Bab.9
Mata Pangeran Alexander terbuka, keningnya mengerenyit karena kepalanya pusing. "Obat apa sebenarnya tadi? Tubuhku tiba-tiba lemas. Dasar penyihir licik!"
Dengan perlahan Pangeran Alexander bangun, pendangan nya masih berputar. Ia menarik nafas beberapa kali, menyesuaikan nafasnya sampai stabil. Setelah itu, Pangeran Alexander berlari menuju kamar sang Kakek, merasa khawatir.
"Maaf, Pangeran Alex. Yang Mulia Kaisar sedang tidak ingin diganggu," ujar salah satu pengawal pribadi Kaisar menghalangi di depan pintu kamar Kaisar.
"Apa kakek baik - baik saja?" heran Pangeran Alexander.
"Ha... ha... ha..."
Baru saja sang Pengawal pribadi Kaisar ingin menjawab, suara tawa kencang Kaisar menguar dari dalam kamar.
"A-apa itu suara kakek?" Pangeran Alexander semakin keheranan.
"Ya, Yang Mulia Kaisar baru selesai makan. Sekarang sedang mengobrol dengan Putri Esmera."
"Esme... ra? Istriku?" gagap Pangeran Alexander tak percaya.
"Ya, juga bersama Paman Anda. Pangeran Otis," timpal sang Pengawal.
"Lalu, kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Pangeran Alexander kembali.
"Putri Esmera yang meminta pada Yang Mulia Kaisar, Putri meminta dengan tegas tak ingin berada dekat dengan Anda."
"Penyihir licik! Apa yang dia mainkan sekarang?! Apa dia menyihir kakek?!" geram Pangeran Alexander.
Di dalam kamar, Kaisar terus tertawa mendengar cerita tentang si kelinci dan si kura - kura yang diceritakan Safire. Bahkan Pangeran Otis terus ikut tertawa melihat Ayahnya terlihat sehat.
"Ah, aku belum mengenalkan mu pada putra bungsuku. Kalian berdua belum saling mengenal, 'kan?" ucap sang Kaisar.
Safire menggeleng.
"Pangeran Otis adalah putraku dari selir terakhir-ku, di usiaku yang ke -50 aku mempunyai Otis. Apa kamu percaya? Ha... ha... Padahal waktu itu aku sudah banyak cucu tapi masih mempunyai anak lagi. Otis berusia sama dengan Alex, saat itu selirku hamil berbarengan dengan Ibu Alex."
"Hm, begitu." Safire hanya mengiyakan.
"Sejak dulu Otis adalah kesayangan ku selain Alex, tapi setelah Alex mengecewakan ku, hanya Otis yang dekat denganku. Jadi, aku hanya percaya padanya. Bagaimana Putri dari Duke Rayford, kamu menyukainya? Apa akan ada kabar kalian berdua menikah?" tanya Kaisar semangat pada putra bungsunya itu.
"Ekhm, itu aku tidak layak untuknya. Lady Divya terlalu pintar untukku, aku hanya lelaki bodoh," Pangeran Otis menggeleng, dia tidak suka wanita sombong tapi dia menghormati wanita manapun dan tak ingin menjelekkan Lady Divya pada Ayahnya.
"Hmm, jadi begitu. Kamu tidak menyukainya pasti karena sikap wanita itu, aku hapal betul sifatmu," ujar Kaisar ternyata ia mengetahui maksud putra bungsunya.
"Untuk sementara ini kamu akan aku beri tugas, baru aku akan mencarikan lagi calon istri untukmu," ujar Kaisar.
"Tugas?" tanya Pangeran Otis.
"Tadi Putri Esmera memintaku memberinya pengawal khusus, dia bilang dia sedang merasa terancam. Begitu 'kan, Esmera?" mata elang Kaisar menyipit, sebenarnya dia sudah menduga siapa yang mengancam wanita itu tapi Esmera tetap tak ingin jujur padanya.
"Terancam? Apa Pangeran Alex? Suamimu, Putri?" ujar Pangeran Otis karena melihat Putri Esmera dikasari keponakannya itu tadi.
"Apa maksud mu terancam, istriku?" tiba - tiba Alexander sudah berada di dalam kamar bergabung dengan mereka, dia menatap tajam istrinya.
Safire menatap benci Pangeran Alexander, " Apa aku tidak terancam? Apa aku aman?" Safire balik bertanya hanya sekedar memancing perkataan Pangeran Alexander selanjutnya.
"Tentu saja tidak, aku adalah suamimu. Alexander, Jenderal utama. Siapa yang akan berani mengancam istri seorang Jenderal perang?" Pangeran Alexander menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi ada anjing lapar di kediaman kita, suamiku. Kamu jarang ada di rumah, bukankah aku harus meminta perlindungan dari seseorang selain kamu agar tak mati karena dimakan anjing gila itu?" Safire terus meladeni Pangeran Alexander dengan kata - kata yang mungkin hanya mereka berdua yang mengerti.
"Aku akan menyiapkan pengawal pribadi untukmu jika kamu menginginkannya, kenapa harus mengganggu kakek yang sedang sakit hanya karena urusan sepele."
Safire mengangkat sebelah alisnya, apa Pangeran Alexander benar - benar takut dia membongkar tentang penyiksaan padanya oleh lelaki itu?
"Aku tidak mengganggu kakek, ini adalah imbalan ku dari kakek. Iya 'kan, kek?" ujar Safire lembut menoleh pada Kaisar.
"Ya, ya ya... Ini adalah imbalan dariku karena kamu sudah mengobatiku dan menjadi tabib-ku mulai sekarang." Jawab Kaisar.
"Tabib kakek?!" teriak Pangeran Alexander.
"Alex, apa kamu bermasalah dengan istrimu? Kenapa aku bisa mengambil kesimpulan dari pembicaraan kalian berdua barusan jika itu perdebatan. Apa kamu yang dibilang ancaman oleh Putri Esmera? Apa kamu menjahatinya?" selidik Pangeran Otis, dia adalah penasihat Raja sudah sering memberi nasihat - nasihat pada Raja baik itu jika ada masalah di dalam Istana atau masalah dengan musuh - musuh diluar Istana.
"Jangan ikut campur, Paman," geram Pangeran Alexander menatap tak suka.
"Dia boleh ikut campur mulai sekarang, karena Kakek Kaisar sudah memberikannya padaku untuk menjadi pengawal pribadiku. Pangeran Otis sekarang adalah milikku!" sahut Safire dengan tegas dan pandangan menusuk tajam ke arah Pangeran Alexander.
Wajah Pangeran Otis seketika memerah, Istri Alex ini, apa maksudnya dengan aku adalah miliknya? Astaga! Aku baru kali ini mendengar seorang putri berkata secara blak - blakan! Batin Pangeran Otis salah paham.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Kardi Kardi
hayo luhhh. kamu ketahuannn/Determined/
2025-02-08
2
Elmi yulia Pratama
pangeran otis baper
2025-01-16
0
Sri Mulyaningsih
nah loh baper dah kan pangeran Otis 😂
2024-09-11
1