"Makan yang banyak ya sayang," ujar mama Alin dan sekarang mereka bertiga telah siap sarapan bersama di meja makan apartemen Aven Maheswara.
Melihat kedua anaknya makan dengan lahap. Hal itu membuat mama Alin begitu bahagia.
"Kalau mau nambah jangan sungkan-sungkan ya sayang," ucap mama Alin sambil menyentuh tangan Zara.
"Iya, bi," jawab Zara sambil tersenyum.
Keluarga Maheswara selama ini memperlakukan Zara seperti putri mereka. Dan mama alin memang sebegitu sayangnya kepada Zara.
Karena Zara ingin balik ke rumah kontrakannya. Akan tetapi dua orang yang kini ada dihadapannya melarang dengan keras.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau tinggal bersama paman dan bibi. Lebih baik kamu tempati apartemen Aven ini saja. Lagian apartemen ini juga tidak ada penghuninya. Bukan begitu nak?" tanya mama Alin kepada sang putra.
"Boleh," jawab Aven singkat.
Mama Alin tidak bisa menahan senyumannya saat mendengar jawaban dari Aven. Dia senang karena putranya tersebut setuju dengan apa yang dia mau.
"Tetapi barang-barang ku semuanya masih ada di kontrakan ma, bang," ucap Zara.
"Nanti biar Dion yang kemasi barang-barang kamu. Dan bibi akan selalu temani kamu disini. Jadi kamu tidak akan sendirian lagi," ujar Aven dan mama alin yang duduk di sebelah putranya memuji apa yang dikatakan sang putra sudah sesuai dengan apa yang di harapkan.
Kutub selatan ini bisa bersikap hangat juga. Baguslah kalau dengan kedekatan mereka mampu membuat es di kutubnya mencair. Itulah yang mama Alin harapkan selama ini.
"Baiklah," karena di desak oleh dua orang. Satu lawan dua, tentu saja Zara hanya bisa pasrah. Lagipula dia juga ingin suasana baru untuk menenangkan hatinya yang masih kacau akibat ulah dua orang yang telah menipunya selama ini.
......................
Setelah kepergian mama Alin. Kini hanya ada Zara yang sedang menonton televisi. Sedangkan Aven berada di ruang kerjanya. Sepertinya dia masih sibuk menerima beberapa email dari asisten Dion.
Zara sendiri masih merasa lemas dan dia tampak tidak begitu bersemangat. Tetapi dia berurusan untuk sembuh agar tidak lagi merepotkan orang lain. Seperti kejadian bodoh semalam. Beruntung yang menemukan dia di jalanan adalah Aven. Kalau orang lain bisa saja terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
"Tidurlah kalau mengantuk," ucap Aven saat melihat Zara merebahkan kepalanya di bantal sofa.
"Enggak kok bang, cuma lemes aja," sahut Zara memperbaiki posisi duduknya.
"Lebih baik kamu ijin beberapa hari. Jangan ke kantor dulu," ucap Aven.
"Iya bang, makasih bang semalam sudah menolongku," ucap Zara karena dia belum berterimakasih secara langsung kepada Aven.
"Kamu sedang apa di tempat itu?" pertanyaan Aven ini membuat Zara terdiam dan bingung bagaimana cara dia memberitahu Aven apa yang telah dialaminya.
"Aku sudah tahu semuanya. Dan aku harap kamu tidak lagi berhubungan dengan lelaki seperti itu," ucapan Aven sukses membuat Zara terperangah. Apakah Aven tahu tentang kisah cintanya yang kandas akibat perselingkuhan antara kekasihnya dan juga sahabat baiknya.
Ah, Zara lupa jika mereka kini sudah menjadi mantan kekasih dan juga mantan sahabat nya.
"Iya bang," jawab Zara singkat.
Dia menundukkan kepalanya dan berusaha menahan air matanya yang rasanya masih ingin saja tumpah. Zara tidak ingin menangis
perpisahannya dengan Azka. Namun dia lebih merasa telah dikecewakan selama ini oleh kedua orang tersebut.
Aven mendekati Zara yang masih tertunduk di tempatnya.
Grep.
Tiba-tiba dia memeluk tubuh Zara dan membawa kepala gadis itu ke dada bidangnya. Dia tahu kalau gadis itu sedang menahan sebuah luka. Sebuah pengkhianatan yang tampak di depan mata. Siapa yang tidak sakit melihat semuanya itu.
"Menangislah jika itu membuatmu merasa lega. Tetapi setelah ini jangan lagi menangisi lelaki brengsek seperti dia lagi. Air matamu terlalu mahal untuk lelaki murahan seperti dia," ujar Aven dan hal itu membuat Zara tidak kuasa lagi menahan air matanya.
Dia memeluk pinggang Aven dan menumpahkan air matanya di dada pria tersebut. Zara bukan menangisi perpisahannya dengan Azka.
Tidak!
Zara sudah merelakan takdir yang membawa cinta mereka kandas. Hanya saja Zara menangisi kebodohan di selama ini sehingga dicurangi di depan matanya saja dia sampai tidak mengetahuinya. Sungguh pintar sekali lelaki itu.
Aven mengusap lembut kepala Zara yang masih menangis di dadanya. Dia membiarkan zara menumpahkan air matanya di sana. Setelah ini dia tidak akan membuat gadis itu menangis lagi. Dia hanya ingin melihat senyuman manis Zara. Dan Aven janji akan mengembalikan senyuman gadis itu lagi.
❤️❤️❤️
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Ima Kristina
gak sabar Widya si ulet keket dipecat dari kantor MH
2025-02-19
0
jen
Aven dah demen nih sm Zara
2025-03-07
0
Selamet Turipno
berurusan untuk sembuh?
2025-02-01
0