Curiga

Subuh akan segera tiba. Bu Joko menuju kamar Bida.

Tok tok tok "Bida..."

Ceklek. " Ya bu." Bida membuka pintu kamar sambil menenteng bukunya.

Bu Joko masuk ke kamar Bida. "Bida, kita harus bicara. Rumah kita kedatangan 5 orang mahasiswa. Mereka mahasiswa tekhnik Sipil Universita B******** Malang. Mereka membantu pembangunan desa ini di bawah bimbingan Pak Muhit tentunya atas ijin Pak Kepala Desa."

"Oh ya. Mulai kapan bu? Berapa hari bu?"

"Tadi malam mereka mulai menginap. Mereka akan tinggal selama sebulan."

"Sebulan bu? Jadi mereka sudah di sini kok Bida ndak tahu?"

"Karena saat mereka datang, kamu sudah tidur. Yang terpenting adalah jaga sikap, jaga penampilan. Jangan sembarangan pakai baju terbuka di rumah. Karena mereka semua laki-laki." Bu Joko memperhatikan baju putrinya. Bu Joko membebaskan Bida pakai baju apa saja selama di dalam rumah terutama di kamarnya. Tapi Bida wajib menggunakan baju panjang ketika keluar rumah atau ada tamu.

"Ok bu. Siap." Bida tidak merasa itu hal yang sulit.

"Mandilah, bawa baju gantimu ke kamar mandi. Jangan hanya pakai baju handuk. Itu jaga itu." Bu Joko menunjuk ke dada Bida yang terlihat di balik gaun tidurnya yang tipis tanpa dalaman.

"Ah. Ibu." Bida menyilangkan tangannya di dada.

"Baiklah. Ibu mau masak dulu." Ibu keluar kamar.

Bida memandang dirinya di cermin. Wah memang jelas kelihatan jika aku ndk pakai dalaman. Mengapa dada ini merepotkan, jika 24 jam pakai BH bisa mati sesak nafas aku.

Bida menyiapkan baju seragamnya lalu bersiap menuju kamar mandi. Bida sangat bersemangat hari ini karena ini hari terakhir ujian. Besok aku bebas, aku mau belajar menjahit saja. Bida memang bisa menjahit tapi hanya sekedar menyambung kain saja. Bida belum bisa membuat pola baju. Bida memutuskan akan melanjutkan ke sekolah kejuruan jurusan tata busana.

Ketika melewati ruang tengah, Bida tidak memperhatikan sekelilingnya. Bida yang sekarang menggunakan gamis hitam panjang, menenteng baju seragamnya masuk ke kamar mandi.

"Siapa itu? Pasti itu putrinya Pak Joko. Cantik juga. Imut sayangnya masih kecil." Jodi yang sudah mandi berbicara kepada Miki yang sibuk membongkar tasnya untuk mencari baju ganti.

Levi dan Roni sudah siap ikut Pak Joko menuju musholla untuk sholat subuh. Sementara Deni masih meringkuk asyik tidur pulas.

Bida selesai mandi dan sudah memakai seragamnya. Bida berjalan menuju dapur sambil menenteng baju kotornya. Setelah meletakkan baju kotor di tempatnya. Bida membantu ibunya memasak.

"Bu, Bida mau buat pizza."

"Buat yang banyak Bida. Buat mereka juga."

"Dimana mereka tidur bu? di kamar depan kah."

"Mereka masih di ruang tengah, mungkin nanti mereka akan menempati kamar depan dan kamar tengah."

"Ruang tengah? Bida melongok ke ruang tengah. Ia ingat jika tadi malam, Bida melewati ruang tengah hanya menggunakan gaun tidur tanpa dalaman." Bida langsung pucat.

"Mengapa Bida?"

"Tidak apa-apa bu?" Bida berdoa semoga tidak ada yang melihatnya tadi malam. Semoga mereka semua sedang tidur. Karena Bida ingat ke kamar mandi pada dini hari.

"Bu, kok bibi dan nenek tidak kelihatan. Wowo juga tidak terdengar suaranya."

"Bida, jangan membicarakan mereka. Ingat di rumah kita ada tamu."

"Iya bu. Bida akan ingat itu." Bida cekatan menyiapkan pizza di 3 teflon miliknya. Pagi ini Bida membuat 3 pizza. 1 dibawa ke sekolah, yang 2 untuk tamunya.

#Nenek dan Bida sedang mengamati kelima pria di rumah Bida.

"Aneh sekali, mengapa Bida tidak menoleh saat ku panggil tadi?" Bibi berbicara kepada nenek namun pandangannya masih memperhatikan mereka satu per satu.

"Entahlah. Mungkin Bida fokus ke ujiannya. Tadi malam, pria ini melihat Bida." Nenek melayang menghampiri Levi yang baru datang dari musholla.

"Tadi malam, aku memperingatkan Bida jika ada pria melihatnya tapi Bida mungkin mengantuk, jadi tidak mendengarkan peringatanku." nenek masih mengelilingi Levi yang sekarang sedang duduk di ruang tengah ditemani Roni dan Pak Joko.

"Ayo ke dapur." Bibi melayang ke arah nenek. Mengapit lengan nenek yang masih mengamati Levi.

"Bida... ".

Bibi menyambut Bida yang datang membawa nampan berisi kopi dan pizza.

Namun Bida hanya melewati Bibi dan untuk pertama kalinya Bida bisa menembus tubuh bibi yang sedang menghadangnya. Nenek juga kaget dengan perubahan ini.

Nenek mengikuti Bida menepuk pundak Bida, tapi yang terjadi adalah tangan nenek tidak bisa menyentuh Bida, hanya terhempas di udara. Seolah badan Bida tembus pandang. Tubuhku yang tembus pandang, tapi mengapa Bida tidak bisa kita sentuh. Apa yang terjadi? Apakah ini sudah saatnya? Apakah ada calon Jodoh Bida di antara mereka? Nenek memperhatikan ke lima mahasiswa itu. Yang mana calon Jodohnya Bida?

Bibi tampak sedih, tidak bisa berkomunikasi dengan Bida lagi.

"Silahkan..." Bida meletakkan nampan di atas meja.

"Ini putri bapak. Namanya Bidadari, biasa dipanggil Bida."

Levi kaget. " Bidadari?"

"Maaf bagi bapak, putri bapak secantik Bidadari maka itu bapak dan ibu sepakat memberi nama Bidadari."

Bida jadi tersipu mendengar bapaknya memuji di depan para pria. Bida langsung berlalu kembali ke dapur.

Apa aku pernah melihatnya? Sepertinya tidak asing. Dimana aku melihatnya ya? Wajahnya imut sekali dengan lesung pipit di kedua pipinya. Cantik sekali, benar-benar nama yang cocok.

"Tidak salah ini pak? pagi-pagi sudah ada pizza. Kapan belinya pak? Ada PHD di sekitar sini Pak?" Miki melihat pizza seperti memenangkan undian

"Bida, anak bapak sangat suka pizza jadi dia selalu punya stock bahan untuk membuat pizza. Silahkan untuk sementara mengganjal perut. Ibu sedang menyiapkan sarapan nasi pecel, cuma sayurnya masih dipetik."

"Terima kasih Pak." Jodi dan Deni kompak. Lalu segera mengambil potongan pizza dan memakannya selagi panas.

"Enak pak."

"Ya enak."

Ya iyalah enak. Tinggal makan saja. Ndak pakai bayar. Levi akhirnya mengambil pizza juga lalu mulai memakannya.

Mmmh memang enak. Aku masih penasaran dengan gadis tadi malam.

*****

Di Sekolah. Bida duduk termenung di bangku depan kelas, menunggu Yogi, Ergi dan Prendi.

Apakah tadi malam ketika aku lewat ruang tengah, mas tadi melihatku? Mengapa ia seperti kaget melihatku? Ekspresinya seperti penasaran denganku?Tadi malam kan aku pakai gaun tidur. Bagaimana ini? Aku jadi malas pulang, aku malu jika bertemu dengannya.

"Dor ! Prendi mengagetkan Bida. Yogi dan Ergi juga datang juga di belakang Prendi.

"Mana pizzanya?"

"Ini." Bida mengeluarkan kotak berisi pizza.

Ergi langsung membuka dan melahap sepotong pizza.

"Mengapa kamu diam Bida? Jangan sedih meski besok kita libur. Kamu tetap Bidadariku. Aku akan mendampingimu kemanapun kamu berada. Aku juga akan mendaftar ke sekolah kejuruan yang sama. Hanya aku akan ambil jurusan Design Computer. Tapi kita tetap satu sekolah. Jadi kita akan tetap ketemu setiap hari." Yogi mulai menunjukkan ekspresi serius namun Bida seolah sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Bida, aku akan sekolah di jurusan Nautika. Kita tidak akan satu sekolah tapi jika ku bersedia aku akan mendatangimu setiap hari di rumahmu. Aku tidak akan mengajak Yogi dan Ergi. Agar kita bisa mengobrol dan bercanda berdua saja."

Prendi memasang wajah jenakanya. Bida tersenyum, teman-temannya memang baik. Mereka tahu jika Bida pasti tidak akan menanggapi mereka dalam urusan percintaan. Mereka sudah berkomitmen menjadi pelajar sejati.

Plok. Ergi dan Yogi menepuk pipi Prendi, masing-masing kiri dan kanan.

"Jangan macam-macam kamu. Jangan curang ! Tidak ada yang boleh mengganggu Bida. Ingat kita adalah pelajar sejati." Ergi memperingatkan Prendi

"Bida kamu harus fokus belajar. Suatu saat nanti, jika aku sudah sukses. Aku akan datang melamarmu. Jika Prendi dan Ergi datang melamarmu lebih dulu,.maka kamu harus menolaknya. Sampaikan kepada mereka, jika kau menungguku."

"Ha ha ha..." Akhirnya Bida bisa tertawa mendengar ocehan teman-temannya.

"Sudah siang, Bida akan segera pulang agar Ibu tidak cemas. Aku pulang dulu ya teman-teman."

"Bida, nanti sore kami ke rumahmu ya?"

Ergi bertanya tanpa minta pendapat kedua temannya. Tapi kedua temannya tidak protes justru menunggu jawaban Bida.

"Jangan dulu, di rumahku ada tamu. Aku masih belum terbiasa kedatangan tamu banyak. Aku akan sibuk membantu ibu menyiapkan makanan."

"Tamu siapa? Memangnya menginap ya?" Yogi penasaran.

"Ya. Mereka mahasiswa KKN, akan tinggal di rumah selama sebulan. Mereka laki-laki semua, jumlahnya 5 orang. Bayangkan aku dan ibu akan memasak banyak setiap hari?"

"Ha ?" Mereka kompak kaget.

"Tidak ada satupun dari mereka yang ganteng kan? Pasti masih ganteng aku kan? Kamu tidak tertarik dengan satupun di antara mereka kan? Mereka laki-laki baik-baik kan ? Mata mereka tidak jelalatan kan? Mereka tidak macam-macam kan?" Prendi mengajukan pertanyaan beruntun membuat Bida geleng-geleng kepala.

"Udah ah. Aku mau pulang." Bida beranjak menuju parkiran untuk mengambil sepedanya.

"Seperti apa mereka?" Yogi dan Ergi kembali mengucapkan kalimat yang sama, seolah mereka sahabat sejati yang memiliki kapasitas pemikiran yang sama.

Ah ternyata baru sadar dengan apa yang terjadi. Prendi hanya menatap kepergian Bida.

Terpopuler

Comments

AiLa Liela

AiLa Liela

lanjut

2020-06-25

3

lihat semua
Episodes
1 Kelahiran Bidadari
2 Semilir Angin
3 Bayi Bidadari Cantik
4 Cuplak Puser dan Selapanan
5 Mimpi
6 Menyadari
7 Sekolah 1
8 Sekolah 2
9 Kemarahan Wowo
10 Dengki
11 Pembawa Sial
12 Menangis
13 Sabtu Ceria
14 Pandawa Lima
15 Curiga
16 Siapakah dia?
17 Levi dan Roni
18 Ternyata dia
19 Harmonis
20 Lidah Beracun
21 Kunjungan Sahabat
22 Mimpi
23 Sewot
24 Lihat Saja Nanti
25 Perempuan Tua Menyebalkan
26 Terkontaminasi Lidah Beracun
27 Ada Apa dengan Levi?
28 Cemburu 1
29 Maling Sapi
30 Heboh 1
31 Heboh 2
32 Jeruk makan jeruk
33 Boleh
34 Jalan-jalan
35 Terserah
36 Kebaya
37 Kak Lina
38 Peringatan
39 Kecelakaan Beruntun
40 Tanggung Jawab
41 Restu Mama
42 Akad Nikah
43 Makan malam
44 Malam Sibuk
45 Interogasi
46 Kesepakatan 1
47 Kesepakatan 2
48 Urusan
49 Hantu SMK
50 Takut
51 Apa yang terjadi ?
52 Keren
53 Bagaimana Menurutmu? 1
54 Bagaimana Menurutmu ? 2
55 Kematian
56 Lembur
57 Serasa Mimpi
58 Serba Salah
59 Pusaka
60 Perpisahan
61 Dimana Wowo
62 Hari Pertama
63 Tidak boleh
64 Kampus VS SMK
65 Orisinil
66 Nafkah Bida
67 Petaka Diana 1
68 Petaka Diana 2
69 Murka
70 Terbongkar 1
71 Terbongkar 2
72 Kaget
73 Menghadirkan Bidadari
74 Malu
75 Pengumuman Author
76 Bertahan
77 Bangga
78 Pulang
79 Progres dan Prestasi
80 Pengakuan
81 Pernikahan Sederhana
82 Bulan Madu, Cemburu dan Pesta
83 Ingin Hamil
84 Hamil
85 Harapan Tercapai
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Kelahiran Bidadari
2
Semilir Angin
3
Bayi Bidadari Cantik
4
Cuplak Puser dan Selapanan
5
Mimpi
6
Menyadari
7
Sekolah 1
8
Sekolah 2
9
Kemarahan Wowo
10
Dengki
11
Pembawa Sial
12
Menangis
13
Sabtu Ceria
14
Pandawa Lima
15
Curiga
16
Siapakah dia?
17
Levi dan Roni
18
Ternyata dia
19
Harmonis
20
Lidah Beracun
21
Kunjungan Sahabat
22
Mimpi
23
Sewot
24
Lihat Saja Nanti
25
Perempuan Tua Menyebalkan
26
Terkontaminasi Lidah Beracun
27
Ada Apa dengan Levi?
28
Cemburu 1
29
Maling Sapi
30
Heboh 1
31
Heboh 2
32
Jeruk makan jeruk
33
Boleh
34
Jalan-jalan
35
Terserah
36
Kebaya
37
Kak Lina
38
Peringatan
39
Kecelakaan Beruntun
40
Tanggung Jawab
41
Restu Mama
42
Akad Nikah
43
Makan malam
44
Malam Sibuk
45
Interogasi
46
Kesepakatan 1
47
Kesepakatan 2
48
Urusan
49
Hantu SMK
50
Takut
51
Apa yang terjadi ?
52
Keren
53
Bagaimana Menurutmu? 1
54
Bagaimana Menurutmu ? 2
55
Kematian
56
Lembur
57
Serasa Mimpi
58
Serba Salah
59
Pusaka
60
Perpisahan
61
Dimana Wowo
62
Hari Pertama
63
Tidak boleh
64
Kampus VS SMK
65
Orisinil
66
Nafkah Bida
67
Petaka Diana 1
68
Petaka Diana 2
69
Murka
70
Terbongkar 1
71
Terbongkar 2
72
Kaget
73
Menghadirkan Bidadari
74
Malu
75
Pengumuman Author
76
Bertahan
77
Bangga
78
Pulang
79
Progres dan Prestasi
80
Pengakuan
81
Pernikahan Sederhana
82
Bulan Madu, Cemburu dan Pesta
83
Ingin Hamil
84
Hamil
85
Harapan Tercapai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!