Dua sisi yang berbeda

TET ... TET ... TET

Anggap aja ini bel sekolah berakhir ya, udah lama gak dengar bunyi bel sekolah seperti apa, biasanya suara musik di kampus saat mata kuliah sudah berakhir.

Almira, Siti dan kedua temannya tampak jalan beriringan keluar dari kelas dan sama-sama keluar menuju gerbang sekolah.

“Al ... aku minta maaf ya, gara-gara aku ... kamu kena skors sama Bu Oki,” kata Siti salah satu siswi yang berhijab, suaranya terdengar penuh penyesalan. Andaikan saja dia tadi menuruti kemauan Meggi, mungkin Almira tidak akan bertengkar dengan Meggi.

Almira merangkul bahu Siti yang tampak terlihat sedih. “Enggak pa-pa Siti, santai aja kayak di pantai. Lagi pula aku udah biasa di skors, anggap aja lagi dikasih liburan sama Bu Oki,” jawab Almira santai tidak mau mengambil pusing, walau dia lagi putar otak untuk mencari alasan ke papa Albert dan mama Tania.

“Kamu memang sohib aku yang baik, thanks ya Almira. Kamu memang selalu ada di sisiku,” kata Siti. Siti salah satu siswi yang menerima beasiswa full di SMU Internasional berkat kepintarannya, tapi ya seperti itu, karena Siti bukan dari kalangan menengah atas alhasil sering dibully oleh siswa lainnya.

Almira mengulum senyumnya hingga tampak semakin cantik wajah anaknya Papa Albert dan Mama Tania.

“Nanti sore kamu tetap ikut pengajian Ustadz Ridwan kan?” tanya Siti.

“Pasti dong, nanti sore ikut pengajian Ustadz Ridwan di Masjid Al Baliyah kan.” Jiwa Almira boleh saja agak bar-bar, tapi didikan Mama Tania selalu mengingatkan anak-anak akan ilmu agama sebagai bekal dalam hidupnya. Almira anak yang penurut dan patuh kepada kedua orang tuanya.

...----------------...

Mansion Albert

Albert dan Tania sudah memfasilitasikan anak-anaknya, baik sopir antar jemput sekolah kemudian segala keperluan sudah terpenuhi tanpa ada yang kurang, namun tidak membuat anak-anaknya ketergantungan dengan segala pemberian kedua orang tuanya seperti sekarang Almira pulang sekolah tidak dijemput karena ingin pulang menggunakan ojek online dengan alasan biar cepat sampai mansion, kalau dijemput pakai mobil bisa lama sampainya, tahulah Jakarta tidak mengenal waktu pasti ada saja jalan yang terkena macet.

“Assalamualaikum, “ sapa Almira agak sedikit berteriak, karena lobby mansionnya begitu luas.

“Waalaikumsalam, eh Non Mira sudah pulang,” sambut bu Mimi, pelayan yang sudah lama bekerja, dan telah dianggap sebagai anggota keluarga Albert.

Almira langsung salam takzim kepada bu Mimi. “Bude, mama ada di rumah?”

Bu Mimi segera mengambil tas ransel bawaan Almira. “Mama baru aja ke butik Non, katanya ada rapat sama rekan bisnisnya.”

“Ooh, dikirain mama ada di rumah. Bude nanti sore aku mau pergi ke pengajian di masjid Al Baliyah terus pengen nginap di rumah Siti, ada tugas kelompok, nanti tolong sampaikan ke mama.”

“Ya udah nanti Bude siapin baju gamisnya sama baju ganti, sekarang Non Mira makan dulu ... mama tadi udah masakkin sop buntut sama sambal kentang kesukaan Non Mira,” pinta bu Mimi.

“Oke Bude, kak Alvin sama kak Alvan belum pulang ya?” Almira baru engeh kalau kedua saudara kembarnya belum ada di mansion, maklum mereka bertiga tidak mau satu sekolahan katanya risih, mungkin karena mereka bertiga kembar bisa menjadi pusat perhatian orang banyak.

“Kak Alvin sama kak Alvan langsung ke kantor papa, baru saja Kak Alvin telepon Bude.”

Almira hanya bisa menganggukkan kepalanya, saudara kembarnya memang sudah ada jiwa bisnisnya kalau ada kesempatan pasti kedua kakak kembarnya main ke kantor papa Albert, berbeda dengan Almira tidak punya jiwa bisnis.

Gadis itu bergegas ke lantai dua di mana kamarnya berada, untuk mengganti pakaiannya lalu turun ke bawah untuk menyantap makan siang yang telah disiapkan oleh bu Mimi.

...----------------...

Malam hari

Colosseum Jakarta

Lampu terlihat redup, lebih ke nuansa gelap hanya beberapa lampu sorot yang menyala. Bunyi music DJ terdengar sangat memekak telinga pengunjung yang datang, namun memang itu yang dicari orang ketika datang berkunjung ke club malam.

Irama music DJ membuat para pengunjung meliukkan tubuhnya dilantai dansa, menggeleng-gelengkan kepalanya bagai orang sakau.

Arash dengan penampilannya mengenakan celana jeans berwarna biru, tubuh atletiknya dibalut dengan kaos berwarna putih serta jaket kulit berwarna hitam ciri khas anak motor, bersama gengnya tampak ikutan melantai bersama sambil meneguk minuman haram yang ada di tangan mereka masing-masing.

“Arash, tumben lo ikutan minum biasanya gak mau?” tanya Jack.

“Malam ini gue pulang ke apartemen, jadi mommy gue gak bakal tahu kalau gue minum, Jack. Malam ini gue bakal minum sepuasnya!” teriak Arash bersemangat.

Jack pun kembali menuangkan minuman kencing kuda itu ke gelas kecil Arash yang sudah kembali kosong.

Sherina yang berdiri di samping Arash ikutan meliukkan badannya sesuai irama musik, tersenyum lebar mendengar Arash pulang ke apartemennya. “Arash, malam ini gue boleh ya nginap di apartemen lo ya, di rumah mama sama papa lagi ke luar kota.”

“Boleh!” jawab Arash tampak banyak berpikir kembali, karena dia bakal ajak Jack jadi tidak hanya berdua saja di apartemen.

Akhirnya kesempatan gue buat mendekati Arash. Arash harus jadi milikku seutuhnya malam ini ... batin Sherina.

Dari kejauhan ada beberapa pasang mata memperhatikan Arash bersama gengnya.

“Jangan sampai lolos malam ini, sungguh kebetulan dia malam ini minum-minum,” kata pria itu tersenyum jahat, kemudian menegak botol minuman kencing kudanya.

“Siap Bos!” jawab teman pria itu.

Hampir dua jam Arash dan gengnya menghabiskan minumannya sambil berjoget ria. Merasa sudah puas dugemnya dengan langkah yang agak terhuyung huyung, Arash keluar dari club malam.

“Lo yakin bisa bawa motor sendiri nih?” tanya Jack, saat mereka sudah di pelataran parkir.

“Tenang Jack, gue gak terlalu mabuk kok. Lo jadi mau nginap di apartemen gue kan, sekalian lo  boncengin Sherina ya, gue lagi malas boncengin,” pinta Arash, sambil mengibaskan tangannya.

Bibir Sherina agak mencebik tidak mau dibonceng sama Jack, maunya sama gebetannya ya si Arash. Jack melirik Sherina, “Lo mau gue boncengin atau lo pesan ojol aja?” tanya Jack, seakan tahu jika hati Sherina menolak akan dirinya.

Terpaksa deh, tapi kenapa si Jack ikutan mau nginap di apartemen Arash sih!

Akhirnya dengan keadaan habis menegak beberapa gelas minuman beralkohol, Arash mengendarai motor balapnya dengan penuh percaya dirinya.

Sedangkan di rumah Siti...

“Nak, kamu benar menginap di rumah Siti?” tanya mama Tania melalui sambungan video call.

“ Iya Mamaku sayang, Mira nginap di rumah Siti. Nih Mira kasih lihat biar Mama percaya.” Almira memperlihatkan ruang tamu rumah Siti dan tentunya wajah Siti juga.

Mama Tania sedikit lega, anaknya benar ada di rumah asistennya yang bekerja di butiknya. “Ya udah kamu jangan ngerepotin Tante Yana ya, jangan berat tangan dirumah orang, apa yang bisa dibantu harus dikerjakan ya Nak,” pesan mama Tania, wanti wanti.

“Siap Mama, ya udah Mira mau beli nasi goreng dulu ya Mam. Salam buat papa bilangin jangan kangen sama Mira ya,” sahut Almira.

Papa Albert yang berada di samping Mama Tania, menaikkan salah satu alisnya sedangkan Mama Tania hanya terkekeh lalu menatap wajah suaminya.

“Ya sudah jangan larut malam tidurnya ya Nak,”

“Ok Ibu negara.”

Usai menerima telepon dari mama nya, Almira dan Siti ijin keluar rumah buat beli nasi goreng dengan mengendarai motor milik ayahnya Siti.

bersambung ...

Terpopuler

Comments

febby fadila

febby fadila

almira anak bungsu sedangkan arash anak pertama

2025-01-09

0

Fajar Ayu Kurniawati

Fajar Ayu Kurniawati

.

2025-02-18

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

klo almira sm arash,,yg 1 kembar 2 yg 1 kembar 3,,klo punya anak bija jd kembar 4 apa 4 nih 🤣🤣

2024-10-13

0

lihat semua
Episodes
1 Arash Zahra Pratama dan Almira Kiyan Al Yusuf
2 Dua sisi yang berbeda
3 Cowok berkedok cewek atau wonder women?
4 Kuntilanak, Genderuwo
5 Bertemu dengan Orang tua Arash
6 Siapa Kunti?
7 Nasib si burung genderuwo
8 Bertengkar
9 Keluarga Albert
10 Rutinitas sehari-hari
11 Permintaan Mommy Alya
12 Perkelahian
13 Orang tua Arash dan Almira
14 Ide menjodohkan Arash dan Almira
15 Ustadz Ridwan
16 Ada yang kesal atau cemburu ya?
17 Gak bisa tidur.
18 Ada yang kepanasan
19 Katanya mau pergi! Malah gak jadi
20 Siapa yang cemburu!
21 Arash tiba-tiba perhatian
22 Mencarinya
23 Undangan Almira
24 Berhasil mendapatkannya
25 Menghubungi Almira
26 Triple A berkelahi
27 Salah paham
28 Shalat Maqrib berjamaah
29 Makan Malam
30 Hari Sabtu yang ditunggu
31 Acara lamaran siapa?
32 Tangan yang digenggam
33 Wanita si berkebaya merah
34 Amarah Mommy Alya
35 Teguran untuk Arash
36 Putus hubungan!?
37 Mengejarmu
38 ingin bicara denganmu
39 Hanya terobsesi bukan cinta!
40 Patah hati
41 Tetangga sebelah
42 Mommy Alya sakit
43 Nasihat Tante Vio
44 Menjenguk
45 Arash tak dianggap!
46 Perdebatan saat makan siang
47 Lima detik!
48 Disidang
49 Berhenti balapan motor
50 Meggi si kaldu ayam
51 Makan siang bersama
52 Keributan di Mall
53 Menyelesaikan masalah di mall
54 Berkata jujur
55 PR Bang Wowo bertambah
56 Membujuk Almira
57 Kesambet setan
58 Ancaman Arash
59 Lumpia Basah
60 Ada yang berubah
61 Perjalanan
62 Acara tadabbur alam - 1
63 Acara tadabbur alam - 2
64 Acara tadabbur alam - 3
65 Pengakuan
66 Akhirilah semuanya sekarang!
67 Sholat malam
68 Saran Siti
69 Jangan mengambil keputusan apapun!
70 Calon istri saya!
71 Terluka
72 Ketahuan
73 Keadaan Almira
74 Ana dan Sherina
75 Penangkapan Prima
76 Kembali ke Jakarta
77 Hati yang terharu
78 Izin dari Papa Albert
79 Ampun sayang!
80 Keputusan!
81 Dua minggu lagi
82 Divisi marketing
83 Lita Oh Lita
84 Menemui Papa Albert
85 Wedding Day
86 Acara resepsi
87 Masalah mandi!
88 Pacaran dulu
89 Sakit Kak Arash!
90 Cie pengantin baru
91 Rencana bulan madu
92 Arash sakit
93 Kabar bahagia
94 Keluarga bahagia
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Arash Zahra Pratama dan Almira Kiyan Al Yusuf
2
Dua sisi yang berbeda
3
Cowok berkedok cewek atau wonder women?
4
Kuntilanak, Genderuwo
5
Bertemu dengan Orang tua Arash
6
Siapa Kunti?
7
Nasib si burung genderuwo
8
Bertengkar
9
Keluarga Albert
10
Rutinitas sehari-hari
11
Permintaan Mommy Alya
12
Perkelahian
13
Orang tua Arash dan Almira
14
Ide menjodohkan Arash dan Almira
15
Ustadz Ridwan
16
Ada yang kesal atau cemburu ya?
17
Gak bisa tidur.
18
Ada yang kepanasan
19
Katanya mau pergi! Malah gak jadi
20
Siapa yang cemburu!
21
Arash tiba-tiba perhatian
22
Mencarinya
23
Undangan Almira
24
Berhasil mendapatkannya
25
Menghubungi Almira
26
Triple A berkelahi
27
Salah paham
28
Shalat Maqrib berjamaah
29
Makan Malam
30
Hari Sabtu yang ditunggu
31
Acara lamaran siapa?
32
Tangan yang digenggam
33
Wanita si berkebaya merah
34
Amarah Mommy Alya
35
Teguran untuk Arash
36
Putus hubungan!?
37
Mengejarmu
38
ingin bicara denganmu
39
Hanya terobsesi bukan cinta!
40
Patah hati
41
Tetangga sebelah
42
Mommy Alya sakit
43
Nasihat Tante Vio
44
Menjenguk
45
Arash tak dianggap!
46
Perdebatan saat makan siang
47
Lima detik!
48
Disidang
49
Berhenti balapan motor
50
Meggi si kaldu ayam
51
Makan siang bersama
52
Keributan di Mall
53
Menyelesaikan masalah di mall
54
Berkata jujur
55
PR Bang Wowo bertambah
56
Membujuk Almira
57
Kesambet setan
58
Ancaman Arash
59
Lumpia Basah
60
Ada yang berubah
61
Perjalanan
62
Acara tadabbur alam - 1
63
Acara tadabbur alam - 2
64
Acara tadabbur alam - 3
65
Pengakuan
66
Akhirilah semuanya sekarang!
67
Sholat malam
68
Saran Siti
69
Jangan mengambil keputusan apapun!
70
Calon istri saya!
71
Terluka
72
Ketahuan
73
Keadaan Almira
74
Ana dan Sherina
75
Penangkapan Prima
76
Kembali ke Jakarta
77
Hati yang terharu
78
Izin dari Papa Albert
79
Ampun sayang!
80
Keputusan!
81
Dua minggu lagi
82
Divisi marketing
83
Lita Oh Lita
84
Menemui Papa Albert
85
Wedding Day
86
Acara resepsi
87
Masalah mandi!
88
Pacaran dulu
89
Sakit Kak Arash!
90
Cie pengantin baru
91
Rencana bulan madu
92
Arash sakit
93
Kabar bahagia
94
Keluarga bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!