*****
Tidak terasa Bida sudah kelas IX. Artinya Bida akan segera mengganti seragamnya dari warna biru dongker menjadi abu-abu. Sepertinya Bida ingin segera tumbuh dewasa.
Hari Sabtu adalah hari yang penuh keceriaan. Hari itu tidak ada pelajaran yang berat. Hanya ada pelajaran PJOK dan SBdP. Guru kedua mapel juga keren abis. Terutama guru SBdP yang jika memberi tugas selalu kooperatif. Seperti hari ini, Bu Ida guru SBdP yang tetap cantik dan energik di usianya yang JELITA (jelang lima puluh tahun).
Minggu kemarin Bu Ida memulai pelajaran dengan pertanyaan "Anak-anak, apa kalian tidak bosan belajar di kelas selama seminggu full?"
Anak-anak yang sebagian masih seperempat konsentrasi karena belum move on dari jam istirahat jadi fokus.
"Kita pergi piknik saja bu." Prendi mengusulkan.
"Kita wisata kuliner saja bu." Murid gendut yang duduk di pojok ikut usul.
"Linda, apa usulmu?" Bu Ida mengarahkan pandangannya pada Linda yang sedang garuk-garuk kepala karena ada kutu di rambutnya.
"Mmmm mmmm apa ya, masak-masak saja bu."
"What ! masak, usulan apa itu, memangnya kamu bisa masak? masak telur kutu ?" Sisca yang centil termyata ketus juga.
" Anak-anak, Bu Ida mengusulkan bagaimana jika kelas kita kita ubah menjadi restoran. Hanya sementara 2 sampai 3 jam saja di pelajarannya Bu Ida."
"Maksudnya gimana bu?" Ergi memasang wajah penuh selidik.
"Begini, Sabtu depan kalian siapkan makanan dan minuman kreasi kalian boleh secara kelompok. Kalian tidak perlu bawa kompor karena semua bahan harus kalian siapkan dari rumah. Di sekolah kalian hanya menyajikan saja. Namun kalian harus membuat laporan, kalian beri cover yang mencantumkan nama tema hidangan, nama anggota kelompok, dan di dalam laporannya kalian sertakan latar belakang tema pilihan kalian, bahan, cara membuat, ilustrasi, dll. Ibu sudah membawa contoh laporannya untuk referensi. Pelaksanaannya nanti, kalian juga bisa menjual kupon ke siswa kelas lain. Kalian juga boleh mengundang guru lain untuk mampir ke restoran kalian. Kita akan ubah posisi duduk di kelas. Selama kegiatan kalian boleh mengabadikan setiap momennya dengan HP atau kamera."
Bu Ida diam, lalu menghela nafas.
"Bulan depan kalian sudah ujian akhir. Minggu depan adalah pertemuan terakhir kalian dengan Bu Ida di pelajaran SBdP.
"Setuju bu! Yogi semangat 45 sampil mengepalkan tangannya ke atas." Disambut tepuk tangan teman-temannya.
"Tapi saya tidak bisa memasak bu." Sisca tertunduk.
"Mengapa harus pintar memasak? tidak semua orang punya waktu memasak. Kalian bisa kok punya resto meski tidak bisa memasak. Misalnya kalian punya modal, atau punya tempatnya saja. Kalian bisa mengajak orang yang pandai memasak untuk buka resto lalu bagi hasil. Hanya saja kalian tetap harus mempelajari ilmu memasak secara teori agar memudahkan kontrol usaha kalian."
"Boleh minta masakkan orang lain bu?" Sisca kembali bertanya.
"Boleh. Tapi ingat kalian tetap mencari informasi detail. Apa bahannya, bagaimana cara memasaknya, bagaimana cara penyajiannya dll."
"Siap bu! Sisca mengangkat tangannya memberi hormat.
*****
Hari yang dinanti pun tiba, setelah pelajaran PJOK kelas sudah disulap menjadi restoran, masing-masing kelompok menyiapkan segala sesuatunya.
Kelompok Bida terdiri dari 4 anak. Bisa ditebak siapa saja personilnya. Yogi, Ergi, Prendi dan Bida sendiri. Mereka menyiapkan menu pizza, dan berbagai jenis kreasi minuman bersoda. Untuk Pizzanya, tentu Bida yang urus. Agar tetap hangat saat disajikan, Bida membawa magic com karena Bu Ida hanya mengijinkan 2 benda elektronik yang dibawa itupun dibatasi 4 saja dalam satu kelas makanya hanya ada 4 kelompok. Kelompok Bida yang pesonilnya paling sedikit. Bu Ida memang keren, beliau tidak pernah memaksakan menentukan personil kelompok.
"Selamat datang Pak Iwan yang ganteng sejagad raya, silahkan mampir ke resto kami. Kami menyediakan Pizza dan aneka minuman khas resep kahyangan." Yogi menyambut kedatangan Pak Iwan. Yogi sudah berlatih kalimat penyambutan dari kemarin.
Pak Iwan pun terbahak-bahak dan langsung duduk di stand Bida. Prendi mendekat lalu menyerahkan buku menu sederhana. Buku menu tersebut adalah hasil print out setelah googling. Ergi pun menuliskan menu yang dipilih Pak Iwan.
"Silahkan masuk bu Susi yang cantik..." Sisca menyambut kedatangan bu Susi sambil mempersilahkan bu Susi ke Standnya.
"Maaf bu Susi, Pak Iwan sudah menunggu kedatangan anda, silahkan..." Yogi tiba-tiba mencegah bu Susi yang sudah siap mau duduk.
Pak Iwan menoleh ke arah Yogi dengan tanda tanya. Karena Pak Iwan tidak merasa mengatakan sedang menunggu Bu Susi. Yogi hanya tersenyum berusaha seramah mungkin.
"Silahkan bu..."
Bu Susi malu-malu duduk di depan Pak Iwan dan mulai memesan makanan dan minuman.
Hari itu sangat menyenangkan. Suasana di kelas memang jauh berbeda. Ada 4 stand di kelas. Kursi yang ditata seperti di resto dilengkapi banner bertuliskan nama resto yang dipajang di tembok samping tiap stand.
Guru-guru yang datang ke kelas untuk makan dan minum di stand di semua stand karena begitulah aturan Bu Ida. Semua guru harus mampir ke semua stand meskipun cuma minum untuk menghargai hasil kerja siswa. Namun guru bebas menentukan stand mana yang akan dikunjungi pertama kali. Stand terbaik akan menerima hadiah dari Bu Ida. Kriterianya adalah yang paling banyak menerima kunjungan pertama dari guru. Karena ada 4 stand maka pointnya adalah 1 sampai 4. Stand yang dikunjungi pertama pointnya 4., yang kedua 3, yang ketiga pountnya 2 dan yang dikunjungi keempat pointnya 1.
Bu Ida yang mengawasi dan mencatat point di bukunya selama kegiatan.
"Selamat datang Bapak Kepala Sekolah yang agung. Suatu kehormatan bagi kami, jika Bapak berkenan mampir ke stand kami. Silahkan Bapak...." Lagi-lagi Yogi berhasil membuat kunjungan pertama ke standnya."
Sisca jutek, mendengarkan Yogi.
"Pak, resto kami menyediakan bebek goreng kesukaan bapak, Silahkan Pak." Sisca mencoba merebut peluang. Sisca tahu bahwa Pak Kodir adalah pelanggan setia restoran bebek tantenya. Masakan yang disediakan di stand Sisca juga masakan dari resto tantenya. Sisca dan kelompoknya tidak bisa masak. Apalagi Bu Ida kan hanya minta laporannya. Bukan mendemonstrasikan memasak.
"Bebek goreng ya, kebetulan bapak sedang lapar. Tapi nanti dulu ya, bapak juga haus. Mau minum dulu di sini. sebentar lagi bapak ke tempatmu." Pak Kodir pun memesan minuman di stand Bida.
Sisca tersenyum dipaksakan. Ok lah kunjungan kedua oleh Bapak Kodir kan pointnya 3. Awas kau Yogi, aku tidak akan beri kesempatan lagi.
selama kegiatan, mereka berkali-kali berpose untuk mengabadikan kebersamaan mereka.
*****
Semua guru sudah mampir ke semua stand. Setelah makan dan minum guru kembali ke kantor dan sebagian membawa makanannya untuk dimakan di kantor, karena waktunya terbatas. Jam istirahat kedua adalah waktu untuk siswa lain yang sudah membeli kupon untuk ambil makanan dan minuman.
*****
Tiba saatnya Bu Ida mengumumkan stand terfavorit.
"Pemenangnya adalah stand "Kahyangan"
Stand itu adalah milik Bida. Yogi segera berdiri di depan sambil menyalami Bu Ida dan mencium tangan Bu Ida lalu membungkukkan badan, "mmuah" meletakkan tangannya ke bibirnya lalu lebarkan tangannya. Seperti gaya orang yang meraih kejuaraan.
Semua tertawa.... Hari itu memang sangat menyenangkan. Hingga tiba-tiba Pak Sobiri pemilik kantin datang berdiri di pintu kelas untuk melihat-lihat. Di belakangnya ada sosok kumal dan bau mengikuti Pak Sobiri. Bida sekuat tenaga menahan mual di perutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Desiree Van
aku baca sampe sini dulu ya kak, nanti aku sambung lagi
kamu juga mampir ya ke lapakku
2020-07-05
2