Pagi itu cuaca masih sejuk. Levi mengajak teman-temannya joging setelah sholat subuh. Levi berpikir, pasti dengan olah raga maka masalah detak jantungvnya akan teratasi.
Mereka hanya joging sekitar pekarangan rumah Pak Joko yang luas. Lalu mereka bekumpul di bawah pohon kenanga di halaman. Levi semangat memimpin teman-temannya melakukan beberapa gerakan squad.
Bu Sulis baru datang tadi malam dari bepergian ke luar kota selama seminggu untuk membantu hajatan pernikahan keponakannya. Bu Sulis sedang menyapu pekarangannya, lalu heran ada 5 cowok keren di halaman bu Joko. Bu Sulis mendekat, sinar matahari membuat pandangan Bu Sulis semakin jelas melihat wajah para pemuda itu.
"Hei, siapa kalian?" Bu Sulis mendatangi mereka dengab masih menenteng sapu lidi.
Ah siapa ini? Nenek sihir kah ? Dia membawa sapu lidi, kok ndak dinaiki? Miki membatin sendiri.
"Selamat pagi bu. Kami mahasiswa yang sedang KKN di desa ini. Kami tinggal di rumahnya Pak Joko." Roni berusaha ramah.
"Loh, kalian menginap di rumah Bida ya, kok pagi begini sudah di sini?" Bu Sulis sangat penasaran seperti seorang jaksa yang sedang mengajukan pertanyaan.
"Ya bu, kami sudah seminggu menginap di rumah Pak Joko. Kami akan tinggal selama sebulan." Deni ikut menjawab.
"Apa? Gila Pak Joko membiarkan para pemuda nginap di rumahnya. Eh kalian tidak apa-apa serumah dengan Bida?"
Jodi akan menjawab pertanyaan Bu Sulis tapi Bu Sulis mengajukan pertanyaan lagi.
Bu Sulis mendekat lagi ke arah para pemuda itu, lalu menyandarkan sapu lidinya ke pohon Kenanga.
"Aku tidak masalah kalian mau menginap di rumah Pak Joko, masalahnya Pak Joko kan punya anak perempuan cantik lagi. Bida itu temannya laki-laki semua. Itu sudah tidak baik, Eh ini malah Pak Joko membawa ... "
Bu Joko menggunakan telunjuknya untuk menghitung para pemuda itu.
"Lima, bagaimana seorang bapak membiarkan putrinya dikelilingi banyak laki-laki. Apa yang ada di pikiran Pak Joko? Apa iya, Pak Joko sudah kebelet ingin punya cucu sampai sebegitunya."
Jodi mulai emosi. Bukan karena apa-apa. Nenek Sihir ini membicarakan Pak Joko yang baik seperti itu.
"Bu, memangnya apa urusannya dengan ibu. Ibu siapanya Pak Joko? Apa ibu, ibunya Pak Joko?" Jodi mulai gemas
Wowo menatap wajah Bu Sulis dengan penuh amarah. Emosi Wowo yang sempat ditahan-tahan karena kecewa tidak pernah disapa atau menyapa Bida meski dengan caranya sendiri. Sejak para mahasiswa itu datang, Bida bahkan tidak bisa melihat keberadaan Wowo. Wowo mulai menimbulkan angin, membuat pohon kenanga bergerak berderit, menjatuhkan beberapa bunga kenanga di halaman.
"Enak saja. Memangnya aku terlihat tua, sampai kamu mengira aku ibunya Pak Joko. Aku ini tetangganya. Itu rumahku." Bu Sulis menunjuk rumahnya yang tidak jauh dari rumah Pak Joko.
"Oh tetangga. Tapi benar kok, ibu memnag terlihat sudah tua, itu keriputnya sudah terlihat jelas. Memangnya usia ibu berapa sih?" Jodi semakin memperkeruh suasana.
"Eh usiaku ini.... Bu Sulis tidak meneruskan ucapannya karena Ia malas menghitung usianya."
"Maaf lebih baik, Ibu tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Urus saja keluarga ibu sendiri." Levi sudah tidak sabar dengan situasi sekarang.
Pak Joko yang baru mengurus keperluan sapi-sapinya. Mendatangi Bu Sulis dan para mahasiswa tamunya. Pak Joko yakin, pasti Bu Sulis sedang melancarkan genjatan senjata. Lidah Bu Sulis lebih tajam dari Silet.
"Apa kabar Bu Sulis?" Pak Joko berusaha ramah.
"Baik Pak. Pak Joko, mengapa menerima para pemuda ini tinggal di rumah Pak Joko? Mereka ini kan laki-laki. Ingat Bidadari anak Pak Joko sudah besar. Meski masih kecil tapi badannya itu sudah dewasa. Kok bisa-bisanya, Pak Joko membiarkan mereka di rumah Pak Joko. Pasti mata mereka jelalatan memandang Bida."
Pak Joko menghela nafas panjang. Ingin rasanya Pak Joko membungkam mulut Bu Sulis dengan bunga-bunga kenanga yang banyak beserakan di halaman.
Wowo semakin marah, tampak nenek dan bibi terbang ke arahnya untuk menenangkan Wowo.
Kretek, tok
"Owh... "Bu Sulis mengusap kepalanya yang terkena jatuhan ranting pohon kenanga
Wowo sengaja menjatuhkan ranting itu tepat di kepala Bu Sulis. Nenek dan Bibi berusaha menenangkan Wowo.
"Bu Sulis, saya bapaknya Bida. Saya bertanggung jawab penuh atas diri anak saya. Bu Sulis tidak perlu mengajari saya cara menjaga anak saya."
"Loh Pak Joko, jika ada apa-apa dengan Bida, memangnya Pak Joko siap. Apa Pak Joko tahu asal usul mereka. Mereka kan hanya KKN, setelah ini mereka akan kembali ke daerahnya dan meninggalkan keluarga Pak Joko. Bagaimana jika ada salah satu dari mereka yang menyukai Bida lalu Bida menyukainya juga dan terjadi sesuatu di antara mereka."
"Saya mengawasi anak saya dan mereka, jika Bida menyukai salah satu dari mereka dan Bida juga menyukainya maka saya akan menikahkan mereka."
Roni kagum dengan kebijakan Pak Joko. Nadanya jelas tegas melawan Bu Sulis namun tetap terdengar sopan dan tidak emosi.
Pak Joko memang orang tua yang hebat. Melindungi putrinya dengan segenap jiwanya. Mengapa aku yang merasa kuatir. Perkataan wanita tua ini, seolah ditujukan kepadaku. Aku akui sepertinya aku yang jelalatan melihat Bida. Aku berusaha sekuat tenaga tidak memandangnya tapi kemarin justru Bida yang datang ke pangkuanku, membuatku tidak bisa tidur karena terus mengingatnya. Apalagi ketika mengetahui bahwa ternyata Bida sangat sexy. Apa yang harus aku lakukan? Levi tampak mencemaskan dirinya sendiri.
"Baik, saya sebagai tetangga dekat Pak Joko. Saya tidak akan diam saja. Saya akan ikut mengawasi. Jaga omongan Pak Joko. Saya tidak akan tinggal diam."
"Silahkan Bu Sulis, jika Bu Sulis tidak punya banyak pekerjaan. Maaf ini sapu siapa? Apakah ini sapu Bu Sulis. Sepertinya Bu Sulis belum selesai menyapu. Silahkan teruskan pekerjaan Bu Sulis." Pak Joko masuk rumah dengan menahan amarahnya, rahangnya mengeras namun tetap berusaha tersenyum ke para mahasiswa tamunya.
Roni merasakan tidak enak dengan situasi ini. Bu Sulis memang benar. Bida memang sangat menarik tapi dirinya dan teman-temannya juga sangat menghargai Pak Joko, tidak mungkin bertindak yang tidak sopan kepada Bida.
Bu Sulis sewot mengambil sapunya dan berlalu menuju pekarangan rumahnya. Bunga kenanga jatuh di atas kepalanya.
Dasar pohon kenanga jelek dan angker. Selalu ada saja yang jatuh mengenaiku.
Bu Sulis berjalan ke rumahnya sambil menghentakkan kakinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Dyah Shinta
gencatan senjata artinya penghentian perang kan ya. Jadi ga ribut2 dulu gitu...
2022-12-12
1
sun-rise🌻
Kek g 4d4 kegi4t4n l4en to bu sulis
2022-11-04
0
Angle
tetangga reseh bener...
2022-02-05
1