “Mau pergi atau mau tambah lagi!” gertak Almira, menunjukkan kekuatannya, di tambah salah satu tangannya menggenggam erat tongkat bisbol, entah milik siapa.
“Dasar geng motor gak punya otak, sukanya bikin kerusuhan aja! Gak mikir apa udah bikin keributan dilingkungan orang! Mending bobo ganteng sana di rumah, tengah malam masih aja keluyuran ... Atau kalian semua mau begal orang ini ya!” cerosos Almira ngomel-ngomel kayak emak-emak bubarin tawuran anak sekolah. Jangan ditanya Almira paling benci sama yang namanya geng motor, kebanyakan mudoratnya ketimbang kebaikannya.
WUSH!
Kabur lah geng motor Heri dengan cepatnya, sudah tidak mau menghadapi gadis itu sudah kalah telak apalagi tubuh mereka tidak sebesar algojo.
Untuk kali ini kamu selamat Arash! gara-gara tuh cewek! ... Batin Heri.
Kelamin boleh jadi cewek tapi kekuatan udah kayak anak cowok, gak sia-sia Almira jadi atletik taekwondo sejak kecil.
bersambung .... pertengkaran Arash dan Almira
"Daddy Erick, anakmu dikeroyok tuh untung ada yang nolongin!" kata mommy Ghina 🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
febby fadila
aduuu dady erick sama papa albert bkin hatikku meleleh /Drool//Drool//Drool/
2025-01-09
0
0mezell
udah baca novel papa Albert ngeri juga di awal²
2025-02-13
0
Ahmad Zaenuri
kangen om Erick hehehe 😁😁😁
2025-03-02
0