Bab 17-- Menggenggam Duri

Sementara itu Elvira menggunakan banyak tisu di toilet untuk sedikit membersihkan pakaiannya yang basah terkena cairan berwarna itu. Anehnya ia tidak menyimpan kemarahan karena ini juga bagian dari salahnya.

Saat sudah keluar dari toilet, Elvira tidak sengaja melintas di sebuah lorong dan di sebuah sudut ia melihat pelayan perempuan tadi sedang dimarahi oleh seseorang. Elvira pun mencoba mendekat ke sana.

“Maafkan saya Dara, saya terpaksa harus memecat kamu. Kalau tidak, saya mungkin akan dituntut oleh mereka,” ujar seorang pria paruh baya tersebut.

“Tapi Pak, saya sangat butuh pekerjaan ini. Saya masih harus membiayai pengobatan adik saya, saya mohon tolong jangan pecat saya.”

“Kesalahan kamu fatal, Dara. Kamu telah menumpahkan minuman ke pakaiannya istri seorang tamu kehormatan di sini. Kamu tahu, kalau sampai seorang pak Daffin Arkatama marah, restoran saya juga bisa kena imbasnya.”

Lalu pria itu segera pergi meninggalkan perempuan bernama Dara tersebut sendiri, ia terlihat menyeka air matanya.

Elvira lalu mengambil kesempatan untuk mendatanginya. Melihat kehadiran Elvira sontak membuat perempuan muda bernama Dara langsung berlutut di hadapannya.

“Bu, tolong maafkan saya. Saya mohon. Saya tidak sengaja melakukannya.”

“Sudah, berdiri. Sebenarnya saya juga salah, saya yang harus minta maaf.”

Perempuan itu kembali berdiri. “Saya benar-benar tidak sengaja.”

“Sepertinya kamu harus kehilangan pekerjaan karena kejadian tadi.”

“Itu sudah menjadi konsekuensi saya, Bu.”

“Kamu tidak sepenuhnya salah, saya tahu hal itu terjadi karena adanya ketidaksengajaan dari kita berdua.”

“Saya harus pergi sekarang. Oh ya, apa kamu benar-benar perlu pekerjaan?"

"Iya Bu.” Perempuan itu mengangguk dengan antusias.

“Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja dengan saya. Saya mengelola yayasan sosial.”

“Saya mau, Bu. Saya mau kerja apa saja yang penting saya dapat pekerjaan.”

Elvira menyerahkan selembar kartu namanya yang berisikan alamat gedung kantor yayasan Mentari Kasih. “Kamu besok datang ke tempat itu dan bawa CV kamu.”

“Ini beneran Bu? Terima kasih ya Bu. Saya sungguh minta maaf atas kejadian tadi.”

“Iya, sudah saya bilang itu bukan sepenuhnya salah kamu. Kamu jangan pikirkan mengenai perkataan orang tadi, mereka bisa berkata seperti itu karena merasa memiliki kekuasaan. Bersikap lah kuat, atau orang akan terus meremehkan kamu. Kamu harus ingat hidup ini keras, bekerjalah dengan baik.”

“Iya Bu.”

...----------------...

Elvira segera pergi dari sana dan ketika ia sudah mengarah keluar, ada Daffin yang masih menunggunya.

Namun sepertinya Daffin sedang sibuk melayani permintaan maaf dari pihak penyelenggara acara tersebut.         

Di perjalanan pulang, Daffin masih memasang wajah marah karena kejadian yang menimpa Elvira tadi.

“Heran, bisa-bisanya mereka mempekerjakan orang yang ceroboh. Mereka akan tahu akibatnya jika membuatku marah.” Daffin berujar terlihat kesal.

“Mas, aku beneran tidak apa-apa. Lagian, itu juga bagian dari salahku.”

“Salah kamu bagaimana?”

“Aku juga tidak sengaja tadi pas aku mau pergi ke toilet, aku tidak lihat ada pelayan itu.”

“Tapi sayang, tetap saja karena dia kamu mengalami hal seperti tadi dan kejadian tadi membuatku marah. Maaf ya kalau kamu harus mengalami hal ini,” sesal Daffin.

“Kok malah kamu yang minta maaf.”

“Aku kesal saja melihat kamu harus mengalaminya, kamu pasti merasa tidak nyaman.” Daffin lalu memegang tangan Elvira.

“Aku beneran tidak apa-apa, Mas.”

“Kita makan di tempat lain saja ya,” ajak Daffin.

“Iya, Mas.”

“Apa kamu perlu ganti pakaian dulu?”

“Tidak perlu.”

Daffin hanya terus memandanginya dengan senyum bahagia, ia sangat menyayangi Elvira dan ia tentu tidak ingin ada hal yang mengganggu kenyamanan istrinya itu.

Meski masih menyimpan duri dalam genggamannya, Daffin tetap berusaha untuk menjadi sebaik-baiknya suami untuk Elvira.

Hidupnya pun sekarang sudah jauh dari ketentraman karena ada sebuah rahasia yang terpaksa ia simpan dari istrinya, namun Daffin benar-benar sangat takut jika harus kehilangan Elvira.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Satu bulan berlalu, kehidupan pernikahan mereka terjalin sangat mesra bahkan kadang membuat Dewanti suka menggoda mereka karena saking gemasnya dengan tingkah mereka berdua.

Malam ini meja makan mereka kembali di isi oleh lengkapnya anggota keluarga tak terkecuali Nevan yang masih hadir di tengah-tengah mereka.

“Nevan, ini kamu beneran tidak akan kembali lagi ke Amerika kan?” tanya Meisya memastikan karena ia sudah sangat senang anak-anaknya selalu bisa kumpul bersama.

Meisya pun sepertinya juga mulai mengurangi kata-kata menohoknya terhadap Elvira karena melihat kehidupan Daffin yang baik-baik saja bersamanya.

“Menurut Mama?” tanya Nevan balik melempar pertanyaan.

“Apanya? Nevan sekarang bekerja denganku, anggapannya aku sedang menyewa seorang konsultan pribadi yang profesional dari Amerika. Aku harus membayarnya lebih agar dia tidak bisa kembali lagi ke sana!” celetuk Daffin terdengar kesal menyindir Nevan yang diiringi gelak tawa dari Dewanti.

“Kakak sendiri yang menawarkan ku pekerjaan kan? Aku harus profesional, masa cutiku sudah lama selesai. Jadi anggap saja aku sekarang lagi bekerja untuk Arkatama grup,” balas Nevan tanpa rasa bersalah.

“Lihatlah dia! Sekarang dia jadi sangat perhitungan seperti itu. Dia seperti merampokku, Oma,” ujar Daffin mengadu kepada Dewanti.

“Daffin, dia kan adik kamu. Berikanlah apa yang dia inginkan,” bela Dewanti terhadap Nevan.

“Sayang, bisa kah kamu membelaku?” rengek Daffin kepada Elvira terdengar manja.

“Mm, untuk urusan ini, aku rasa aku tidak bisa membela kamu, Mas. Karena Nevan juga seperti adikku, jangan lah perhitungan dengan dia, bukan kah kamu yang paling menginginkan dia agar tetap di sini? Meski kamu sering mengomelinya, tapi aku tahu kalau kamu sangat menyayanginya,” sahut Elvira.

“Kamu sudah dengar pembelaan dari kakak ipar kamu? Bersikap baiklah terhadapnya.” Daffin memperingatkan Nevan.

“Iya, Kak.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di kantor Arkatama grup.

Anya menghampiri Daffin di ruangannya dan seperti biasa ia selalu mendapati sikap Daffin yang dingin terhadapnya. Tidak seperti Anya yang merasa hari-harinya menyenangkan karena masih bisa bertemu Daffin, justru Daffin malah merasakan sebaliknya.

Meski ia masih bisa menjalani hari-harinya dengan bahagia saat bersama istrinya, namun di sisi lain ia juga selalu merasa tertekan jika harus kembali mengingat kenyataan yang ada saat ada perempuan lain yang mengandung benih darinya.

Selama hari-harinya itu jua lah, ia selalu berpikir mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan ini, namun seakan sangat sulit menemukan cara yang tepat hingga otaknya terasa menemui jalan buntu memikirkannya.

“Apa lagi yang ingin kamu katakan?” tanya Daffin dingin.

Lalu ia beranjak dari kursinya dan berpindah duduk di sofa, sementara Anya masih berdiri kaku menatapnya. Detik berikutnya ia langsung memberi Daffin selembar kertas.

“Ini laporan hasil pemeriksaan bulanan kandunganku, calon bayi kita dalam keadaan sehat,” kata Anya terdengar senang.

Daffin melihat sekilas isi kertas yang merupakan keterangan dari dokter kandungan yang memeriksa Anya.

“Daffin, bukan kah selama satu bulan ini aku bisa membuktikan janjiku jika aku tidak akan pernah mengusik keluarga kamu terutama istri kamu. Buktinya rahasia kita bisa terjaga dengan rapi tanpa membuatnya curiga sedikit pun. Tidakkah kamu bisa melihat bagaimana ketulusanku yang bersungguh-sungguh mencintai dan mengharapkan kamu?” tutur Anya kali ini terdengar lirih.

“Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan hatiku, aku mungkin masih bisa menghargai kamu karena kamu ibu dari anak ini. Tapi kita tidak akan pernah bisa bersama.”

“Setidaknya nikahi aku. Biarpun hanya sebagai status istri kedua dan tidak mendapat perhatian dari kamu, aku rela.”

“Anya, itu tidak akan mungkin!” tolak Daffin dengan tegas.

“Kenapa tidak mungkin? Kita akan memiliki anak, aku janji keluarga kamu tidak akan pernah mengetahui hal ini dan aku tidak apa-apa harus hidup dengan mengharap cinta dari kamu. Aku juga berjanji jika anak ini nantinya tidak akan diketahui oleh mereka, aku akan merawatnya dengan baik asal kamu mau menikahiku.”

Daffin terlihat berpikir keras sembari mencerna perkataan dari Anya.

“Coba kamu pikirkan bagaimana nanti dia akan tumbuh jika tidak memiliki status yang jelas padahal dia memiliki ayah biologisnya. Bagaimana juga mengenai aku? Apa yang bisa aku katakan kepada keluargaku? Kita melakukan kesalahan ini berdua, kenapa hanya aku yang menanggungnya sendiri.” Anya tak hentinya mencoba meruntuhkan kerasnya hati Daffin.

Sementara itu di luar pintu ruangan sudah ada Elvira yang tiba-tiba disapa oleh Sakti yang sepertinya baru keluar dari sebuah ruangan lain.

“Bu Elvira disini? Kenapa tidak ada yang memberitahu saya,” sapa Sakti.

“Aku meminta mereka tidak memberitahu kedatanganku, aku hanya ingin memberi sedikit kejutan untuk mas Daffin. Hari ini aku sudah memesan tempat khusus untuk makan siang bersamanya.”

“Oh begitu? Ya sudah, biar sekalian saya antar ke ruangan pak Daffin,” ajak Sakti yang langsung menuntunnya berjalan hingga membukakan pintu ruangan Daffin.

Hal itu membuat Daffin dan Anya sangat terkejut karena kedatangan Elvira yang tiba-tiba malah memergoki mereka berdua dalam ruangan.

 

 

Bersambung ...

 

 

Episodes
1 Bab 01-- Terbangun
2 Bab 02-- Air Mata Perempuan Lain
3 Bab 03-- Awal Kenyataan Pahit
4 Bab 04-- Sebuah Kenyataan Pahit
5 Bab 05-- Jawaban Dari Keraguan
6 Bab 06-- Salah Paham
7 Bab 07-- Rencana Bertahan
8 Bab 08-- Bertahan Terluka
9 Bab 09-- Memilih Bertahan
10 Bab 10-- Tetap Bertahan
11 Bab 11-- Kebohongan
12 Bab 12-- Memaafkan
13 Bab 13-- Benalu Lain
14 Bab 14-- Menyimpan Rahasia
15 Bab 15-- Ingatan Masa Lalu
16 Bab 16-- Jamuan Makan Siang
17 Bab 17-- Menggenggam Duri
18 Bab 18-- Terungkapnya Kebohongan
19 Bab 19-- Surat Cerai
20 Bab 20-- Rahasia Lain
21 Bab 21-- Usaha Mempertahankan
22 Bab 22-- Peristiwa Duka
23 Bab 23-- Kepiluan Berlipat Ganda
24 Bab 24-- Sisa Kesedihan
25 Bab 25-- Rencana Sang Perusak
26 Bab 26-- Kedatangan Benalu
27 Bab 27-- Acara Perusahaan
28 Bab 28-- Acara Perusahaan (Lanjutan)
29 Bab 29-- Rencana Mama Mertua
30 Bab 30-- Tersesat
31 Bab 31-- Kembali Pulang
32 Bab 32-- Sambutan Dari Elvira
33 Bab 33-- Urusan Pekerjaan
34 Bab 34-- Serumah Dengan Tamu
35 Bab 35-- Menata Hati
36 Bab 36-- Gejolak Perasaan
37 Bab 37-- Keluarga Anya
38 Bab 38-- Menguatkan Hati
39 Bab 39-- Sejenak Melupakan Lara
40 Bab 40-- Penawar Gundah
41 Bab 41-- Debaran
42 Bab 42-- Seseorang Dari Masa Lalu Nevan
43 Bab 43-- Sandiwara Anya
44 Bab 44-- Goresan Masa Lalu
45 Bab 45-- Tumpuan Hati
46 Bab 46-- Mengaku
47 Bab 47-- Tentang Melody
48 Bab 48-- Tentang Asty dan Raldy
49 Bab 49-- Bertamu
50 Bab 50-- Kegelisahan Anya
51 Bab 51-- Undangan Dadakan
52 Bab 52-- Sang Mantan
53 Bab 53-- Kecurigaan Elvira
54 Bab 54-- Awal Kesalahpahaman
55 Bab 55-- Penebar Kesalahpahaman
56 Bab 56-- Pertemuan Kerja
57 Bab 57-- Masalah Lagi
58 Bab 58-- Masalah Lanjutan
59 Bab 59-- Meraih Maaf Oma
60 Bab 60-- Dendam Sesungguhnya
61 Bab 61-- Menghilangkan Kesalahpahaman
62 Bab 62-- Berkunjung Ke Perusahaan
63 Bab 63-- Bertemu Masa Lalu
64 Bab 64-- Teman Lama
65 Bab 65-- Adegan Memalukan
66 Bab 66-- Kemarahan Anya
67 Bab 67-- Acara Universitas
68 Bab 68-- Janji Temu
69 Ban 69-- Kejadian Tak Terduga
70 Bab 70-- Kecemburuan Nevan
71 Bab 71-- Gejolak Perasaan Elvira
72 Bab 72-- Kunjungan
73 Bab 73-- Misi Lain
74 Bab 74-- Karena Cemburu
75 Bab 75-- Kebohongan Anya
76 Bab 76-- Kemarahan Gio
77 Bab 77-- Tamu Hari Ini
78 Bab 78-- Rencana Gio
79 Bab 79-- Kafe Tepi Danau
80 Bab 80-- Peringatan Dari Nevan
81 Bab 81-- Kembali Menggenggam Perih
82 Bab 82-- Permintaan
83 Bab 83-- Rumah Kedua
84 Bab 84-- Tamu Penyusup
85 Bab 85-- Rencana Sang Perusak (Lagi)
86 Bab 86-- Ucapan Terima Kasih
87 Bab 87-- Kejutan Untuk Elvira
88 Bab 88-- Surat Kuasa
89 Bab 89-- Bersiap Pergi
90 Bab 90-- Kejutan Lain
91 Bab 91-- Pengakuan
92 Bab 92-- Memori Lama
93 Bab 93-- Terpaksa Pergi
94 Bab 94-- Dimana Elvira
95 Bab 95-- Mencari Elvira
96 Bab 96-- Diluar Rencana
97 Bab 97-- Kembali Pulang
98 Bab 98-- Dua Keluarga
99 Bab 99-- Kegusaran Anya
100 Bab 100-- Pengunjung Toko
101 Bab 101-- Ke Panti
102 Bab 102-- Menemui Bahaya
103 Bab 103-- Bahaya Tak terduga
104 Bab 104-- Keikhlasan
105 Bab 105-- Jarak yang Tercipta
106 Bab 106-- Sisa Kekecewaan
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Bab 01-- Terbangun
2
Bab 02-- Air Mata Perempuan Lain
3
Bab 03-- Awal Kenyataan Pahit
4
Bab 04-- Sebuah Kenyataan Pahit
5
Bab 05-- Jawaban Dari Keraguan
6
Bab 06-- Salah Paham
7
Bab 07-- Rencana Bertahan
8
Bab 08-- Bertahan Terluka
9
Bab 09-- Memilih Bertahan
10
Bab 10-- Tetap Bertahan
11
Bab 11-- Kebohongan
12
Bab 12-- Memaafkan
13
Bab 13-- Benalu Lain
14
Bab 14-- Menyimpan Rahasia
15
Bab 15-- Ingatan Masa Lalu
16
Bab 16-- Jamuan Makan Siang
17
Bab 17-- Menggenggam Duri
18
Bab 18-- Terungkapnya Kebohongan
19
Bab 19-- Surat Cerai
20
Bab 20-- Rahasia Lain
21
Bab 21-- Usaha Mempertahankan
22
Bab 22-- Peristiwa Duka
23
Bab 23-- Kepiluan Berlipat Ganda
24
Bab 24-- Sisa Kesedihan
25
Bab 25-- Rencana Sang Perusak
26
Bab 26-- Kedatangan Benalu
27
Bab 27-- Acara Perusahaan
28
Bab 28-- Acara Perusahaan (Lanjutan)
29
Bab 29-- Rencana Mama Mertua
30
Bab 30-- Tersesat
31
Bab 31-- Kembali Pulang
32
Bab 32-- Sambutan Dari Elvira
33
Bab 33-- Urusan Pekerjaan
34
Bab 34-- Serumah Dengan Tamu
35
Bab 35-- Menata Hati
36
Bab 36-- Gejolak Perasaan
37
Bab 37-- Keluarga Anya
38
Bab 38-- Menguatkan Hati
39
Bab 39-- Sejenak Melupakan Lara
40
Bab 40-- Penawar Gundah
41
Bab 41-- Debaran
42
Bab 42-- Seseorang Dari Masa Lalu Nevan
43
Bab 43-- Sandiwara Anya
44
Bab 44-- Goresan Masa Lalu
45
Bab 45-- Tumpuan Hati
46
Bab 46-- Mengaku
47
Bab 47-- Tentang Melody
48
Bab 48-- Tentang Asty dan Raldy
49
Bab 49-- Bertamu
50
Bab 50-- Kegelisahan Anya
51
Bab 51-- Undangan Dadakan
52
Bab 52-- Sang Mantan
53
Bab 53-- Kecurigaan Elvira
54
Bab 54-- Awal Kesalahpahaman
55
Bab 55-- Penebar Kesalahpahaman
56
Bab 56-- Pertemuan Kerja
57
Bab 57-- Masalah Lagi
58
Bab 58-- Masalah Lanjutan
59
Bab 59-- Meraih Maaf Oma
60
Bab 60-- Dendam Sesungguhnya
61
Bab 61-- Menghilangkan Kesalahpahaman
62
Bab 62-- Berkunjung Ke Perusahaan
63
Bab 63-- Bertemu Masa Lalu
64
Bab 64-- Teman Lama
65
Bab 65-- Adegan Memalukan
66
Bab 66-- Kemarahan Anya
67
Bab 67-- Acara Universitas
68
Bab 68-- Janji Temu
69
Ban 69-- Kejadian Tak Terduga
70
Bab 70-- Kecemburuan Nevan
71
Bab 71-- Gejolak Perasaan Elvira
72
Bab 72-- Kunjungan
73
Bab 73-- Misi Lain
74
Bab 74-- Karena Cemburu
75
Bab 75-- Kebohongan Anya
76
Bab 76-- Kemarahan Gio
77
Bab 77-- Tamu Hari Ini
78
Bab 78-- Rencana Gio
79
Bab 79-- Kafe Tepi Danau
80
Bab 80-- Peringatan Dari Nevan
81
Bab 81-- Kembali Menggenggam Perih
82
Bab 82-- Permintaan
83
Bab 83-- Rumah Kedua
84
Bab 84-- Tamu Penyusup
85
Bab 85-- Rencana Sang Perusak (Lagi)
86
Bab 86-- Ucapan Terima Kasih
87
Bab 87-- Kejutan Untuk Elvira
88
Bab 88-- Surat Kuasa
89
Bab 89-- Bersiap Pergi
90
Bab 90-- Kejutan Lain
91
Bab 91-- Pengakuan
92
Bab 92-- Memori Lama
93
Bab 93-- Terpaksa Pergi
94
Bab 94-- Dimana Elvira
95
Bab 95-- Mencari Elvira
96
Bab 96-- Diluar Rencana
97
Bab 97-- Kembali Pulang
98
Bab 98-- Dua Keluarga
99
Bab 99-- Kegusaran Anya
100
Bab 100-- Pengunjung Toko
101
Bab 101-- Ke Panti
102
Bab 102-- Menemui Bahaya
103
Bab 103-- Bahaya Tak terduga
104
Bab 104-- Keikhlasan
105
Bab 105-- Jarak yang Tercipta
106
Bab 106-- Sisa Kekecewaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!