Waktu menunjukkan pukul 19.00 Roni sudah selesai menyiapkan segala sesuatunya di apartemen Levi. Levi berada di balkon sedang menerima telfon dari mamanya. Sejak sore, Roni sudah membersihkan apartemen Levi sebersih-bersihnya lalu pergi memesan beberapa makanan sesuai list yang dikirim Levi melalui WA.
"Ron, pastikan nanti apartemnku bersih sebelum kamu pulang. Aku tidak mau ada sisa makanan juga. Pastikan teman-teman menghabiskan semuanya."
"Tapi ini kebanyakan mas. Pasti ndak habis." Roni memandang hidangan yang sudah ditatanya di atas meja dapur.
"Biarkan mereka membawa pulang makanan jika nanti tidak habis. Kamu juga harus membawa."
"Ya. mas."
Merepotkan sekali, harusnya aku ke Surabaya sore ini tapi karena lupa aku jadi mengundang teman-teman.
"Ingat Ron, jangan katakan apapun tentang kepemilikan apartemen ini."
"Ya mas."
Apa yang kamu sembunyikan? hidangan yang kamu sediakan saja akan membuat teman-teman mengetahui bahwa kamu bukan orang sembarangan. Belum lagi kondisi apartemn dengan semua perabot mewah ini. Meskipun kamu tidak mengakui sebagai pemiliknya, kamu tetap orang kaya jika menyatakan sebagai penyewanya. Masih kuliah, tapi tinggal di apartemen mewah. Levi bertanya kepada Levi dalam hati.
"Mereka sudah di lift" Levi menginformasikan
setelah melihat HP nya
*****
"Silahkan masuk" Levi membuka pintu apartemennya.
Miki bengong melihat kondisi apartemen Levi. Begitu juga yang lain.
"Kamu anak siapa Vi? kok bisa tinggal di apartemen ini. Pasti mahal harga sewanya?"
Miki meraba sofa yang didudukinya. ini pasti kulit asli.
"Ron, kamu sudah datang duluan?" Jodi bertanya kepada Roni.
"Ya, aku membantu mas Levi membelikan makanan. Mas Levi ingin memberi servis sebaik mungkin. Kan kunjungan kalian hanya sekali ini." Roni menunjuk meja ruang makan yang kelihatan dari ruang tamu.
"Maaf aku tidak tahu selera kalian jadi aku membeli macam-macam jenis makanan untuk kalian. Semoga kalian tidak kecewa." Levi mengatakannya dengan tulus.
"Wah kebetulan dong, aku belum makan dari siang karena sakuku sudah menipis. Aku sengaja berniat makan double makan siang sekaligus makan malam." Deni tidak malu menyatakannya.
"Ayo." Jodi berdiri berlalu ke arah ruang makan diikuti teman-temannya.
Sampai dapur, seperti dugaan Roni. Jodi, Deni, dan Miki menatap keadaan dapur dan meja makan dengan ekspresi seolah punya banyak pertanyaan. Di atas meja sudah tersedia 2 kotak big box Pizza hut, 12 botol cappuchino, 5 kotak frech fries, 8 paket Kfc, 2 kantong plastik besar popcorn, satu piring besar berisi 4 kepiting besar asam manis, satu piring besar berisi 1 ekor gurami bakar. Kitchen set yang ada di dapur itu memang mewah dengan jenis marmer kualitas tinggi.
"Silahkan." Levi mempersilahkan teman-temannya yang tampak bengong kecuali Roni.
"Teman-teman jika nasinya kurang, ada nasi di magic com itu ." Roni menunjukkan magic com di atas kitchen set.
"Ya." Deni seperti tergagap menjawabnya.
"Mereka duduk dalam diam seolah sibuk dengan pikiran masing-masing."
"Kok diam semua, mas Levi sudah menyiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya. Ayo kita makan." Roni memecah kesunyian.
"Semua makanan harus habis, jika tidak habis kalian bisa membawa pulang."
"Beres." Jodi menjawab sambil membuka kotak pizza di dekatnya.
Kamu bukan orang sembarangan, sayangnya Roni yang dekat denganmu dan sering mampir di apartemenmu. Jika seperti ini kondisi apartemennya, aku juga akan kerasan.
"Kamu anak orang kaya ya?" Miki bertanya dengan mulut penuh pizza.
"Anggap saja begitu." Levi hanya menjawab singkat.
" Bagaimana rasanya jadi anak orang kaya ya? pasti sangat menyenangkan." Deni bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.
"Sudahlah, kalian ini bicara apa. Yang penting malam ini kita bersenang-senang." Levi makan france frieshnya.
Setelah itu, teman-teman Levi tidak menganggap remeh Levi. Ternyata Levi memang bukan orang sembarangan. Entah apa profesi orang tua Levi, yang penting Levi adalah teman yang baik, bahkan mereka mempercayakan Levi sebagai ketua dalam kegiatan kelompok termasuk kegiatan KKN. Levi bukan hanya cerdas namun juga mau mengeluarkan dana demi kepentingan kelompok mereka.
Lain dengan Jodi. Jodi sudah lama mengetahui latar belakang Levi yang memiliki keluarga kaya di Surabaya. Jodi tahu, karena om nya adalah salah satu staff di salah satu hotel milik Levi.
*****
#Kembali ke ruang tengah rumah Pak Joko.
Mereka para Pandawa lima sibuk melihat-lihat desain rumah dan interiornya.
Levi sedang memperhatikan beberapa desain kamar mandi untuk rehap hotelnya. Bida datang membawa nampan berisi teh hangat. Lalu Bida meletakkan nampannya di atas meja. Tanpa sengaja, Bida melihat desain kamar mandi di laptop Levi yang ada di atas meja.
"Bagus sekali kamar mandinya." Bida menatap layar laptop Levi dengan kagum.
Wajah Bida berada dekat dengan Levi membuat Levi entah mengapa merasa jantungnya berdetak kencang. *Cantik sekali...
"Mas, bagus sekali kamar mandinya. Bida ingin punya kamar mandi seperti itu." Bida menoleh ke Levi. Membuat Levi gugup karena tatapan Bida langsung kepadanya.
"Oh, ya bagus. Ini banyak desain kamar mandi di sini." Levi menggeser layar laptopnya dengan jarinya.
"Bagus, itu juga bagus, yang itu lebih bagus." Bida benar-benar mengagumi gambar-gambar kamar mandi di laptop Levi.
"Yang mana, menurut Bida yang paling bagus?" Levi mengarahkan Laptopnya menghadap Bida.
"Coba lihat lagi yang tadi mas."
"Bida geser saja sendiri layarnya."
Bida yang tadi berdiri, hendak duduk di lantai untuk melihat laptop Levi.
"Eh, jangan duduk di lantai, Bida duduk sini saja. Roni kamu geser ke sana!." Roni berdiri pindah ke kursi pojok depan Levi. lalu Levi hendak menggeser duduknya untuk memberi ruang untuk Bida duduk. Bida masih menatap Laptop Levi lalu segera duduk, sedangkan Levi masih belum sempat pindah tempat duduk.
"Maaf..." Bida kaget dan tersipu lalu segera berdiri karena ternyata Bida duduk di pangkuan Levi, namun karena tergesa-gesa, Bida kembali jatuh ke pangkuan Levi namun kali ini posisinya menyamping tidak membelakangi Levi . Levi spontan menangkap Bida yang jatuh ke pangkuannya.
Jantung berdetak kencang bahkan Levi kuatir Bida mendengarnya.
"Maaf... saya ndk sengaja." Wajah Bida merah karena malu, lalu berdiri pelan-pelan karena takut terjatuh ke pelukan Levi lagi. Lalu berlalu ke kamarnya.
Bagaimana ini? Apa tanggapannya ? Aku tidak sengaja, jika bapak atau ibu sampai tahu.... Oh tidak. Aku malu sekali. Aku akan masuk kamar saja.
Mengapa jantungku berdebar kencang sekali. Apakah Bida tadi mendengar detak Jantungku. Mungkin karena aku kaget, atau mungkin aku kena gangguan jantung karena lama tidak fitnes.
"Levi gawat kamu. Jika Pak Joko Lihat kejadian tadi. Kita bisa langsung diusir." Miki memarahi Levi dengan suara pelan namun bernada tegas.
"Levi hati-hati, jangan bersikap begitu !" Jodi juga melotot ke Levi.
"Hus... jangan menyalahkan Levi. Tadi aku lihat sendiri kejadiannya. Itu murni kecelakaan. Bida yang tidak sengaja duduk di pangkuan Levi." Deni membela Levi
"Terus Levi tidak sengaja memeluk Bida dalam pangkuannya? Begitu kah? Miki melotot ke Deni.
"Sudahlah. Ssst ada bu Joko." Roni memberi kode dengan lirikannya.
Semua diam termasuk Levi. Levi tidak membantah atau mengiyakan karena ia sibuk menenangkan dirinya sendiri. Jantungnya belum berdetak normal.
Bida memang cantik, saat di pangkuanku tadi. Mengapa Bida lebih mirip gadis yang kulihat pertama kali menginap di rumah ini. Gadis dengan gaun tidur tipis itu. Apakah Bidadari yang kulihat adalah Bida yang ini. Bidadari anaknya Pak Joko?
Levi beranjak, ia ingin ke kamar untuk beristirahat. Mungkin dengan berbaring maka jantungnya akan normal kembali.
Bu Joko melintasi ruang tengah dengan membawa jemuran yang baru diangkatnya. Bu Joko melewati Levi yang sedang menuju kamar depan. Tanpa disadari Bu Joko menjatuhkan jemurannya. Levi memungutnya, "Bu, bajunya ada yang jatuh." Levi mencoba menghentikan bu Joko.
Jarak bu Joko dan Levi terlalu jauh sehingga bu Joko tidak mendengar panggilan Levi.
Levi memperhatikan baju di tangannya. Ini gaun yang dipakai Bidadari yang kulihat. Aku masih ingat modelnya. Ada renda dibagian bawah rok nya, tali bahu yang kecil, juga model belahan dadanya.
Levi mempercepat langkahnya menyusul bu Joko yang sedang menuju kamarnya.
"Bu.. maaf bajunya ada yang jatuh. Levi menyerahkan baju itu ke Bu Joko"
"Oh ya. Ini bajunya Bida.
Jadi dialah bidadari itu. Revi merasa canggung. Lalu segera beranjak menuju kamar depan tempatnya tinggal bersama Roni di dalam rumah tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
bida turun dr kamr
2023-11-19
0